Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Belajar Menahan Amarah


__ADS_3

Evan dan Luther terpaksa ikut kembali ke Mansion Kim. Mereka tak mengikuti Tae Yang mengantar pasangan suami istri lanjut usia itu. 


Tae Yang dan Emy juga Mikha dan Micko ikut masuk dalam mobil Limousin Tae Yang, mengantar Kakek dan Nenek Yu Zhen ke Emerald.


“ Ehm ... maaf Kek. Setahu saya, Yu Zhen yatim piatu dan dia ...” kata Emy, ia tak berani melanjutkan kata-katanya karena takut menyinggung keduanya.


Namun, Kakek dan Nenek itu tersenyum dan melihat Emy dengan hangat. Kakek mengalihkan pandangannya menerawang dan mengingat kembali awal ia mengetahui tentang Yu Zhen.


“ Mom, apa itu yatim piatu?” sela Mikha


“ Yatim Piatu itu tak punya Ayah dan Ibu, sayang.” Jawab Emy. Mikha mengangguk dan mulai menikmati susu di dalam gelas dengan 2 pegangan di sisi kanan dan kiri, dan ada tonjolan berbentuk pipih pada penutupnya, karena si kembar memang belum bisa minum lewat gelas. Mereka selalu tersedak setiap mencoba.


 “ Yu Zhen memang yatim piatu. Ayahnya menolak kehadirannya dan ibunya dipaksa diambil darinya saat ia masih kecil. Saat itu, kami tidak tahu apa-apa tentangnya. Tapi, ketika ibu Yu Zhen sakit dan di atas tempat tidur menunggu kematiannya, ia menceritakan semuanya.


Kami sungguh malu dengan kelakuan putra kami. Aku, Cha Jung Bong merasa gagal mendidik putra kami. Karena itu, kami mencari keberadaanya. Dan, untunglah dewi Fortuna berada di pihak kami. Kami menemukannya karena Hyun Sik,” jelas Kakek


Tae Yang hanya bersikap biasa saja mendengar itu. Di dalam hati, ia merasa familiar dengan kedua orang itu, tapi ia lupa siapa. Dari cerita si Kakek ia baru tahu kalau mereka adalah kakek sahabatnya, Cha Hyun Sik. Emy cukup terkejut mendengar fakta ini. Karena ia sama sekali belum tahu.


“ Jadi ... Yu Zhen adalah ...”


Kedua orang itu mengangguk dan tersenyum getir. “ Kami mau menebus kesalahan putra kami dan kesalahan kami juga karena tak mengetahui keberadaannya hingga ia menjadi terlantar. Aku sungguh bersyukur karena ada penolong yang sudah membantu cucuku mendapat tempat tinggal dan menyekolahkannya hingga ia bisa jadi  dokter,” ucap Nenek dengan tulus.


“ Memang Kakek dan Nenek mau apa kalau bertemu dengan penolongnya?” tanya Tae Yang seraya melirik ke sisinya, dimana istrinya duduk dalam rangkulannya.


“ Ah, kami hanya ingin berterima kasih dan membalas budinya. Kami bersedia memberikannya apa saja sebagai rasa syukur kami,” jawab Kakek


“ Tapi aku rasa orang itu memang hanya berniat membantu, Kek. Kalau dia ingin mendapat balasan, ia pasti sudah memberikan keterangan siapa dirinya, “ ucap Tae Yang dengan mata menatap hangat pada istrinya dan membelai lembut pipi istrinya.


Emy tersenyum melihatnya dan memegang tangan besar suaminya. Ia juga menaruh kepalanya di bahu suaminya.


“ Iya, kau benar. Karena itu, kami hanya bisa berdoa di kuil. Setiap bulan kami ke kuil dan berdoa di sana.”


“ Kek, tapi tadi kenapa Kakek dan Nenek ada di sana?” tanya Tae Yang, ia sudah sangat penasaran. Kenapa mereka ada di bandara kalau mau ke rumah sakit? Kalau mereka dari luar negeri, lalu kenapa mereka ada di terminal keberangkatan?


“ Oh ... kami dari mengantar anak angkat kami, Yoon Ah. Dia melanjutkan kuliah di Vancouver. Orang tuanya sudah tidak ada, jadi kami yang mengurusnya,” jawab Kakek


Tae Yang dan Emy mengangguk mengerti.

__ADS_1


Sampai di rumah sakit, Emy dan Tae yang juga Mikha dan Micko, mengantar pasangan suami istri lansia itu ke kamar rawat Yu Zhen


Tok ... tok ...


Ceklek 


“ Em-Emy?” sambut seseorang yang membukakan pintu kamar rawat Yu Zhen


Emy tersenyum hangat dan memeluk wanita itu. Wanita itu masih terkejut, apalagi ia juga melihat bos Kimtae itu datang bersama Emy, dengan wajah yang terlihat lelah. Kedua pasang Kakek Nenek yang melihat bahwa ketiganya seperti mau berbicara, langsung masuk melihat cucunya.


“ Kalian ...” kata Ae Rim seraya menunjuk Emy dan Tae Yang bergantian. Emy dan Tae Yang tersenyum. Tae Yang maju dan merangkul Emy lalu mendaratkan ciuman di pelipis Emy. Ae Rim tersenyum lega melihatnya. 


Ae Rim meraih tangan Emy, “ Untunglah kau tak jadi pergi,” ucap Ae Rim tanpa sadar


Emy mengerutkan alisnya tak mengerti, begitu juga Tae Yang. Ae Rim yang sadar akan ucapannya, tersenyum canggung dan mengalihkan perhatiannya pada Mikha dan Micko yang masih asyik meminum susunya dan bersandar di dinding.


“ Mikha, Micko. Ayo masuk,” Ajak Ae Rim. Emy dan Tae Yang melempar pertanyaan mereka ke belakang kepala dan masuk kedalam kamar rawat Yu Zhen.


Saat mereka masuk, Yu Zhen seperti terlihat bosan dengan kecerewetan Nenek dan Kakeknya. Emy tersenyum melihatnya.


Yu Zhen tersentak kaget dan melihat ke arah pintu. Matanya menatap Emy dan Tae Yang yang masuk dengan tangan Tae Yang ada di pinggang Emy.


“ Em-emy ...” lirih Yu Zhen


Emy tersenyum dan mendekat. Ia melihat tablet rekam medis Yu Zhen yang di taruh di sisi depan bed rawat Yu Zhen. Wanita itu mengangguk-angguk dan kembali melihat Yu Zhen


“ Sepertinya kau rajin meminum obatmu, Tuan ... pasien,” goda Emy tanpa mengetahui perasaan yang berkecamuk di hati Yu Zhen


“ Mom, Mikha ngantuk,” kata Mikha dan menarik tangan Emy.


“ Baiklah, sebentar lagi kita pulang, ya?” kata Emy seraya menggendong Mikha tapi di sambar suaminya


“ Biar aku saja. Mereka sudah besar dan mulai berat. Kau masih belum boleh bawa berat-berat,” kata Tae Yang lembut dan tersenyum. Emy mengangguk patuh


“ Mom, Micko juga ngantuk,” 


Tae Yang mendelik, ia lupa ia memiliki 2 anak yang besar dan seringnya si kembar memiliki keinginan dan tingkah yang sama.

__ADS_1


“ Hahaha ... Nak, bagaimana kalau seperti itu?” goda Kakek. Tae Yang tersenyum kecut


“ Sama Aunty Ae Rim, ya Micko,” kata Ae Rim kemudian. Micko mengangguk dan mengangkat kedua tangannya. Matanya sudah terasa berat. Tak lama, kedua bocah berwajah sama itu tertidur dalam gendongan Tae Yang dan Ae Rim.


“ A Zhen-a, Anak-anakku sudah mengantuk. Aku juga sudah lelah. Aku pulang dulu, ya,” pamit Emy. Yu Zhen hanya bisa mengangguk. Ia tak bisa berkata apapun saat ini. 


“ Kek, Nek, kami pulang dulu. Ini nomer teleponku. Jika Kakek dan Nenek membutuhkan sesuatu, silahkan telepon sja,” ucap Tae Yang. 


“ Baiklah. Terima kasih, Anak Muda, “ ucap Kakek.


Emy memberikan pelukan pada kedua pasutri lansia itu lalu meninggalkan ruang rawat Yu Zhen diikuti suaminya dan Ae Rim.


“ Ae Rim-a, dimana Oppa?” tanya Emy tiba-tiba saat mereka menunggu lift. Tae Yang memejamkan matanya. Ia berusaha untuk menghilangkan sifat pemarahnya, jika ia tak mau kehilangan istrinya lagi. 


“ Yeol ada operasi. Jadi aku yang menjaga Yu Zhen,” kata Ae Rim seraya melirik Tae Yang


“ Apa ada yang datang menemui Yu Zhen?” tanya Emy lagi. Kini Tae Yang menahan nafasnya


“ tidak ada. Tapi, beberapa waktu lalu, kata Yeol ada seorang laki-laki mencurigakan di sekitar kamarnya,”


Ting


Pintu lift terbuka, dan mereka segera masuk. Untunglah, hanya mereka yang ada didalam lift itu, jadi tak perlu berdesak-desakan.


“ Hmm ... apa sudah lihat wajahnya?”


Ae Rim menggeleng. Karena dalam CCTV, orang itu memakai masker dan topi hitam.


“ Sayang ...” panggil Emy pada suaminya yang berjalan disampingnya.


“ Hmm?” 


“ Apa bisa tolong kau tambah bodyguard untuk menjaga Yu Zhen? Aku takut orang yang menusuk Yu Zhen akan kembali lagi karena ia melihat Yu Zhen belum mati,” pinta Emy.


Dengan berat hati Tae Yang mengangguk menuruti permintaan istrinya. Tapi, sepertinya tindakannya tak sia-sia


CUP

__ADS_1


__ADS_2