Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Maaf


__ADS_3

Pagi ini seperti biasa, bibi Nam sudah menyiapkan sarapan di meja makan, Emy juga tengah bersiap didalam kamar untuk kembali bekerja.


Tae Sang dengan elegan menuruni tangga dan duduk di ruang makan, menyantap sarapan yang bibi Nam sediakan. Emy berjalan membawa tas ranselnya, lalu pergi ke dapur.


“ Pagi, Bibi...” sapa Emy sopan pada wanita paruh baya didalam dapur yang masih saja bergumul dengan berbagai bahan bahan untuk masakan korea.


“ Ah ... selamat pagi, Nona... apa kau mau sarapan?” tanya Bibi Nam kembali dengan sopan.


Emy sedang membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa kimbab yang ia taruh semalam dan memasukkannya kembali ke tas. Sementara Tae Sang bertingkah seolah tak ada siapapun disana dan asyik dengan makanannya.


“ Tak usah, Bi ... saya harus berangkat sekarang. Terima kasih tawarannya. Saya berangkat dulu ya, Bi.” Jawab Emy sopan dan pamit, Emy melirik Tae Sang yang masih lahap memakan sarapannya, tak memperdulikannya.


“ Presdir, saya pergi dulu.” Tak ada jawaban dari laki-laki yang ia sapa, Emy segera berlalu.


Bibi Nam yang melihat itu mengigit bibir bawahnya, memejamkan matanya dan mengelus dada. 


‘sabar ya, Nona Sie... ‘ gumamnya dalam hati.


Taksi online yang Emy hubungi tadi, sudah menunggunya di depan pagar, ketika ia keluar. Emy menikmati perjalanannya. Menghela nafas dan berkomitmen untuk tetap tersenyum dan pasrah dengan kenyataan. 


Emy hanyut dalam pikirannya. Hingga tak sadar, taksi yang ia tumpangi, telah sampai didepan lobby rumah sakit. Emy memberikan ongkos taksinya pada pak sopir, lalu membuka pintu dan berjalan menjauh dari taksi.


" Nona … tunggu!" teriak si sopir dari dalam taksi. Emy berhenti lalu kembali dan menghampiri jendela mobil. 


" Ya, pak?" tanya Emy sopan


" Ini kembaliannya, nona…" sopir taksi itu menyodorkan selembar uang dan beberapa koin kembalian.


" Oh … untuk ahjussi aja… terima kasih banyak… saya masuk dulu," ucap Emy dengan senyum dan berlari masuk ke dalam lobby rumah sakit.


" Terima kasih, Nona!" teriak sopir taksi, yang hanya dibalas lambaian tangan dan senyum Emy yang berbalik sebentar melihat pak sopir tanpa menghentikan langkahnya.


Taksipun melaju pergi. Dengan terburu-buru Emy berjalan menuju ke lift. 

__ADS_1


" Anda memang keras kepala, Dokter Sie!" suara berat sedikit serak yang sangat Emy kenal, menghentikan langkah Emy. 


Emy berbalik dan memaksakan senyumya pada laki-laki berbadan subur dan tinggi, yang menatap tajam ke arahnya.


" Ah … hahaha… Direktur Kang, selamat pagi … apa kabar?" sapa Emy sambil membungkuk 45 derajat. 


" Kau sudah lihat sendiri keadaanku bagaimana. Dan kau, apa kau baik-baik saja, hmm?" tanya Direktur Kang sarkas.


" Oo .. saya baik-baik saja, Direktur ... hehehe.." sahut Emy meringis. 


" Benarkah? Kenapa berbeda dengan laporan yang kubaca?" Tatapan direktur Kang sungguh membuat Emy tak dapat membantah.


Emy menelan ludahnya dengan paksa, berjalan mendekat pada direktur Kang, memegang lengan besar Direktur Kang dan kembali membungkuk sambil berlutut, tanpa peduli pandangan orang sekitarnya.


" Direktur ... saya mohon …" Direktur Kang berganti menjadi bingung dengan tingkah Emy.


Matanya menjelajah ke sekelilingnya, banyak orang telah berkumpul dan melihat aksi Emy. Ia begitu malu lalu menepis tangan Emy.


" Dokter Sie, kau… terserahlah…" direktur Kang melangkah cepat meninggalkan Emy yang masih berlutut dan nyegir karena berhasil membuat direktur Kang menyerah padanya.


Mengerjakan pekerjaan di balik meja dan komputer, tak sebanding dengan kepuasan saat dapat menyelamatkan jiwa dan menolong sesama.


Setidaknya itulah yang menjadi prioritas utama Emy saat ini. Saat waktu itu masih ada, ia ingin menggunakannya dengan maksimal, menorehkan kenangan manis pada lembar kehidupannya.


Mengecek pasien pra operasi dan pasca operasi serta melayani konsul, saat ini, itulah yang banyak dilakukan Emy. Ia masih belum berani mengambil resiko di ruang bedah.


Membantu meringankan beban di ruang gawat darurat juga ia kurangi. Ia sadar bahwa ia masih belum sepenuhnya sehat. Kepala masih terasa pusing dan mudah lelah. 


Dokter Lee seperti biasa membawa bento untuk Emy dan mereka bersama-sama melahap santapan dengan dibarengi canda tawa.


Selain dengan Hannah, bersama dr. Lee, Emy dapat tersenyum dan tertawa lepas karena gurauan dan kekonyolan dr.Lee.


" Hei! Emy … kau itu, apa kau wonder woman, jangan terlalu memaksakan diri, oke?" Kata dr. Lee serius.

__ADS_1


" Hei … aku bukan wonder woman aku ini super girl…" sahut Emy dengan senyum seringainya.


" Ya ... ya … super girl yang bahkan tak mampu mengangkat anak kecil." Sindir dr.Lee


" Heiii ... bukan tak mampu, tapi bukannya ada sunbae … buat apa tidak dimanfaatkan, sayang, kan?" timpal Emy enteng.


" Ish ... dasar kau! Sudah aku masuk dulu, ada jadwal operasi setengah jam lagi. Dan kau anak kecil, pulang sana!" 


Dokter Lee berlari masuk kedalam gedung, tak mau lagi ia mendapat timpukan maut Emy. Dia sudah merasakan beberapa bulan lalu.


Dan wow … biarpun Emy berbadan mungil, tapi kekuatan pukulannya, tak kalah dari wonder woman.


Emy hanya melihat dr. Lee dengan kesal. Kesal karena 2 kata. Dipanggil anak kecil dan tidak bisa memegang pisau bedah untuk mengoperasi pasien. Itu adalah 2 hal yang sangat menyebalkan menurut Emy.


Sepasang mata  melihat interaksi 2 manusia berlawanan jenis itu dan menyeringai. Tatapan marah benci bercampur jadi satu.


Untunglah deringan pada ponselnya mampu mengalihkan perhatiannya dari seorang wanita yang sudah ditinggal pergi oleh si lelaki. Dengan langkah lebar ia beranjak dari tempatnya berdiri, dan menuju ke ruangan direktur rumah sakit Emerald, Kang Hyun Kwan.


Didalam lift, ia harus berdesakan dengan beberapa perawat dan dokter. Mereka semua menunduk hormat padanya. Tapi mereka tak sepenuhnya sadar siapa dirinya.


" Hei, apa kau tahu... dokter Emy Sie sepertinya belum sehat, tapi kenapa dia memaksa masuk? aku kasihan padanya ..."


" Huh? betulkah? Tapi, biarkan sajalah, dia memang selalu begitu orangnya. Mungkin takut tak dapat gaji ... hahaha..."


" Hei, Hyun Ji ... kau itu, apa kau lupa siapa yang sudah membantumu waktu kau membuat kesalahan pada pasien? Dokter Sie yang tak bersalah, bersedia mendapat tamparan hingga pipinya memar, hanya gara-gara kamu. Eh... sekarang, kau seenaknya saja kalau bicara!"


" Ih ..dokter ... bukan begitu, kalau memang dia belum sehat, untuk apa segera kembali bekerja, itu saja maksud saya..."


" Kamu sama dia itu beda! Dia itu lebih mementingkan orang lain. Kalau kamu, kamu cuma mementingkan wajahmu yang oplas itu!"


" Dokter! Apa anda suka dengan dokter ingusan itu sampai anda begitu membela dia?"


" DIAAAMMM... apa kalian tidak bisa bertengkar setelah keluar dari lift? huh?!" Tae Sang begitu kesal dengan suara gaduh para pelaku medis itu. Mereka tak ubahnya seperti ibu-ibu yang sedang bertengkar di pasar.

__ADS_1


ting...


" Ah... maaf..."


__ADS_2