Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Hadiah Pernikahan


__ADS_3

Evan dan Luther sudah mengumpulkan beberapa bukti keterlibatan beberapa jaksa dan menteri dalam kasus Kimtae. Tapi, mereka masih memiliki beberapa kendala.


Bukti yang mereka dapat, tidak akan bisa sampai ke pengadilan karena Hakim Ketua yang memimpin sidang berkolusi (membuat kesepakatan secara tersembunyi dalam melakukan kesepakatan perjanjian yang diwarnai dengan pemberian uang atau fasilitas tertentu (Gratifikasi) sebagai pelicin agar segala urusannya menjadi lancar) dengan Jaksa dan menolak bukti yang akan diajukan Luther dan Pengacara Oh.


" Lalu, apa yang harus kita lakukan, Tuan Howland?" tanya Pengacara Oh


" Aku akan menghubungi Jung Hyuk," sahut Evan. Luther mengangguk.


Mikha dan Micko sedang asyik bercanda dengan Hawk di taman. Evan menyuruh Hawk untuk menjaga sementara si kembar sekaligus merilekskan otak mereka.


Evan menempelkan ponselnya di telinga dan menyuruh Jung Hyuk untuk segera ke Mansion. Luther memeriksa semua bukti dengan Pengacara Oh


" Pengacara Oh, Hakim Seo sudah menjabat lebih dari 15 tahun, kenapa posisinya masih di Kehakiman Distrik Jeolla Selatan dan menjadi Hakim pendamping?" tanya Luther setelah memeriksa data para hakim.


" Hakim Seo terkenal jujur dan tak berat sebelah. Karenanya banyak yang tak menyukainya. Mereka tak bisa menyingkirkannya lalu menempatkannya di distrik kecil. Dan karena usianya kini sudah 64 tahun dan 6 tahun lagi ia sudah akan pensiun, mereka tak melakukan apapun padanya selain tak ada promosi," jelas Pengacara Oh.


Luther mengangguk dan kembali memilah-milah. Evan memerintahkan anak buahnya mencari keberadaan Shin Dae Ho yang kini menghilang.


Tak berapa lama kemudian,


Tok ... Tok ...


" Masuk!" seru Evan


Seorang pelayan membuka pintu dan seorang laki-laki bertubuh kurus dan mata sipit masuk. Ia tak lain adalah Jung Hyuk, Asisten setia Tae Yang


" Tuan Taylor, Tuan Howland, Pengacara Oh," sapa Jung Hyuk dan sedikit membungkuk


" Hmm, duduklah," sahut Evan


Jung Hyuk mengambil tempat di sisi kanan Evan, di sebelah Pengacara Oh. Dimana Paman Emy duduk di bagian kepala sofa. Dan Luther di sisi kiri


" Ada apa memanggil saya, Tuan?" tanya Jung Hyuk


" Hyuk, aku mau kau dan Luther juga Pengacara Oh menemui Tae Yang. Kami sudah mendapat bukti-bukti. Tapi, kami tidak bisa mengajukannya ke pengadilan karena tidak disetujui para hakim. Kita harus dengar pendapat Tae Yang," ungkap Evan


" Baik, Tuan. Tapi kalau menurut saya, sebaiknya menghubungi Perdana Menteri. Karena, Tuan Muda punya hubungan dekat dengan beliau karena Tuan Muda pernah membantu beliau saat kampanye dulu," jawab Jung Hyuk


" Tunggu dulu, apa Tae Yang menyuap dan mensponsori Perdana Menteri?" selidik Luther, Evan pun menatap Jung Hyuk tajam


" Tidak, Tuan Howland. Tuan Muda memang terlihat dingin dan egois, tapi ia tak pernah menggunakan cara Ilegal dan licik untuk tujuannya. Tuan Muda hanya membantu memberi fasilitas gratis untuk kampanye tapi Tuan Muda tak pernah ikut terlibat dalam kemenangan Perdana Menteri. Tuan Muda juga tidak pernah meminta bantuan Perdana Menteri untuk meluluskan pekerjaannya," jelas Jung Hyuk


Luther dan Evan bernafas lega. Jika Tae Yang melakukan penyuapan atau memanfaatkan hubungannya dengan Perdana Menteri dan pihak lawan tahu, habislah mereka.


" Baiklah, besok antar aku ke Kejaksaan. Malam ini cukup sampai disini," ucap Luther


" Ya, besok kalian bertiga temui Tae Yang. Aku dan Hawk juga si kembar akan di sini dan terus menggali," kata Evan tanpa sadar membawa nama kedua putra Emy


" Mikha dan Micko? Kenapa ..."

__ADS_1


" Ah .... Hahaha ... aku disuruh Emy menjaga mereka. Jadi, saat aku dan Hawk bekerja, si kembar juga aku awasi," potong Evan kemudian setelah sadar akan perkataannya. Luther mengangkat alisnya dan menatap lucu Pamannya.


Jung Hyuk mengangguk mengerti. Ia dan Pengacara Oh segera berpamitan. Tak lama setelah Asisten dan Pengacara Tae Yang pergi, Hawk datang dengan si kembar


" Hawk! Kemarilah!" panggil Evan dengan Luther yang masih duduk di sisinya. Mikha dan Micko menghampiri Luther dan menyeretnya ke kamar si kembar.


" Hawk, aku minta tolong padamu. Jangan katakan apapun tentang Mikha dan Micko. Dan selama bersama mereka, berbicaralah tetap seperti kepada anak normal lainnya. Aku tak mau, kedua cucu di eksploitasi (dimanfaatkan seenaknya untuk keperluan pribadi/golongan) oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab," pinta Evan tulus


" Baik, Tuan Taylor. Saya akan tutup mulut," jawab Hawk


" Hmm, baguslah. Minta bonusmu pada Tae Yang setelah semua ini selesai. Sekarang sudah malam, pulanglah dan berisitirahat. Besok kembalilah kesini jam 9," ujar Evan


Hawk tersenyum lebar mendengar kata "Bonus". Dengan semangat lelaki itu membungkuk 90° dan beranjak pergi, tak lupa senyuman konyolnya yang terus menghias wajah orientalnya.


RS Emerald


Emy baru selesai memeriksa hasil MRI Papinya. Sangat terlihat perbedaannya. Sel tumor tidak menyerang pembuluh darah ataupun syaraf tapi lebih sedikit menyebar ke femur (tulang paha).


" Oppa, tolong siapkan ruang OPE 1 untuk besok. Papi harus segera operasi," pinta Emy dengan menahan sesak di dadanya


" Hmm, akan kulakukan. Apa kau sudah memutuskan siapa yang akan memimpin?" tanya dr. Lee. Emy mengangguk


" Yu Zhen akan memimpin dan apa kau bisa menjadi Asistennya, Oppa? Aku juga akan ada di sana tapi ... Aku hanya bisa mendampingi dan menuntun saja," ucap Emy dan menatap dr. Lee dengan penuh harap


Dokter tampan itu menarik Emy dalam pelukannya dan mengusap punggungnya.


" Aku akan lakukan apapun yang kau minta, Adikku sayang," ucap dr. Lee dengan mata menatap hasil MRI di layar monitor di depan mereka.


Ceklek


Yu Zhen masuk ke dalam ruangan dr. Lee dan terus menatap keduanya yang masih berpelukan. Yeol hanya melihat sahabatnya itu sekilas dan kembali mengusap punggung Emy


" Em, ini sudah malam. Ayo, aku antar kau pulang," lirih Yu Zhen. Dia memang merasa kesal karena Emy memeluk dr. Lee dan bukan dirinya. Tapi, ia tahu saat ini ia tak bisa marah, karena Emy sangat membutuhkan dukungan bukan emosi.


Emy mengangguk dan berpamitan pada dr. Lee, Yu Zhen meraih tangan Emy dan memapahnya.


" Ehm, Zhen ... aku tak mau orang tuaku melihatku lemah. Jadi, biarkan aku berjalan. Aku akan cuci muka dulu." ucap Emy dan segera menuju toilet yang tak jauh dari keduanya berdiri


Emy memoles sedikit bedak agar wajahnya terlihat segar. Wajah sembabnya tak bisa tertutupi semuanya tapi ia sudah sedikit terlihat lebih cerah dan memaksakan diri tersenyum dan menepuk-nepuk pipinya


" Emy Sie! Semangat!" ucapnya sambil menatap cermin dan menarik kedua tangannya yang terkepal ke bawah seperti yang biasa dilakukannya saat ia mulai lemah.


Yu Zhen menyambut Emy didepan pintu toilet dengan senyumnya. Keduanya berjalan kembali ke bangsal Ayah Emy. Sampai di sana, ia melihat Ayahnya sedang makan yang disuapi sang ibu.


" Pap ... " panggil Emy dengan senyum. Dennis, Lienda dan Yason melihat Emy dan tersenyum.


" Nak, ini sudah malam. Ayo kita segera kerumahmu," kata Lienda dan menaruh mangkok bubur Yason dan mengemas barangnya dari atas nakas.


Emy tak tega untuk berkata tak bisa. Akhirnya ia memutuskan berbicara dengan Yu Zhen

__ADS_1


" A Zhen-a, bisa tolong sampaikan Oppa, Papiku tidak jadi operasi pagi tapi besok sore. Biar dia bisa bermain dulu dengan cucu-cucunya," pinta Emy dalam bahasa Korea


" Baiklah. Akan kusampaikan," jawab Yu Zhen dan mengusap bahu Emy lembut.


" Terima kasih," ucap Emy


" Sudahlah ..."


Emy kembali menatap kedua orangtuanya dan juga kakaknya.


" Ayo, kita pulang. Aku sudah jadwalkan Papi besok sore operasi," kata Emy dengan senyum


Mata Yason, Lienda dan Dennis membulat. Mereka tak percaya secepat ini


" Hah?! Secepat itu?" celetuk Yason


" Apa Papi tak rela melepas tumornya?" goda Emy


" Ish ... masa' penyakit disayang-sayang ... Hiii... Papi cuma heran kok cepat sekali. Apa kamu menggunakan jabatanmu untuk menekan rumah sakit agar Papi bisa segera operasi?" tuduh Yason


Emy menaikkan alisnya dan tersenyum, ia akan menjawab tapi Yason mendahului memarahinya


" Dengar, Nak. Kamu memang dokter disini. Tapi jangan sembarangan menggunakan kuasamu. Kau harus ikut peraturan,"


" Maksud Papi?"


" Biasanya ada beberapa hal yang harus dilakukan sebelum operasi. Mengurus asuransilah, menunggu konfirmasi asuransi lalu harus ikut tes apalah itu dan sebagainya ... kan begitu. Di rumah sakit yang Papi datangi juga gitu. Biasanya di rumah sakit 2-3 hari dulu baru ada pemberitahuan operasi. Nak, Papi tak apa-apa. Jangan menentang peraturan rumah sakit ...." oceh Yason. Emy menarik nafas dan membuangnya kasar


" Papi, Stop!" potong Emy sambil memejamkan matanya. Dalam hati ia terkikik karena Papinya masih saja cerewet seperti dulu.


" Emy tidak menyalahi aturan. Emy sudah lihat hasilnya dan Tumor juga sudah mulai menyebar ke tulang paha. Jadi, Emy harus segera bertindak. Masalah biaya dan tes ini itu, bukannya sudah saat Papi datang kemarin? kita di sini tak akan melakukan tindakan lebih lanjut tanpa melihat hasil tes, Pap. Di IGD, Papi langsung tes darah dan X Ray, kan?"


Yason mengangguk


" Nah, begitulah, Pap. Disini kita akan lakukan tes pada pasien sesuai keluhannya secara keseluruhan. Baru, jika perlu dioperasi atau perlu tindakan lanjutan kami akan suruh opname. Bukan Opname dulu baru tes tindakan lanjutan, mengerti Yang Mulia Yason Lumanauw?" ucap Emy seraya bergelayut manja pada lengan Ayahnya.


Yason hanya ber'oh' ria.


" Lagipula, Pap. Rumah sakit ini hadiah pernikahan dari menantu Papi buat Emy, jadi ... ya ..." lanjut Emy sok angkuh dan menaikkan alis serta merapikan bajunya lalu menyibakkan rambutnya


" Ha-hadiah pernikahan? rumah sakit?" ucap Yason terbata. Emy mengangguk angkuh dan menaik turunkan alisnya


" Wohhh ... mimpimu nduukkkk ... keduwuren, lek ceblok benjut kowe ( Oh ... mimpimu nak, ketinggian, kalau jatuh benjol kamu)!" ledek Dennis dan menoyor kepala Emy dengan telunjuknya.


Emy mengusap pelipisnya dan memajukan bibirnya lalu berpaling kesal


" Em ... kamu,kamu tidak bohong?" kata Dennis kemudian.


" Haishh ... buat apa juga sih bohong, kak?" jawab Emy kesal

__ADS_1


" Den, Den ... ndasku ngelu, Den ( Den, Den, kepalaku pusing, Den)," ucap Lienda sambil memegangi kepalanya


__ADS_2