Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Beri Kami Mujizat


__ADS_3

“Semakin kita melindungi anak setiap kali ia merasa kecewa, semakin dahsyat kekecewaan yang akan ia rasakan di masa yang akan datang.” – Fred G. Gosman, penulis buku ‘How to Be A Happy Parent… In Spite of Your Children’


" Tapi Mommy kok gak pelnah pulang tengokin Mikha cama Micko?" ganti Mikha bertanya pada Daddynya. Lidah Tae Sang tercekat. Dengan menggendong Micko ia mendekati Mikha dan memeluknya.


" Sayang, itu karna Mommy sedang sakit. Mommy gak mau Mikha sama Micko sedih". Sahut Byun Hyuk tiba tiba sambil berjongkok di depan Tae Sang yang sedang memangku Micko dan memeluk Mikha di sampingnya.


" Mommy sangat sayang sama Mikha dan Micko. Mommy selalu ada di sini dan di sini." lanjut Tae Sang menunjuk dada kedua putra kembarnya.


" Mommy ada di cini? ehm... tapi Micko pengen dipeluk..." celetuk Micko mengerucutkan bibir mungilnya. Tae Sang kembali memeluk kedua putranya dan menahan air mata yang bersiap meluncur.


' Emy, kau lihat sayang... anak anak kita sangat merindukanmu. Apa yang harus aku katakan, sayang?' jerit Tae Sang dalam hati. Hatinya terasa perih. Selama ini, Tae Sang selalu menyalahkan dirinya sendiri. Jika saja ia menerima Emy dari awal, semua ini tak kan terjadi. Emy tak kan mengorbankan dirinya untuk si kembar, karena yang pasti, Tae Sang akan menunggu kesehatan Emy yang memungkinkan untuk hamil, sehingga kedua putranya mendapat keluarga yang utuh. Tapi takdir seseorang tak ada yang pernah tahu.


Tae Sang memandang kedua putranya yang terlelap. Mikha yang bersandar pada kursi dan Micko dalam pangkuannya.


' Tuhan, jika memang mujizat itu ada, bolehkah aku berharap wanita di foto itu adalah Emy, istriku? Aku tak pernah meminta apapun selama ini padaMu, ya Tuhan. Aku tahu aku pendosa. Tapi, saat ini aku mohon kepadaMu. Beri kami mujizatMu... dan kasihanilah kami. Ampuni segala kesalahanku, ya Tuhan. Aku mohon ampun.... huhuhu....' Doa Tae Sang didalam hatinya.


Byun Hyuk melihat aliran air bening menetes dari pelupuk mata atasannya. Mengalir ke pelipis tanpa henti. Tae Sang bersandar di kursi memejamkan matanya. Menangis dalam diam. Hanya hati yang terus berteriak, mengeluarkan isi hatinya kepada Sang Maha Kuasa.


' Tuan Muda... ' lirih Byun Hyuk. Ia tahu bagaimana Tuannya itu. Setiap malam, selesai menidurkan anak-anaknya, maka lelaki itu akan masuk ke dalam kamarnya dan menangis seorang diri. Meratapi kepergian Emy yang begitu cepat. Tae Sang menutup diri dari siapapun, tapi Byun Hyuk diam-diam selalu mengawasinya. Bukan karena apa, tapi ia takut bosnya itu akan berbuat di luar nalar.


Selama 4 tahun, Tuannya hidup hanya sebagai seorang pimpinan perusahaan dan seorang ayah. Tak pernah sekalipun lelaki tampan yang menjadi idaman setiap wanita itu, pergi untuk bersenang senang seperti para pria di luaran sana. Seluruh waktunya hanya ia pakai untuk bekerja dan merawat kedua buah hatinya.


Tak jarang, banyak wanita mendekati Tae Sang. Dengan diam-diam dan cara licik ataupun terang-terangan. Tapi semuanya gagal total. Hati Tae Sang tak tertarik sedikitpun, dan selalu menjauh.


Helena, yang dulu menjadi kekasihnya selama lebih dari 5 tahun pun, tak lagi mendapat tempat dalam kehidupan bos Kimtae itu.


" Tuan Muda... Tuan..." Panggil Byun Hyuk. Tae Sang mengerjapkan matanya. Ia membuka matanya dan melihat kedua buah hatinya.


" Ada apa, Byun Hyuk?" Jawabnya dengan suara serak khas seorang bangun tidur.


" Ah, kita sudah sampai, Tuan." Tae Sang melihat ke arah jendela, telah terlihat pegunungan Alpen yang diselimuti salju.


" Baiklah. Terima kasih." Tae Sang perlahan berdiri, menggendong Micko dan memberi isyarat Byun Hyuk untuk menggendong Mikha lalu berjalan ke dalam kamarnya yang ada di bagian belakang 787 Dreamjet miliknya, dan membaringkan mereka di sana sementara ia membersihkan diri.



"Tuan, apa kita langsung ke Lauterbrunnen?" Tanya Byun Hyuk, setelah tuannya itu keluar dan duduk di ruang makan.


"Iya, nanti kalo anak-anak sudah bangun, kita langsung kesana. Aku gak mau mereka kurang tidur." Jawab Tae Sang sambil menikmati sarapannya.



45 menit sudah, pesawat Dreamjet pribadi Tae Sang yang di design oleh desainer pesawat asal Prancis bernama Jacques Plerrejean itu, terparkir di depan Hangar, di bandara Bern, Swiss, tapi sang pemilik tak kunjung keluar.


" Hyuk, aku lihat anak-anak dulu. Kamu udah siapin semuanya?" Tanya Tae Sang.


" Sudah, Tuan." Tae Sang“ Jangan menangis. 10 tahun adalah waktu yang singkat,” hibur Long


“ Apa .. apa kau akan menikah?” tanya Mei Lan ragu lalu mengigit bibir bawahnya


Mata long melebar lalu tertawa. Ia segera merengkuh tubuh Mei Lan dan memeluknya. Meraih dagu Mei Lan dengan jarinya dan mencium bibir ranum itu dengan lembut


“ Kau tidak akan menikahi wanita lain selain dirimu, sayang. Percayalah, aku tak akan rela jika kau menikah dengan laki-laki lain, dan hal itu juga berlaku padaku. Aku tak rela wanita lain menyentuhku selain dirimu,” ucap Long


“ Cih ... gombal!” celetuk Mei Lan sambil membuang wajahnya


“ Gombal? Apa itu?” tanya Long


“ Tidak ada ..” jawab Mei Lan dan berusaha melepas pelukan lelaki yang menggetarkan hatinya itu


“ Jawab, atau akan tetap memelukmu seperti ini,” ancam Long dengan kedua alisnya yang terangkat dan sedikit tersenyum


“ Ck ... itu artinya, kau cuma bermulut manis,” tukas Mei Lan


Long mengerucutkan bibirnya dan alis yang kembali terangkat sambil menganguk-angguk


“ Begitukah? Kau sungguh tak mempercayaiku rupanya. Kalau begitu, ini ...”


Long membuka telapak tangannya dan tampaklah sebuah pedang cantik dengan cahaya biru muda


“ Ini ..” Mei Lan menatap mata Long


“ Ini adalah intisariku. Aku mengubahnya menjadi pedang untukmu,” ucap Long sambil tersenyum.


“ Tapi ...”


Tanpa banyak bicara, Long segera membawa Mei Lan kembali ke Paviliunnya.


“ Terimalah ini. Waktuku sudah habis, aku harus pergi ... tunggu aku, ya” pamit Long lalu mencium lembut kening Mei Lan dan menghilang


Mei Lan terkejut dan berlari untuk mengejar lelaki itu, tapi jejaknya tak ia temui


“ Pedang ini,” gumamnya seraya melihat pedang di tangannya yang terus berpendar

__ADS_1


Mei Lan memutar tangannya, dan pedang itu pun menghilang


“ Aku akan menunggumu,” gumam Mei Lan


 


 


Long yang baru saja sampai di Paviliunnya, tersenyum. Ia mendengar ucapan Mei Lan. Dewa Xing sudah sampai dan menunggunya


“ Dewa Xing,” sapanya


“ Putra Mahkota,” sapa Dewa Xing


“ Aku yakin kau tahu aku kehilangan Gulungan Sutera Putih. Dan kau tahu ada pada siapa itu barang pusaka Kerajaan Langit itu. Aku mau kau buat aku lahir sebagai bagian keluarganya dan buat aku menemukannya,” pinta Tian Long


“ Itu ... “ Dewa Xing tersenyum kecut dan tampak kebingungan


“ Ada apa?”


“ Saat anda menjalani kultivasi anda, 50 tahun lalu ... ada yang mengubah jalan hidup anda dan sampai sekarang, saya tidak tahu siapa yang melakukannya, Yang Mulia. Jadi ...”


Tian Long dan Yao Yang terkejut mendengarnya


“ Bagaimana bisa? Bukankah hanya kau yang bisa mengatur jalan hidup imortal yang akan berkultivasi di dunia fana?” tanya Tian Long


“ Sebenarnya ada lagi, Yang Mulia. Tapi, itu sangat tidak mungkin,” ucap Dewa Xing dan mengelus jenggot pendeknya. Alisnya bertaut


“ Siapa?”


“ De-dewa Yu Huang,” jawab Dewa Xing


Tian Long dan Yao Yang saling menatap. Tian Long kembali menatap Dewa Xing dan sedikit memiringkan kepalanya, berusaha untuk mencerna apa yang ia dengar


“ De-dewa Tertinggi Yu Heng? Tapi, jika memang benar dia, untuk apa? Kenapa ia mengubah takdirku dan membuatku kehilangan Gulungan itu?” tanya Tian Long


Dewa Xing dan Yao Yang tentu saja tak dapat menjawabnya. Yao Yang menggaruk kepalanya sambil menipiskan bibir. Sedang Dewa Xing, ia juga ikut berpikir


“ Yang Mulia, apa mungkin kalau Gulungan itu seharusnya memang berada di tangan orang itu?” tanya Dewa Xing


“ Tidak mungkin! Gulungan itu adalah gulungan kitab terakhir untuk kultivasiku dan pasanganku. Kitab itu hanya akan berpengaruh padaku. Sedangkan orang lain, ia akan masuk jalan iblis, jika memaksa untuk mempelajarinya. Dan kalaupun ia bersikeras mempelajarinya, ia membutuhkan darah Ratu Iblis, agar kultivasi menjadi Penguasa Alam Iblis sempurna,” jelas Tian Long


Dewa Xing dan Yao Yang terkejut mendegar penjelasan Tian Long


“ Yang Mulia, kalau begitu ... apa yang terjadi jika ia juga menemukan pasangan gulungannya?” tanya Yao Yang


“ Jika itu terjadi, maka ... perang besar akan terjadi. Dan Puteri Da ... akan berubah menjadi Ratu Iblis selanjutnya,” ucap Tian Long selanjutnya dengan raut cemas


“ Tapi ... bagaimana mungkin, Yang Mulia?”


“ Karena, saat satu gulungan mulai bersatu dengan seseorang, maka ... gulungan yang lain akan bereaksi mencari pemiliknya,”


Dewa Xing dan Tao Yang menelan salivanya dengan berat. Mata mereka membulat


“ Yang Mulia ... jadi, Puteri Da ...”


Tian Long mendesah dan mengangguk, “ Ia ... tidak akan bisa melawan,”


 


 


Kediaman Menteri Pertahanan Yin


 


 


Tuan Besar Yin tak menanggapi surat yang diberikan seorang kasim Istana padanya. Ia hanya membacanya sekilas dan meletakkannya begitu saja di meja belajar


Tok ... tok ...


 


 


“ Masuk!” serunya


 


 


Tangan besarnya meraih gelas teh di atas meja. Matanya melihat ke arah pintu dan melihat siapa yang datang

__ADS_1


“ Ada apa?” tanyanya datar


Selir Hong mendekat dengan senyum canggungnya lalu membungkuk memberi hormat.  Matanya melihat sekilas gulungan surat dari Kaisar


“ Apa ... yang harus kita katakan pada Yang Mulia, tentang ...”


“ Aku akan mengurusnya. Jangan khawatir,” potong Tuan Besar Yin


Tuan Besar Yin dan Selir Hong kali ini tidak kembali ke perbatasan. Tugasnya kini sudah ia serahkan kepada Yin Mou Han, atas persetujuan Kaisar


“ Tuan Besar, apakah akan ada masalah jika kita tidak mengirim Mei Lan?’ tanya Selir Hong dengan cemas


Tuan Besar mendongak dan melihat wajah cemas Selir Hong lalu mendesah


“ Aku akan katakan pada Yang Mulia, kalau Mei Lan sedang pergi,” kata Tuan Besar


“ Apa ...”


“ Pergilah, jangan khawatir masalah ini. Aku akan mengurus semuanya. Mei Lan sedang berlatih disana. Ini sudah 1,5 tahun dan Mei Lan belum juga memberi kita kabar. Dan aku juga tak mungkin memanggilnya pulang. Yang membawanya juga seorang Imortal, tak mungkin aku bisa membawanya kembali,”


Selir Hong mendesah dan mengangguk pelan. Selir Hong membungkuk sedikit untuk memberi hormat dan segera keluar dari ruang baca suaminya


“ Mei Lan, apa yang terjadi kalau kau tak kembali ke keluarga ini dan menjawab panggilan Kaisar?” gumam Selir Hong seraya melihat ke langit


Bayangan putih yang sedianya hendak masuk ke dalam ruang kerja Tuan Besar Yin berhenti dan melihat ke arah Selir Hong


“ Ada apa sebenarnya?” gumam bayangan putih itu, dan tak berapa lam ia masuk ke dalam ruang belajar Tuan Besar Yin


Selir Hong berjalan lesu ke paviliunnya. Pikirannya masih berkutat bagaimana caranya agar Mei Lan bisa mengetahui masalah ini dan segera kembali. Karena jika tidak, maka seluruh keluarga  Yin akan mendapat hukuman


 


 


Bayangan putih itu menghampiri Tuan Besar Yin yang sedang berdiri menghadap keluar jendela dengan tangan ia satukan di belakang. Terlihat jelas, ia memiliki banyak pikiran dan sedang risau.


Cusss ...


Ia merapatkan 2 jarinya dan mengarahkannya pada gulungan dengan cap Kaisar


“ Dia mulai bertindak dan memanfaatkan Kaisar bodoh itu. Baiklah, akan kuikuti permainanmu,” gumam bayangan itu


 


 


 


 


 


 


 


 


 


Sang mengangguk dan meninggalkan asistennya itu.


Perlahan Tae Sang mendekati ranjang king size, di mana kedua putranya berbaring.


" Nak... kita sudah sampai. Bangun yuk..." Dengan lembut Tae Sang mengusap kepala putra kembarnya dan menciumnya.


Mikha menggeliat namun tak membuka mata. Sedang Micko, masih saja tak bergeming. Tae Sang tersenyum dan terus mengusik mereka dengan ciuman. Tak lama, Mikha duduk dengan mata terpejam. Sementara Micko, ia mengerjapkan matanya dan mengerucutkan bibirnya.


" Daddy! Micko macih antuk! (Daddy, aku masih ngantuk)" rajuknya sambil berusaha menjauhkan kepala sang Daddy yang menciuminya. Tae Sang terkekeh lalu menciumi Mikha.


" Ayo, sayang. Kita sudah sampai." Kata Tae Sang lagi. Akhirnya setelah 5 menit, barulah nyawa keduanya seperti telah terkumpul.


" Nah, semua sudah bangun, kan? Sekarang sikat gigi dulu terus sarapan, ya? Ayo!" Tae Sang mengangkat si kembar pada bagian perut dengan menjepit keduanya dalam lengan kekar dan badannya, satu di kanan dan satu lagi di sebelah kiri. Kedua manusia mini itu pasrah, karena biasanya, setiap pagi Tae Sang juga akan menggendong mereka seperti ini.


Selesai sarapan, mereka semua masuk dalam sebuah mini van yang sudah Byun Hyuk sewa. Perjalanan yang hanya menempuh kurang dari 1 jam itu, sangat dinikmati netra si kembar. Mereka begitu senang melihat pemandangan alam yang tersaji di luar jendela van mereka.


" Wow... waaa..." Keduanya tak berhenti merasa takjub dengan landskap bak lukisan di negara Susu dan Madu itu. Tae Sang terus tersenyum melihat mereka. Sejak keluar dari bandara, mereka tak mau mengalihkan perhatiannya dari jendela. Bahkan Mikha yang pendiam, terus berdecak kagum dan tertawa bahagia.


" Tuan, kita sudah sampai." Byun Hyuk menoleh dan memberitahu atasannya. Belum lagi Tae Sang menjawab, Micko dan Mikha sudah lebih dulu berteriak.


" Buka pintunya!" seru keduanya sambil menggedor pintu. Tae Sang tergelak dan menyuruh sopir membuka pintu mobil. Seperti terlepas dari kandang, Micko dan Mikha segera berlari dan berteriak senang.


" Sayang, sepertinya mereka sepertimu. Suka pemandangan..." lirih Tae Sang. Ia masih ingat ocehan Evan sebelum menabur abu Emy. Wanita cantik itu sangat menyukai pemandangan.

__ADS_1


Tae Sang yang asyik memperhatikan anak anaknya berlari seperti anak ayam, terkejut, karena tiba-tiba saja Mikha terjatuh dan menangis. Tapi belum sempat ia menolong, seorang wanita yang entah dari mana datangnya, sudah menolong Mikha dan menggendongnya. Micko yang juga kaget ketika mendengar kakaknya menjerit, menoleh ke arah kakak kembarnya lalu memelototkan matanya, melihat wajah wanita yang menggendong Mikha.


"Mommyyyyyy!"


__ADS_2