
Tae Sang berhenti memandang pintu kamar mandi itu beberapa menit dan beranjak kembali ke kamarnya. Setelah membersihkan diri, ia melihat ke cermin di atas washtafel.
" wanita itu... ya Tuhan... kenapa aku lepas kontrol seperti ini?" Tae Sang menghela nafasnya dan segera ke kamar ganti untuk bersiap ke kantor.
Dengan tampilan yang sudah rapi, Tae Sang menuju dapur dan menyiapkan sarapannya sendiri, tapi pikirannya masih pada wanita yang sudah ia sakiti. Ia kembali melayangkan pandangannya pada kamar Emy, ia membawa nampan berisi roti dan susu, dan melangkah menuju kamar Emy. Ada perasaan bersalah dalam hatinya.
Akan tetapi, langkahnya terhenti, ketika ia mendengar suara air mengalir dari kamar mandi. Pikiran Tae Sang menjadi tak enak.
" ini sudah jam 8, tidak mungkin dia mandi selama itu."
Tae Sang memegang engsel pintu kamar mandi itu, dan terbuka. Matanya membulat sempurna melihat pemandangan di depannya.
Tae Sang segera berlari lalu mematikan kran shower. Hatinya terasa teriris melihat kondisi Emy. Segera dilepasnya jas yang membalut tubuhnya dan mengenakannya pada Emy lalu menggendong tubuh kecil Emy keluar kamar mandi.
Tubuh lemah itu ia letakkan diatas kasur single yang masih berantakan, karena ulahnya semalam. Segera ia menelepon dokter Ahn, dokter pribadinya. Selesai melakukan panggilan, Tae Sang mengganti pakaian Emy yang basah dengan hati hati dan mengeringkan rambut indah Emy dengan handuk.
" ma..maafkan aku... aku... " Tak sanggup meneruskan kata katanya, Tae Sang segera keluar dari kamar Emy dan menunggu dokter Ahn.
Menunggu 30 menit, akhirnya dokter Ahn datang dan memeriksa Emy. Dengan cemas, Tae Sang menunggu di depan kamar Emy.
" Dokter... bagaimana dia?" tanya Tae Sang segera setelah dokter Ahn keluar dari kamar Emy.
" Mmm.. Nona itu sepertinya baru mengalami perkosaan." kata dokter Ahn mengelengkan kepala.
deg
" Tubuhnya juga penuh luka goresan hasil perbuatan Nona itu sendiri karena ia mengalami depresi." lanjut dokter Ahn.
__ADS_1
Deg
" de... depresi?!"
" benar! Sebaiknya biarkan dia tenang dalam beberapa hari, jika makin parah, saya sarankan bawa dia ke rumah sakit. Saya permisi Tuan Kim." kata Dokter Ahn.
Tae Sang mengangguk dan mempersilahkan dokter Ahn pergi. Perlahan ia masuk kamar Emy dan memandang wajah cantik Emy yang bengkak dan membentuk telapak tangan.
" aku... juga menamparnya?" Tae Sang memejamkan mata dan mengusap wajahnya.
" apa yang terjadi denganku? aku tak pernah mabuk dan bertingkah seperti ini. Tapi... kemarin malam... kenapa... kenapa aku lepas kendali?" alis tebalnya menyatu berpikir keras tentang kejadian semalam.
Mata Emy tetap terpejam. Wajahnya sembab dan pucat. Bekas tamparan beringsut menghilang dengan salep yang Tae Sang oleskan dengan telaten.
Demam Emy juga sudah menurun. 2 hari ini terpaksa Tae Sang tak pergi ke kantor dan mengerjakannya di rumah. Villa mewah itu terutama di dapur dan meja makan, terlihat seperti kapal pecah. Tae Sang yang tak pandai memasak, terpaksa membuat bubur cair untuk Emy, agar bisa meminum obat.
Tae Sang hanya berdiam diri di depan pintu, ketika dilihatnya Emy telah siuman. Perlahan ia melangkah masuk kamar Emy dan meletakkan nampan berisi bubur dan air putih di atas nakas. Tak ada reaksi dari wanita bertubuh kecil itu.
" mmm... Emy... bangun, makanlah..." Ucap Tae Sang hati hati. Tak ada reaksi. Tae Sang memberanikan diri menyentuh lengan Emy dan menggoyangkannya. Tetap tak ada reaksi.
" Emy... Emy..." panggil Tae Sang lagi. Masih sama, tak ada reaksi. Mata bulat dengan bulu mata lentik dan tebal itu hanya menatap langit langit. Kosong. Pandangannya kosong.
" Emy, dengar... aku... aku minta maaf. aku... tidak bermaksud... menyakitimu... maaf... maafkan aku... mmm.. makanlah, ya..." bujuk Tae Sang.
Lebih dari 1 jam, tak ada perubahan dari ekspresi Emy. Tae Sang perlahan duduk di ranjang Emy, dan meraih tubuh Emy. Ia membantu Emy duduk. Ia begitu gugup dan tak berani melihat Emy. Namun sama saja, Emy hanya terdiam dan matanya mengedip lemah.
Tae Sang meraih mangkok bubur dan mulai menyendok.
__ADS_1
" Emy, aku... suap, ya..." sendok sudah berada di depan bibir Emy tapi bibir wanita itu tetap mengatup. Beberapa kali Tae Sang mencoba, namun tetap Emy tak membuka mulutnya.
" Baiklah, aku tinggal disini buburnya ya, kalau kau lapar makanlah. Aku pergi dulu." Tae Sang menghela nafas dan berdiri, beranjak dari kamar itu. Ia menutup pintu kamar Emy pelan dan melangkah dengan berat. Ia hempaskan tubuh lelahnya yang sudah 2 hari ini terus menjaga dan merawat Emy, karena demam yang masih saja sering naik, ke sofa ruang keluarga.
" O Tuhan... bagaimana ini. Bagaimana kalau Helena tahu. Apa yang harus kulakukan...aaarrghhhh..." Ia meremas rambutnya frustasi. Iya, dia merasa bersalah pada Emy, tapi dia juga merasa bersalah pada Helena, kekasihnya. Pilihan itu begitu sulit untuk ia ambil. Seorang Kim Tae Sang yang begitu dingin dan tegas dalam mengambil keputusan di dunia bisnis, saat ini merasa tak berdaya dan bodoh, tak tahu mana yang harus ia pilih.
Ponsel Emy penuh dengan pesan dan panggilan tak terjawab dari banyak nomor dan rumah sakit. Tatapan mata Tae Sang terhenti pada nomor yang mengirim Emy beberapa pesan singkat yang ambigu. Ia mengirim nomor itu ke ponselnya dan menyuruh Byun Hyuk mencari pengirimnya.
" Emy, kau sudah 2 hari 2 malam belum makan, apa kau akan terus seperti ini?!" Bubur yang Tae Sang sediakan mulai kemarin siang tak disentuh sama sekali.
" apa kau akan terus diam dan tak makan?! Kita sudah sama sama dewasa, kenapa seakan duniamu sudah runtuh hanya karena kita berhubungan badan? bukankah itu yang kau mau selama ini, menjadi istriku?! " Tae Sang mulai geram dengan sikap Emy. Tak ingin emosinya terlepas, Tae Sang keluar dan membanting pintu kamar Emy.
Simposium yang sedianya dihadiri Emy tinggal beberapa hari lagi. Tapi Emy kembali mengajukan cuti. Direktur Kang hanya bisa mengijinkannya karena ia tak kan dapat membantah perintah Presiden Direktur Kimtae Building Corp. Ya, melalui Byun Hyuk, Tae Sang meminta cuti untuk Emy.
Dr. Lee merasa curiga dengan absennya Emy. Ia tahu kalau adik angkatnya itu sangat bertanggung jawab dalam bekerja. Tapi ini sudah 2 hari dan dokter bedah termuda itu, tak menampakkan batang hidungnya.
Kriiingg...kriiingg...
Setelah beberapa kali berdering, akhirnya Hannah mengangkat panggilannya.
" ya, oppa?" jawab Hannah di seberang Telepon.
" apa kamu tahu kenapa Emy gak masuk kerja?"
" hah?! gak masuk kerja?! " Hannah menghentikan tangannya yang sedang menandatangani dokumen di meja kerjanya.
" iya, dia sudah 2 hari gak masuk. Kamu tahu alamat suami kontraknya itu?"
__ADS_1
klotak...