
40 Menit sebelum operasi
Sampai di RS Emerald, Emy menjalani CT-scan. Kurang lebih 20 menit kemudian, Emy dapat melihat hasilnya.
" hahhhh... hahaha... " buliran air mata jatuh membasahi pipinya. Emy tertawa bukan karena bahagia, tapi menertawakan nasib yang selalu saja seperti menghukumnya tiada henti. dr. Lee menepuk bahu Emy. Ia tak memliki kata mutiara yang indah untuk menghibur sahabat yang sudah anggap adik itu.
Kenyataan pahit karena dirinya harus secepat itu meninggalkan dunia bedah, hanya karena kecerobohannya. Membiarkan orang membully dan menindasnya.
Seorang dokter bedah mengalami Neuropati perifer atau gangguan yang terjadi akibat kerusakan pada sistem saraf perifer atau sistem saraf tepi, merupakan pukulan yang teramat hebat dan menyakitkan. Bagaimana tidak, kerusakan sistem syaraf tersebut menyebabkan proses pengiriman sinyal antara sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi terganggu.
Sistem saraf tepi menghubungkan sistem saraf pusat di otak dan tulang belakang ke seluruh organ tubuh. Kerusakan pada sistem saraf tepi dapat mengganggu fungsi normalnya. Salah satu contohnya adalah tidak bisa mengirim sinyal sakit ke otak, walaupun ada sesuatu yang menyakiti tubuh. Atau sebaliknya, mengirim sinyal sakit meski tidak ada yang menyebabkan sakit.
Jika demikian, bagaimana dia bisa memegang pisau bedah? Ia tidak akan bisa merasakan jika memegang pisau atau benda alias kebas. Pilu rasa hati Emy. Kenyataan pahit vonis tumor otak dulu sudah menyesakkan dadanya, lalu saat ini kerusakan syaraf, benar benar membuatnya terpuruk. Di sela sela rasa pahit yang harus ia telan, Emy masih meneliti setiap hasil testnya yang terpampang di kaca.
Dengan rinci ia sendiri menjelaskan prosedur penanganannya pada dr.Lee dan dan dr.Oh, seorang ahli syaraf. Dan saat di ruang operasi, Emy masih sempat menuntun seniornya itu dalam mengambil langkah tindakan operasi terhadap tangannya, sebelum akhirnya kehilangan kesadaran karena pengaruh anestasi.
Luther menggunakan waktunya untuk menyusun pembalasan atas perbuatan mereka yang selalu saja menganggu Emy. Ia bertahan selama ini, karena ia tahu karakter Emy. Tapi kali ini, walau Emy semakin membencinya, ia akan menerimanya. Tapi ia akan membalaskan perbuatan mereka.
" Aku punya berita untukmu." kata Luther saat panggilan teleponnya terhubung.
"....."
" Aku akan kirim via e-mail, kau tinggal mengekspos besok. Dan akan kukirim berita lain 2 hari lagi. Aku mau berita berita itu terus beredar lama. Dan satu hal yang menjadi jaminan. Semua fakta!"
"......."
__ADS_1
" Aku tunggu!" Tanpa menunggu jawaban dari seberang telepon, Luther menutup ponselnya dan menggenggamnya erat. Rahangnya mengeras saat kembali mengingat apa yang Emy alami selama di Negeri Ginseng ini.
Kesokan harinya, Emy sudah siuman, Ia meminta perawat Na melepas jarum infus di tangannya.
" Dokter, apa tidak istirahat dulu?" saran perawat Na. Emy hanya menggeleng dan menyisir rambutnya.
" Emy-a, kau mau kemana?" Tanya dr.Lee yang baru saja masuk ruangan.
" Iya, Chagi... kau baru di operasi kemarin. Kau mau kemana?" Imbuh Hannah seraya mendekati Emy.
Emy melihat ketiga sahabatnya yang sudah begitu baik padanya. Ia bersyukur bisa mengenal mereka. Tapi tak ingin terus menyusahkan manusia manusia berhati mulia itu. Ia harus pergi, Ia harus meninggalkan mereka. Tak ada pilihan. Ini sudah menjadi takdirnya. Hidup sendiri.
" Aku harus pergi, Han. Aku tak mau di sini." Jawab Emy singkat menahan kesedihan. Ia mengatur nafasnya diam diam saat ia menunduk memakai sepatunya.
' aku harus bisa. Mereka gak boleh liat aku nangis.' kata Emy mantap dalam hati. Emy melebarkan matanya dan mengedipkannya cepat. Menghapus buliran air mata yang mulai menggenang dengan cepat dan menyamarkannya dengan menyibakkan rambutnya ke belakang saat memakai sepatunya.
" Iya, aku gak papa. Jaga diri ya, Unni. Terima kasih banyak. Aku juga pergi." bisik Emy sambil memeluk erat sahabatnya itu. Hannah merasa ada yang tidak beres. Segera Hannah melepas pelukan Emy, mengeryit dan menatap Emy.
" Kau mau pergi? kemana?" selidik Hannah.
" Aku kan bilang, gak mau di sini." Jawab Emy ambigu, jantungnya berdegup kencang, ia merasa gugup dan berusaha menutupinya dengan menarik nafas.
" Oh... gitu.. hehehe..aku kira.." ucap Hannah lega. Walau belum begitu percaya, tapi Hannah menerima penjelasan Emy.
" Oppa...terima kasih banyak ya, kalau oppa, Hannah dan Nona Na gak ada, gak tahu aku kayak apa..." ucap Emy tulus dan melihat tiga orang di hadapannya itu.
__ADS_1
Dr. Lee, Hannah dan perawat Na menyangka, bahwa itu adalah ucapan terima kasih karena semalam.
" Emy-a kamu itu adikku, dan aku menyayangimu, Ae Rim dan Hannah juga menyayangimu. Jadi kamu gak usah bilang gitu., kar..." dr.Lee tak melanjutkan kata katanya karena Emy yang sudah memeluknya tiba tiba. Kaget bercampur senang, karena ini pertama kalinya ia bisa memeluk adiknya. Ia membalas memeluk Emy dan terharu.
" Adikku..." lirih dr.Lee
Setelah beberapa saat Emy melepas pelukannya pada dr.Lee lalu memeluk perawat Na.
"perawat Na. Terima kasih sudah merawatku." Emy menepuk punggung asistennya itu, saat ia masih memeluknya erat, membuat perawat Na merasa aneh.
' Kok seperti akan pergi jauh. Gak biasanya dokter Sie seperti ini'
Emy melepas pelukannya dan mengambil tas kecil miliknya.
" oke, sekarang aku ke ruang kerjaku ya...daa..." Emy memberikan senyum menawan pada ketiganya. Dan benar saja, mereka tampak bahagia melihat senyum itu lagi.
Ia melangkah keluar diiringi perawat Na yang mengantar hingga ke pintu kamar rawatnya.
" Baiklah, aku juga pergi dulu, oppa. Tolong jaga Emy. Hubungi aku secepatnya kalo ada apa apa." dr. Lee mengangguk dan mengantar sepupunya hingga lobby RS.
Emy kembali ke ruang kerjanya di RS itu. Disana, semua barang miliknya sudah tak ada. Karena ia sudah memindahkannya sedikit demi sedikit, agar tak ada yang curiga.
Surat kontrak kerja sudah berakhir 2 hari lalu. Jadi tak ada lagi beban yang harus ia tanggung, saat ia pergi. Surat untuk Hannah, dr.Lee, Perawat Na sudah ia kirim lewat E-mail mereka masing masing yang akan masuk inbox mereka esok malam. Karena Emy sengaja memasang pemilihan waktu untuk e-mailnya.
Emy mengusap meja, rak, brankar, kursi yang ada di ruang kerjanya. Matanya mengedar seluruh ruangan lalu menarik nafas panjang. Ia keluar dan menutup pintu ruangannya setelah menaruh kunci di atas meja kerjanya.
__ADS_1
Emy melangkah perlahan menyusuri koridor rumah sakit, ia berhenti di lorong ruang operasi dan menatap pintu dengan lampu diatasnya yang masih menyala merah, tanda seseorang sedang menjalani pembedahan atau operasi.
Sampai di lobby RS, ia kembali berhenti dan memandang pintu IGD yang tersambung dengan Lobby. Setelah beberapa detik ia keluar dan masuk ke dalam taksi.