Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Maafkan Aku, Hannah


__ADS_3

Tae Sang merasa jengah dengan kelakuan Helena. Karena perbuatan kekasihnya itu, ia harus kehilangan tender.


Bagaimana tidak, sedianya Tae Sang harus pergi mengikuti rapat penentuan tender di balai kota Busan. Tapi hanya gara-gara Helena yang berpura-pura sakit, membuatnya kehilangan kesempatan mempresentasikan proposal perusahaannya.


Belum lagi permintaan Helena untuk membeli mobil mewah edisi terbatas, padahal laki-laki tampan itu sudah membelikannya mobil dengan harga yang fantastis bulan yang lalu.


" Hyuk, katakan di mana Helena sekarang?" tanya Tae Sang memijit pelipisnya. Kepalanya mulai terasa sakit. Byun Hyuk yang melihat atasannya itu, menjadi iba.


" Tuan, Nona Helena ada di .... di Macau." jawab Byun Hyuk lalu mengatupkan bibirnya. Kekasih atasanya itu benar-benar membuatnya sakit kepala.


" Macau?" Tae Sang mengangkat kepalanya dan menautkan alisnya melihat Byun Hyuk. Asistennya itu mengangguk dan tetap mengatupkan mulutnya.


" Apa kau tahu, apa yang dia lakukan disana? apa ada pemotretan?"


" Setahu saya, tidak ada pemotretan, Tuan Muda. dia disana... " perkataan Byun Hyuk menggantung, ia takut bosnya itu akan bertambah stress bila ia mengatakannya.


" Katakan!" bentak Tae Yang.


" I..iya.. Nona Helena dia disana untuk ke... kasino, Tuan Muda" jawab Byun Hyuk dan memelankan suaranya di akhir kata.


" Apa?! Apa kamu bilang? Ulangi!" mata Tae Sang membulat, emosi mulai menguasainya.


" Nona Helena di Macau untuk ke kasino, Tuan Muda."


Brakkk


Byun Hyuk berjingkat kaget. Tae Sang menggebrak mejanya dan mengepalkan tangannya. Wajahnya sudah memerah karena amarah.


" Tuan Muda... apa saya perlu membawanya kembali kesini?" tanya Byun Hyuk dengan sedikit rasa takut.


" Tak perlu! Cukup blokir kartu yang aku kasih. Dia akan kembali sendiri."


Byun Hyuk mengangguk patuh. Tae Sang kembali duduk di balik meja kerjanya. Ia gunakan pekerjaan sebagai pelampiasan kemarahannya.


Byun Hyuk kembali ke ruangannya dengan lesu.


" Alamat aku harus lembur lagi malam ini... fiuh... ini gara-gara Nona Helena. Seandainya saja Tuan Muda tahu semua kelakuan kekasihnya itu..." gumam Byun Hyuk.


" Tuan Muda, anda sudah membuang berlian dan menggantinya dengan potongan kaca." kata Byun Hyuk lagi sambil memandang pintu ruangan atasannya itu.


" Kau berbicara dengan siapa, Hyuk?" sebuah suara mengagetkan Byun Hyuk


" Hei kau! mau bikin aku jantungan, ya?!" bentak Byun Hyuk sambil mengelus dadanya.

__ADS_1


Temannya itu tertawa melihat ekspresi kaget Byun Hyuk.


" Salah kamu sendiri, untuk apa bicara sendiri sambil melamun! hahaha..."


" Cih ... kenapa kau ke ruanganku?"


" Mmm.. Hyuk, apa Bos masih dengan Helena, si supermodel itu?" tanya Hawk, teman Byun Hyuk yang bekerja di bagian IT.


Keryitan di dahi Byun Hyuk muncul, ketika tiba-tiba saja temannya itu datang kemari untuk bertanya hal itu.


" Memang kenapa? " selidik Byun Hyuk.


" Mmm ... tidak, tapi aku rasa ... kau perlu tahu ini. Tapi, terserah padamu. Mau memberitahu si bos atau tidak .. ok.. aku pergi."


Hawk menyerahkan sebuah map dan flashdisk pada Byun Hyuk. Ia mengamati map di tangannya.


" Hhh... pasti sama dengan hasil penyelidikanku. Tapi, sebaiknya aku tidak beritahu sekarang." gumam Byun Hyuk.


Lagi-lagi ia menatap pintu ruangan Tae Sang.


" Tuan Muda, kali ini aku akan membuat anda menyesal atas perlakuan anda pada Nona Sie." Senyum sinis muncul di bibir tipis asisten Tae Sang itu.


2 minggu sejak kejadian pertemuannya dengan Emy di rumah kakek Kim dan rumah sakit, Tae Sang tidak melihat Emy lagi.


" Kenapa aku selalu memikirkan dia?" gumam Tae Sang. " apa dia sudah menggugurkan kandungannya?"


Tae Sang melayangkan pandangannya pada kerlipan lampu lampu Villa dari balkon kamarnya.


" Besok pesta ulang tahun perusahaan ... hah ... tapi, maafkan aku kakek, aku tak bisa menikahinya."


***


" Emy-a, apa kamu benar-bemar mau datang ke pesta itu?" tanya Hanah lagi untuk kesekian kalinya.


Emy menjadi bosan mendengar pertanyaan yang sama selama 2 hari ini dari Hannah. Dengan paksa, Emy mendorong Hannah keluar dari kamarnya tanpa mengatakan apapun, lalu menutup pintu dan menguncinya.


" Emy ... Emy ... buka pintunya. Katakan Chagii... apa kamu benar-benar akan datang kesana? Chagiii..." Hannah merengut kesal karena Emy masih saja bungkam.


' Besok hari terakhirku di sini. Maafkan aku Hannah. Aku harus pergi. Aku tidak mau kamu sedih karena aku, Han. Maafkan aku ... maaf ..." Emy menelungkupkan wajahnya di bantal agar Hannah tak mendengarnya menangis.


cling..


Sebuah pesan masuk dalam ponsel Emy. Setelah menghapus air matanya, Emy meraih benda pipih yang ia letakkan di atas nakas.

__ADS_1


**From: Dr. Kalev


Semua sudah siap. Aku tunggu kedatanganmu**.


Emy tersenyum. Semua sudah sesuai rencananya. Kakek telah selesai dengan kemonya. Karena hasil lab menunjukkan sel kanker kakek tak lagi menyebar. Hanya untuk operasi transplant, Emy sudah serahkan pada Yu Zhen untuk membantu menggantikannya.


**To: dr. Kalev


Terima kasih. Aku akan mengabarimu besok**.


Emy mematikan ponselnya setelah membalas pesan itu.


Malam berganti pagi dan pagi berganti malam. Gemerlap lampu dan riuhnya suasana di depan sebuah hotel berbintang, membuat seorang wanita merasa malas untuk turun dari mobil yang ia tumpangi.


" Emy-a, ada aku. Ayo turun..." panggilan itu membuat Emy bersedia turun dari mobil. Ia menerima uluran tangan laki-laki dengan balutan jas silver yang pas ditubuhnya.


" Tak usah kau lihat mereka. Kita langsung masuk saja, ya?" Emy mengangguk menanggapi saran laki laki di sebelahnya.


" Dokter Sie, apa benar rumor yang sekarang beredar tentang anda?


" Dokter Sie, benarkah anda adalah simpanan seorang pebisnis negeri ini?


" Dokter Sie, tolong jelaskan tentang kebenaran histori sekolah anda ... Dokter Sie!


Teriakan para wartawan terus mengiringi jalan Emy memasuki hotel megah milik Kimtae Buildimg Corp.


Tak ada satu pertanyaanpun yang dijawab Emy. Ia tak peduli dengan berita berita yang beredar selama seminggu terakhir.


" Oh ... Dokter Sie ya? Apa benar anda seorang dokter?" Emy memandang jengah seorang laki-laki tak dikenal yang menyapanya dengan senyum sinis.


Banyak orang memandang aneh padanya sejak ia masuk dalam hall hotel Elagance. Emy tak ambil pusing akan hal itu. Ia hadir hanya karena permintaan kakek.


" Wah ... wah ... dia punya nyali juga datang kesini ... ckckck ... " kata seorang wanita berbaju seksi. Masih dengan wajah dinginnya Emy berjalan menggandeng sahabatnya.


" Emy-a, apa kita pulang saja?" tanya dr. Lee


" Tidak usah, aku tak apa-apa." Emy mengambil posisi duduk di sudut ruangan. Ia hanya akan muncul, saat Kakek Kim datang.


" Wohoho ... ternyata dokter kita ini juga mau jadi pelakor, ya ... wah wah ..."


" Hahaha ... dia kan wanita penggoda. Ya jelas, dia tidak akan lihat dulu suapa yang dia goda. Yang penting berdompet tebal ..."


2 orang wanita tak dikenal datang dan mencibir Emy.

__ADS_1


" Hei, jangan sembarangan kalian kalo bicara!"


__ADS_2