
Sudahlah, lebih baik aku kerja lagi. Tak terasa ketika pekerjaanku selesai, waktu sudah menunjuk jam 2 pagi, aku memutuskan untuk tidur. Tapi ketika aku berjalan ke kamarku, aku merasa haus. Aku turun ke dapur dan mengambil botol di kulkas, ketika sampai didepan lorong, aku melihat cahaya di ujung lorong, tempat kamar Emy berada.
Aku perlahan berjalan dan mendekati pintu yang sedikit terbuka itu. Cahaya kamar masih terang. Kudengar suara ketikan keyboard komputer. Sampai dipintu, aku melihat wanita itu dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya, mengetik dengan cepat, jemarinya yang lentik kecil menari indah disana.
Tanpa sadar, sudah beberapa waktu aku memperhatikan wanita berbadan kecil itu didepanku. Tingkahnya itu sungguh membuatku sebal. Bibirnya akan seperti bebek jika dia salah mengetik, bahkan satu kakinya ia tarik keatas kursi sementara satu kaki tetap menjuntai di lantai.
Ya, walau kuakui, ternyata dia terlihat cantik saat serius bekerja. Apalagi saat ini, ia memakai celana pendek yang memperlihatkan sedikit pahanya yang mulus dan seluruh kakinya yang indah. Dia juga memakai kaos berkerah rendah dengan rambut dicepol dan sedikit rambut jatuh tak teratur di lehernya yang jenjang. Pemandangan yang luar biasa sebenarnya. Sayang, dia bukan wanita yang ku mau, dia terlalu mata duitan dan licik.
Suara pulpen yang jatuh membuyarkan fantasiku. Dengan langkah perlahan dan tanpa suara aku kembali ke kamar. Aku lihat jam dinding sudah jam 2.35 pagi. Tapi, kenapa dia belum tidur? Bukankah besok dia harus bekerja? Ahh...sudahlah lebih baik aku tidur sekarang.
Kubaringkan tubuh lelahku di ranjang dan memejamkan mata, tapi bayangan tentang wanita itu muncul di benakku. Aku begitu frustasi, kenapa wanita tak tahu malu itu yang ada dibenakku. Untunglah pada akhirnya aku terlelap ke alam mimpi setelah melihat foto wanita pujaanku di layar hp.
Setelah mandi dan berganti pakaian, aku segera turun. Ditengah tangga, aku dapat menghirup aroma yang membuat cacing,-cacing diperutku berteriak. Kulangkahkan kakiku perlahan menuruni tangga. Sampai di anak tangga terakhir, disana kulihat wanita yang sudah membuatku tak bisa tidur, sedang berkutat menyiapkan sarapan.
“ Sedang apa kau? “ Tanyaku ketus.
“ Ahh..Presiden, Anda sudah bangun? Bibi Nam tak bisa datang dalam 2 bulan kedepan, karena ia harus kembali kerumahnya menyiapkan pernikahan anak bungsunya. Jadi, sekarang saya yang menyiapkan Anda sarapan. Tapi saya tidak tahu, apakah sesuai selera anda atau tidak, “ jawabnya dengan senyuman yang membuatku bertambah jengah.
“ Hmm... Aku harap masakanmu tidak bikin aku sakit perut!” Ucapku datar dan dingin.
Aku duduk dan mulai mengambil makananku. Kulihat dia masih sibuk mencuci sesuatu di dapur. Aku terus memakan roti bakar yang sudah kuoles selai kacang dan sesekali menyesap kopi panas yang lezat sebagai usahaku untuk tak melihat dan memanggilnya untuk sarapan denganku. Telur dan daging asap kini sudah tersaji dipiringku. Aku melihatnya berjalan kembali kekamarnya.
“ Kenapa kau tidak makan? “ Tanyaku tanpa membalikkan badanku.
“ Saya sudah sarapan Presiden. Sekarang, saya harus bersiap ke Rumah Sakit, permisi.” Ia tersenyum, membungkuk dan pergi ke kamarnya dengan sedikit berlari.
Rupanya dia sudah terlambat. Aku merasa sedikit kesal ketika dia berkata “ sudah sarapan” tapi ketika kulihat senyuman itu, kata-kataku tak keluar. Kubereskan peralatan makanku yang kupakai, lalu ke ruang santai. Kulihat Emy sudah rapi dengan balutan baju kerjanya yang sangat casual dan ransel bututnya.
__ADS_1
“ Presiden! “ Panggilnya ketika memergokiku melihatnya dengan jeli dari atas kebawah.
“ Hem... Ada apa?” Jawabku
“ Presiden, saya akan membantu anda mendapatkan Nona Helena kembali...baiklah saya permisi, ” dia berkata dengan senyuman sebelum akhirnya ia berlalu dari hadapanku.
Kupejamkan mataku, ya...aku cinta Helena. Helena segala-galanya untukku. Aku tersenyum lega seperti kesadaranku telah kembali setelah sejenak pergi. Kuambil tas kerjaku dan pergi menuju mobil dimana Byun Hyuk sudah menungguku.
Dalam perjalanan, masih tak jauh dari Villaku, kulihat Emy berlari disisi jalan. Rambut panjangnya yang diikat seperti ekor kuda, melambai kekanan kekiri dengan indah.
“ Presiden, itu Nona Sie..” kata Byun Hyuk menunjuk kearah Emy.
“ Hmm...” Aku tahu maksud Jung Hyuk untuk memberi tumpangan, tapi tak kuhiraukan dan kembali menatap tablet di tanganku.
Tae Sang POV end
Emy sebenarnya ingin menumpang mobil
Tae Sang, tapi ia urungkan karena ia tahu,
Tae Sang pasti tak akan memberinya ijin. Mobil Tae Sang melesat jauh menkonfimasi pikiran Emy.
Emy sampai di Rumah Sakit tepat jam 9.15. Untunglah, ia tadi bisa sampai di halte tepat waktu, jadi ia tak telat. Sampai di pintu masuk Rumah Sakit, Emy melihat ambulan berhenti di depan IGD, diikuti dengan 2 mobil mewah dibelakangnya.
Salah satu pemilik mobil mewah itu seenaknya saja memarkir mobil didepan IGD, tak menggubris rambu yang sudah terpampang jelas disana. Emy menarik nafas kasar dan berjalan masuk hendak menuju ke kantornya. Tapi seorang perawat memanggilnya sebelum ia masuk kedalam lift.
“ Prof. Sie!” Panggil perawat itu. Emy menarik nafasnya lagi dan menyunggingkan senyum terpaksa.
__ADS_1
“ Ya, Kepala Perawat Moon. Ada apa?” Jawab Emy masih dengan senyum terpaksanya. Ia tahu maksud perawat Moon memanggilnya.
“ Prof! Ada pasien emergensi!”
“ Kepala Perawat Moon, bukankah ada dr. Cha dan dr. Choi? “ Kata Emy dengan mata polos.
“ Hehe...Prof., Mereka belum datang.”
‘ Masih saja seperti itu, ’ batin Emy. “ Baiklah, ayo!"
Emy berlari ke IGD, ditaruhnya ransel diatas meja perawat, mengambil kartu ID, dan mengambil jas dokter yang ada di loker. Setelah mencuci tangannya dengan sanitizer, Emy segera menuju brankar pasien. Emy melihat keluarga pasien, menyuruh mereka keluar dan memeriksa dada pasiennya dengan stetoskop.
" Ambu (alat kesehatan untuk membantu memperlancar pernafasan)!"
Emy menyuruh memasang alat bantu pernafasan, menyuntik norepinephrine dan mengambil alat USG dan tes darah saat itu juga. Perawat berlari keluar tirai IGD, keluarga pasien masih disana, mereka berdiri dengan cemas.
Emy meminta keluarga yang berkumpul untuk keluar. Tak lama, perawat sudah membawa alat USG. Perawat membuka baju dan pakaian dalam wanita yang tak sadarkan diri itu. Setelah diolesi gel, Emy mengarahkan alat USG di dada.
Beberapa kali Emy memencet tombol untuk mencetak hasil USG. Emy menggigit bibir bawahnya dan mendesah. Perawat yang bersama dengan Emy terkaget dan menutup mulutnya, matanya membulat tak percaya melihat layar USG.
“ Cepat hubungi dr.Cha dan siapkan ruang OPE.” Kata Emy setelah beberapa foto hitam putih itu sudah tercetak disana.
“ Baik, Prof!” Perawat itu segera berlari ke mejanya dan membuat panggilan dengan terburu buru. Kepala Perawat Moon yang melihat anak buahnya itu, segera menghampiri Emy. Ia berhenti dengan mata membulat melihat layar didepan matanya.
“ Prof. Sie!..i..i..ini...” Kepala Perawat Moon menunjuk ke layar, Emy yang sedang menyuntikkan obat, melihatnya namun tak menjawab. Pasien ini bukan pasiennya tapi ia marah karena kecerobohan koleganya, akhirnya seorang pasien harus menderita.
Perawat Park datang menghampiri Emy. “ Prof! Dr. Cha tak bisa dihubungi, bagaimana ini?” Tanyanya panik.
__ADS_1