Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Mencari Keberadaan Emy


__ADS_3

' Yeol oppa tahu kalau Emy menikah kontrak?' batin Hannah


" Hannah ... Han ... Hannah-a, " dr. Lee merasa heran karena tak ada suara di seberang telepon, sementara status ponsel masih tetap sedang berbicara.


" Aa ... aa ... hahaha... iya Kyong Oppa, maaf aku, aku ... mmm... dari mana Oppa tahu kalo Emy menikah kontrak?" selidik Hannah. Ia merasa yakin kalau ia belum bercerita apapun pada sepupunya itu.


" Hmm ... maaf, aku... tidakk sengaja mendengar waktu Mahendra menanyakan soal nikah kontraknya Emy..."


" Oo ... iya, iya..."


" Apa kamu tahu dimana rumah suami kontraknya itu?"


" Aku ... aku, ya aku tahu. Aku akan coba kesana. Tunggu kabar dari aku, Oppa. Aku berangkat sekarang. Aku tutup teleponnya."


Hannah segera meraih tas dan kunci mobilnya serta menyambar jaket di dekat pintu. Ia segera masuk lift khusus untuk CEO, menuju tempat parkir.


Hannah terus berusaha menghubungi ponsel Emy. Tak ada satupun yang terjawab. Perasaannya menjadi gelisah.


" Kalau aku sendiri, pasti Tae Sang tidak akan mengizinkan aku masuk. Lebih baik aku minta tolong Kakek Kim, iya ... Kakek Kim." Hannah menghubungi nomor kakek Kim. Tangannya tak bisa diam menepuk gelisah setir yang ia pegang.


*Kri**iiingg.... Kringgg*...


" Aduh ... tidak dijawab.." alis Hannah berpaut jadi satu. Berpikir keras siapa yang akan ia hubungi untuk di mintai tolong.


"Kyong Oppa, aku akan minta bantuan aja. Tidak ada jalan lain." Hannah memutuskan menelepon sepupunya itu. Ia sadar, jika memang terjadi sesuatu pada Emy, ia tak kan mampu melawan Tae Sang.


Kriiing...kriiingg..


Dalam satu deringan, panggilan Hannah tersambung.


" Hannah, bagaimana?" tanya dr.Lee tak sabar.


Ia sudah merasa cemas dan menjadi tak fokus dalam bekerja karena memikirkan Emy. Ia takut gejala Emy tiba-tiba kambuh dan tak ada yang dapat menolongnya.

__ADS_1


" Oppa, aku kirim lokasi rumahnya, Oppa tolong datang, ya ... aku sekarang masih di perjalanan."


" Oke, aku berangkat. Kamu kirim alamatnya. Ok, aku tutup teleponnya," jawab dr.Lee cepat.


Ia segera mengganti jas dokternya dengan jaket dan menyambar kunci mobil. Sengaja ia tak memberitahu Perawat Na, karena tak ingin membuat istrinya itu cemas dengan keadaan Emy.


Hannah segera mengirim lokasi rumah Tae Sang. Ia melajukan kendaraannya agar segera sampai. Demikian pula dengan dr. Lee yang telah menerima lokasi rumah suami kontrak Emy.


45 menit kemudian, Hannah dan dr. Lee sampai di kediaman Tae Sang yang harusnya jarak tempuhnya mencapai 1 jam lebih. Berkat sepinya kendaraan karena masih jam kerja, mereka bisa segera sampai di Villa yang terletak di pegunungan itu.


Hannah dan dr. Lee tak mengambil waktu lama dan menekan bel Villa Tae Yang. Tak ada jawaban, Mereka terus mengebel rumah Tae Sang tanpa henti.


" Aku yakin Emy didalam, oppa." ujar Hannah


" Iya, aku tahu! aku percaya!" dr. Lee menepuk bahu Hannah. Ia juga cemas menunggu gerbang itu dibuka.


Di dalam Villa, Tae Sang yang berusaha untuk istirahat setelah meluapkan emosinya pada Emy serta mengerjakan banyak berkas kerjasama bisnisnya.


Wajah Tae Sang memerah menahan amarah, mendengar bel yang tak berhenti.


" Siapa yang begitu gila memainkan bel rumahku?!" runtuknya. Ia menekan tombol di monitor rumahnya.


" Gadis barbar! dia cari Emy!" Tae Sang menekan tombol buka gerbang, dan berjalan menuju dapur dan mengambil minuman dingin lalu mengambil posisi santai di ruang keluarga.


" Aku ingin lihat apa maunya,"


Hannah segera masuk setelah mendengar suara gerbang terbuka. Dr. Lee juga berjalan dengan cepat dan membuka pintu rumah Tae Sang. Tanpa pikir panjang, Hannah segera masuk kedalam rumah disusul dr. Lee dan memanggil Emy.


" Emy! Emy!" teriak Hannah


" DIAM! kalian kira, kalian itu siapa berani-beraninya berteriak dalam rumahku?!" bentak Tae Sang. Gendang telinganya terasa sakit mendengar teriakan Hannah dan dr. Lee bersahutan.


Hannah yang masih berjalan menuju ruang keluarga, menghentikan langkahnya. Matanya tertuju pada laki-laki dengan perawakan yang sama dengan Evan namun dengan ketampanan yang tak bisa dipungkiri. Mata Dr. Lee membelalak tak percaya.

__ADS_1


' Kim Tae Sang adalah suami kontrak Emy?!' batinnya.


" Katakan padaku di mana Emy!" sentak Hannah tak mau kalah. Sedang Dr. Lee ia masih tak percaya dengan yang dilihatnya.


Pandangan Tae Sang menusuk tajam jiwa Hannah. Jantung Hannah berdebar kencang karena rasa takut, tapi segera ia kembali memantapkan hatinya untuk bertemu Emy, sehingga tatapan Tae Sang ia balas dengan tatapan yang sama.


" Mengapa aku harus katakan padamu, gadis barbar?" kata Tae Sang sinis tanpa menurunkan matanya.


" Aku dan Kyong Oppa adalah kakaknya. Jadi katakan dimana dia. Kalau tidak..."


" Kalau tidak apa, nona barbar? Menghancurkan perusahaanku? Hahahaha ... kau jangan bodoh, hanya dengan satu telepon dariku, aku bisa membuatmu tidur di jalanan, dan dia...(sambil menunjuk dr.Lee) akan dipecat dari Rumah Sakit Emereald!" Tae Sang memotong ucapan Hannah lalu berpindah posisi duduk menghadap dr. Lee dan Hannah yang tengah berdiri.


"Hahaha ... aku tahu perusahaanmu lebih besar dari milik keluargaku. Tapi, bukankah perusahaanmu itu adalah milik Kakek Kim? Dengar baik-baik Tuan Kim Tae Sang yang terhormat...."


Hannah memperhatikan ekspresi Tae yang yang begitu tenang, tapi saat ia menyebut Kakek, ekspresi Tae Sang sedikit berubah.


Dengan seringainya, Hannah berjalan mendekati Tae Sang dan dengan mata yang tak kalah tajam, khas keluarga Kang, Emy menatap lekat Tae Sang.


" Kalau berani menyakiti Emy sedikit saja, akan kupastikan, kakek Kim dan juga seluruh media, mengetahui semua perbuatanmu pada Emy. Jangan kau pikir, aku tidak punya bukti keterlibatanmu dalam skandal Emy bulan lalu.


Aku ingin tahu, apa yang akan kakek lakukan, kalau dia tahu, cucu kesayangannya terlibat mencemarkan dan memfitnah cucu menantu KESAYANGANnya, demi wanita lain!" lanjut Ha Na menekankan kata kesayangan pada ucapannya.


Dan benar saja, ekspresi Tae Sang mengeras dan wajahnya yang putih menjadi merah menahan amarah. Tae Sang membuang muka menetralkan nafasnya yang memburu karena emosi.


Hannah berbalik dan mulai mencari keberadaan Emy.


" Oppa, kau ke atas, aku di bawah, ya..." dr. Lee mengangguk setuju dengan strategi Hannah


Setiap pintu dibuka, Setiap ruangan mereka jelajahi, tapi sosok Emy tak mereka temukan, hingga tersisa satu pintu. Di ujung lorong dibawah tangga.


Dokter Lee dan Hannah saling berpandangan. Mereka berbalik melihat Tae Sang yang menyesap wine dengan tenang tanpa ekspresi, menatap balik keduanya.


" Jangan kau bilang, kalau selama ini kau taruh adikku di gudang..." air mata Hannah menetes menatap selidik Tae Sang.

__ADS_1


__ADS_2