
Buliran bening berjatuhan bebas tanpa penghalang di pipi mulus Emy. Matanya menatap berita di layar persegi panjang di tangannya. Hatinya perih dan terasa sesak. Di lihatnya wajah ketiga buah hatinya dengan sedih. Ia harus kuat demi mereka.
Berita heboh yang menjadi berita utama pagi ini memunculkan banyak desas desus tak sedap. Emy terpaksa menonaktifkan ponselnya menghindari telepon dari banyak pihak.
Bukan hanya di Korea, ternyata berita itu juga tercium media luar. Luther yang sedang berada di kantor cabang firmanya di Canada, juga membacanya. Amarah kembali menyeruak di dalam hatinya. Saat itu juga ia menghubungi Evan, dan Pamannya itu juga ternyata bermaksud sama dengannya, pergi ke Korea.
Mikha dan Micko terpaksa Emy liburkan dan membawa mereka bermain di taman belakang. Para pelayan menatap iba majikannya itu. Belum ada 1,5 bulan buah hati ketiga mereka lahir, badai datang lagi menerpa rumah tangga Nyonya mereka yang dikenal ramah dan baik.
Tae Yang masih tak memberi kabar. Dan itu sudah berjalan 4 hari. Emy terus memaksakan diri untuk tersenyum.
Evan dan Luther tiba di Korea. Tak mengambil waktu lama, mereka segera menuju kediaman Emy.
" Tuan Taylor, Tuan Howland," sapa kepala pelayan, Paman Min. Ya, setelah Paman Ji ditangkap, Paman Min diminta kembali oleh Tae Yang untuk bekerja di mansionnya.
" Dimana Emy?" tanya Luther dengan bahasa Korea yang lumayan lancar.
" Nyonya ada di kamarnya, Tuan." Jawab Paman Min. Evan dan Luther mengangguk dan segera menuju kamar Emy. Saat mereka membuka pintu kamar yang tak terkunci, ia mendengar sayup-sayup suara tangisan wanita dari dalam kamar mandi.
Evan segera menuju kamar ganti dan menarik koper Emy dari sana. Dikumpulkannya pakaian-pakaian Emy dan ia tempatkan didalam koper. Ia juga menuju kamar baby Miguel dan meminta tolong pengasuh yamg ada disitu saat itu, untuk mengemas semua kebutuhan baby Miguel lalu beranjak ke kamar si kembar.
Luther masuk ke dalam kamar mandi, dan melihat betapa terpuruknya wanita yang masih ada bersemayam dihatinya itu. Ditariknya Emy dalam pelukannya. Ia tak menghiraukan Emy yang memberontak. Ia terus mendekapnya, hingga Emy pun taknlagi melawan. Wanita itu justru membenamkan wajahnya di dada bidang miliknya.
" Menangislah, Em, menangislah," ucap Luther lirih dan lembut.
" Grandpaaaa!" seru Mikha yang masih bermain PS.
" Grandpaa!! I miss you," ucap manja Micko setelah ia berlari dan mendekap Evan.
" I miss you too, sayang." Kata Evan seraya mengusap kepala kedua cucunya.
" Ji An!" panggil Evan pada pengasuh Mikha dan Micko yang juga bawahan Evan.
" Kemasi barang-barang Mikha dan Micko, kita akan pergi dalam 1 jam," titah Evan menyembunyikan kegeramannya mengingat perbuatan menantunya.
" Grandpa! Kita mau kemana?" tanya Mikha
__ADS_1
" Kita akan jalan-jalan, Mikha sama Micko suka?" ucap Evan
" Yeeyy!!!"
" Hurrayy!"
Seru keduanya. Evan menatap sendu keduanya. Ia benar-benar sudah kecewa pada menantunya itu. Kali ini, ia tak akan membiarkan anak baptisnya itu terluka lagi.
Luther terus mendekap Emy dan mengusap lembut punggung Emy. Ia bisa merasakan tulang-tulang Emy. Emy bertambah kurus. Seharusnya seorang ibu menyusui bisa lebih berisi, tapi ini, ia dapat merasakan tulang-tulang Emy mulai menonjol.
Luther menarik pelukannya dan menatap wajah Emy yang sudah dipenuhi air mata.
" Emy, Paman Evan dan aku kesini untuk menjemputmu. Kami tak mau kau terluka lagi karena dia,"
" Tapi ..."
" Emy, kau berhak bahagia. Bukan dengan lelaki yang selalu memberimu luka. Emy, kau terlalu berharga untuk dilukai. Aku dan Paman Evan tak rela melihatmu menangis karena lelaki brengsek itu. Kita akan membawa Anak-anak. Hmm?" kata Luther lembut dan menatap bola mata Emy.
Saat ini, Emy sudah bisa memaafkan Luther atas perbuatannya beberapa tahun lalu walau belum sepenuhnya. Tapi, ia tak mau ambil pusing lagi saat ini. Keengganan untuk dekat dengan Luther yang selalu ia tunjukkan, kini porak poranda. Ia butuh sandaran. Butuh pelukan. Butuh dukungan.
" Baik ... hiks ... lah, a-aku ... a ... kan ... ber ..kema ..as du ...lu," kata Emy sesenggukan
Bugh
" Eh hei ... kau memang jelek. Lihat itu, ingusmu di mana-mana, hiii ...." ucap Luther dengan kekehannya. Emy tersenyum kesal karenanya.
" Aaarghh! Sakit!" seru Luther ketika Emy dengan sengaja mencubit pinggangnya.
" Keluarlah aku mau mandi dulu. Lengket sekali badanku,"
" Kalau kau tak mandi, aku sudah siap-siap mau bawa selang untuk menyirammu,"
" Ck ... sudah sana, pergilah," kata Emy dan mendorong Luther keluar dari kamar mandi.
Emy menatap wajahnya di cermin dan menghela nafas.
__ADS_1
" Sepertinya, ini akan menjadi terakhir kalinya aku mandi di rumah ini. Rumah besar yang membawa luka," gumam Emy.
Ia melepas seluruh pakaian dan berdiri di bawah shower. Berharap guyuran air dari atas kepalanya dapat meluruhkan rasa sakit dan lelah hatinya.
Berlin, Jerman
Tae Yang mengubur dirinya dengan pekerjaan. Keinginannya untuk menelepon dan mendengar suara istrinya tak lagi ia gubris. Lelah bekerja, ia akan pergi ke Club malam, tapi tidak lagi bersama Asistennya. Karena menurutnya, Asistennya itu sangat cerewet.
Di sana ia menikmati hiburan malam yang disajikan. Menghamburkan uang tanpa berpikir. Bayangan istrinya dalam pelukan lelaki lain terus berjalan bak rol film di benaknya, memicu emosinya untuk membalas istrinya.
Begitulah amarah, ia akan gampang menguasai seseorang dan membuat orang itu tak berpikir bagaimana akibatnya.
" Hai, Bro!" sapa seseorang dengan menepuk bahunya saat ia tengah bersandar di sofa ruang VIP di club malam itu.
" Oh, hai! dari mana kamu tahu aku di sini?" tanya Tae Yang setengah teler karena banyaknya wine yang ia minum
" Hahaha ... aku melihatmu masuk tadi. Sebenarnya, kemarin aku juga melihatmu. Aku pikir salah orang, ternyata ini benar kau! Hahaha ..." kata lelaki itu dengan tawanya.
" Hehehe ... iya, aku lagi suntuk, jadi ya ... disinilah aku ... Hahaha," kata Tae Yang seraya menyesap lagi wine di tangannya.
" Kenapa? apa kau bertengkar dengan istrimu?" selidik lelaki itu
" Ck ... kau tahu aja urusan orang,"
" Ya ... karena ini pertama kalinya sejak 7 tahun lalu kau mau masuk ke tempat seperti ini. Dan aku tahu, itu karena istrimu, iya kan?" kata orang itu sambil menyenggol lutut Tae Yang.
" Joo Won-a ... apa Emy hanya kasihan padaku sehingga ia mau bersamaku?" ucap Yae Yang tiba-tiba. Air mata mulai menetes dari pelupuk matanya.
Joo Won menatap sahabatnya itu dengan kesal dan juga iba," Bro! seharusnya, kau tanyakan itu pada dirimu sendiri. Apa benar dia hanya kasihan padamu. Wanita sehebat Emy yang dipuja banyak lelaki, tapi justru menerimamu yang notabene pernah membuat luka yang sangat dalam di hatinya, apakah itu karena kasihan? Wanita yang rela bekerja untuk mempertahankan perusahaan suaminya plus merawat sendiri suami yang terbaring koma, apakah itu karena kasihan? Kalau iya, aku jadi ragu apa itu cinta, Bro!" kata Joo Won lalu mengambil dan menyulut rokoknya.
Tae Yang terdiam dan mencerna setiap kata-kata sahabatnya. Ia menaruh kasar gelas wine ditangannya dan mengusap wajahnya kasar.
" Tapi ... dia berpelukan dengan laki-laki lain, bahkan ia menangis karena lelaki lain juga," lirih Tae Yang yang masih bisa didengar Joo Won
" Hahaha ... karena itu, kau berpelukan dan mencium wanita-wanita itu?" sindir Joo Won dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Apa kau berpelukan dengan mereka karena kau mencintai mereka? Tidak, kan?" sambung Joo Won
Deg