
' Emy, apa yang harus aku katakan padamu, sayang. Semua karna kesalahanku. Aku rela menukar nyawaku untuk kebahagiaanmu jika saja...waktu dapat terulang.' Batin Tae Sang memandang sendu wanitanya.
" Baiklah, anak-anak. Sekarang saatnya mandi," titah Emy pada kedua putranya. 2 bocah imut itu menurut. Mereka berlari kecil mendekati mommynya dan memegang kedua tangannya.
Tae Sang memandang kepergian calon istrinya dengan sedih. Sepertinya ia tak kan bisa lagi menahan dokter muda itu untuk kembali bertugas. Sejak kembalinya Emy, Tae Sang sudah membalik namakan saham kepemilikan rumah sakit Emerald pada Emy.
Ia bermaksud menjadikan Emy sebagai direktur rumah sakit, tapi langsung ditolak wanita multi talenta itu. Yang diminta padanya hanyalah untuk bisa kembali melayani pasien dan membantu mereka.
Tae Sang sebenarnya tahu kalau Emy sama sekali tak ingin jabatan. Yang ia mau hanya membantu orang lain. Tapi, ia melakukannya semata-mata agar Emy tak mengetahui kondisinya. Laki-laki itu tak bisa membayangkan bagaimana Emy nantinya jika mengetahui bahwa tangannya sudah cacat untuk ukuran seorang dokter bedah.
Di sisi lain, seorang laki-laki berjalan tertatih-tatih mendekati jalan raya. Tubuhnya dipenuhi luka yang masih segar. Ia berusaha menghentikan kendaraan untuk mendapat pertolongan. Tapi, tampaknya orang-orang itu tak bersedia membantunya. Tubuhnya sudah terasa lemas. Saat pandangannya mulai kabur, ia mendengar suara decit mobil mengerem di dekatnya.
30 menit kemudian pria itu sudah berbaring di ruang IGD. Semua begidik ngeri melihat banyaknya luka sayatan dan cambuk di sekujur tubuhnya.
" Ah, Perawat. Bagaimana dengan orang itu? Apa dia baik-baik saja?" Tanya seorang pria
pada perawat yang baru saja keluar dari ruang IGD.
" Anda?"
" Ah, saya yang menolong membawanya kesini. Saya melihatnya pingsan di jalan," jawab pria itu jujur.
" Oh, dia mengalami banyak sekali luka. Lukanya masih baru dan lama. Ia seperti habis disiksa, Tuan," jawab perawat itu jujur. Pria itu hanya mengangguk.
" Em, nona perawat. Saya tidak bisa lama-lama disini. Saya sudah membayar administrasi. Kalau ada apa-apa tolong hubungi saya di nomor ini saja, ya?"
" Baiklah, saya juga permisi." Pamit perawat itu. Pria itu mengangguk. Setelah beberapa saat melihat pintu IGD, ia berbalik dan pergi.
Sementara itu pria dengan luka di sekujur tubuhnya mulai membuka matanya. Ia meringis kesakitan ketika rasa perih menderanya.
" Aaaaaww..."
" Oh, Tuan. Anda sudah bangun?" Sapa seorang perawat bernama Go Ryung.
" Di-dimana aku?"
" Anda di rumah sakit. Tadi ada yang menolong Anda, waktu Anda pingsan di jalan," jelas Go Ryung.
" Oh..." pria itu kembali mendesis sakit
" Apa ada lagi yang Anda rasakan selain perih?"
" Tidak ada. Tapi, ini sudah sakit sekali. Tolong beri saya obat tidur saja," pinta pria itu.
__ADS_1
" Maaf, kami sudah memberi Anda anti nyeri 1 jam yang lalu. Jadi, saya tidak bisa memberinya lagi," jawab Go Ryung.
" Oh, ya. Apa Anda ingat siapa nama Anda?" Lanjut perawat bertubuh sintal itu.
" Saya...Yu Zhen,"
" Oh, Anda dari China?"
" Ya...maaf, tapi saya haus," kata Yu Zhen
" Sebentar, saya ambilkan." Yu Zhen mengangguk dan menunggu dengan mata terpejam. Ia bersyukur bisa lolos kali ini. Ia berharap mereka tak menemukannya dengan cepat. Ia sudah berlari jauh dan menumpang sembunyi-sembunyi sebuah mobil pengangkut kayu yang membawanya masuk ke dalam hutan tanpa ia sadari, karna saat itu ia sudah lelah dan tertidur.
"Ini, Tuan," Go Ryung menyodorkan gelas air minum pada Yu Zhen.
" Terima kasih," ucap Yu Zhen menyodorkan kembali gelas kosong pada Go Ryung.
" Sama-sama. Usahakan untuk istirahat, Tuan."
" Baik. Ah, kalau boleh tahu rumah sakit apa ini namanya, perawat Go?"
" Ini rumah sakit Hwangi, Tuan."
" Kota apa?"
" Goyang...apa jauh dari Seoul?"
" Hanya 20 menit kalau pakai kereta express, kenapa, Tuan? Apa Anda tinggal di Seoul?"
" Tidak, hanya saja...saya punya kenalan di Seoul. Saya ingin meng...hubungi...nya.." kata Yu Zhen sambil menahan sakit.
" Baiklah. Apa Anda tahu nomor ponsel?"
Yu Zhen menggeleng. Semua kontaknya ada di ponsel yang saat ini telah dibuang orang itu.
" Lalu? Namanya? Alamat?"
" Namanya... dr. Lee Yeol di bekerja di...RS Emerald Hospital, Seoul," Jawab Yu Zhen
" Baik. Sebentar ya, Tuan."
Go Ryung segera menghubungi RS Emerald dan mencari nama yang Yu Zhen sebutkan. Tak lama ia kembali ke bed rawat Yu Zhen.
" Dr. Lee sudah saya hubungi. Dia akan segera kemari," kata Go Ryung
__ADS_1
" Baiklah. Terima kasih, nona," ucap Yu Zhen dengan senyum yang lemah. Go Ryung mengangguk dan kembali ke pos perawat.
" Semoga kau cepat datang, Yeol. Aku harap orang itu belum kembali dan tahu kalau aku sudah melarikan diri." Gumam Yu Zhen. Ia berusaha menutup matanya untuk tidur. Tapi, rasa perih itu seakan melarangnya untuk beristirahat.
Di sebuah gudang, seorang laki-laki menyalurkan kemarahannya pada 2 orang bawahannya dengan memaki dan melempari mereka dengan barang-barang yang ada didekatnya.
" Kalian bodoh! Tak becus!" Teriak pria itu.
" Maaf, Tuan. Sa-saat itu ka-kami juga ti-tidak tahu, tiba-tiba kami ping-pingsan," bela seorang laki-laki bertato.
" Be-benar, Tuan," timpal seorang lagi
" Aaarrgghh! Brengsek!!!"
Brakk...pyarrr...
" Yu Zheeeennn!! Aku akan cabik-cabik kamu, brengsekkkk!!!" Teriak orang itu menggila. Wajah putihnya memerah. Mungkin, jika Emy melihat lelaki ini, Emy akan kecewa. Perubahan yang sungguh diluar harapan seorang Emy.
Kembali ke mansion Tae Sang, laki-laki itu terus saja menempeli Emy kemanapun. Mikha dan Micko sudah tertidur karena kelelahan bermain sepanjang hari.
" Sayang, ayo bobok..." ucap Tae Sang manja
" Aku masih mau belajar. Aku sudah melewatkan banyak hal tentang kemajuan medis selama 6 tahun...aku gak mau jadi orang bodoh saat masuk besok," ujar Emy.
Tae Sang mengeratkan pelukannya di pinggang ramping tunangannya. Saat ini, Emy duduk di pangkuan laki-laki tampan idola para wanita itu. Tadi, saat ia masuk ke ruang belajar, Tae Sang terus saja merangkul pinggangnya. Saat akan duduk, tanpa malu, Tae Sang menyerobot lalu duduk dan menarik Emy duduk di pangkuannya.
Awalnya Emy merasa tak nyaman, tapi lama kelamaan ia merasa nyaman dan membuatnya enggan berdiri. Tae Sang terus mencium leher dan bahu Emy. Tangannya bergerilya nakal meraba perut rata wanita dalam pelukannya. Setiap kali tangan besarnya sampai di balik blouse yang dipakai Emy, maka tangan wanita itu akan menahannya dan menariknya keluar.
" Sayang...apa kau masih belum mau menikah denganku, hmm?" Tanya Tae Sang. Ciuman terus mendarat di tengkuk dan ceruk leher Emy.
" Hmm...entahlah," jawab Emy tenang. Tangan dan ciuman Tae Sang terhenti.
' Apa dia masih belum mencintaiku,' batin Tae Sang.
" Sayang, apa kau...belum mencintaiku?" Tanya Tae Sang pelan setelah sebentar mengumpulkan keberaniannya dengan menutup matanya.
" Entahlah..."
Deg
" Apa usahaku kurang, sayang? Apa kau...walau sedikit saja...menyukaiku?"
" Aku...."
__ADS_1