
" Firewall (sistem keamanan komputer untuk memproteksi berbagai data dalam komouter suatu instansi atau perusahaan) siapa yang kau jebol? Apa kau sudah dapat siapa dalang penculikan Anak-anak kita?" tanya Tae Yang seraya menaruh tangannya di sandaran kursi.
" KARI," jawab Emy enteng
(Korea Aerospace Research Institute adalah kantor dari aeronautika dan ruang angkasa Republik Korea. Kalau di Amerika NASA)
Brukk ...
Tangan Tae Yang tergelincir dari sandaran. Tubuhnya oleng dan terjatuh. Kursi beroda itupun menggelincir jauh darinya. Ia berusaha memfokuskan matanya pada Emy.
" K-kau bercanda kan, sayang?"
" Aku tidak ada waktu untuk itu ..." begitu entengnya Emy menjawab tanpa menyadari tatapan bingung suaminya.
" Jadi maksudmu ... ki-kita membobol keamanan negara? KEAMANAN NEGARA?" tanya Tae Yang dengan mengulang pertanyaannya yang terakhir dengan keras dan langsung berdiri.
" Ish ... pelankan suaramu. Aku tidak budeg!"
Tae Yang meraup wajahnya dan mengatur nafasnya.
" Sayang, ki ..."
" Diamlah! mereka tidak akan menyadarinya. Kalaupun mereka bisa mendeteksi kedatanganku, mereka tidak akan bisa melacak IP (alamat internet)nya."
Tae Yang hanya bisa pasrah dan mengangguk
Drrtt .... Drrrttt...
Sebuah panggilan dari Jung Hyuk masuk.
" Bagaimana?"
" ..........."
" Apa kau bilang?" Tae Yang menatap Emy demikian juga sebaliknya.
" ..........."
" Hmm .... cepat kembali ke Korea. Urusan di sana tinggalkan pada Lam dan suruh dia amankan bukti-buktinya. Aku butuh kau dan semua Tim Horangi (macan dalam bahasa Korea) bersiap di sini.
" ......"
" Si kembar diculik."
Tae Yang menutup panggilan dan menatap Emy.
" Ada apa?" tanya Emy dengan alis bertaut
" Aku sudah menemukan dalang dibalik ini semua,"
" Siapa?"
" Kau selesaikan ini dulu. Aku harus mengurus mereka. Si kembar harus kita temukan. Aku yakin mereka tak kan memberitahu di mana Anak-anak kita, jika aku bertindak gegabah. Jadi, kau cari Anak-anak kita, aku akan memulai permainanku," kata Tae Yang dan meninggalkan Emy di ruangan itu. Tae Yang melangkah cepat menuju ruangannya dan mengganti bajunya dengan setelan kerja. Satu set jas berwarna biru lengkap dengan dasinya.
" Baiklah, aku fokus pada Anak-anakku dulu," gumam Emy
30 menit kemudian ...
Bip ... Bip ...
__ADS_1
" Aku sudah masuk, sekarang kita lihat, jam 10 Desember 11.30 KST ..."
Klik
Sebuah video terpampang di layar. Video yang berasal dari satelit yang sebenarnya digunakan negara untuk mengawasi gerakan mencurigakan.
Emy terus menyusuri video itu. Video yang menampilkan pencitraan dari atas.
" Bingo!" Seru Emy
Tanpa banyak berbicara, Emy mengirim koordinat satelit dimana si kembar berada ke hpnya.
Emy berlari menuju pintu yang tanpa sengaja terbuka saat Hawk masuk. Lelaki kurus itu hanya memperhatikan, saat istri Atasannya berlari keluar dan menuju lift.
Emy memakai jasa taksi yang membawanya ke kediamannya dulu, rumah Eommanya.
" Pak, tolong lebih cepat. Saya akan bayar double!"
Si sopir segera menancap gasnya, memenuhi permintaan penumpangnya.
Sampai di depan rumahnya, Emy segera membuka pintu mobil. Namun, berhenti saat akan menutup pintu.
" Pak, bisa tunggu saya disini sebentar? Dan, nanti antarkan saya ke tempat lain?"
" Baik, Nona."
Emy mengangguk dan segera masuk ke rumahnya. Kunci rumah seperti biasa ada di bawah pot bunga. Emy tersenyum melihatnya.
' Ternyata Oppa tak merubahnya,' kata Emy dalam hati
Setelah masuk, ia berlari ke kamarnya di lantai 2.
Emy membuka lemarinya dan menghela nafas lalu tersenyum
" Terima kasih Oppa!" ucap Emy
Emy segera mengganti roknya dengan celana Tactical hitam atau celana Blackhawk (model celana yang sering dipakai polisi dan militer, sangat keren dan gahar) dan kaos putih lengan panjang serta topi hitam.
Siap dengan penampilannya, Emy membongkar dasar lemarinya dan membuka kayu yang ternyata ada lubang di dalamnya. Emy mengambil kotak yang ada di dalam lubang itu dan membukanya.
" Appa, akhirnya aku memakainya juga," lirih Emy.
Diambilnya benda bergagang itu dan ia selipkan dipinggangnya yang tertutup jaket bomber dan peluru cadangan ia masukkan ke dalam kantong celananya. Tak lupa, ia juga mengambil gulungan uang, yang dulu ia pernah simpan untuk jaga-jaga.
Selesai dengan persiapannya, Emy segera berlari dan kembali ke taksi yang sudah menunggunya.
" Ayo, Pak. Tolong kalau sudah 50m sebelum alamat ini, turunkan saya disitu." pintanya seraya menyodorkan secarik kertas berisi alamat. Si Sopirpun mengangguk.
' Nak, kali ini kau harus kuat, ya. Kita akan menyelamatkan Kakak-kakakmu,' batin Emy seraya mengusap lembut perutnya.
Kimtae Tech
" What the ...." Mata Hawk membelalak melihat tayangan di monitornya. Kedua tangannya menutup mulutnya yang terbuka lebar.
" Omo ... omo ... aku harus lapor Tuan Muda,"
Hawk memegang ponselnya dengan gemetar dan menekan nomor Atasannya. Ia berusaha menelan salivanya yang begitu susah ia telan.
2 kali ia menelepon tak ada jawaban, Hawk mengeratkan giginya menggeram kesal.
__ADS_1
" Eeerrgghh ... Bosss ... cepat angkat!!!" gumamnya gelisah
Tae Yang berjalan masuk ke dalam gedung Chasung Industries dengan menahan emosi. Beruntunglah ia sudah terbiasa menyembunyikan emosinya di balik wajahnya datar dan dingin.
Hari ini, ia menemui sahabatnya untuk membahas perjanjian kontrak kerjasama mereka.
Saat memasuki lift, ponselnya bergetar. Tertera nama " Thief" di layar ponselnya.
Sekretaris yang bersamanya, hanya melirik sekilas dan tak berani berkata apapun. Sampai di lantai 12, tempat di mana kantor sahabatnya itu berada, ia berhenti dan mengangkat ponselnya.
" Hmm,"
" ......................."
" Apa?! Berapa lama ia pergi?"
"......"
" Baiklah, kirimkan pada Jung Hyuk!"
Tae Yang menutup matanya dan mengepalkan kedua tangannya.
" Ayo!" titahnya pada sang sekretaris.
Selama pertemuan dengan pihak Chasung, pikiran Tae Yang terus berkecamuk dan tak bisa berkonsentrasi. Tae Yang mengambil ponselnya dan menulis pesan pada Jung Hyuk, Asisten Pribadinya dan menyimpan ponselnya.
Mata seseorang terus memicing menatapnya. Merasa ada yang tak beres, ia segera mengambil ponsel dan bermaksud mengirim pesan, tapi selalu gagal tak terkirim.
' Tak ada sinyal?' batinnya. Matanya terus mengawasi Tae Yang yang sedari tadi hanya diam tanpa bersuara.
" Hyun Sik-a ... bagaimana kalau kita ke Bar biasanya?" ajak Tae Yang dengan ekspresi yang tak terbaca setelah rapat mereka selesai.
" Oh ... ehm ... baiklah ..."
Tae Yang, Cha Hyun Sik dan sekretaris kedua Tuan Muda itu mengekor di belakang mereka.
Sampai di lift hingga lobby, tak ada satupun yang berbicara.
" Sekretaris Jiang, kau kembalilah ke kantor," titah Tae Yang. Sekretaris yang baru bekerja 2 tahun di perusahaannya itupun mengangguk dan melangkah pergi.
"Ayo!" ajak Tae Yang
" Aku pakai mobilku aja," tolak Hyun Sik
" Hei ... kenapa? biasanya juga kamu suka ikut mobilku? Ayo! Sudah lama kita gak kumpul-kumpul," ujar Tae Yang dengan senyum khasnya.
" Baiklah,"
Senyum Hyun Sik yang dipaksakan tertangkap netra elang Tae Yang. Seringai muncul di bibir bos Kimtae itu.
" Ada apa? tak biasanya kamu ngajak kumpul?" tanya Hyun Sik saat mereka sudah dalam perjalanan ke Bar Whale langganan mereka.
" Aku banyak pikiran akhir-akhir ini,"
" Kenapa?"
" Istriku mendiamkanku dan Anak-anakku hilang," ucap Tae Yang seraya menoleh ke arah Hyun Sik
" Hilang? Bagaimana bisa?"
__ADS_1
" Hmm ... mereka mengambil Anak-anakku yang tak berdosa. Tapi, aku pastikan mereka akan mendapat balasan setimpal!" ucapan Tae Yang penuh kegeraman dan ancaman.