Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Mulai Mengumpan


__ADS_3

Saat Emy kembali dari Kejaksaan, Luther dan Dennis belum juga bangun. Emy segera memasuki ruang kerjanya dan Tae Yang. Disana, sudah ada Evan yang sedang mengetik sesuatu.


“ Paman!” panggil Emy


“ Hmm, kau sudah pulang, apa ada yang aneh selama perjalanan?” tanya Evan masih dengan mata terfokus ke layar monitor di depannya.


“ Hmm ... hanya sebuah mobil yang terus membuntutiku, tapi Pak Jang membawaku melewati jalan ramai,” kata Emy. Evan mengangguk mengerti


“ Pengacara Oh juga dibuntuti saat mereka keluar dari Mansion. Sepertinya mereka memiliki banyak tim,” ucap Evan


“ Lalu apa yang akan kita lakukan?” tanya Emy


“ Jangan kuatir, Jung Hyuk sudah memberiku akses ke markas pengawal Tae Yang. Aku akan mengkoodinasikan dengan mereka. Kau dan Anak-anak jangan kemana-mana sampai masalah ini selesai. Jung Hyuk akan menjalankan Perusahaan sementara tapi tetap kau kendalikan dari tempat ini, mengerti?” titah Evan dan berbalik menatap lekat putri babtisnya


“ Tidak bisa, Paman. Besok aku harus hadir untuk rapat Pemegang Saham. Mereka hendak mengganti Tae Yang lagi,” ucap Emy dan bersandar di sofa


“ Kalau begitu, Dennis akan mengantarmu, jangan pernah menolak. Bela diri dan kecepatan Dennis sangat bagus. Jadi, dia bisa menjagamu,” 


“ Baiklah ...” kata Emy lemas


“ Besok, biar Dennis yang menyetir. Aku mau suruh Pak Jang pergi ke tampat lain,” kata Evan lagi dan kembali menghadap komputer 


" Hahaha ... tentu saja dia yang menyetir, Paman kan tahu aku tak bisa," ucap Emy terkekeh


" Kau itu, seharusnya belajar," ujar Evan


" Ck ... aku kasihan dengan mereka yang nanti aku sopiri, Paman,"


" Ck .. alasan saja kau itu ..."


Hari itu dihabiskan Emy untuk menyusun rencana memberi beberapa tip informasi kepada Media secara acak. Orang suruhan Jung Hyuk telah berhasil memberi informasi tentang background 2 pelapor itu beserta nomor rekening dan nomor ponselnya. Emy menggunakan info itu dan mulai menelusuri rekeningnya. Senyum seringai muncul di bibir cantik Ibu dari 3 jagoan kecil Mikha, Micko dan Migu. 


“ Paman, aku sudah selesai,” kata Emy. Evan menatap layar monitor Emy dengan seksama


“ Hmm, kita mendapatkan mereka, apa kau akan mengirimnya sekarang?” tanya Evan


“ Ehm ... boleh juga. Ini masih sore sih, tapi tidak apa, supaya lebih cepat ...” ucap Emy dengan bibir mengerucut lucu dan mulai mengirim sedikit informasi ke Media secara acak.


“ Kau yakin, malam ini akan heboh,” Kata Evan sambil tertawa


“ Mommy!!!” 


“ Mommy!!!” 


Panggil 2 bocah yang datang bersama Dennis dan Luther serta Baby Migu dalam gendongan lelaki berjanggut tipis itu. Bila dilihat dari jauh, mereka seperti pasangan Gay, Ricky Martin dan pasangannya yang membawa kedua putra kembarnya. 


“ Ah ... anak Mommy sudah bangun, sudah cukup tidurnya, hmm?” tanya Emy sambil memeluk kedua buah hatinya. Si kembar mengangguk lalu menaruh dagu mereka di bahu Mommynya


“ Masih ngantuk?” 


Si kembar menggeleng, “ Mikha rindu Daddy,” ucap Mikha yang mulai terisak

__ADS_1


“ Micko juga,” 


" Oh boy ..." gumam Emy


Huaaaaa .... huaaaa ...


Oeeekkk ... Oeeekkk ...


Ketiga bocah kecil itu serempak menangis dengan keras. Emy semakin memeluk kedua buah hatinya. Ia sendiri juga sudah merindukan suaminya, apalagi kedua bocah yang tak pernah terpisah dari sang Ayah. Sementara, Luther segera pergi ke kamar baby Migu dan meminta susu.


“ Mikha, Micko ... Grandpa yakin sebentar lagi orang jahat yang menangkap Daddy akan kalah dan Daddy dilepaskan,” hibur Evan seraya mengusap punggung si kembar


“ Be .. benar ...kah ... Grand ...pa?” tanya Micko tersedu dan melepas pelukannya pada Mommynya lalu menghapus air matanya. Tak jauh beda juga dengan Mikha. Keduanya menatap sendu pada Evan


“ Iya, sayang. Kan, Mikha sama Micko sudah bantu, Daddy. Nah, semua itu akan membuat orang jahatnya pergi dari Daddy,” jawab Evan dengan senyumnya.


Lelaki itu menggendong si kembar dan membawanya duduk bersamanya di sofa. Emy merasa bersyukur karena di saat-saat sulit, ada Evan, Paman yang sangat ia sayangi selalu ada untuknya. 


Malam itu, Evan kembali duduk di ruang kerja Emy. Ia mendapat laporan bahwa hari ini akan ada transaksi dan mereka sudah bersiap untuk menggerebek bersama Interpol. 


“ Paman!” panggil Emy


“ Kenapa tak istirahat? Sudah seharian Paman disini,” kata Emy dan mulai memijat bahu Pamannya


“ Ada informasi tengah malam nanti ada transaksi, jadi aku harus berkoordinasi dengan mereka,” kata Evan tanpa melihat Emy.


“ Oh, ya Paman, umpan yang kukirim tadi sepertinya sudah dimakan. Orang- orang Jung Hyuk melapor kalau kedua orang itu dan keluarganya sekarang diburu Media,” kata Emy dengan senyum. Evan berbalik dan tersenyum pula serta menepuk bahu Emy


“ Berikan terus sedikit demi sedikit. Seperti kata Luther, biarkan mereka juga menggali. Kita hanya cukup memberi mereka remah jejak, kau mengerti?” kata Evan


Tit .. tit ...


Evan segera berbalik menghadap monitor kembali ketika ada suara notifikasi muncul dan segera membukanya


“ Oo.. Damn!” umpat Evan. Pria kekar itu segera berlari menuju kamar Dennis yang bersebelahan dengan ruang kerja dan menggedor pintunya. 


“ Ada apa?” gumam Emy dan segera melihat layar monitor. Terdapat banyak titik-titik merah yang mucul di sana.


“ Apa itu?” gumamnya lagi


“ CEPATLAH DENNIS! WAKTUMU 2 MENIT!” seru Evan dan segera kembali ke tempat duduknya.


“ Paman, ada apa?” tanya Emy yang mulai ikut panik. Namun, tak ada jawaban dari mulut Evan


Lelaki itu segera memakai headsetnya dan mengetikkan beberapa kode yang kemungkinan adalah password.


“ ALFA 1, MISI DIPERCEPAT! SEGERA KE DERMAGA. KOORDINAT  38°12′0.00″N 128°35′60.00″E. ULANGI MISI DIPERCEPAT! SEGERA KE DERMAGA. KOORDINAT  38°12′0.00″N 128°35′60.00″E,” titahnya


“ ALFA 1, SIAP. POSISI!”  terdengar suara dari seberang


Emy hanya bisa diam dan terus memperhatikan apa yang dilakukan Pamannya. 

__ADS_1


“ Em, tolong bantu aku cari titik ini,” seru Evan tak lama kemudian seraya menunjuk sebuah titik merah yang tiba-tiba mulai menghilang


“ Oke, Paman. Buka pelindungnya, aku akan lindungi dari sini dan mencarinya,” ucap Emy. Jemari lentik itu kembali menari di atas keyboard komputer. Tak membutuhkan waktu lama, Emy kembali mendapatkan lokasi titik merah yang Emy sendiri tak mengerti posisi siapa itu.


“ Dapat!” seru Emy


“ 47° 21’1.01”N 127°47’ 67.07”E,” Evan mendikte lokasi yang didapat Emy pada Timnya. 


“ Amankan, Interpol akan datang dalam ( Evan melihat monitor) 2 menit jalur udara,” titah Evan


Terdengar suara tembakan dan letusan dari speaker yang ada di ruangan itu. 


“ Back up! Back Up!” seru seseorang yang sepertinya adalah Ketua Tim


“ Alfa 2, Back up Alfa 1!” titah Evan


“ Lapor! Jarak terlalu jauh! Waktu sekitar 7 menit!” jawab seseorang dari seberang


“ Tidak bisa bertahan, Back up 1 menit!” pinta seseorang dari tim lainnya


“ Paman, aku bantu. Minta posisi mereka!” seru Emy


“ Alfa 1, koordinat posisi worm (nama kode untuk musuh)!” seru Evan


“ 43° 17’0.01”N 128°39’ 62.03”E.... 40° 15’0.0”N 128°37’ 61.03”E ... “ 


“ Oke! Stay di tempat, ya,” ucap Emy


“ Komandan?”


“ Dengarkan dia. Stay!” kata Evan sambil melihat Emy yang entah mengetikkan apa dan rencana apa yang akan dibuat wanita itu


1


2


3


**Boooommm!!!


Boooommm**!!!


“ What the ...” seru seseorang dari seberang


“ Status!” seru Evan


“ Siap! Parcel siap dibungkus, Komandan!” seru seseorang di sana


“ Oke, segera kembali,” titah Evan dan memutuskan transmisinya. Emy tersenyum cerah lalu menoleh. Salivanya terasa berat untuk ditelan ketika ia melihat Pamannya yang melihatnya curiga


“ Kau! Katakan kali ini apa yang sudah kau bobol?” 

__ADS_1


“ Hehehe ... itu cuma ...” lidah Emy tercekat dan tersenyum paksa. Tangan kecilnya menggaruk-garukkan kepalanya yang tak gatal


“ Katakan EMY SIE!” seru Evan lantang


__ADS_2