
**Jangan lupa Like and vote ya...
selamat membaca** 🤗🤗🤗
💖
Malam itu suasana hening berubah berisik dan mengganggu. Suara gedoran di pintu dan teriakan seseorang membuat Emy semakin geram.
" Ahhh...Bisa diam gak, sih? Berisiiikkk!!!" Teriak Emy dari dalam rumah.
" Yeoboooo.... Sayaaannggg, bukain pintu dong. Honeyyy....!!!"
Dokk..dokkk...dok...
" Honey-aaa... Yeoboooo...!!!"
Byun Hyuk tak berkedip melihat pemandangan di depannya. Seorang pemilik Perusahaan terbesar di Korea yang di segani dan selalu terlihat dingin, kini berdiri di depan pintu memohon dibukakan pintu.
" Yeoboooo... Maafkan aku, sayaaanggg... Bukain pintu dong, sayaanggg..." Suara memohon Tae Sang sungguh membuat Emy kesal. Ini sudah jam 10 malam, dan laki-laki itu masih terus berteriak.
Flashback on
Emy akhirnya bersedia mengikuti Tae Sang kembali ke Seoul, Korea. Atas desakan Tae Sang, ia bersedia tinggal di mansionnya yaitu mansion mewah tempat tinggal keluarga utama Kim dan tempat almarhum kakeknya tinggal.
Si kembar selalu tak berhenti berceloteh dengan mommynya dan mengabaikan sang daddy yang terus cemberut seperti anak kecil yang direbut mainannya.
Tidurpun ia harus menunggu agar kedua putranya terlelap, barulah ia dapat "mencuri" calon istrinya itu dan membawanya ke kamar utama yang kini mereka tempati.
Semua tampak lancar-lancar saja selama 3 bulan Emy di mansion megah itu, hingga satu kali Emy tanpa sengaja mendengar 2 orang pelayan tengah bergosip tentangnya saat Emy hendak masuk ke dapur untuk membuat cemilan untuk si kembar.
" Beneran ?" Tanya seorang pelayan bertubuh langsing dan berwajah manis dan rambut diikat ekor kuda
" Iya, masa aku bohong. Aku tuh udah kerja 8 tahun di sini. Jadi, aku tahu semuanya, " ujar seorang pelayan dengan rambut dicepol di belakang dan berumur sekitar 35 tahunan.
" Wah, berarti Emy itu pelakor dong. Ih, jijik. Bisa-bisanya rebut tunangan orang. Wajahnya aja kayak orang baik, polos ternyata busuk juga hatinya, ya. Jadi ilfeel aku."
" Iya, gak tahu gimana dia ngrayu Tuan Besar sampe-sampe dia bisa nikah sama Tuan Muda. "
" Kok Tuan Muda mau sih, sama perempuan kayak gitu?"
" Pastinya terpaksalah..."
Emy membeku di tempatnya. Baru kali ini ia dituduh sebagai pelakor. Matanya berkaca-kaca. Kepalanya yang terasa sakit membuatnya tersadar dan perlahan melangkahkan kakinya hingga sampai ke kamar utama berpegangan tembok. Ia tak menyangka suaminya selama ini berbohong padanya. Selama ini ia meyakini bahwa dia adalah satu-satunya wanita suaminya. Tak menyangka dia adalah wanita perebut tunangan wanita lain
Emy menangis terisak hingga tertidur dengan posisi meringkuk di atas ranjang king size itu.
3 jam kemudian ia terbangun dengan suara teriakan si kembar.
" Mommyyy... Mikha mau belajal mucik cama mommy (belajar musik sama mommy)"
" Iya, Micko tuga (Micko juga). "
__ADS_1
Emy bangun dan tersenyum menyambut kedua putranya.
" Iya, nanti mommy ajarin Mikha sama Micko. Tapi, sekarang anak-anak mommy mandi dulu, ya."
" Mommy cakit agi (Mommy, sakit lagi)?" Tanya Micko. Empat tangan kecil sudah ada di wajah Emy dan bergantian mengusap wajah cantiknya yang sembab.
" Ndak, sayang. Mommy cuma lelah aja." Jawab Emy dan menciumi tangan imut kedua putranya yang berlanjut hingga ke wajah dan badan si kembar, membuat keduanya tertawa geli.
" Sudah... Sudah. Ehmm..Mommy nanti sore mau ke rumah Halmeoni (nenek). Mikha sama Micko tunggu daddy di sini, ya?" Ucap Emy kemudian.
Keduanya menggeleng dan mencebikkan bibirnya.
" Ikut mommy! Mikha ikut!"
" Micko tuga (Micko juga), mommy!"
Emy menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Wajah imut mereka tak sanggup ia lawan.
" Baiklah, sekarang kita ke kamar Mikha sama Micko trus ganti baju, ya?"
Wajah si kembar menjadi cerah. Emy menggiring kedua putranya keluar kamarnya menuju kamar si kembar dan membantu mengganti baju keduanya.
" Hm, tunggu sini ya, sayang. Mama ke kamar siap-siap."
" Iya, mom!" Sahut keduanya
" Ah, pinter dan ganteng anak-anak mommy!"
cup
cup
Setelah meminta pelayan menyiapkan keperluan si kembar dalam koper, Emy kembali ke kamarnya dan memasukkan bajunya dalam koper.
15 menit kemudian Emy dan si kembar sudah berada di dalam mobil yang akan membawa mereka ke rumah Emy yang juga merupakan rumah almarhum orang tua angkat Emy.
Pukul 17.00 Tae Sang sudah kembali dari kantor. Sejak kembalinya Emy, ia selalu pulang sore dan tak pernah lagi diatas jam itu, sesibuk apapun dirinya. Dulu saat Emy belum kembali, ia pulang kantor jam 8 malam karena si kembar selalu dibawanya ke kantor dan hanya ia tinggal di rumah saat ia harus bertemu klien di luar.
Alis laki-laki tampan itu berkerut ketika tak menemukan istri dan kedua putra kembarnya.
" Paman Ji! " Suara Tae Sang menggelegar di ruang tamu yang luas bak lapangan futsal itu.
Beberapa menit kemudian seorang laki-laki tua berjalan cepat mendekati Tuan Muda keluarga Kim yang masih berdiri di tengah ruangan dengan wajah berselimut mendung.
" Ya, Tuan Muda." Sahut paman Ji, kepala pelayan kediaman Kim.
" Kemana istri dan anak-anakku?"
" Eh, Nyo-nyonya keluar dengan tuan-tuan kecil, Tuan." Jawab paman Ji sambil membungkuk.
__ADS_1
" Keluar? Kemana? Kenapa tidak bisa kutelepon?"
Rentetan pertanyaam memberondong laki-laki tua yang sudah mengabdi lebih dari 30 tahun itu.
" Eh, tadi...tadi nyonya membawa ko-koper, Tuan. Mereka pergi ke rumah nyonya di Sungchon Tongin-dong, Tuan Muda."
" Ke Tongin-dong? Kenapa gak bilang-bilang?" Gumam Tae Sang. " Baiklah, terima kasih. Paman."
Paman Ji membungkuk dan berbalik beranjak dari sana.
Tae Sang meraih ponselnya dan menekan nomor Emy. Tak aktif.
" Gak aktif? "
Tanpa mengganti bajunya, Tae Sang bergegas pergi menyusul istrinya.
15 menit kemudian ia sudah berada di depan rumah ibu angkat istrinya. Emy yang mengetahui suaminya menyusul, segera mengunci pintu.
Tok...tokk...
" Sayang, bukain pintu dong. Sayaaangg..."
" Kamu balikan aja sama tunanganmu! Aku gak mau nikah sama kamu!" Seru Emy dari balik pintu. Hatinya terasa sakit saat mengingat perkataan kedua pelayan tadi siang.
' Tunangan? Emy, apa yang sudah dia dengar?' Pikiran Tae Sang mulai bekerja
" Sayaaangg, kamu bilang apa? Kan kamu tunanganku dan kita menikah 2 minggu lagi!"
" Enggak! Kamu bohong! Kamu sudah tunangan sama yang lain! Kamu bikin aku jadi pelakor! Huhuhu...."
Emosi Emy kini mulai meluap. Belum pernah ia merasa seperti ini.
Tae Sang terkejut mendengarnya.
" Apa maksudmu, sayang? Buka pintunya, sayang. Kita bicara baik-baik."
Tok...tok.
" Sayang! Sayaaang.... Sayaaanggg..."
" Aduh, ngambek kenapa, ya?" gumam Tae Sang
Tae Sang terpaksa kembali ke mansionnya karena hari juga sudah larut. Ia bertekad mencari tahu apa yang terjadi.
Melalui cctv, ia melihat ketika Emy berdiri di ambang pintu dan 2 orang pelayan sedang berbicara di dalam dapur kemudian Emy berbalik berjalan perlahan dan berpegangan pada tembok.
Tae Sang menyuruh paman Ji memanggil keduanya. Dari sana ia mengetahui bahwa mereka telah menuduh Emy sebagai pelakor.
" Paman Ji! Pecat mereka dan jangan biarkan mereka mendapat pekerjaan dimanapun!" Geram Tae Sang. Permohonan ampun tak didengarkan ayah 2 anak itu.
__ADS_1
Atas kejadian itu, Tae Sang memanggil seluruh pelayan dan memperingatkan mereka untuk tak berbicara bohong dan menyebar rumor tak benar.
Flashback off