
1 bulan kemudian
" Bagaimana? Apa kau berhasil?" Tanya seseorang dari kursi kebesarannya. Matanya menatap tajam lelaki kurus dihadapannya.
" Sudah, Tuan. Mereka sudah tertangkap. Tapi, sepertinya mereka hanya antek-anteknya. Gang Wolf mendapat bayaran dari seseorang secara cash, jadi kita tidak bisa melacak. Nomor handphone yang dipakai Nona Muda bulan lalu juga sudah saya selidiki. Hanya, semua menunjuk pada satu orang.
Baek Dong Min. Penyerangan di Boston, sepertinya untuk menutupi jejaknya. Bibi Sofia, adalah Hipno Terapis yang dia bayar. Jadi, saat dia mendapat info tentang kedatangan Anda bersama Nona Helena, ia seperti kebakaran jenggot. Dari rekaman panggilan teleponnya, ia takut kalau Anda melakukan tes DNA pada Eva dan si kembar dan mendapat keterangan dari Tuan Shin Dae Jung.
Dia bermaksud membunuh Anda dan...membunuh Tuan Shin di rumah sewaan Anda. Karena Anda berhasil lolos dari penyerangan dan mereka gagal mendapat info lokasi Tuan Shin kita sekap, jadi ia memilih melarikan diri. Jadi, Info dari orang itu benar adanya, Tuan." Jelas Byun Hyuk panjang lebar.
Tae Sang mengangguk. Semua perkiraannya tentang Baek Do Min ternyata benar. Tapi, dari mana dana itu?
" Lalu...apa kau tahu dari mana dia dapat uang?" Tanya Tae Sang dengan alis bertaut.
" Saya kemarim dapat telepon dari Tuan Taylor. Ada panggilan masuk dari nomor yang berbeda-beda ke nomor Baek Do Min. Tapi...ehmm..." Byun Hyuk tampak ragu melanjutkan.
" Tapi apa?"
" Tapi asal sinyal nomor itu berasal dari mansion ini, Tuan," jawab Byun Hyuk pelan dan menunduk tapi masih didengar Tae Sang.
" Apa?! Apa maksudmu?!" Mata Tae Sang berubah tajam. Ia terhenyak mendengar informasi dari asisten itu.
" Iya, sinyal dari semua panggilan ke Baek Do Min, berasal dari mansion ini, Tuan. Tuan Taylor juga menanyai saya, apa ada dia antara pelayan atau bodyguard di sini memiliki riwayat hidup yang mencurigakan."
" Lalu apa ada yang seperti Evan tanya?"
" Saya sudah cek satu persatu, Tuan. Semuanya normal. Pelayan-pelayan di mansion berasal dari keluarga menengah ke bawah, pendidikan dan riwayat pekerjaan mereka semuanya tidak ada yang mencurigakan. Kebanyakan dari mereka, datang bekerja di sini, karena...karena Anda, Tuan." Jelas Byun Hyuk
" Karena aku? Kenapa?"
" Mereka...mereka mengidolakan Anda." Sahut Byun Hyuk sambil melipat bibirnya menahan senyum
" Wahh...pantas aja mereka sangat tidak suka melihatku di sini." Celetuk seseorang dari pintu. Karena serius dengan pembicaraan mereka, sampai-sampai mereka tak melihat ada seseorang yang sudah berdiri melipat tangan di ambang pintu.
" Em-Emy-aa..." Tae Sang terkejut mendengar suara wanita pujaannya. Ia segera berdiri mendekati Emy dan memeluknya.
__ADS_1
" Sayang, apa kau marah?" Tanya Tae Sang setelah melepas pelukannya. Ia menatap intens Emy, mencari kemarahan di sana.
" Untuk apa aku marah, Tuan Tae Sang? Saya hanya tunangan Anda dan ibu dari anak-anak anda," ketus Emy
Tae Sang menelan salivanya, 'dia marah,' batin Tae Sang. Ia kembali memeluk Emy, tapi masih tetap tak di balas.
" Baiklah, kalian bicara aja terus, aku sama anak-anak mau makan," kata Emy seraya melepas pelukan Tae Sang dan segera berlalu dari sana dengan cepat. Meninggalkan Tae Sang yang terpaku melihat gesitnya wanita itu pergi dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Kita lanjutkan nanti." Kata Tae Sang pada Byun Hyuk. " Emy-aa...Sayaaaangg..." Tae Yang berlari menyusul Emy yang yang sudah menghilang di balik tembok.
Emy merasakan panas di dadanya setelah mendengar perkataan Byun Hyuk. Sekarang, ia mengerti mengapa sikap beberapa para pelayan wanita terutama yang masih muda, begitu angkuh dan sinis padanya.
" Jadi, karena mereka suka lelakiku? Sialan! Bisa-bisanya mereka suka pria yang sudah jelas punya tunangan dan punya anak. Cih...awas aja kalau mereka genit-genit... eh...kenapa aku marah, ya? Apa aku...cemburu?...Ah, gak mungkin. Iya, gak mungkin. huh?!" Oceh Emy. Langkahnya semakin cepat ketika ia mendengar suara baritone seksi di belakangnya.
Mikha dan Micko berlarian di seputar meja makan. Para pengasuh kewalahan mengejar keduanya. Si kembar tertawa geli ketika mereka dikejar. Emy berdiri dan menatap mereka. Hatinya merasa bahagia. Di tengah kesedihannya untuk mendapatkan memorinya kembali, ia disuguhi anugerah luar biasa. Masa-masa bayi keduanya yang Tae Yang tunjukkan, baik memalui video maupun foto, membuat hatinya terasa damai.
" Mommy!!"
" Mommy!!"
Senyum Emy mengembang, ia berjongkok dan menyambut pelukan 2 bocah lucu itu. Diciumnya pipi gembul kedua putranya bertubi-tubi.
" Daddy juga mau," ucap Tae Sang berjongkok dan menyodorkan pipinya.
Cup
Cup
Mikha dan Micko mengecup pipi daddynya.
" Mommy juga dong," pinta Tae Sang memajukan bibirnya.
Puk
" No, daddy! No!" Kata Mikha. Tangan kecilnya masih menutup di bibir Tae Sang.
__ADS_1
" Daddy gak boyeh(boleh)! " Ucap Micko sok tegas seperti kakaknya.
Emy mengulum senyumnya. Anak-anaknya semakin hari semakin posesif. Bahkan untuk sekedar duduk berdekatan dengan sang daddy, mereka pasti melarangnya atau mereka akan menyusup dan duduk diantara dirinya dan Tae Sang.
" Dudu dudak au didium (Daddy juga mau dicium)," kata Tae Sang tak jelas karena tangan kecil putranya masih belum dilepas.
" Mommy, tadi sudah ambilkan Mikha sama Micko makan. Ayo, sekarang makan dulu," Ajak Emy. Keduanya mengangguk. Mikha melepas tangannya yang menutup bibir daddynya lalu memegang tangan Emy. Micko telah lebih dulu memegang tangan Emy dan bergelayut manja sambil menatap daddynya penuh kemenangan.
Tae Sang menghela dan berdiri. Ia duduk di kepala meja dan Emy di sisi kanan. Sementara si kembar? Tentu saja diantara mereka.
Hari-hari berlalu, tanpa disadari Emy sudah berada di negeri ginseng itu selama 6 bulan. Emy tersentuh dengan perhatian dan sikap manis laki-laki pemilik tinggi 189cm itu.
" Sayang, besok anak-anak sudah mulai sekolah. Apa kau mau ikut aku ke kantor setelahnya?" Tanya Tae Sang di sela-sela mereka bersantai setelah mengajari kedua putra mereka bermain sepeda di halaman belakang.
" Gak usah. Aku mau ke rumah sakit aja. Sudah lama aku gak ke ruang OPE. Aku kangen." Mata Emy menerawang, ia membayangkan untuk bisa kembali bekerja ddepan meja operasi.
Deg
Tae Sang menahan nafasnya. Wajahnya berubah. Ia menegakkan posisi tubuhnya, dan berjalan menghampiri si kembar.
" Daddy! Daddy cakit?" Tanya Micko dengan mata polosnya.
" Eh...ndak, sayang. Daddy cuma capek. Micko sih, masa' daddy disuruh jalan bungkuk megangi sepedanya terus," ucap Tae Sang pura-pura marah.
Bukannya merasa kasihan, Micko malah tergelak.
" Hmm...senengnya lihat daddynya capek.." Kata Tae Yang mencubit hidung bangir Micko.
Mikha mengayuh sepedanya perlahan mendekati Tae Sang dan Micko.
" Daddy! Iyatt! Mikha bicaaa!" Teriak Mikha bangga. bocah tampan itu mengayuh sepedanya dan terus tersenyum.
Emy bertepuk tangan. Senyumnya mengembang menawan.
' Emy, apa yang harus aku katakan padamu, sayang. Semua karna kesalahanku. Aku rela menukar nyawaku untuk kebahagiaanmu jika saja...waktu dapat terulang.' Batin Tae Sang memandang sendu wanitanya.
__ADS_1