Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Panggilan Kesayangan - Season 2


__ADS_3

" Kyong...oppa?" Wajah Tae Sang berubah dingin menatap Emy. Ia tak suka wanitanya memanggil laki-laki lain dengan begitu mesra.


Emy mengangkat alisnya tak mengerti. Melihat jam yang terus berjalan dan seorang perawat sudah menunggunya di luar kamar, Emy segera keluar dan berjalan ke ruang check up.


Tae Sang terus cemberut selama menemani Emy check up. Ia tak suka dengan cara Emy memanggil dr. Lee. Selama check up, Tae Sang tak mengijinkan dr. Lee atau perawat laki-laki menyentuh wanitanya.


Hari itu, Emy melakukan tes darah dan MRI. Emy, Tae Sang dan dr. Lee masuk ke ruang MRI yang ternyata masih kosong.



Setelah menunggu 10 menit, dr. Yoon, dokter Radiologi datang dan menyuruh perawat membantu Emy bersiap di ruang MRI. Sebelum masuk, Emy melepas cincin, anting dan jam tangannya dan menyerahkannya pada Tae Sang. Beberapa menit kemudian, Emy telah siap di bed MRI



Sebenarnya dr. Lee mau mengetes Emy dengan EEG (salah satu tes yang dilakukan untuk mengukur aktivitas kelistrikan dari otak untuk mendeteksi adanya kelainan dari otak) dan tes kognitif (tes untuk memeriksa kemampuan berpikir dan mengingat) menggunakan Galveston Orientation dan Amnesia Test (ukuran perhatian dan orientasi, terutama untuk melihat apakah pasien telah pulih dari amnesia pasca-trauma (PTA) setelah cedera otak traumatis). Tapi, ia tak mau Emy curiga. Jadi, ia harus puas dengan 2 tes itu.


" Sembunyikan yang ini." Kata dr. Lee pada dr. Yoon dan mendapat tatapan tak mengerti.


" Perintah bos.." Kata dr. Lee seraya mengode dr. Yoon dengan kepalanya ke arah Tae Sang. Dr. Yoon mengangguk mengerti.


Selesai dengan MRI, Emy segera keluar dari ruangan itu dan menuju ruang monitor.


" Hmm.. semuanya baik-baik aja tuh." Kata Emy


" Eh...mana foto sistem Limbik (himpunan struktur otak yang berfungsi seperti emosi, perilaku, motivasi, memori jangka panjang, dan penciuman)nya?" Tanya Emy


Dr. Yoon selaku dokter radiologi terdiam lalu menatap dr. Lee yang sudah berkeringat dingin.


" Ooh..aku hanya..hanya mau cek, takutnya sel tumormu tumbuh lagi. Hehehe.." Jelas dr. Lee menahan rasa gugupnya.


Emy tersenyum lalu menggeleng dan mendekat. Tiba-tiba Emy bergelayut manja pada lengan kanannya dan menempelkan kepalanya di bahunya. Menambah derasnya kucuran keringat di punggungnya. Karena ia sudah merasakan tatapan membunuh dari samping kirinya.


" Tenang... Aku baik-baik saja." Ucap Emy tersenyum.


Nafas Tae Sang memburu. Matanya membulat. Ia segera menarik Emy menjauh dari dr. Lee. Sementara dr. Yoon terus mengulum senyumnya. Pasalnya ia sudah melihat tanpa sengaja perubahan raut wajah Tae Sang ketika tadi Emy mendekat padanya untuk melihat monitor. Dan, wajah itu berubah lebih mengerikan ketika Emy bergelayut dan bersandar pada bahu dr. Lee


Tae Sang menatap dr. Lee dingin. " Sudah selesai, kan?" Tanpa pamit Tae Sang menarik tangan Emy pergi. Emy tak mengerti apa yang sudah terjadi dan hanya mengikuti langkah besar Tae Sang dengan berlari kecil di belakangnya. Tae Sang tak melepaskan tangannya sama sekali.

__ADS_1


Ting


Tae Sang membawa Emy masuk ke dalam lift.


Emy sesekali melirik ke arah Tae Sang. Wajah pria itu sudah diselimuti mendung. Gelap


" Tae...Tae Sang-ssi." Panggil Emy. Tak ada jawaban. Emy melipat bibirnya. Lalu beberapa detik kemudian


" Ehemm..hem.." Emy berdehem tapi tak ada reaksi dari Tae Sang.


Ting


Sampai pintu lift terbuka, Tae Sang terus diam. Tae Sang terus menggenggam tangan Emy tak peduli tatapan banyak orang yang mengiringi mereka hingga di depan lobby rumah sakit.


Sopir Tae Sang yang melihat tuannya berjalan ke arahnya segera membungkuk dan memberikan kuncinya. Ia tahu, jika atasannya sedang bersama dengan Nona Muda, maka ia takkan diperlukan.


Tae Sang membukakan Emy pintu. Dengan patuh Emy duduk di kursi penumpang dan membiarkan Tae Sang memasang sabuk pengaman untuknya.


Wajah mereka begitu dekat. Emy terus memperhatikan wajah ganteng ayah anak-anaknya itu, lekat. Tae Sang sudah selesai dari tadi memasang sabuk pengamannya. Namun, ia sengaja tetap dalam posisinya.


Cup


Tae Sang segera berdiri lalu berjalan mengelilingi mobilnya menuju kursi pengemudi dan mengulum senyum.


Banyak mata melihat keduanya dengan kagum dan juga iri. Terutama kaum hawa. Beberapa dari mereka sudah mengeratkan rahangnya dan tangan mengepal. Salah satunya, seorang wanita dengan baju ketatnya dan bibir yang berlipstik merah cerah. Matanya terus memicing sejak ia melihat Tae Sang menggandeng erat tangan Emy keluar dari lift.


Selama perjalanan tak ada yang berbicara. Emy mencuri-curi pandang ke arah Tae Sang.


" Tae..Tae Sang-ssi.." Panggil Emy. Tak ada Jawaban dan membuat Emy kesal. Ia memaksa menarik tangannya agar lepas dari pegangan bos Kimtae itu. Tapi, tak cukup kekuatannya melawan Tae Sang yang memegangnya erat.


Cup


Tae Sang mengecup tangan kecil Emy. Wanita itu akhirnya berhenti memberontak.


" Maaf, sayang. Maafkan aku." Kata Tae Sang kemudian.


" Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu diam aja dari tadi?"

__ADS_1


" Sayang, aku...aku gak suka kamu manja sama laki-laki lain." Ujar Tae Sang cemberut. Emy mengangkat alisnya memandang tak percaya laki-laki di sebelahnya.


" Ka-kamu cemburu, Tae Sang-ssi?"


Tae Sang menipiskan bibirnya dan kembali diam. Emy menghela nafas.


" Ya, ampun. Kyong oppa itu, hanya oppa buat aku. Dia sudah seperti kakakku sendiri..." Jelas Emy.


" Ya, tapi...kamu bisa manja sama dia tapi gak ke aku." Rajuk Tae Sang. Emy terkekeh mendengarnya. Emy mencubit pipi Tae Sang gemas.


" Aduuhh...lucunya kalo lagi cemburu...ihh...jadi gemesss.." Ucap Emy gemas. Tae Sang menahan senyumnya.


" Sayang, apa...kamu...gak punya...panggilan kesayangan juga buat aku?" Tanya Tae Sang malu-malu lalu melipat bibirnya.


" Hmm...baiklah, Tae Sang..o...ppa?" Emy mencoba memanggil Tae Sang seperti ia memanggil dr. Lee. Tae Sang menyatukan alisnya dan memajukan bibirnya.


" Gak! Yang lain? Aku gak mau panggilanku sama kayak yang lain." Protes Tae Sang.


" Lalu? Mau kupanggil apa?" Tanya Emy pasrah.


" Ehm... Nampyeon? Honey? Dear?" Ungkap Tae Sang dengan wajah yang kembali cerah.


" Tapi...kita kan belum menikah. Masa' aku panggil Nampyeon (suami)?"


" Baiklah. Kalau begitu pernikahan kita akan dipercepat. 2 hari lagi kita menikah."


Mata Emy membulat. Mulutnya menganga.


" Ta-tapi itu terlalu cepat Tae Sang-ssi.."


" Iya, aku mau segera menikahimu, sayang. Dan menjadi milikku sepenuhnya." Jawab Tae Sang dengan senyum mengembang


Emy terdiam tak bisa berkata apa-apa. Sejujurnya, ia masih belum memilki perasaan terhadap laki-laki di sebelahnya itu. Di dalam hatinya masih terukir nama "Keanan" dan ia masih belum sanggup menghapusnya.


" Sayang? Emy-a... Kenapa? Apa...kau tak mau menikah denganku?" Tanya Tae Sang dengan was-was


" Eh...bu-bukan begitu, aku...aku..."

__ADS_1


Tae Sang segera menepikan mobilnya, melapas sabuk pengamannya dan memegang bahu Emy. Ia menatap kedua netra indah Emy.


__ADS_2