Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Luther, Thank You


__ADS_3

Emy POV


Semilir angin berhembus membuat tubuhku menggigil. Tak kusangka cuaca begitu cepatnya berganti. Dengan berat kubawa tubuh kecilku, berjalan menyisir jalan kecil yang sudah sebulan ini tak kulewati.


Kuhabiskan 10 menit hanya untuk berjalan, mendekati bangunan berwarna putih, dengan beberapa manusia berkeliaran mengenakan pakaian pasien.


Sampai didepan pintu utama, kakiku terasa berat untuk melangkah masuk pintu kaca berukuran besar itu. Aku masih ingat penolakan yang kualami dari orang yang sangat berarti bagiku. Ahh... air mata ini kenapa masih saja keluar tanpa ijin... fiuhhh...


Aku merasa gagal sebagai seorang anak, aku merasa tidak berguna sebagai seorang dokter dan aku merasa jijik karena aku menjadi penyebab semua yang terjadi. Seandainya waktu dapat kuulang, seandainya aku tetap di negara ini. Hiks... Hiks...


Sedikit demi sedikit kupaksakan kakiku melangkah. Entah kekuatan apa, aku akhirnya bisa berdiri di sebuah ruangan, yang sudah lama tak kukunjungi karena sifat pengecutku. Aku melihat disana, didalam kamar berukuran lumayan besar, seorang wanita dengan wajah yang sudah dipenuhi guratan usia, dan rambut yang menandakan kematangan usianya, terbaring dengan begitu nyaman.


Ceklek


Kutelan berat salivaku membuka pintu yang tak pernah kusentuh. Kupandang wajah teduh diatas tempat tidur itu. Kupegang erat buket bunga lili ditanganku. Bunga favorit wanita luar biasa yang ada didepanku. Keringat dingin mengalir di punggungku. Tanganku mulai basah, gemetar tangan dan tubuhku semakin hebat, ketika tubuh kecilku sudah ada disamping tempat tidur wanita yang sangat kusayangi itu.


" Oh... Nona cantik.." betapa kagetnya aku, dia menyapaku. Aku tak melihatnya membuka mata, tapi saat kuangkat wajahku melihatnya, mata indah yang selalu menghangatkan jiwaku itu memandangku dengan lembut.


" Ah.. ah.. iya.. eomma sudah bangun?" Tanyaku gugup.


" Eomma? Apa kau anakku, nona cantik?" Senyum lembut dan hangat yang selalu menghias wajahnya itu, tak pernah gagal membuat hatiku terasa teduh.


" Iya eomma, aku anakmu. Apa eomma sudah makan?" Kuberanikan diriku duduk bersamanya diatas ranjang empuk itu.


" Benarkah? Wah... Aku beruntung punya anak secantik kamu.. hehehe... Lalu mana appamu nak?" Lidahku terasa kelu ketika ia bertanya tentang appa.


" A.. appa dia..."


" Apa appamu sudah meninggal? Oh... Maaf... Maafkan aku... Aku sudah melupakan banyak hal nak. Apa kau mau memaafkanku nak?" Raut kesedihan eomma membuatku menitikkan air mata.


" Eomma... Aku tak apa apa. Aku yang harus minta maaf, eomma. Hiks... Hiks... Hiks..." Kurasakan pelukan yang begitu kurindukan itu berhasil menenangkanku. Kupandang mata sayu eomma dan kusentuh pipinya dengan kedua tanganku.

__ADS_1


" Eomma... Kau harus jaga kesehatan ya. Eomma adalah hidupku. Jadi, eomma harus makan sama minum obatnya ya..."


" Hehehe... Iya nak, baiklah. Kamu sepertinya memang anakku. Hehehe... Ah.. aku capek, aku tidur dulu ya..." Eomma melepaskan tanganku dari kedua pipinya, menepuk tanganku lalu membaringkan dirinya lagi, tapi senyuman itu, senyuman itu tetap disana.


Eomma menutup matanya, kubantu dia membetulkan selimutnya. Kukecup keningnya dan kubuat diriku nyaman di kursi sebelah ranjang Eomma.


' Luther, thank you. Finally, I got this chance ( Luther, terima kasih. Akhirnya, aku dapat kesempatan ini.)" Gumamku dalam hati.


2 hari lalu, seandainya saja aku menolak bertemu Luther, mungkin saat ini, aku tidak akan berada sedekat ini dengan eomma. Aku bertekad untuk sesering mungkin ke sanatorium. Walaupun harus 45 menit menempuh perjalanan dari RS Seoul tempatku bekerja, itu tak sia sia.


Flashback on


Ting ... Tong....


Kuhentikan kegiatanku bersiap untuk kembali ke Korea ketika kudengar suara bel apartemenku berbunyi.


Ceklek...


" Kau! Untuk apa anda kesini? Maaf saya sedang sibuk!" Aku berusaha menutup kembali pintu apartemenku, namun tangan kekar itu menahannya.


" Emy, tolong dengarkan aku. Aku tak akan meminta apapun darimu. Aku tahu, kau takkan pernah memaafkanku, tapi... Tolong datang dan kunjungi eomma. Dia... Alzheimernya bertambah parah. Ia tak bisa mengingat siapapun. Jadi, Emy... Tolong kunjungi dia. Aku tidak akan bisa menjenguknya dalam waktu dekat. Emy..." Buliran bening mengalir dari pelupuk mataku mengingat kata "eomma", kutatap Luther walaupun pikiranku sudah melayang ke wajah seorang wanita yang membuat hatiku tercubit karena rasa bersalahku.


" Kau... Kau darimana kau..." Tanyaku, saat kesadaranku yang tadi pergi entah kemana kembali.


" Ah.. mm... Aku... Aku selalu mengunjunginya dan aku selalu meminta dokter mengabariku." Jawab Luther sambil menunduk. Kulihat ia melirik kearahku sesekali. Lucu sekali... Sepertinya ia takut padaku.


" Hmm... Aku kira kau sudah melupakan eomma... Hmm.. baiklah pergilah sekarang." Kembali kucoba menutup pintu apartemenku.


" Emy, tunggu! Emy... Bisakah kau... Me...memaafkanku? Aku...aku..."


" Bukankah, aku hanya wanita penggoda murahan? Untuk apa anda meminta maaf pada wanita menjijikkan sepertiku?" Kata-kata sarkasku membuat mata Luther berkaca kaca. Dia mengusap kasar wajahnya dan hendak berkata lagi, tapi entah kenapa ia akhirnya berbalik dan pergi.

__ADS_1


***Flashback off


Emy POV end***


Dengan hati yang lega dan senyum yang mengembang, Emy menaiki taxi pesanannya. Kini senandung kembali keluar dari mulutnya. Sebenarnya walaupun ada kesedihan karena penyakit eomma yang kian parah, tapi setidaknya, Emy masih mendapat kesempatan untuk merawat wanita yang mengubah hidupnya. Ia ingin menebus kesalahannya karena tak dapat merawat appa.


Kriingg...kriiingg...


" Presdir?" Emy menautkan alisnya melihat nomor pemanggil di ponselnya.


" Ya Presdir?"


" Kenapa kau belum kembali? Ini sudah larut!"


" Maaf Presdir, tapi saya memang masih ada urusan diluar."


" Cepat pulang! Aku lapar!"


Tut..tut..tut...


" Arrghhh...kenapa sih orang ini. Dulu aku masakin tiap hari gak mau makan, tapi kenapa 2 hari ini dia mau aku selalu masak buat dia? Kesambet apa sih tuh orang!" Gerutu Emy


" Hahaha...nona, suamimu ya? Sepertinya dia merindukan anda, nona. Hanya dia malu mengatakannya...hahaha..." Sopir taxi yang Emy tumpangi menimpali. Emy menatap bingung sopir taxi didepannya.


" Ah... Hahaha... Tidak mungkin, ahjussi..." Sanggah Emy.


" Apa yang tak mungkin, nona. Laki laki banyak yang begitu. Malu kalau bilang rindu, cemburu, cinta. Hehehe...aku pria nona, jadi aku tahu... Hahaha"


Emy hanya tersenyum miris mendengar sopir taxi mengoceh. Ia sadar tak mungkin seorang Tae Sang merindukannya atau bahkan mencintainya, apalagi cemburu.


Dengan gontai, Emy berjalan masuk pekarangan Villa Tae Sang. Sesosok manusia yang sedari tadi berdiri dibalik kaca jendela kamar di lantai 2, tersenyum melihat seseorang yang sudah ia tunggu-tunggu sejak sore tadi, akhirnya pulang.

__ADS_1


Setelah kembali mengecek penampilannya, ia melangkah keluar kamarnya dan dengan elegan menuruni tangga sambil melirik apakah dia, yang ia tunggu sudah masuk dalam rumah.


" oh...kau sudah pulang?"


__ADS_2