Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Kebijakan Rumah Sakit


__ADS_3

" ah.. maaf"


Seorang laki laki dengan perawakan tinggi dan tegap bak model, tersenyum dan sedikit menunduk karena telah menyenggol seseorang, saat ia masuk kedalam lift yang terbuka.


Tae Sang melihat laki laki itu, dan memperhatikan dengan mata yang tajam. Laki laki itu tak menyadari bahwa ia menjadi sumber kemarahan seseorang hari ini.


" ah, dokter Lee... apa anda ada operasi hari ini?" tanya seorang perawat basa basi, karena ia pada dasarnya sudah lama menyukai dr.Lee yang berdiri menjulang di sebelahnya.


" hmm... iya.." Jawab dr.Lee singkat dan sedikit menoleh lalu kembali melihat layar ponselnya.


" mm... apa saya bisa membantu, dok?" tanya perawat itu lagi dengan genit, membuat dr. Lee tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya.


" maaf... semua sudah komplit!"


" ah, dokter... kan saya juga mau ikut..."


" memang kau lupa, kau itu bagian apa?" seorang perawat setengah baya menyela pembicaraan keduanya.


" ya.. kan sapa tahu, kalo dr.Lee yang minta kan bisa, ya kan dok?" dr.Lee mendengus kesal mendengar suara genit dan manja dari wanita berpakaian perawat yang selalu saja mencoba menempel padanya.


" ma... maaf tapi saya sangat sibuk, tidak ada waktu untuk mengajar orang baru di ruang OPE saya. " jawab dr.Lee dingin


Perawat genit itu mengerucutkan bibirnya dan meremas ponsel yang ia genggam. Sementara Tae Yang hanya menyeringai dan sesekali melirik dr.Lee


ting


Dengan cepat dr.Lee keluar dari lift dan bersamaan dengan Tae Sang, keduanya sedikit bertubrukan tak sengaja, saling menatap lalu mengangguk dan pergi.

__ADS_1


" tunggu dulu, aku harus ke ruang OPE... ya ampun... gara gara perawat genit itu, aku jadi salah lantai, hufftt..." dr. Lee kembali ke lift dan menekan tombol. Ia begitu kesal karena gara gara menghindari seorang wanita, ia jadi terlambat.


Emy sudah kembali ke ruangannya. Mengecek beberapa hasil lab pasien yang ia minta tadi. Ia juga menyusun makalah untuk ia pakai dalam simposium bulan depan.


" awww... awww...." seperti tertusuk beling, itulah yang dirasakan kepala Emy saat ini. Dengam berpegangan pada sisi meja, Emy berusaha meraih tasnya yang ada di atas bufet kecil di sebelah kirinya.


brukk..


Tangan Emy sedikit kesemutan, sehingga ia tidak merasakan saat tangannya belum benar benar memegang ransel, dan membuat ransel butut itu jatuh dan mengeluarkan semua isi didalamnya.


" ooh...hmm.. dimana obatku?..." Emy mengerling dan berusaha membuka matanya untuk mencari obat dari dr.Lee. Emy berjongkok dan meraba sekeliling, untunglah botol obatnya itu tak menggelinding jauh.


" ahh... " Emy menyandarkan kepalanya di kepala kursi dan memejamkan mata setelah menegak obat. beberapa menit kemudian, ia merasa lebih baik.


" baiklah... aku harus segera menyelesaikan ini." jari lentik Emy kembali menari diatas keyboard. Ia juga menulis banyak hal di komputernya.


Ia teringat akan laporan hasil pemeriksaan Emy beberap minggu lalu. Dan hari ini, ia melihat Emy seperti itu. Sungguh ia tak kuasa melihat seorang Emy yang begitu baik, mengalami banyak masalah. Sedikit banyak, ia tahu tentang Emy, ketika tanpa sengaja, ia mendengar dr.Lee berbicara pada Emy yang sedang koma.


" oh Tuhan... dia orang baik, tolonglah dia....hiks..hiks..."


Perawat Na kembali ke posnya dengan mata merah dan sembab. Semua rekan kerjanya menatap heran. Perawat Na terkenal dengan seseorang yang selalu menjaga penampilan dan ceria. baru kali ini, mereka melihat perawat Na dengan wajah berantakan. mata sembab, hidung merah, dan bibir yang sedikit memerah di bagian atas karena terlalu banyak mengunci mulut. Tapi tak ada seorangpun yang ingin ikut campur dengan masalah wanita bertubuh kurus itu. Mereka tahu, Perawat Na seorang yang sangat tertutup, jadi akan sangat percuma, jika mereka bertanya.


Tae Sang sedang berdiskusi dengan direktur Kang dan beberapa petinggi rumah sakit. Banyak perdebatan mengenai masalah pengelolaan rumah sakit yang saat ini memang mengalami krisis.


" Saya mau, kita mengurangi pasien rawat inap bagi pasien kurang mampu dan tak mempunyai asuransi! jika kita terus saja menerima mereka untuk dirawat disini, rumah sakit kita akan segera tutup!" kata seorang investor.


" benar! kita prioritaskan bed rumah sakit untuk pemegang asuransi dan bagi kalangan menengah keatas. Untuk kalangan bawah, sebaiknya rawat jalan saja!"

__ADS_1


" Tidak bisa! kita ini adalah dokter, kita sudah disumpah untuk tidak membeda bedakan siapa yang kita rawat!"


" kalau kau terus berpikiran seperti itu, maka aku pastikan 3 bulan lagi rumah sakit ini akan bangkrut!"


" Apa mereka yang minta untuk jadi miskin dan sakit, huh?! kenapa kalian begitu picik?!"


Brakkk..


Semua terdiam ketika direktur Kang menggebrak meja dan menatap para petinggi rumah sakit yang saling beradu mulut itu dengan tatapan tajam dan marah.


" apa kalian akan terus berdebat seperti anak kecil?!" Bentak direktur Kang. Tak ada yang berani menjawab penguasa rumah sakit saat ini. Mereka juga adalah investor kecil dengan saham tak lebih dari 7%. karena 45% tetap di tangan pendiri rumah sakit, yaitu Kim Tae San, 15% Kim Tae Sang, dan sisanya adalah Direktur Kang dengan 10%.


" Presdir Kim Tae Sang, apa kau ada pendapat?" setelah semua tenang dan tak ada yang berbicara, Direktur Kang melirik Kim Tae Sang yang duduk di sisi kirinya.


" Maaf semuanya, saya datang kesini kerena kakek yang menyuruh saya. Mengenai rumah sakit, seluruh kebijakan, kakek sudah serahkan penuh kepada Direktur Kang. Jadi saya akan setuju dengan yang Direktur Kang putuskan." Sahut Tae Sang tenang tanpa ekspresi.


Direktur Kang mendesah dan menarik nafasnya dalam dalam. ' sungguh percuma Tuan Besar mengirim anak ini!' geramnya dalam hati.


" baiklah, untuk sementara waktu, kita akan prioritaskan pemegang asuransi, tapi buat mereka yang tidak mampu tapi harus dirawat intensif disini, kita akan tetap terima. Untuk yang bisa dirawat jalan atau penyakitnya tidak terlalu parah, akan menerima perawatan di klinik rawat jalan. Bagaimana semuany?" tanya direktur Kang.


Semua hanya melihat satu sama lain. beberapa orang puas, tapi yang lain mendengus kesal tak menerima. Kim Tae Sang berdiri, merapikan jasnya, menunduk dan beranjak dari sana.


Direktur Kang dan yang lain sudah terbiasa dengan sikap anak muda satu itu. Mereka meneruskan obrolan mereka beberapa saat lalu membubarkan diri, kembali ke tempat mereka masing masing.


" Nona, tolong.. nona... saya, saya pasti akan bayar, tolong beri saya waktu" pohon seorang wanita tua dengan pakaian yang terlihat lusuh. Ia memohon dengan meneteskan air mata, berharap belas kasihan wanita di balik counter kasir.


Seorang wanita berpakaian dokter, berkacamata dengan bingkai hitam dan rambut dikuncir kuda, memperhatikan wanita tua itu dengan seksama dan pandangan sendu.

__ADS_1


__ADS_2