
Tae Yang tak menggubris istrinya dan berangkat ke kantor. Emy hanya menghela nafas melihatnya.
Selesai menyusui baby Miguel dan menidurkannya, Emy masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri lalu berganti pakaian rapi.
" Ji An, aku akan ke rumah sakit. Aku sudah taruh ASIku di freezer. Hubungi aku kalau ada apa-apa, ya? oh, ya ... Mikha sama Micko, nanti Pak Jang yang jemput, ya," kata Emy
" Baik, Nyonya," kata Ji An
" Aku pergi dulu,"
Emy segera turun dari lantai 2 dan meminta Pak Jang mengantarnya ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit, Emy segera membuka pintu mobilnya tapi ia tak segera menutupnya kembali
" Pak Jang, nanti tolong jemput Mikha sama Micko, ya?" pinta Emy
" Baik, Nyonya,"
" Terima kasih," kata Emy lalu melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari Pak Jang.
" Bagaimana? apa dia sudah sadar?" kata Emy pada dr. Lee, segera setelah ia sampai di ruang rawat Yu Zhen.
Dokter Lee menggeleng dan terus melihat Yu Zhen.
" Oppa, apa ada yang kau sembunyikan dariku?" tanya Emy dan menoleh menatap dr. Lee setelah beberapa waktu.
Dokter Lee melihat Emy sekilas lalu menggeleng.
' Aku tak mungkin mengatakannya padamu kalau semua ini berawal karena kamu, adikku.' batin dr. Lee
" Tapi, Yu Zhen menyakiti Xiao Lan, bagaimana maksudnya?" tanya Emy. Dokter Lee terdiam
" Apa ... Yu Zhen berselingkuh dari Xiao Lan?" tanya Emy
" Mereka ... tidak pacaran, Emy,"
" Lalu? menyakiti bagaimana?"
" Xiao Lan ... dia mencintai Yu Zhen sudah lama. Tapi, Yu Zhen hanya menganggapnya seperti adik. Beberapa kali Xiao Lan menyatakan cintanya, tapi ... Yu Zhen selalu menolak. Xiao Lan bermaksud membuat Yu Zhen sadar, kalau ia akan kehilangan dirinya dengan menerima Wen Ming, tapi ... nyatanya, Yu Zhen ternyata tak begitu menanggapi malah mendukung pilihan Xiao Lan.
Dan, Xiao Lan akhirnya berubah. Ia menjadi pemarah dan sering menyakiti dirinya sendiri untuk menarik simpati Yu Zhen. Tapi, semuanya tak berguna, karena Yu Zhen tetap tak menanggapi perasaannya. Banyak hal dilakukan Xiao Lan hingga membuat Yu Zhen muak dan memutuskan untuk menjauh dan tinggal di mess rumah sakit, tak kembali ke panti asuhan." jelas dr. Lee
" Tapi, kenapa? bukankah Xiao Lan gadis yang cantik dan pintar," tanya Emy
" Emy-a, kita tak bisa menentukan siapa yang akan kita cintai," kata dr. Lee. Emy mengangguk dan menatap Yu Zhen sedih.
__ADS_1
Tae Yang semakin emosi ketika ia mendengar kalau Emy pergi ke rumah sakit. Ia tahu, pasti istrinya ke sana untuk bertemu Yu Zhen.
" Hyuk! bagaimana dengan Xcyber? mereka sudah menyelesaikan prototype (model kerja dasar dari pengembangan sebuah program (software) atau perangkat lunak) untuk aplikasi Kinect 1.3 (teknologi yang membuat user dapat berinteraksi secara natural dengan komputer tanpa menggunakan controller. Dengan kata lain user, dapat melakukan suatu pengoperasian komputer hanya dengan menggunakan gerakan tangan atau gerakan tubuh lainnya)?" tanya Tae Yang dingin dan datar. Aura Tae Yang membuat Jung Hyuk takut memberikan laporannya.
" Ehm ... mereka, mereka belum selesai, Tuan Muda," kata Jung Hyuk gugup
Brakk
Tae Yang menggebrak meja kerjanya, Jung Hyuk berjingkat kaget karenanya.
" Apa saja yang mereka lakukan?!" bentak Tae Yang. Jung Hyuk terus menunduk, tak berani menatap Tuannya.
" Siapkan jetku! kita ke Jerman 1 jam lagi!" titah Tae Yang. Jung Hyuk mendongak melihat Tuannya.
" Ke Jerman 1 jam lagi, Tuan?" ulang Jung Hyuk dan mendapat tatapan tajam dari Atasannya itu
" Kenapa? kau tak bisa?" tanya Tae Yang dingin dengan mata elangnya yang menatap lurus pada Asistennya.
" Ba-baik, Tuan," Jung Hyuk segera menunduk dan berbalik meninggalkan ruangan Tae Yang.
" Haduh ... apa lagi PMS, ya? haduh ... Tuan Muda jadi serem gitu," gumam Jung Hyuk seraya berjalan cepat ke ruangannya untuk mempersiapkan perjalanan mereka ke Jerman.
1 jam kemudian , Tae Yang sudah berada di atas jetnya dan siap menuju Jerman, tanpa memberitahu Emy. Emosi yang hampir membawanya pada kehancuran rumah tangganya.
Emy telah kembali ke Mansion dan sudah berada di kamar Anak-anaknya. Menemani si kembar bermain sembari menyusui dan memandikan baby Miguel.
" Jam 6, sayang. Seperti biasa. Kenapa? Mikha sudah kangen Daddy?" tanya Emy dengan memakaikan baju baby Miguel
" Bukan, cuma mau tanya, kenapa Daddy sama Mommy bertengkar. Kan, kata Daddy bertengkar itu tidak baik. Terus, kenapa Daddy masih marah sama Mommy?" kata Mikha dengan menyusun legonya
Emy tersenyum dan mengusap kepala putranya. Ia melihat jam di dinding. jam 19.12
' Kenapa belum pulang? mungkin kerjaannya menumpuk,' batin Emy mencoba berpikiran positif tentang suaminya.
" Mikha, Micko, Mommy buatin susu terus tidur, ya?" kata Emy pada dua anaknya setelah ia memberikan baby Miguel pada sang pengasuh.
Sudah jam 11 malam, dan Tae Yang belum kembali. Emy sudah berulang kali menelepon, tapi tak diangkat dan terakhir kali dijawab oleh voice mail.
Emy berdiri di balkon. Ia sangat khawatir dengan suaminya. Ia juga sudah menelepon Jung Hyuk, tapi tak tersambung.
Tak mau menunggu, Emy segera memanggil Pak Jang untuk mengantarnya ke Kimtae Group.
Sampai di Kimtae Group, semua sudah gelap hanya lampu di lobby di mana satpam menjaga yang menyala.
__ADS_1
" Selamat malam, Nyonya Muda. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Satpam itu dengan ramah.
" Apa suamiku masih di kantor?" tanya Emy.
" Tuan Muda sudah pergi dengan Asistennya sejak sebelum makan siang tadi, Nyonya." kata Satpam itu.
" Kau tahu kemana?" tanya Emy.
" Maaf, Nyonya. Saya tidak tahu," jawab Satpam itu. Emy mengangguk.
" Antarkan aku ke atas," titah Emy
" Baik, Nyonya, silahkan," ucap Satpam itu sambil menunduk dan mempersilahkan Emy berjalan dulu.
Sampai di kantor Tae Yang, Emy meletakkan sidik jarinya di scanner dan terbukalah pintu kantor Tae Yang. Tapi, tak ada seorangpun di dalamnya. Satpam itu hanya berdiri menunggu di depan pintu.
Emy berjalan mendekati meja kerja Tae Yang dan mencoba mencari petunjuk di sana, tapi nihil.
" Kau kemana, Tae Yang-ssi," lirih Emy lemah. Ia sangat mengkhawatikan suaminya itu.
Sementara Emy begitu mengkhawatirkan keadaan suaminya, sang suami sedang berada di dalam sebuah kamar hotel dengan wine di tangannya. Ia baru saja sampai di negara Hitler itu, setengah jam yang lalu.
Tringg ...
Suara bel berbunyi. Tae Yang dengan malas membuka pintu kamar president suitenya.
" Ada apa?" tanyanya dingin
" Ehm ... Tuan Muda, Nona Muda menelepon berulang kali, tapi ponsel saya mati jadi ..."
" Biarkan saja," kata Tae Yang datar.
Brakk
Tae Yang menutup kasar pintu kamarnya. Ia meraih ponselnya dan menghidupkannya. Banyak puluhan panggilan dari istrinya. Ingin sekali ia menelepon dan mendengar suara istrinya, tapi gengsi menghalanginya.
" Harusnya dia minta maaf padaku, kenapa malah diam saja?" gerutu Tae Yang dan melempar ponselnya begitu saja.
Tae Yang memutuskan pergi ke Club malam di Berlin dengan mengajak serta Asistennya.
" Tuan Muda, kalau Nona Muda tahu, Anda bisa di kregghh ..." kata Jung Hyuk seraya memperagakan mengiris leher.
" Dia asyik berpelukan dengan laki-laki lain sekarang, lalu kenapa aku tak boleh?" kata Tae Yang datar dan memanggil 2 wanita panggilan untuk duduk bersamanya.
__ADS_1
Cekrek
Cekrek