
" Dimana Tae Yang dan Anak-anakku?" tanya Emy tiba-tiba
" Mikha dan Micko masih belum sadar karena kami sengaja memberi mereka obat penenang. Mereka ... trauma. Saat bangun tadi pagi, mereka menangis dan menjerit ketakutan, karena itu ... terpaksa aku suruh memberi mereka penenang, agar bisa istirahat."
Emy tertegun mendengarnya. Air matanya mengalir. Ia masih ingat, kedua Putranya mengalami Hipotermia (Penurunan suhu tubuh secara drastis yang berpotensi berbahaya. Penyebab yang paling umum adalah berada di lingkungan bersuhu dingin dalam waktu yang lama) karena ruangan mereka saat disekap tak memiliki penghangat yang memadai dan hanya ada kasur tipis. Anak yang begitu kecil pasti akan ketakutan.
" A-anak-anakku ... huhuhu...." tangis Emy.
" Lalu .... lalu Tae Yang?" tanya Emy lagi di sela-sela tangisnya
" Tae Yang dia ... dia Ko-koma," kata dr. Lee dengan wajah sendu
" Ko-koma?"
Dokter Lee mengangguk dan memegang tangan kecil Emy.
" Dia tertembak. Dan peluru itu ... bersarang hanya kurang 1cm dari jantungnya. Ia kehilangan banyak darah," jelas dr. Lee
Emy menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membulat tak percaya. Air matanya kembali lolos begitu saja. Dokter Lee mengahapus air mata Emy.
" Aku ... aku mau melihat Anak-anakku dan Tae Yang," ucap Emy dan berusaha turun dari bed rawatnya. Dokter Lee menahan tubuh Emy agar tetap duduk di bednya.
" Emy-a ... pulihkan dulu kekuatanmu. Ingat kau juga habis tertembak,"
" Tidak, Oppa. Aku mau melihat suami dan Anak-anakku," ucap Emy panik dan berusaha melepas jarum infusnya dengan paksa hingga darahpun mengalir membasahi seprei bed rawatnya
" Emy-a ... Emy!" Sergah dr. Lee saat ia melihat Emy begitu panik sambil menahan tangan Emy.
" Tae Yang di ICU. Anak-anakmu juga. Mereka hampir kena Pneumonia (peradangan paru-paru yang disebabkan oleh infeksi). Tapi, aku belum bisa mengijinkanmu melihat mereka. Tenanglah, Ae Rim menjaga mereka," jelas dr. Lee.
Emy menatap kosong dr. Lee. Terlalu banyak pukulan yang ia alami. Badan Emy lunglai terjatuh di atas bed rawatnya.
" Oppa ... apa aku tak layak bahagia?" lirih Emy
" Emy-a, jangan berkata seperti itu. Aku yakin semuanya akan segera berakhir. Ingatlah, kau juga sedang mengandung. Pikirkan keadaannya juga," tutur Evan seraya memegang perut Emy.
Emy menjadi teringat akan hal itu. Diusapnya perutnya yang masih rata itu. Air matanya deras mengalir.
" Kau harus kuat untuk calon bayimu, Anak-anakmu dan suamimu,"
__ADS_1
Emy mengangguk dengan mata masih terpejam dan air mata tak berhenti mengalir.
" Oppa, aku mau lihat rekam medis Anak-anak dan Tae Yang," ucap Emy
" Yu Zhen sudah menangani mereka sekarang. Jangan kuatir,"
Emy mengangguk dan terus menangis. Rasa sakit operasinya sendiri tak ia hiraukan. Pikirannya terlalu kuatir memikirkan suami dan Anak-anaknya.
" Emy-a ... kau ... sudah mencintai suamimu?" tanya dr. Lee perlahan
Emy membuka matanya dan menatap dr. Lee. Bibirnya tersungging senyum kecil lalu menghapus air matanya.
" Entahlah, Oppa. Aku hanya merasa begitu khawatir dengan keadaannya,"
" Kau ... sudah memaafkannya?"
Emy melayangkan pandangannya pada pada pemandangan di luar jendela.
" Aku ... tak tahu. Aku hanya ... merasa nyaman saat di dekatnya. Aku ... begitu tersentuh saat ia ... menangis memohon padaku. Aku juga begitu cemburu saat ... ia menemui wanita itu. Tapi ... entahlah, Oppa. Aku tak tahu bagaimana perasaanku."
Dokter Lee kembali memegang tangan Emy dan menatap Emy dengan hangat.
Emy-a, aku juga sangat membenci Tae Yang atas perbuatannya padamu dulu, aku tak rela adikku kembali padanya. Tapi ... aku melihat ia tulus mencintaimu. Mengenai wanita itu, dia sudah mengirimnya ke UK (United Kingdom/Inggris). Ia tak menyukai wanita itu. Aku yakin itu,"
Emy kembali tersenyum kecil, menghapus jejak leleran hidungnya dengan tangan dan menatap ke depan.
" Apa benar seperti itu, Oppa? Ia bahkan terlihat tenang saat Anak-anaknya menghilang," kata Emy
" Kau salah, adikku sayang. Jika dia tenang-tenang, dia takkan mengerahkan banyak orang dan instansi untuk mencari si kembar. Dia juga takkan membuat Chasung Group hancur dan tertembak,"
Emy membulatkan matanya dan menatap lekat dr. Lee. Dokter satu anak itu mengangguk.
" Ya. Tae Yang pergi ke Chasung dan berpura-pura menerima kerjasama dengan Chasung. Ia tertembak ketika menangkap Cha Hyun Sik, dalang penculikan Anak-anakmu," jelas dr. Lee
Nafas Emy terasa sesak. Air matanya kembali menetes. Tak ada suara yang dapat ia keluarkan. Dokter Lee meraih tubuh Emy dan memeluknya. Getaran hebat di tubuh Emy membuat dr. Lee mempererat pelukannya.
" Tidak apa-apa ... menangislah ... menangislah. Semua akan baik-baik saja," hibur dr. Lee
Sosok yang berdiri di pintu dan mendengarkan pembicaraan keduanya, perlahan dan pasti menutup pintu dan berlalu pergi. Hatinya terasa sakit dan perih. Bulir-bulir air mata menetes membasahi pipinya.
__ADS_1
" Emy ..." Lirihnya.
Luther selesai membuat laporan di kantor polisi tentang keterlibatan Baek Dong Min dan Cha Hyun Sik. Tapi, Evan kembali meneleponnya untuk melaporkan Paman Ji, Cha Bong Man (Ayah Cha Hyun Sik), Wen Ming (kekasih Xiao Lan) dan Xiao Chen.
Atas permintaan Evan, Luther meminta keringanan untuk Cha Hyun Sik. Selesai dengan tugasnya, Luther kembali ke rumah sakit.
Dalam perjalanan, ia melihat seorang Anak menangis di pinggir jalan. Luther menepikan mobil milik dr. Lee yang ia pinjam, dan menghampiri anak kecil itu.
" Hallo ... kenapa menangis?" tanya Luther dalam bahasa Korea yang lumayan lancar karena dulu, selama tinggal dengan dr. Sie dan dr. Han, mereka selalu memakai bahasa Raja Sejong itu.
" Eomma ... Eomma belum menjemputku. Miss ada di dalam tapi lagi makan. Aku mau pulang ... huuaaaa ...."
Luther tersenyum dan memeluk gadis kecil itu. Setelah beberapa lama, Luther melepas pelukannya dan menghapus air mata di pipi si gadis kecil
" Siapa namamu? Apa kau ingat nomor telepon Eommamu?"
Gadis kecil itu mengangguk," Namaku Lee Eun Ha. Nomor telepon Eomma 9320*****." jawab Eun Ha sambil menatap lelaki asing di depannya itu.
" Baiklah. Paman, telepon, ya?"
Luther menekan nomor telepon yang Eun Ha sebutkan dan memberikannya pada Eun Ha.
" Hallo... Eomma?"
" ............"
" Eomma, kenapa belum jemput? Aku sekarang pakai ponsel Paman ganteng"
Luther tersenyum geli mendengar Anak itu menyebutnya.
" .........."
" Iya, Eomma" Eun Ha melihat Luther, " Paman ganteng, namanya siapa? Eomma tanya," tanya Eun Ha dengan mata polosnya.
Luther tersenyum dan mengusap rambut Eun Ha," Nama Paman, Luther Howland,"
Eun Ha mengangguk dan kembali meletakkan ponselnya di telinga kecilnya
" Eomma, namanya ...." Eun Ha menggaruk kepalanya, ia merasa kesulitan menyebut nama si Paman ganteng. Karena tak bisa menjawab pertanyaan Eommanya, akhirnya ia menyerahkan ponsel pada Luther. Luther terkekeh dan menerimanya lalu berdiri dan mulai menyapa seseorang di seberang telepon.
__ADS_1