
" Dokter, kalau dugaanku benar, seseorang telah menyuntik Emy dengan Methanol, tapi kita tunggu hasil lab." Ucap Kalev. Dr. Madeline mengatup mulutnya dengan kedua tangannya.
" Baiklah, kita harus memberitahu keluarganya." Kalev mengangguk dan mengikuti dr. Madeline untuk menemui Evan dan Luther.
Di ruang tunggu, Tae Sang terus menginstruksi anak buahnya untuk mengecek cctv rumah sakit terutama di depan kamar rawat Emy. Luther dengan wajah cemasnya terus berdiri menunggu dokter keluar.
" Tuan Howland, mana tuan Taylor? Ada yang harus kami beritahu." Tanya dr. Madeline.
" Ah, dia masih ke kamar istrinya. Bagaimana Emy, dok?" Wajah dan sorot mata Luther menampakkan jelas isi hatinya yang gelisah, cemas, ketakutan.
Tae Sang juga menutup panggilannya dan melangkah lebar mendekati dr.Madeline dan Kaleb.
" Bagaimana dia, Kalev?" Tae Sang tampak panik menanyakan kabar Emy.
" Kalau dugaanku benar, Emy... Dia keracunan. Ada indikasi dia disuntik... Methanol." Jawab Kalev jujur.
" Apa?!" Luther dan Tae Sang terkejut.
" Lakukan APAPUN itu, untuk menyembuhkan dia. Berapapun itu!" Dengan penekanan pada katanya, Tae Sang meminta Kalev.
" Dr. Petrov! Ini!" Seorang perawat menyodorkan hasil lab.
" Ehmm... Benar, Methanol! PH-nya... Oh My God! Aku permisi, dr. Madeline, mari!" Kalev segera berlari masuk ke dalam ruang tindakan.
Luther dan Tae Sang menatap Kalev yang berlari dengan dr. Madeline begitu tergesa-gesa.
Tae Sang kembali menelepon seseorang.
" Aku mau dengan cara apapun, tangkap orang yang berani menyusup ke ruang Emy. Aku mau hasil sebelum malam ini lewat!" Perintah Tae Sang. Amarahnya sudah memuncak.
" Kalau sampai terjadi apa-apa padanya, aku akan pastikan kalian akan menyesal telah hidup didunia ini," gumam Tae Sang dengan tangan terkepal.
Luther mulai memandang Tae Sang berbeda. Dulu ia begitu membenci pemilik Grup Kimtae itu, karena perlakuannya terhadap Emy. Tapi sekarang, sepertinya kebencian itu mulai terkikis habis.
" Tae Sang! Aku merestuimu bersama dengan adik kesayanganku. Aku percaya sekarang, kau benar-benar mencintainya. Jika Emy sudah sembuh nanti, tolong jaga dia." Ucap Luther tulus. Tae Sang memeluk Luther dan menitikkan air mata.
" Thank you! Thank you! Aku pasti akan menjaganya. Emyku, dia pasti sembuh. Thank you!"
" Aku masih normal, lepaskan aku! Eegghh.." Goda Luther sembari melepaskan pelukannya. Tae Sang dan Luther tersenyum bersama.
" Daddy!"
2 suara anak menggemaskan bergema di ruang tunggu rumah sakit yang luas itu.
Tae Sang mencari asal suara. Dari arah pintu masuk, 2 anak laki-laki berwajah sama berlari dengan kaki pendeknya dan tersenyum sumringah. Semua mata menatap kedua anak yang menampakkam gigi susunya dan pipi gembul yang membuat orang ingin sekali mencubitnya.
Tae Sang berjongkok dan membuka kedua tangannya lebar.
__ADS_1
Beg...
Keduanya menghempaskan tubuh mereka pada dada bidang Daddynya. Mata dan wajah Tae Sang juga Luther berubah cerah.
"Mmuach.. Mmmuuachh... Anak-anak Daddy habis dari mana ini, hmm?" Tanya Tae Sang lembut.
" Oh.. Cadi Lim yung kaci etkrim cama belenang...( Oh... Tadi Lim hyung kasih es krim sama berenang)," oceh Micko, sementara Mikha, ia sudah melepas pelukan Tae Sang dan duduk bersama Luther.
" Uncle, kok cenyum-cenyum?" Tanya Mikha polos. Luther tertawa mendengar suara cadel Mikha. Ia mengusap sayang kepala Mikha namun ditepis oleh tangan kecil Mikha.
" Uncle, Mikha cudah anteng nyanti Mikha cucah cicil-cicil agi ( Uncle, Mikha sudah ganteng nanti Mikha susah sisir-sisir lagi)."
Luther tergelak mendengar protes Mikha. Like father like son, begitulah pikiran Luther. Ia segera mengangkat tubuh montok Mikha lalu memeluknya gemas dan menggelitikinya membuat Mikha terkikik. Micko yang melihat itu berlari dan menarik ujung jaket Luther yang panjang sambil.mendongak.
Luther menunduk, mata anak anjing Micko membuatnya geli. Ia menurunkan Mikha lalu berganti menggendong dan menggelitik Micko. Semua orang tersenyum melihat tingkah si kembar.
' Emy, lihat anak-anak kita. Mereka sangat polos. Mereka membutuhkanmu, sayang. Cepatlah kembali. Aku juga sangat merindukanmu,' lirih Tae Sang. Air mata kembali menetes. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain dan menghapus cepat air bening itu dari pipinya.
" Bagaimana Emy, Tae Sang?" suara familiar seseorang dari belakangnya, mengejutkan Tae Sang. Ia segera berbalik. Disana, Evan sudah berdiri dengan Hannah diatas kursi roda.
" Ehm... Kalev masih di dalam." Sahut Tae Sang.
" Hannah! Bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah baikan?" Sapa Tae Sang pada Hannah seraya tersenyum pada wanita yang masih saja bertubuh kecil walau kini telah menjadi ibu dari 2 orang anak.
" Hai! Aku sudah baik sekarang. Terima kasih."
Tae Sang melihat Evan dan memberi isyarat dengan matanya. Evan mengangguk mengerti.
" Sayang, aku antar ke ruanganmu lagi, ya? Aku mau bicara sama Tae Sang." ujar Evan
" Aku mau lihat Emy, sayang. Antar aku kesana."
deg...
Tae Sang dan Evan saling menatap. Tak tahu apa yang harus ia katakan.
" Ada apa?" Hannah melihat keduanya dengan tatapan curiga.
" Eh, Emy saat ini masih dengan Kalev... Dia sedang di test." Jawab Luther sekenanya. Senyuman yang dipaksakan tercetak di wajahnya. Sementara Tae Sang dan Evan mengangguk patuh seperti orang bodoh.
" Hahahaha...." Si kembar terkekeh melihat tampang Daddynya yang lucu. Hannah yang menyadari kehadiran si kembar, matanya berkaca-kaca. Perlahan ia berdiri dan mendekati kedua bocah lelaki tampan itu.
" Mikha, Micko... Kalian sudah besar, nak?" Ucap Hannah seraya berjongkok dan memeluk erat si kembar yang tampak bingung. Hannah mencium seluruh wajah si kembar.
" Aunty capa? (Aunty siapa?)" Tanya Micko polos. Matanya menatap wanita yang masih memeluknya.
" Aunty kakaknya Mommy-mu, nak..." sahut Hannah lalu melepas pelukannya.
__ADS_1
" Mommy? Teyus Mommy mana? Aunty mana Mommy? (Mommy? Terus Mommy mana?)"
Tae Sang terenyuh mendengar pertanyaan Mikha. Ia selalu antusias jika menyangkut Mommynya.
Hannah tersenyum melihat keduanya, " Mommy kalian sakit. Dia ada di dalam. Mikha sama Micko berdoa ya buat Mommy."
Mikha mendekati Daddynya, menarik ujung jaketnya dan menunjuk ke arah pintu ruang tindakan yang tertutup.
" Daddy, apa benel Mommy di dalam? Mikha mau cama Mommy."
Tae Sang berjongkok dan mengangguk. Mikha dan Micko saling berpandangan. Keduanya melonjak dan melompat-lompat kegirangan. Mereka berlari ke arah pintu, Tae Sang segera mengejar mereka, tapi ternyata keduanya berhenti di depan pintu.
" Mommy!!! Cepat cembuuhh! (Mommy!!! Cepat sembuh!)" Teriak keduanya di depan pintu.
Perawat, dokter dan pasien yang melihat itu tersenyum.
" Tae Sang, bagaimana Emy?" Lagi-lagi pertanyaan yang berusaha Evan, Luther dan Tae Sang hindari.
" Honey..."
" Jangan berani-berani kalian bohong!" Ancam Hannah. Sorot matanya berubah tajam menatap Tae Sang, Evan dan Luther bergantian.
Luther menghela nafasnya. Dengan jujur akhirnya mengatakannya.
" Ehm... Emy sekarang sedang menjalani Hemodialisis."
" Apa?"
" Kalev sedang merawatnya sekarang, Emy..."
Seorang perawat tiba-tiba keluar dan berteriak, "Keluarga Nona Sie!"
" Saya suaminya!" Seru Tae Sang.
-
-
-
Ada apa lagi dengan Emy?
Apakah si kembar dapat bertemu Mommy-nya?
Bagaimana keadaan Eva?
Jika Eva adalah Helena, bagaimana dia bisa menjadi seorang dokter?
__ADS_1