Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Takkan Mengecewakanmu - Season 2


__ADS_3

Tak jauh berbeda dengan Luther dan Evan, dr. Lee juga geram melihat berita tentang Tae Yang. Tapi, ia tak bisa meninggalkan Yu Zhen yang saat ini masih koma.


" Tae Yang sialaaan!!! kurang ajar! brengsek!"


Pyarrr ...


Vas bunga dan gelas minumnya yang tak bersalah pun menjadi sasaran amukannya. Ia sudah berusaha sedari kemarin menghubungi Emy, tapi tak bisa. Ia hanya mendapat informasi dari Evan kalau hari ini, Evan dan Luther datang menjemput Emy.


" Yu Zhen-a, cepatlah sadar. Aku ... mengijinkanmu mendekati adikku. Buat dia bahagia," lirih dr. Lee yang saat ini berdiri di depan bed rawat Yu Zhen.


" Kukira, Emy akhirnya akan mendapat kebahagiaannya dengan lelaki itu, ternyata ... itu hanya imajinasiku saja. Si brengsek itu ... dia ... menyakiti adikku lagi, Zhen-a ... hiks ... hiks ..." tangis dr. Lee.


Dokter Lee terus terisak, tak menyadari jemari bergerak dibawah selimut pasien di depannya. Mata yang terpejam perlahan membuka.


" Aa .... iiirr ..." suara lirih yang serak mulai terdengar.


Dokter Lee mendongak dan melihat Yu Zhen membuka matanya. Segera ia menghapus air matanya dan menghampiri sahabatnya.


" A Zhen-a, kau sudah bangun?" ucap dr. Lee serak.


" Aa .... iii ...irr," lagi suara serak Yu Zhen menyentakkan dr. Lee. Ia segera menuju meja dan menuang air serta memberi sedotan. Yu Zhen meminum air itu perlahan. Tenggorakannya terasa kering dan sakit.


Dokter Lee segera memeriksa Yu Zhen juga lukanya.


" Lukamu belum begitu kering, jangan terlalu banyak bergerak dulu," kata dr. Lee. Yu Zhen tersenyum kecil dan mengangguk perlahan. Bola mata hitam Yu Zhen terus bergerak ke sana kemari seperti sedang mencari sesuatu.


" Ada apa?" tanya dr. Lee. Yu Zhen tersenyum kecil lalu menggeleng pelan.


" Kau mencari Emy?" tanya Evan dan menatap sahabatnya.


Yu Zhen memejamkan matanya. Harapannya, yang pertama yang ia lihat adalah Emy, pujaan hatinya.


" Emy ... dia dan Anak-anaknya ... sudah dijemput Paman Evan ke Amerika," kata dr. Lee


Yu Zhen segera membuka matanya dan menatap dr. Lee


" Tae Yang ... kembali berulah. Dia ... dengan wanita lain," lirih dr. Lee dan menunduk sedih


" A-apa?"


Yu Zhen memaksakan diri bangun dari tempat tidurnya.


" Hei! apa yang kau lakukan!" seru dr. Lee


" Yeol-a, a ... ku ma ...u ..."


" Stop!" seru dr. Lee, " Kau tidak boleh kemana-mana!" dr. Lee memaksa Yu Zhen tidur kembali.


" A .. ku ha ...rus ...ber ... temu.."


" Tidak! tidak sekarang! kau baru saja siuman, badanmu masih lemah!" sergah dr. Lee


" Ta ... pi ..."

__ADS_1


" Tidak ada tapi-tapi! kau harus istirahat dulu! kalau kau mau bertemu Emy sekarang dengan keadaan seperti ini, aku yakin, dia bukan senang melihatmu, tapi marah!"


" Yeol-a ... a ... ku ...tidak ... re ... la ... di ... a ...mena ...ngis ...lag ...gi," kata Yu Zhen dengan menahan rasa sakit di perutnya yang mulai terasa


" Aku beri kau Petidin (obat anti nyeri)," kata dr. Lee


Yu Zhen mengangguk. Dia sudah bertekad untuk segera sembuh dan kembali mengejar wanita yang ia cintai, Emy Sie.


" Yeol-a ..."


" Berhentilah bicara. Lukamu belum sembuh!" potong dr. Lee, " Lakukan apapun yang kau mau setelah sembuh. Aku ... mendukungmu dengan Emy," kata dr. Lee


Yu Zhen seketika mendongak dan melihat dr. Lee dan membuat lukanya kembali terasa tertarik.


" Aaauuww ... shhh ...,"


" Tak usah kaget, aku ... sudah terlalu kecewa dengan Tae Yang. Dan, aku berpikir kau ... mungkin kau yang bisa membahagiakannya," ucap dr. Lee seraya membereskan beberapa botol kosong dan suntikan di atas meja samping bed rawat Emy. Lelaki itu berlalu tanpa melihat Yu Zhen yang menatapnya senang dan bahagia.


" Aku ... takkan mengecewakanmu," gumam Yu Zhen


Tae Yang terus menggerutu di dalam pesawat.


" Hyuk! kenapa lama sekali?"


" Tuan Muda, jarak antara Berlin dan Seoul itu memang 10 jam lebih dengan jet," jelas Jung Hyuk tanpa mengurangi nada kesopanan.


" Ck ... kalau begitu, bereskan berita tentangku itu!" titah Tae Yang


" Tuan, maaf ... tapi ... berita itu sudah menjadi viral di Korea dan beberapa negara lain," kata Jung Hyuk lalu menundukkan kepalanya.


" Hyuk, sampai di Seoul, aku mau kau siapkan konferensi pers,"


Jung Hyuk mendongak menatap wajah Tuannya.


" Kon-konferensi pers, Tuan?"


Tae Yang mengangguk dan kembali memejamkan matanya


" Tapi Tuan ..."


Tae Yang mengangkat tangannya menghentikan Jung Hyuk meneruskan bicaranya.


" Aku akan lakukan apapun agar Emy mau memaafkan kebodohanku. Meskipun ... aku harus merendahkan diriku di hadapan khalayak," kata Tae Yang dengan suara serak. Keputusannya sudah bulat.


Ia tak mau kehilangan istrinya lagi. Ia sangat mencintainya. Konferensi pers satu-satunya jalan untuk memperbaiki hubungannya.


" Tuan Muda, tolong Anda pikirkan lagi. Sebaiknya, Anda berbicara dulu secara pribadi dengan Nona Muda. Saya ... saya akan mengirim Anda video malam itu dan berikan itu pada Nona Muda ... tapi ... tapi Anda jangan mempermalukam diri Anda sendiri,"


Tae Yang menutup matanya lalu kembali menatap Asistennya itu..


" Baiklah. Tapi, aku tetap melakukan konferensi pers untuk menjernihkan semuanya. Aku tak mau istriku malu karena perbuatanku. Sudah cukup semua yang kulakukan padanya. Aku ... aku akan lakukan apapun agar ia mau memaafkanku lagi ... hiks ...hiks ..." tangis Tae Yang kembali pecah. Rasa takut menguasainya. Rasa takut kehilangan istri yang ia cintai.


" Tuan Muda ..." lirih Jung Hyuk.

__ADS_1


Bandara Incheon, Seoul


Emy dan Anak-anaknya, Luther, Evan juga pengasuh Mikha dan Micko, Ji An, sudah berada di bandara. Pesawat yang akan mereka tumpangi delay


" Paman, aku mau menyusui Migu (nama panggilan kesayangan baby Miguel) dulu, ya?" pamit Emy.


" Hmm, baiklah. Ji An akan mengantarmu dan jangan membantah," kata Evan ketika ia melihat gelagat Emy yang hendak menolaknya.


" Baiklah, Paman," kata Emy dengan bibir manyun karena kesal.


" Mommy, Mikha mau ikut,"


" Micko juga, Mom,"


" Sayang, Mommy mau kasih susu dulu buat adik. Mikha sama Micko disini aja ya sama Grandpa," bujuk Emy


Mikha dan Micko menggeleng. Bibir keduanya mulai menyebik (bibir turun kebawah). Emy memejamkan matanya. Dan,


1


2


3


Huaaaaaa .... huaaaaa....


Luther dan Evan tercengang mendengarnya. Dengan segera mereka menghampiri kedua bocah itu dan menggendongnya, berusaha untuk menenangkannya.


" Paman, bisa tolong antar mereka ke ruangan itu," pinta Emy seraya menunjuk ruang menyusui yang ada sedikit jauh dari mereka


Oekk ... oeekk ...


Baby Miguel akhirnya ikut menangis karena mendengar tangisan kakak-kakaknya yang tak berhenti.


" Paman!" panggil Emy dengan menghentakkan kakinya karena Pamannya masih saja berusaha membujuk Mikha untuk diam.


" Tapi, kamu kan gak bisa ..."


" Mikha sama Micko gak akan diam kalau sudah seperti itu," jelas Emy seraya berjalan menuju ruangan menyusui.


" Tapi Em ..." kata Evan yang otomatis mengikuti Emy berjalan


" Paman, cuma Tae Yang yang bisa ...." ucapan dan langkah Emy terhenti ketika ia menyebut nama suaminya. Evan pun ikut berhenti


" Emy, sudahlah, Nak," Evan Mengusap bahu Emy. Bibir merah muda Emy menipis. Tangannya dengan cepat menghapus air matanya lalu mengangguk dan kembali berjalan.


Mikha dan Micko mulai diam ketika ia melihat Luther dan Evan menggendong mereka mengikuti Emy.


Ji An sendirian menunggu barang bawaan mereka. Emy masuk ke dalam ruangan itu tetap dengan masker dan kacamata hitamnya. Demikian juga Mikha dan Micko.


" Sayang, Grandpa dan Paman Luther tunggu disini, ya," kata Evan dengan berjongkok mensejajarkan tingginya dengan kedua bocah itu.


" Kenapa?"

__ADS_1


" Di dalam hanya untuk wanita. Paman kan laki-laki. Jadi, gak boleh masuk," jelas Evan


" Tapi, Daddy sering lihat Mommy kasih susu adik. Daddy juga kalau malam ikut minum susu Mommy," kata Micko dengan polosnya.


__ADS_2