
Emy mau menulis di kertas yang diberikan Nona Gu. Tapi, Emy tak juga berhasil turun dari pangkuan Tae Yang. Karena itu, ia menulis menggunakan bantal sofa sebagai alas.
Seorang pelayan masuk dan menghidangkan minuman serta camilan.
" Silahkan diminum Nona Gu, Tuan Jeong." Kata Emy. Keduanya mengangguk dan menikmati hidangan.
Emy kembali menulis di kertas yang tadi diberikan Gu Su Jin.
Tae Yang melirik yang ditulis Emy.
Tanggal pernikahan: 26 November
Pukul : 14.00
Nama Pengantin Pria: Kim Tae Yang
Nama Pengantin Wanita: Emy Sie alias Emilia Yolanda Lumanauw
Walaupun ayah kandungnya sudah tak menganggapnya, namun tetap, ia ingin menggunakan nama lahirnya saat ia menikah.
Bibir Tae Yang semakin terangkat. Senyumannya tak pudar. Ia menutup mulutnya saat melihat tulisan Emy. Pernikahannya tinggal 2 minggu lagi. Tanpa sadar ia kembali memeluk Emy dan mencium wajah cantik Emy berkali-kali. Emy memukul dada Tae Yang beberapa kali, barulah lelaki itu melepaskannya. Senyum sumringah tak lelah menhiasi wajah tampannya.
" Nona Gu, ini. Untuk dresscode...formal-semi formal party. Jadi, gaun dan jas seperti biasa," kata Emy.
" Untuk gaun dan jas Nona dan Tuan, baru bisa selesai seminggu lagi. Untuk foto pre-wedding mau ambil konsep apa, Nona Muda?" Tanya Jeong Min Ki yang berurusan dengan fashion dan fotografi.
" Iya, tidak apa-apa. Pre-wedding..." Emy menoleh ke arah Tae Yang. Laki-laki itu sibuk menciumi bahunya dan melihatnya. Emy jadi risih dibuatnya.
" Kalau kau seperti ini terus, aku akan membatalkan pernikahan kita." Tegas Emy berbisik
Tae Yang segera menghentikan ciumannya lalu kembali tersenyum.
" Turunkan aku," lanjut Emy. Tae Yang pun menurutinya. Kedua tamu mereka terus tersenyum dan mengulum bibirnya.
" Pre-wedding aku ingin di pantai dekat sini aja, karna waktunya juga terlalu mendadak," ujar Emy.
__ADS_1
Gu Su Jin dan Jeong Min Ki sangat salut dengan kepribadian Emy yang tak mau ribet dan mempersulit orang.
Menyiapkan pernikahan memang tidaklah semudah yang dibayangkan. Para pegawai Event Organizer harus bekerja ekstra cepat dan tepat serta kreatif untuk bisa mencapai keinginan mempelai.
Baru kali ini mereka mendapatkan klien yang mengerti kesulitan mereka dan tidak semena-mena memaksakan keinginan mereka.
" Baik, Nona Muda. Terima kasih banyak atas kerjasama dan kemurahan hati Nona Muda. Kami akan langsung kembali dan bekerja. Tuan Muda, Nona Muda, kami akan menghubungi Anda untuk kedepannya. Kami permisi." Pamit Gu Su Jin
" Iya, baiklah. Terima kasih. Maaf merepotkan," ucap Emy sopan.
" Sayang, itu memang tugas mereka," kata Tae Yang. Emy mendelik dan menoleh pada Tae Yang. Membuat lelaki itu kembali menutup mulutnya.
Setelah kedua tamunya keluar, Emy bermaksud untuk kembali ke kamarnya dan berganti baju. Tapi, tiba-tiba saja Tae Yang mengangkat tubuh Emy.
" Tae Yang-ssi! Turunkan aku!" Tegas Emy. Tapi tak digubris laki-laki yang sudah dibuatnya mabuk kepayang itu.
Tae Yang mengambil langkah lebar kembali ke kamar.
" Kamu harus dihukum, ratu kecilku," ujar Tae Yang. Jantung Emy berdegup kencang. Tangannya meremas erat kemeja Tae Yang. Senyum simpul menghias wajah laki-laki itu.
" Yeol-a...mana dokter itu? Ini...sakit..sekali...hufff..." Keluh Yu Zhen
" Aku juga gak tahu," ujar dr. Lee. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" A Zhen, aku akan urus kepindahanmu ke Emrald aja. Kau tidak akan segera membaik jika disini terus," kata dr. Lee
Yu Zhen hanya mengangguk sambil meringis kesakitan. Luka di punggungnya membuatnya tersiksa tak bisa bergerak karena akan terasa sangat sakit bila terkena gesekan.
Luka-luka di dada, perut, kedua tangan dan kaki juga membuatnya tersiksa. Seakan kematian mulai menantinya.
Luka sayatan pisau dan cambuk tak terhitung banyaknya. Sepertinya, mereka memang berencana membuatnya mati perlahan.
Tak pernah terlintas di pikirannya, bahwa orang yang begitu ia kenal dengannya, tega melakukan ini.
Perjalanannya ke Korea, sebenarnya untuk bertemu Emy yang dikabarkan masih hidup setelah 4,5 tahun dikabarkan meninggal. Ia ingin bertemu dengan penyelamat sekaligus satu-satunya wanita yang tanpa ia sadari berhasil menempati hatinya.
__ADS_1
Ia tak menaruh curiga, ketika sebuah mobil pribadi dan seorang sopir berkata kalau dirinya dari pihak hotel yang ia booking. Dengan santai ia masuk ke dalam mobil dan mengistirahatkan matanya yang lelah, setelah ia harus terjaga selama 16 jam karena jadwal operasi yang begitu padat.
Saat ia membuka matanya, semua sudah terlambat. Sepertinya ia mereka mereka membiusnya dengan uap bius saat di mobil. Karena itu, ia tak menyadari saat ia dibopong masuk ke dalam sebuah gudang entah dimana.
3 hari ia mendapat siksaan berupa sayatan pisau cutter dan cambuk. Selama ini ia hanya bisa merasakan air 2 kali sehari setengah gelas dan tanpa makanan.
Tangan dan kakinya dirantai. Siksaan ia alami siang dan malam. Pertama dari orang itu dan sisanya dari bawahannya atas perintah orang itu.
Kesempatan muncul saat ia tanpa sengaja, melihat salah satu penjaga menjahit celananya yang robek. Ia menisik jarum itu pada kain dan meletakkannya asal di meja.
Yu Zhen menggunakan kesempatan saat para penjaga makan di luar gedung. Ia menarik rantai yang membelunggunya. Tak cukup panjang. Akhirnya, ia memakai kakinya dan memaksakan diri untuk mencapai cambuk yang ditinggalkan penjaga di tembok. ujung jarinya berhasil meraih cambuk itu.
Walau harus merasakan sakit yang luar biasa, Yu Zhen terus meraih cambuk itu agar bisa lebih dekat padanya. Ia melempar cambuk itu ke kaki meja dan menariknya dengan tenaganya yang tersisa.
Sepertinya Tuhan masih berpihak padanya. Ia berhasil meraih kain itu dan mengambil jarumnya lalu melempar kainnya jauh beserta cambuknya.
Saat penjaga kembali, mereka melihat kekacauan yang ada. Mereka menarik rantainya agar ia berdiri dan kembali mencambuknya.
" To..long...a..ku..tak...kuat..lagi..." Ucap Yu Zhen terbata. Ia mulai menunduk dan berpura-pura pingsan. Melihat tawanannya pingsan, mereka berusaha membangunkannya dengan air, tapi tak berhasil.
" Kendorkan talinya, cepat!" Kata seorang penjaga.
Setelah rantainya kendor, Yu Zhen mulai mengambil celah untuk rencananya. Saat kedua penjaga mendekat dan berjongkok di dekatnya, dengan cepat dan akurat, Yu Zhen menancapkan jarumnya
Cus
Cus
Kedua leher penjaga itu ditusuk tepat di area meridian atau titik saraf yang akan membuat mereka tak sadarkan diri.
Yu Zhen mencari kunci, dan ia pun berhasil melepaskan diri. Sampai diluar gudang, ia mendapati dirinya jauh dari kota. Yu Zhen berlari sekuat tenaga dan mendapati sebuah truk yang sedang menepi untuk membetulkan mesin mobil.
Perlahan dan pasti, Yu Zhen naik ke atas truk. Merasa aman, Yu Zhen terlelap. Saat ia bangun, ia berada di hutan. Si pengemudi truk telah pergi entah kemana.
Yu Zhen keluar dari balik tenda dan barang-barang didalam truk lalu berjalan tertatih mencari jalan raya.
__ADS_1