Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Menghilang - Season 2


__ADS_3

Tae Yang menutup matanya dan mengatur nafas. Ia tak mau emosi. Istrinya sudah kembali jauh darinya, ia tak mau menambahinya dengan menyakiti dr. Lee yang Emy sayangi seperti kakaknya.


" Sayang, bangunlah. Aku merindukanmu ..." lirih Tae Yang lalu melihat ke arah perut Emy dan mengusapnya lembut serta menciuminya, " Baby, ini Daddy. Jangan nakal ya di dalam. Kita sama-sama jaga Mommy, ya?" ucap Tae Yang.


Mata Tae Yang tanpa sengaja melihat jam dinding di ruangan itu. 12.30


" Oh, Tuhan. Astaga. Aku lupa jemput si kembar,"


Tae Yang mengambil ponselnya memanggil nomor Jung Hyuk. Setelah beberapa saat baru ada jawaban.


" Kau dimana?! lama sekali jawabnya. Jemput Anak-anakku sekarang!"


" ........"


Tae Yang menepuk jidatnya dan menggaruknya walau tak gatal lalu menutup ponselnya


" Ya, Tuhaaann ... aku kenapa jadi pelupa begini."


Ia segera menelepon sopirnya, Pak Jang, dan menyuruhnya menjemput si kembar.


Jung Hyuk menatap ponselnya dan menggeram kesal.


" Eerrgghhh ... kalau bukan Atasan sudah kulumat habis Anda, Tuan Muda," geram Jung Hyuk


" Memang Anda punya berapa nyawa, Pak Jung Hyuk," sindir seorang Bodyguard


Jung Hyuk menipiskan bibirnya dan menatap kesal bodyguard yang ia bawa.


" Ayo turun!" titahnya.


Dua orang bodyguard seperti biasa mengangkat tubuh Lucia tanpa peduli pakaian wanita itu sudah tak berbentuk dan melemparnya ke dalam mobil yang sudah terparkir di depan hangar.


" Kenapa sih kalian selalu kasar?" protes Lucia. Tapi sayang, tak ada yang menanggapinya. Lucia hanya bisa menerima nasibnya.


Ia begitu takut bertemu orangtuanya. Kedua orangtuanya sudah mengancamnya tak akan menerimanya kembali jika ia berani ke Korea. Tapi, Lucia yang keras kepala memaksa. Ayah Lucia adalah guru TK dan ibunya seorang bidan di daerah pinggiran kota London.


Mereka mendengar penuturan Lucia bahwa ia akan ke Korea untuk merebut calon suaminya yang direbut orang. Tapi, orangtuanya dengan keras melarang karena sangat tak beretika. Cinta tak bisa dipaksa. Walau janji memang harus ditepati. Tapi, balas budi tak bisa dijadikan alasan menekan seseorang.


' Bagaimana ini, apa mereka masih menerimaku? Apalagi dengan keadaanku seperti ini,' Lucia begitu gelisah memikirkan orangtuanya.


Sampai di rumah Lucia, ia melihat kedua bodyguard disebelahnya dengan curiga.


" Kalian ... dari mana kalian tahu aku tinggal di sini?"


Jung Hyuk dan para bodyguard itu hanya tersenyum sinis mendengarnya, tak ada maksud untuk menjawabnya. Lucia begitu kesal dibuatnya, tapi ia juga tak berani melawan.


Tok ... Tok ...

__ADS_1


Tak ada jawaban. Bodyguard Jung Hyuk terus mencoba mengetuk, tetap sama, tak ada jawaban. Mereka mencoba menunggu, tapi hingga 3 jam tak tampak batang hidung kedua orangtua Lucia.


" Lam! Cari cara masuk ke dalam!" titah Jung Hyuk


" Baik!"


Lam, si bodyguard mengelilingi rumah sederhana itu. Tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Ia mencoba membuka jendela dan terbuka.


Lam masuk dan memeriksa seluruh ruangan, tapi mereka tak ada. Sampai di ruang tamu, banyak barang berserakan dan pecahan gelas dan piring. Ia mencoba mengecek suhu pada gelas, sofa, dan TV. Dingin.


" Mereka berarti sudah lama tidak di sini," gumamnya.


Baru saja ia melangkah, ia melihat jejak kaki dengan ukuran sepatu mirip dengannya. Alisnya berkerut. Mata elangnya menyusuri setiap jejak yang mulai menghilang karena lembabnya udara.


Jejak tak beraturan dengan berbagai ukuran. Lam menghela nafas panjang dan menggeleng.


" Aku harus lapor!"


Lam mencoba membuka pintu depan dan


Klik


Pintu itu terbuka. Jung Hyuk menatap heran pada bodyguard itu.


" Kenapa kamu bisa keluar dari situ?"


" Pak, sepertinya orangtua wanita itu diculik,"


Jung Hyuk menggeleng dan menkode si bodyguard untuk membawa Lucia masuk kembali ke mobil.


" Lam, cari petunjuk dan temui aku nanti," titah Jung Hyuk lagi. Lam mengangguk dan masuk kembali ke dalam rumah.


Jung Hyuk bertambah kesal mendengar tangisan dan jeritan Lucia di dalam mobil.


" DIAAMMM!!" bentak Jung Hyuk. Lucia seketika menggigit bibir bawahnya dan menahan isakannya.


" Sepertinya kau telah membuat orangtuamu celaka, Nona Lucia!"


Lucia menggeleng cepat, berusaha menolak kenyataan.


Sampai di rumah Tae Yang di Upper Phillimore Gardens, London, Jung Hyuk menyuruh bodyguard mengangkat Lucia yang tertidur dan menempatkannya di kamar atap (rooftop)


" Jangan lupa kunci pintunya!" titah Jung Hyuk lagi.


Korea


Pak Jang kebingungan mencari dua Tuan Kecilnya. Para guru dan penjaga sekolahpun panik mencari. Namun, sudah lebih 2 jam mereka berkeliling dan membuka semua ruangan dan lemari, si kembar tak dapat ditemukan.

__ADS_1


" Aduh, bagaimana ini, Bu Guru? Saya bisa dipecat kalau mereka tidak ketemu," kata Pak Jang panik


" Kami juga sama, Pak. Kami juga takut dipecat. Sekolah ini juga milik Tuan Kim,"


Mereka memutuskan untuk mencari lagi.


Deerrrttt ... Deerrtttt ...


" Aduuhh, Tuan Muda ...bagaimana ini?" Gumam Pak Jang. Tapi, ia harus mengangkatnya jika tak mau lebih mendapat amukan sang majikan.


" Tu-Tuan Muda ..."


" .........."


" Tuan Muda, Tuan-Tuan Kecil mereka ... mereka hilang .."


" ............"


" Kami sudah cari ke seluruh sekolah, tapi sudah 2 jam lebih tidak ketemu. Sekarang kami sedang ...."


Tut ... Tut ... Tut ...


Panggilan itu terputus bahkan sebelum ia selesai berbicara.


" Aduh bahaya ... Tuan Muda ngamuk ... Bagaimana ini?"


Pak Jang kembali mencari dan berteriak memanggil nama Mikha dan Micko.


Tae Yang yang menerima kabar hilangnya si kembar, menjadi gusar. Ia mengambil teleponnya dan menelepon seseorang


" Cek lokasi si kembar sekarang!" Setelah menutup panggilannya, Tae Yang menatap Emy dengan cemas.


" Uurrrgghh ..." lenguhan Emy membuatnya tersentak dari lamunan dan segera mengambil posisi di sisi istrinya itu.


" Sayang ... kau sudah bangun?" Tae Yang tersenyum dan mencium Emy serta memeluknya.


Emy tak dapat menolak karena tubuhnya terasa lemah.


" Sayang, masih sakit kepalanya?" tanya Tae Yang lembut. Emy hanya mengangguk tak menjawab. Tae Yang segera menekan tombol untuk memanggil dokter. Lupa, bahwa istrinya juga dokter.


" Ya, Tuan Muda?" sahut seorang perawat.


" Panggil Yeol! Istriku sudah sadar tapi kepalanya sakit, cepat!" titah Tae Yang tak sabar


Emy hanya berdiam diri dan kembali menutup mata. Kepalanya terus berdenyut serasa mau pecah. Bayangan-bayangan gelap berkelebat di benaknya membuat kepalanya bertambah sakit.


" Sayang, cepat sehat, ya ... supaya calon bayi kita di sini juga sehat,"

__ADS_1


Seketika Emy membuka matanya dan menatap Tae Yang dengan mata yang mendelik.


" Iya, sayang. Kamu hamil. Sudah 6 minggu. Di sini ... ada adiknya Mikha dan Micko ... jadi, kamu harus sehat, hmm?" kata Tae Yang lembut seraya mengusap lembut perut Emy dan tersenyum bahagia.


__ADS_2