
Kepala Perawat mencoba menghubungi dr. Cha lewat ponselnya, dan ternyata hasilnya nihil.
“ Kepala Perawat, tolong bantu saya panggil perawat Na ke ruang OPE. Perawat Park, siapkan darah B+ dan panggil dr. Lee dan dr. Ma suruh ke OPE! “ Perintah Emy lalu keluar ruang IGD.
Melihat pintu IGD terbuka, seorang gadis datang mendekati Emy dengan menangis. Sedang seorang wanita paruh baya dituntun oleh seorang laki laki yang seumur mendekati Emy.
“ Nona Kim So Yin mengalami syok hipovolemik berat (pendarahan dalam) dan harus segera di operasi. Tolong Anda tanda tangani surat persetujuannya. Terima kasih. Saya permisi.” Kata Emy cepat, sebelum sempat gadis itu bertanya.
Mendengar penjelasan Emy, ibu So Yin menangis histeris, ayah Sohee langsung memeluk istrinya dan berkata pada asisten di belakangnya.
“ Segera urus surat-suratnya. Sekarang!” Perintahnya dan diangguki laki-laki berkacamata dibelakangnya. Gadis yang mirip So Yin itu mendekat dan memanggil ibunya.
“ Eomma..” Panggilnya lalu memeluk ibunya itu.
Emy menunduk dan pergi dari sana, ia mau segera bersiap untuk operasi. Beberapa menit setelah Emy berlalu, dr. Cha datang dengan tergopoh gopoh.
“ Tuan Kim... Maafkan saya, saya terlambat. Banyak sekali yang harus saya kerjakan. Jadi, pagi ini saya...”
“ Apa yang lebih penting dari anakku, hah?!” bentakan ayah So Yin membungkam mulut
dr. Cha
“ Maafkan saya, Tuan. Saya tidak mendapat panggilan dari IGD karena ini bukan shift saya...” kilah dr. Cha masih tetap dengan posisi menunduk hormat
Ayah So Yin mendengus dan mengibaskan tangannya ke udara. Ia menuntun istrinya menuju lift dan menyuruh asistennya menelepon dr. Kang Hyun Kwan, sahabat sekaligus direktur Rumah Sakit milik kakaknya ini.
__ADS_1
Dokter Cha menghela nafas dan tanpa rasa bersalah ia melangkah ke IGD dan meminta hasil pemeriksaan So Yin.
“ Apa kau bilang? Nona Kim adalah pasienku. Kenapa anak kecil itu berani mengambil pasienku, hah?!” bentak dr. Cha pada Kepala Perawat.
Dengan tenang Kepala Perawat Moon menjawab, “ Maaf dokter, tapi keadaan Nona Kim sangat gawat dan harus segera di operasi. Seperti yang anda lihat dari hasil rekam disini.”
Dokter Cha tak melihat hasil USG dan segera berlari ke ruang operasi. Ia berlari menuju anjungan pantau ruang operasi. Sedang didalam, Emy dan seorang dokter yang akan menjadi asistennya sedang memakai apron medis yang dibantu seorang perawat. Dan juga, seorang dokter menyuntikkan cairan kedalam sebuah tabung. Dokter Cha menekan tombol speaker yang bisa menghubungkannya dengan ruang bedah.
“ Dokter Sie! Nona Kim adalah pasien saya. Berani-beraninya kau merebut pasienku. Keluar! Keluar dari sana!” seru dr. Cha dengan geram. Wajahnya sudah memerah menahan emosi.
Sementara diruang bedah, Emy dan kru bedah lainnya melihat ke anjungan kemudian saling berpandangan . Emy menarik nafas lalu menatap dr. Cha tajam. Emy mau menjawab namun dr. Lee menepuk pundaknya dan menggeleng. Emy mengangguk pelan dan melangkah ke meja bedah.
Melihat itu, dr. Cha naik pitam, ia menggebrak-gebrak kaca dan berteriak. Namun, tak ada yang mendengarnya di ruang bedah, karena dr. Ma memutus saluran komunikasi itu. Emy telah siap di posisi kepala bedah, ia melihat keatas anjungan. Dokter Cha masih berteriak entah apa yang dikatakannya, lalu berlari keluar.
Emy sudah mulai membuat insisi atau sayatan yang dulu dibuat dr. Cha. Ia kembali membuka rongga dada dengan cepat dan akurat. Dokter Lee dan dr. Ma mengangguk melihat kelihaian Emy. Ketika Emy selesai dengan itu, dan meminta bipolar (pisau bedah elekrik untuk jaringan), dr. Cha tiba-tiba masuk ruangan dengan seragam scrub dan masker yang hanya dia pegang didepan hidung dan mulutnya.
Perawat dan seorang dokter residen yang menjadi asisten Emy, tampak takut dan ragu untuk melakukan tugasnya. Dokter Cha sangat terkenal dengan sikap kasar dan tanpa ampun. Emy dan dr. Lee masih tetap pada tugasnya demikian juga dr. Ma sebagai dokter anestasi.
Seperti tak terpengaruh, Emy tetap meminta peralatan bedah pada suster disebelahnya, tak menghiraukan teriakan dan bentakan, yang akhirnya berhasil membuat dr. Cha pergi dan meninggalkan ruangan. Ia membuang masker dengan kasar ke tong sampah, tapi tak terlempar tepat, namun dr. Cha tak memperdulikannya. Ia melangkah pergi dengan wajah merah dan langkah besar.
Di ruang tunggu, keluarga So Yin dan dr. Kang Hyun Kwan ada disana. Mereka sedang berbicara serius. Entah apa yang dibicarakan mereka. Dokter Cha menarik nafas lalu menghampiri Kim Myung Suk (Ayah So Yin) dan dr. Kang.
“ Tuan Kim, Direktur.” Sapanya sambil membungkuk.
Keduanya hanya menganggukan kepala mereka.
__ADS_1
“ Tuan Kim, Direktur, maaf. Tapi, Nona Kim adalah pasien saya. Seharusnya sayalah yang harus merawatnya. Tapi, dokter ingusan itu datang dan merebut pasien saya bahkan tanpa persetujuan ataupun ijin dari saya. “
dr. Cha mulai dengan kicauannya.
Dokter Kang menghela nafas dan melihat dr. Cha dengan tatapan yang tak bisa diartikan, “ dr. Cha, apa benar dr. Sie merebut pasien Anda? “
“ Benar, Direktur! Dia seenaknya saja mengoperasi pasien saya..hmmph!” Jawabnya sebal dan muka merah.
“ Dokter Cha, saat anakku masuk IGD, dimana Anda? “ tiba tiba Kim Myung Suk bersuara dan menatap dr. Cha dengan tajam
“ Tuan Kim, ini bukan shift saya. Dan seharusnya jika pasien masuk IGD, maka dokter yang merawat dia sebelumnya yang harus bertanggung jawab dan merawatnya kembali hingga sembuh. Tapi saya sama sekali tidak ditelepon oleh dokter ingusan itu ataupun pihak IGD. Jadi...saya tidak tahu. Saya tahunya, ketika saya melihat sopir anda saat parkir, lalu memberitahu saya.”
Pembelaan dr. Cha bukannya membuat
dr. Kang dan Kim Myung Suk menerimanya, tapi malah disambut wajah kedua orang petinggi itu memerah dan kertakan gigi.
Bahkan, Nyonya Chae, ibu So Yin seketika menghentikan tangisnya dan mendatangi dr. Cha
Plakk..
Suara echo tamparan menggema di ruang tunggu yang nampak lenggang itu. Mata
dr. Cha membulat sempurna tak percaya. Ia memegang pipinya yang terasa panas. Memejamkan matanya dan berbalik namun tak berani melihat Nyonya Chae.
“ Bertanggung jawab? Huh?... Kau bilang bertanggung jawab?... Apa ini yang kau maksud tanggung jawab?!” teriak Nyonya Chae sembari menunjuk pintu ruang operasi.
__ADS_1
Dokter Cha memberanikan diri melihat Nyonya Chae sekilas, lalu berlutut. “ Nyonya, ini bukan kesalahan saya. Mereka tidak memberitahu saya soal Nona So Yin yang masuk IGD. Saya sungguh tidak tahu Nyonya. Dan, dokter ingusan itu juga tidak memberitahu saya kalau dia akan membedah putri nyonya. Nyonya...saya tidak bersalah!”