
" Nak ... Emilia ... ini benar kau kan, sayang?" ucap wanita itu setelah melepas pelukannya dan mulai meraba wajah Emy yang juga menangis dan menatapnya tertegun
" Ma ... mami?" lirihnya. Wanita itu mengangguk cepat dan memeluk Emy dengan air mata yang deras. Emy pun membalas pelukan ibunya dan menangis tersedu.
Yu Zhen mengerutkan alisnya. Dokter Lee tersenyum dan menaruh kedua tangannya di saku jas dokternya
Emy menghapus air matanya dan melepas pelukannya setelah beberapa lama.
" A-apa yang Ma-mami laku .. kan disin .. sini?" tanya Emy sesenggukan.
Senyum dari wajah ibunda Emy seketika sirna dari wajah sembabnya. Segera ia menghapus air matanya dan menuntun Emy ke brankar di depan dr. Lee
Mata Emy membulat. Kedua tangannya ia gunakan menutup mulutnya melihat seorang laki-laki dengan wajah yang mulai mengeriput dan sangat pucat.
" Chondrosarcoma extraskeletal stadium akhir ..." ucap dr. Lee. Emy perlahan menoleh melihat dr. Lee mencari kebohongan di sana, tapi tak ia temukan. Badan Emy terasa lemas. Pandanganmya kabur dan menggelap.
" Emy!!" seru Yu Zhen dan dr. Lee bersamaan
" Emilia!" teriak ibunda Emy, Lienda Djiksma.
Yu Zhen dan dr. Lee segera berlari untuk menangkap tubuh Emy agar tak terjatuh ke lantai
" Aarghhh!" rintih Yu Zhen dan memegang perutnya dengan satu tangan, sementara satu tangan ia gunakan memegang kepala Emy
" Lukamu tertarik. Biar aku saja. Cepat ke IGD. Emy masih membutuhkanmu menolong Ayahnya," ucap dr. Lee dan segera mengangkat tubuh Emy. Yu Zhen dibantu seorang suster pergi ke IGD
Lienda mengikuti dr. Lee membawa Emy ke brankar yang ada di bangsal. Dokter Lee memeriksa Emy dan menyelimutinya
" Dia tidak apa-apa, Bu. Hanya terlalu kaget dan kelelahan," ucap dr. Lee tersenyum. Lienda mengangguk dan mengambil tangan putrinya. Mencium dan menaruh tangan Emy di pipinya. Air mata tak henti-hentinya mengalir
" Dokter, apa kau teman Anakku?" tanya Lienda
Dokter Lee tersenyum dan mengangguk, " Dia sudah seperti adikku, Bu. Dia wanita yang luar biasa. Aku bangga karena dia mau menganggapku kakaknya," ucap dr. Lee tersenyum dan menatap hangat Emy
" Begitukah? Apa ... apa anakku bahagia di sini?" tanya Lienda dengan ragu dan melipat bibirnya
Senyum getir terukir di wajah ganteng dr. Lee. Bahagia? Emy? entahlah.
" Yang saya tahu, Emy ... dia wanita yang sangat tegar walau banyak sekali masalah yang ia hadapi," tukas dr. Lee
Lienda mengusap lembut kepala Emy dan kembali menciumi tangan putrinya.
" Mam!" panggil seorang laki-laki yang berdiri di depan brankar Emy
Lienda mengalihkan perhatiannya dan melihat pemuda yang berwajah mirip suaminya. Ya, dia adalah Dennis, kakak kandung Emy.
" Dennis," panggil Lienda dan segera berdiri lalu memeluk putranya. Mendengar nama Dennis, wajah dr. Lee berubah. Matanya memindai lelaki bertubuh tinggi hampir sama dengannya dengan wajah yang terlihat lelah.
' Jadi, ini yang namanya Dennis,' pikir dr. Lee. Ia banyak tahu soal Dennis ketika ia mendengar kisah Emy dari mulut Ha Na.
" Emilia? kenapa dia, Mam?" tanya Dennis dalam bahasa Indonesia dan berjalan mendekati brankar Emy. Matanya menatap sendu wajah cantik adiknya.
" Dia hanya pingsan karena lelah dan kaget," kata dr. Lee datar, seolah mengerti perkataan Dennis. Lelaki itu hanya melihat dr. Lee sekilas lalu memegang tangan Emy. Buliran bening menitik di pipinya.
" Maaf, maafkan kakak, Emilia ..." lirih Dennis, " Maafkan kesalahanku selama ini, ma .. maaff ..."
Lienda mendekat dan membungkuk, " Mami yakin adikmu tak pernah marah padamu, Nak," hibur Lienda. Dennis mengangguk dan menaruh kepalanya di dada Lienda.
__ADS_1
" Saya permisi dulu. Nanti saya kembali lagi," pamit dr. Lee
" Tung,tunggu!" cegah Dennis dengan suara serak karena menangis dan dalam bahasa Inggris
" Ya?" ucap dr. Lee dengan menampilkan wajah datarnya.
" Sa-saya ingin bicara sebentar, bisa?" tanya Dennis dengan takut-takut. Dokter Lee menatap Emy sebentar lalu mengangguk dan berjalan keluar diikuti Dennis
Keduanya sampai di lorong dengan pembatas tembok di sebelahnya.
" Ada apa?" tanya dr. Lee datar
" Sa-saya hanya ingin ber-bertanya soal Emy. Apa, apa dia sudah baik-baik saja?" tanya Dennis lalu melipat bibirnya
" Maksudnya?"
" Em-Emy sempat koma selama setahun lebih, bukan? lalu, lalu bagaimana sekarang? a-apa dia ..."
" Tunggu! darimana Anda tahu? seingat saya, tidak ada yang tahu kalau Emy sempat koma," potong dr. Lee dan menatap selidik kakak kandung Emy yang kini terlihat gugup
" A .. i-itu sa-saya ..."
" Jelaskan!" titah dr. Lee dengan mata yang tajam
Dennis menelan salivanya dengan kasar. Tatapan intimidasi dr. Lee sungguh menciutkan nyalinya
" Ehm .. Ehm ... itu-itu .."
" JAWAB!" bentak dr. Lee tak sabar
" Sa-sayalah yang membawanya pindah dari Zurich ke Jepang," kata Dennis dalam sekali nafas
Mata dr. Lee membulat tak percaya.
" Kau ... kau yang membawanya ke Jepang lalu membiarkannya begitu saja?!" sergah dr. Lee
" Ah .. bu-bukan begitu!" kata Dennis dengan kedua tangan ia lambaikan di depan dr. Lee
" Lalu?!"
" Saya, saya waktu itu hanya ikut Atasan saya ke Zurich. Atas bantuannya juga saya bisa memindahkannya ke Jepang. Tapi, tapi karena Emy tak kunjung sadar, hu-hutang saya kian menumpuk dan tak mampu membayar, jadi, jadi saya ..."
" Jadi kau putuskan untuk membiarkannya terlantar di Jepang," lanjut dr. Lee dengan geram dan berbicara dengan mengeratkan giginya
Dennis mengangguk dan menangis tersedu. Dokter Lee menggosok kasar wajahnya.
" Lalu kau juga yang menolongnya di Las Vegas?" selidik dr. Lee
Dennis menggeleng," Bu-bukan. Itu Atasan saya. Dia mengenali Emilia karena foto Emilia selalu ada di atas meja saya," jelas Dennis
Dokter Lee tak berbicara lagi. Ia menepuk bahu Dennis dan meninggalkan kakak kandung Emy berdiri di lorong itu sendiri dan menangis
Mansion Kim
Luther baru saja sampai di Mansion Kim. Pelayan segera mengantarnya ke ruang kerja Emy dan Tae Yang.
Saat ia membuka pintu, pandangan tak biasa tertangkap netranya.
__ADS_1
" Pa-paman ..." panggil Luther. Tapi Evan tak menjawab, dan terus menatap kedua cucunya beraksi di depan komputer dengan sesekali menyesap susu di tangannya lalu menaruhnya kembali ke atas meja. Si kembar dengan cepat menyimpan file, mendownload, dan meretas banyak rekening bank dari orang-orang yang disebutkan Evan.
Hawk, si peretas andalan Tae Yang, asyik memakan camilannya dan menata sekumpulan kertas yang keluar dari mesin printer.
" Mikha ... Micko ..." panggil Luther lirih
Brukk ..
Tas Luther terjatuh bebas di karpet. Mata Luther mengerjap melihat keponakannya yang begitu lihai memainkan keyboard tapi dengan mata menatap monitor yang ada di depan mereka kanan kiri dan lidahnya yang kadang sedikit dikeluarkan.
" What ... the ..." Luther melangkah perlahan dan menghempaskan bokongnya kasar di atas karpet di sebelah Evan, yang dengan perlahan menyebut setiap nama yang ia mau dan file apa yang mau ia ambil.
Glek
" Paman, Paman ... apa mereka benar-benar keponakanku?" tanya Luther seraya menepuk bahu Evan dan mengerjapkan matanya perlahan.
" No ..." jawab Evan menggeleng," Mereka monster," dengan mata yang tak beralih dari kedua makhluk kecil yang duduk di depan komputer dengan fokus dan keduanya saling melengkapi dan berteriak sesuatu yang tak dimengerti dua laki-laki dewasa di belakang mereka, kecuali Hawk tentunya.
" Em, kau memang biangnya monster dan Anak-anakmu ... mereka lebih dari monster," gumam Luther dan menatap setiap monitor yang menampilkan deretan angka, wajah seseorang, file dan entah apa lagi.
Yu Zhen harus mendapat jahitan untuk luka diperutnya. Ia juga meminta perawat memberinya Salep Lidocaine (pereda nyeri).
Dokter Lee datang dan menghampiri Yu Zhen yang masih duduk di brankar IGD
" A Zhen-a," panggil dr. Lee
" Hmm,"
" Aku mau minta tolong padamu,"
Yu Zhen menatap dr. Lee dan menautkan alisnya.
" Laki-laki dengan Chondrosarcoma Extraskeletal (tumor di bagian jaringan lunak tulang) dia ... adalah Ayah kandung Emy,"
Mata Yu Zhen menatap dr. Lee dan mengerutkan dahinya
" Apa kau yang memberitahu kalau Emy di sini?!" tuduh Yu Zhen
" Hei! kau pikir aku kurang kerja?" bantah dr. Lee
" Lalu?"
" Aku juga tak tahu. Mereka tiba-tiba datang kemari dan mencari Emy," jelas dr. Lee
" Setelah 20 tahun? mereka mencari Anaknya hanya ... karena ... sakit? WOW! Hebat!" sarkas Yu Zhen dan tertawa sinis
" Yu Zhen! kita tak berhak menghakimi mereka. Saat ini, kita sebagai dokter. Bertindaklah profesional," tutur dr. Lee
Yu Zhen menghembuskan nafasnya kasar
" Apa maumu? kau tahu kalau jalan-jalan satu-satunya amputasi. Waktu hidupnya hanya 3 bulan lagi," jawab Yu Zhen dan perlahan membetulkan kemejanya.
" Aku tahu. Tapi, laki-laki itu tak mau kehilangan kakinya," jawab dr.Lee
" Hahahaha ... dia pikir kita ini Tuhan?" ucap Yu Zhen terkekeh
" Saya tahu permintaan orang tua saya aneh, tapi ... saya mohon bantu Papi saya. Ia pasti akan sangat terpukul jika kehilangan kakinya,"
__ADS_1