Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Rasa Sakit Kehilangan - Season 2


__ADS_3

Namun, setelah beberapa lama, mereka belum juga sampai. Emy memperhatikan sekelilingnya. Itu bukan jalan ke rumah sakit.


" Berhenti! Kau mau bawa kemana aku dan anakku?!" Teriak Emy. Dari kaca spion tengah, bibir laki-laki itu terangkat menyeringai tanpa menjawab.


Hati Emy berdesir tak karuan. Ia masih memikirkan putranya yang harus segera mendapat pertolongan.


" Tolong, anakku harus segera ke rumah sakit...saya mohon..." Emy mulai panik dan memeluk erat putranya.


Setelah sekitar 1 jam perjalanan, mereka sampai di sebuah daerah yang sepi dan memasuki sebuah rumah. Emy menelan salivanya melihat kondisi rumah tua itu. Ia melepas tusuk kondenya yang bertahtakan mutiara dan permata langka, Grandidierite, dan menyembunyikannya ditangannya yang saat ini memeluk putranya.



" Ayo! Turun!" Bentak orang itu. Emy membetulkan posisi putranya dengan hati-hati agar tusuk kondenya tak terlihat dan tak menusuk putranya.


" Katakan! Kenapa kau melakukan ini?!" Tukas Emy setelah ia sudah berdiri diluar mobil. Orang itu terdiam dan hanya terkekeh seakan perkataan Emy adalah lelucon.


" Cepat jalan!" Bentaknya lagi


Emy berjalan mendekati rumah itu dan berdiri di depan pintu. Orang itu mendekati pintu dan membukanya.


" Masuk!"


Emy masuk dan mengamati rumah tua itu. Sangat sedehana. Hanya ada sofa tua, sebuah meja dan dapur yang terlihat dari pintu masuk.


Emy mendekati sofa dan menidurkan putranya di sana. Ia memeriksa nadinya. Badan Micko demam.


"Tuan, katakan apa maumu!" Teriak Emy dengan air mata.


" Kau mau tahu apa mauku? Hahaha...aku hanya mau calon suamimu itu menderita. Merasakan bagaimana...kehilangan orang yang ia cintai," jawab orang itu dengan senyum sinisnya.


Emy terdiam. Ia mengecek suhu dan nadi putranya.


" Ehm, Tuan. Bisakah aku minta air putih hangat?"  Tanya Emy. Orang itu melihat ke arah Micko lalu mengangguk dan mengambil air minum hangat seperti permintaan Emy


" Ini!" Kata orang itu seraya menyodorkan gelas itu pada Emy.


Emy mengambil gelas itu dan berterima kasih. Tapi kemudian...

__ADS_1


Jlep


Emy mengeluarkan tusuk kondenya dan menusuk paha orang itu saat ia hendak berbalik dan mendorong orang itu jatuh.


" Aaahhh!!!"


" Aku juga akan membuatmu merasakan rasa sakit sebelum kehilangan kakimu itu!" Geram Emy. Tangannya masih memegang tusuk kondenya yang kini berlumuran darah. Mata orang itu berubah tajam menusuk serta menahan rasa sakit pada pahanya.


"Hahaha...ja..ngan...terlalu...per..caya..diri..nona!" Sahut orang itu dengan seringainya. Ia berusaha berdiri sambil menahan luka di pahanya. Ia mengeluarkan pistolnya dan menodong Emy.


" Benarkah? Aku tanya. Apa saat ini Anda merasa kram di kaki? Terasa ngilu? Atau Anda mulai pusing?" Tanya Emy tenang. Orang itu menautkan alisnya. Dan, ya. Ia merasakan seperti yang Emy katakan. Pandangan matanya mulai berubah dan mulai berdiri.


" Apa..apa yang kau lakukan padaku?! Jawab!!" Teriaknya seraya berjalan mendekati Emy dengan pincang


" Hahaha...teruslah Anda berjalan, dan Anda bisa say good bye pada nyawa Anda," ucap Emy. Orang itu seketika berhenti. Emy tersenyum sinis


" Kau...kau berbohong, kan?"


" Silahkan Anda coba." Tantang Emy. Wajah orang itu seketika memucat. Ia tahu siapa wanita yang ia culik ini. Karena ia juga sudah mencari tahu sebelumnya ketika seseorang menyuruhnya menculik calon istri bos Kimtae itu.


" Dan kau akan mati bersamaku!" Geramnya.


" Kau tidak masalah? Baik. Bagaimana kalau aku bunuh anakmu itu, hmm?"


" Silahkan. Itu artinya, Anda juga harus bersiap pergi ke neraka!" Kini, mata Emy menatap tajam laki-laki itu.


" Kau harus mengobati lukaku!"


" Mengobati? Luka Anda sangat dalam. Satu-satunya jalan hanya operasi. Tapi, sepertinya Anda sudah menghabiskan....25 menit waktu Anda dan tersisa 55 menit saja. Tapi, jika Anda terus bergerak, sepertinya...hanya tersisa 30 menit lagi.." Sahut Emy seraya memperhatikan jam yang ada di dinding.


Laki-laki itu ikut melihat jam yang ada di dinding dan menelan salivanya dengan berat. Ia sesekali memandang Emy yang berekspresi begitu tenang.


"Baiklah, cepat bawa aku ke rumah sakit!" Bentaknya dengan pistol yang masih berada ditangannya. Namun, tak berapa lama tubuh orang itu oleng dan terjatuh. Emy mendekatinya. Mata orang itu membulat melihat Emy, tapi ia tak sanggup berbuat apapun. Darah terus mengucur tak berhenti. Tak lama, laki-laki itu menutup matanya.


Emy menggoyang tubuh orang itu. Tak ada respon. Dengan tangan dan tubuh yang masih bergetar ia memeriksa tubuh orang itu untuk memcari ponsel dan kunci mobil.


Setelah mendapatkannya, ia segera menggenggamnya erat dan tusuk konde bernilai ± $ US 3,750 itu, ia selipkan kembali ke rambutnya lalu beranjak menuju sofa. Ia mengangkat tubuh putranya dan berlari keluar rumah itu.

__ADS_1


Tit..tit..


Dengan cepat Emy membuka pintu mobil buatan Korea dengan lambah H miring itu, dan membaringkan putranya di jok penumpang depan lalu memasang sabuk pengaman. Emy berlari ke pintu pengemudi.


Emy mengikuti GPS menuju kota. Sampai dipusat keramaian, Emy menepikan mobilnya dan berhenti. Ia mengambil ponsel orang itu. Tapi, ia tak bisa menghubungi Tae Yang karena nomor ponsel Tae Yang akan otomatis menolak nomor telepon yang tak dikenal. Ia juga tak memiliki nomor ponsel Jung Hyuk.


Akhirnya ia menelepon dr. Lee. Yang bersangkutan saat itu sedang bersantai dengan sang istri dan putrinya ketika ponselnya berdering.


" Hallo! Ini Lee Kyong... Ini deng..."


" Hallo! Kyong oppa! Tolong..tolong beri aku alamat rumahmu, sekarang!"


" Emy?"


" Iya, oppa. Ini aku, Emy! Cepatlah!"


" O-oke. Ke nomor ini?"


" Iya!"


Tut..tut...panggilan itu terhenti... Dr. Lee segera mengirim alamatnya lewat pesan.


Emy segera memasukkan alamat dr. Lee ke GPS navigator mobil dan melaju.


Selang 35 menit, ia sudah sampai di gerbang rumah dr. Lee. Sebagai informasi, dr. Lee tidak tinggal di rumah pemberian Emy. Tapi, ia masih membersihkannya dan menempatinya saat week end atau saat ia harus lembur di RS. Karena jarak rumah Emy dengan RS sangat dekat.


" Emy-a!" Sambut dr. Lee. Perawat Na berlari hendak memeluk Emy tapi terhenti karena kaget melihat wajah Emy yang kelelahan dan Micko yang pucat.


Bruukk..


Baru beberapa langkah, Emy terjatuh.


" Nona Sie!" Teriak perawat Na. Untunglah perawat Na masih bisa menangkap tubuh Micko agar tak terjatuh dari pelukan Emy.


" Emy!" Dr. Lee berlari lalu mengangkat tubuh lemah Emy


" Cepat ambil peralatanku!" Titah dr. Lee pada istrinya saat memasuki kamar tamunya. Perawat Na segera meletakkan Micko di samping Emy lalu berlari ke ruang kerja suaminya.

__ADS_1


" Emy hanya kelelahan dan stress. Apa yang sebenarnya terjadi?" Kata dr. Lee setelah memeriksa Emy dan Micko.


" Yeobo! Beri dia Saline dan dextrose 5% (infus untuk mengganti cairan tubuhnya) dan setengah saline dan dextrose 5% untuk Micko," lanjutnya


__ADS_2