Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Lama - Season 2


__ADS_3

" Tapi, Daddy sering lihat Mommy kasih susu adik. Daddy juga kalau malam ikut minum susu Mommy," kata Micko dengan polosnya.


Netra Evan dan Luther membesar. Wajah mereka berubah merah padam.


" Ehemm...puufffbrttt ..." Luther dengan susah payah menahan tawanya dengan menutup mulut dan menekan tangannya yang terkepal dimulutnya.


Evan menutup mulut dan menahan nafas. Sekuat tenaga tak melepas tawanya hingga wajahnya memerah seperti monyet pantat merah (Yaki dalam bahasa Manado)


" Ya .. brrfftt ... Daddymu ... berbeda sama ... ehem ... Grandpa," kata Evan dengan wajah yang ia buat tersenyum.


" Berbeda? Daddy laki-laki, Grandpa dan Paman juga laki-laki," jawab Mikha


" Dad ... Daddy sudah menikah ... dengan Daddymu," jelas Evan dengan mengerjapkan matanya dan megepalkan tangan didepan mulutnya.


" Mikha sama Micko belum menikah sama Mommy. Tapi, Mikha sama Micko selalu lihat waktu Mommy kasih susu Adik. Susu Mommy besar seperti eongdeong-i (pantat) Mikha. Kalau dipegang empuk enak hehehe ..." cerocos Mikha


" Tapi rasanya gak enak. Micko suka rasa Vanilla. Ayo, Grandpa, Paman kita lihat. Pasti suka seperti Micko sama Mikha. Daddy juga mmppphhh ..." timpal Micko. Evan melotot dan segera menutup mulut Micko


Luther yang sedianya mulai bisa menahan tawa, akhirnya kelepasan juga, tawanya menggema di ruang yang sangat luas itu.


Kepolosan Mikha dan Micko sungguh membuat perut mereka terasa sakit. Wajah Evan kian memerah seperti kepiting rebus. Perlahan Evan mendongak dan melirik Luther yang tengah terbahak di belakangnya.


" Grand ... Grandpa pergi sebentar," kata Evan setelah melepas tangannya dari mulut Mikha


Evan segera berdiri dan berlari. Mikha dan Micko terus melihat Evan pergi dengan ekspresi bingung tak mengerti.


Evan masuk ke dalam tangga darurat yang tak jauh di sana. Melepas tawa sekaligus bom atom dari lubang pembuangannya yang sedari tadi ia tahan.


Hahahaha .... Bruttttutttutt ....hahahaha ... brutttuttut ... hahaha .... preeeetttt ... hahaha .... thuuoott ...


Tak menyadari bahwa dibelakangnya banyak pekerja lepas bandara sedang menikmati waktu istirahatnya, menatapnya bengong dengan camilan di dalam mulut mereka. Lalu, tanpa dosa, setelah puas dengan pelepasannya, ia berjalan keluar kembali pada si kembar.


Brukkk ... brukkk ...


Para pekerja lemas dan terjatuh karena karbondioksida yang berlebih terhirup indra mereka.


Begitulah Evan, pantat dan mulut pasti ikut tertawa bersama. Demi imejnya, menahan tawa adalah yang terbaik jika diluaran.


Luther terus tertawa, Mikha dan Micko yang tak mengerti, ikut tersenyum dan bertingkah ala anak kecil saat orang dewasa memuji. Tersenyum malu-malu dan berpose layaknya superhero yang kuat dan menggeram.



Mansion Kim


Paman Min terus berusaha menghubungi Tuan Mudanya dan Jung Hyuk. Tapi, tak ada satupun yang aktif.


" Aduh, bagaimana ini ... kenapa lama sekali Tuan tak menjawab teleponnya?" gumam Paman Min. Ia bermaksud memberitahu kepergian Emy dan Anak-anak, namun nyatanya, ponsel majikannya dan juga si asisten tak ada yang bisa dihubungi.


RS Emerald, Seoul


Yu Zhen dengan rajin meminum obatnya dan dr. Lee selalu merawatnya mengganti perban. Ia juga menyewa bodyguard untuk menjaga Yu Zhen. Berjaga-jaga jika ada yang kembali menyerang sahabatnya.


" Yeol-a ... aku harus segera sembuh," kata Yu Zhen dengan lemah


" Hmm ... karena itu terus rajin minum obatmu, makan yang banyak dan juga istirahat," kata dr. Lee seraya membantu Yu Zhen makan buburnya.


" Yeol-a ... tolong ... beri aku ..."


" No! IT'S A BIG NO!" potong dr. Lee tegas. Sudah 3 kali dalam sehari ini, Yu Zhen memintanya memberi obat ******** (obat jenis narkotika yang dapat menyembuhkan luka lebih cepat namun bersifat adiktif dengan efek samping berbahaya)


" Tapi ..."


" Kalau kau terus seperti ini, aku akan melaporkanmu pada Emy!" ancam dr. Lee


" Lama sekali, Yeol ... aku mau cepat sembuh,"


Dokter Lee memutar bola matanya malas mendengat keluhan Yu Zhen yang seperti anak kecil


" Aku akan buat luka tambah lama keringnya, kalau mulutmu itu tak bisa diam!" ancam dr. Lee lagi.


Yu Zhen memejamkan mata dan menipiskan bibirnya kesal.


" Baiklah, baiklah ..." kata Yu Zhen pada akhirnya.


Bandara Incheon, Seoul


Emy terus melihat ke arah pintu masuk ruang menyusui menunggu kedua putranya, tapi tak kunjung masuk.


" Kemana mereka?" gumamnya dengan tangan masih memegang satu gundukannya yang sedang disedot si baby Migu.

__ADS_1


Setelah 20 menit berlalu, akhirnya Miguel melepas sedotannya dan terlelap. Emy menata kembali pakaian dan melipat kain penutup menyusui.


Saat ia keluar, matanya menangkap sosok 2 pria dewasa dan 2 bocah kecil di seberang ruang bayi. Segera ia menghampiri mereka masuk ke dalam Cafe. Dengan lahapnya dua bocah berwajah identik itu memakan es krim coklatnya. Hingga memenuhi separo wajahnya.


Luther dan Evan hanya menggeleng melihatnya. Dengan begitu telaten, kedua pria itu menyeka bersih mulut si kembar.


" Paman! Luther!" panggil Emy.


Yang merasa memiliki nama menoleh dan melihat Emy. Reflek mata mereka tertuju pada area dada Emy.


Uhuk ... uhuk ...


Ehremmm ....


Evan dan Luther berbalik dan melipat bibirnya. Emy berjalan santai mendekati mereka.


" Lama, ya? hehe ... maaf, baby Migu lapar sekali sepertinya ..." kata Emy lalu duduk di antara Mikha dan Evan. Sementara Luther duduk di depan Evan, dan Micko di depan Emy. Ji An? ah ... begitulah nasib bawahan, menjaga barang-barang Tuannya, nun jauh di sana. Di ruang tunggu.


Wajah Evan dan Luther kembali memerah. Emy menautkan alisnya melihat sikap keduanya yang sedikit ... aneh?


" Ada apa?" tanya Emy


" Ah ... hahaha ... tidak, tidak ... tidak apa-apa. Kau mau makan apa?" tanya Evan dengan cepat dan kekehan hambarnya.


Emy menoleh melihat Luther yang terus berpura-pura melihat sekeliling Cafe. Emy menghela nafas dan menggeleng. Wanita itu lebih memilih mengacuhkannya.


" Beli untuk Ji An saja, Paman. Aku masih kenyang. Nanti aja di pesawat aku makan," kata Emy. Evan mengangguk dan memesan makanan untuk Ji An.


" Mikha, Micko jangan terlalu banyak es krimnya, nanti sakit perut, sayang," kata Emy lembut.


Kedua bocah itu hanya mengangguk dan menunjukkan gigi putihnya. Emy tersenyum melihatnya.


" Paman, berapa jam lagi kita menunggu? ini sudah hampir 4 jam, kenapa lama sekali?" tanya Emy dan melonggarkan gendongannya


" Entahlah, aku juga tak mengerti. Menurut petugas informasi, ada masalah di mesin. Jadi, mereka menunggu datangnya pesawat lain untuk menggantinya," kata Evan


" Ya ampuuun ... aku sudah lelah sekali, Paman," keluh Emy.


" Aku juga lelah. Aku belum istirahat setelah sidang kemarin pagi dan langsung ke sini. Terus sekarang langsung balik lagi. Ahh ... 2 malam aku tak tidur. Aku pusing sekali. Aku rindu kasurku, " timpal Luther


" Berikan Baby Migu padaku," kata Evan. Emy melepas gendongannya lalu perlahan memindahkan baby Migu ke dalam dekapan tangan Evan. Baby Migu hanya menggeliat saat ia merasakan kalau dirinya berpindah tangan, namun segera kembali terlelap dengan tenang.


Tringling ...ling ...ling .. liiing ...


Tes


Tes


Sendok dan lelehan es krim Luther jatuh seketika, padahal baru saja masuk dalam mulut Luther, semua dikarena mulut pria itu terbuka sempurna tanpa sempat menelan. Sedangkan Evan, yang baru saja melahap separo banyak kentang goreng, membeku. Hingga kentangpun terjepit diantara bibir seksinya.


Emy? wanita itu juga terpaku dengan wajah terkejutnya. Mulut menganga dan mendelik melihat putranya.


Mikha dan Micko melihat bergantian ekspresi ketiga orang dewasa di sebelah mereka dan menautkan alis lalu mengedikkan bahu tak peduli. Keduanya langsung melanjutkan menikmati Spaghetti aglio e olio seafood (hidangan pasta Italia tradisional dari Naples, Italia) makanan favorit mereka seperti halnya sang Ayah.



" Flight 451B to Toronto is now boarding. Would all of passengers please pass on to gate A,"


Pengumuman keberangkatan dari pihak Bandara menyadarkan ketiganya.


"Ekhem khem ..." Evan berdehem keras dan mengunyah cepat kentang yang sudah terjepit diantara bibirnya tadi.


"Hmmm ... fuhh .." Luther juga berdehem untuk menetralkan suaranya dan membuang nafas kasar


"Fiiuuhh ..." Emy menghela dan menghembuskan nafasnya kasar.


Dan ketiganya melakukan semua itu berbarengan tanpa komando.


" Baiklah, itu e .. anu ... apa ... eh ..panggilanmu ... eh ... " kata Evan berantakan karena tatapan tajam Emy


" Ehm .... ya ... itu ... Emy ... kau ... kita terbang ... ehm ..." Luther juga tak dapat menyusun kata-katanya dengan benar saat melihat Emy yang juga beralih menatapnya.


" Hahaha ... Paman sama Grandpa lucu ...." kekeh Mikha


" Paman, Grandpa ... ehm ... Paman sama Grandpa belum sekolah, ya? kalau begitu, nanti Micko ajarin, ya?" kata Micko serius.


Evan dan Luther menggaruk kepalanya dan berdiri. Emy segera mengelap mulut Anak-anaknya lalu berdiri


" Ayo! kita pergi," ajak Emy datar dan menurunkan Mikha dari kursi, demikian juga Luther menurunkan Micko.

__ADS_1


Tae Yang baru saja landing. Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya pintu pesawat pribadinya terbuka. Tae Yang segera keluar tanpa menjawab sapaan kru pesawatnya.


Jung Hyuk segera mengaktifkan ponselnya. Ada puluhan notifikasi panggilan tak terjawab juga pesan dari nomor ponsel Paman Min dan juga Mansion.


" Ada apa Paman Min menelepon sebanyak ini?" gumam Jung Hyuk


Ia segera membuka pesannya. Matanya membulat sempurna. Dengan segera ia menuruni tangga pesawat menyusul Tuan Mudanya yang lebih dulu berjalan dengan langkah lebar.


" TUAAANN MUDAAAA!!" seru Jung Hyuk. Namun sayang suara lantangnya kalah dengan deru suara pesawat yang baru saja landing.


" TUUUAAAANNN MUDAAA!!" seru Jung Hyuk lebih keras dan lantang lagi. Tapi, lagi-lagi ia dikalahkan suara pesawat yang sedang memutari landasan menuju landasan pacu.


Brukk


Aaahhh ...


Karena terburu-buru berlari, Jung Hyuk tersandung kakinya sendiri.


"TUAAAANNN !!!" Jung Hyuk kembali berteriak dan melambai-lambai pada Tuannya untuk kembali. Sepertinya bos Kimtae itu mendengarnya, karena lelaki itu menoleh padanya, tapi ... lelaki itu hanya melengos dan menghiraukannya lalu masuk ke dalam mobil


" Lama sekali dia," gerutu Tae Yang lalu melepas kacamata hitamnya.


" Dasaarrr!! Tuan Muda bodoohh!!" runtuk Jung Hyuk kesal dan segera berdiri.


Hatchuuu ...


" Siapa yang berani mengataiku?" gumam Tae Yang. Seketika kepalanya mendongak dan memicingkan matanya. Perlahan ia menoleh dan melihat Asistennya yang berlari tertatih mendekati mobilnya.


" Pak Jang! Jalan!" titahnya.


" Lalu ... Pak ..."


" Biarkan saja!" potong Tae Yang lalu menyandarkan kepalanya dan menutup mata


Mata Jung Hyuk mendelik tak percaya melihat mobil Tuannya menjauh.


" Hmm ... Anda memang tak berperasaan, Tuan Muda. Lihatlah, karmamu sudah tiba ... hahaha ..." kata Jung Hyuk bangga dan berkacak pinggang.


Jung Hyuk menulis pesan ke ponsel Tae Yang dengam senyum kemenangan, 5 menit menunggu tak juga mobil Atasannya itu kembali ...


" Baiklah, akan kutunggu, ha ha ha" kata Jung Hyuk dengan pede


10 menit


15 menit


20 menit


.


.


.


.


.


1 jam


" Kenapa ... belum kembali ... ya?" gumam Jung Hyuk


.


.


.


.


4 jam


.


.


.


" TUAN MUDAAAAA!!!!"

__ADS_1


__ADS_2