Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Desa Lauterbrunnen


__ADS_3

70 km dari Bern, Swiss


zeenggg...zeeeng...


Suara mesin jahit tanpa henti memenuhi seisi ruangan. Hanya sebentar saja berhenti dan kembali lagi terdengar.


Seorang wanita begitu serius menatap kain yang sedang dijahit oleh mesin yang ia injak pedalnya hingga suara ketokan di pintu tak ia gubris, membuat sosok yang ia acuhkan menatapnya kesal. Dengan menghentakkan kaki, sosok itu mencabut kabel mesin yang tengah beroperasi.


" hah? lho...yaaa...kok mati sih? apa mati lampu?" gerutu wanita itu sambil melihat di bawah kolong mesin jahitnya. Ia juga mencoba menyalakan lampu yang ia pasang tepat di atas mesin jahit.


klek...


" Lho...nyala kok..." gumamnya...


" ehem..ehemm.." Deheman tiba-tiba dari belakang, membuat wanita berambut sebahu itu berjingkat kaget.


" Aduh! Hei! kamu itu sukanya ngagetin aja sih!" protes wanita itu sambil memanyunkan bibirnya yang ranum.


" eh... bukan aku yang ngagetin. Kamu aja yang budeg(tuli), aku dah ngetok dari tadi eh..malah di cuekin." sindir si pria.


" Enak aja kamu bilang aku budeg. Kamu tuh yang aneh. orang aku lagi jahit, bukannya manggil, malah pake ketok pintu yang tebelnya kayak gitu!" jawab wanita berparas ayu itu cemberut.


" Aduh... oke..oke.. aku kalah kalo ngomong sama kamu. Nih! aku bawain makanan kesukaanmu. Berhenti dulu jahitnya." Sambil menyodorkan bungkusan paper bag, pria bermata hitam dan ganteng itu, mengusap lembut kepala wanita yang masih duduk di depan mesin jahit. Mata wanita itu berbinar, kala ia menyambut paper bag itu dan mencium aroma makanan di dalamnya.


" Waa... Kalev! makasih ya...hmmm..." Senyum cantik merekah di bibir ranum wanita berwajah imut itu.


" Oke, aku pulang dulu ya..." pamit Kalev, namun sebelum ia keluar pintu, ia kembali berbalik.


" Eva, jangan terlalu capek, ingat jaga kondisi, oke?"


" hahaha... iya dokterku yang ganteng. Bentar lagi juga mau istirahat kok. Aku juga udah capek. hehehe. " jawab Eva dengan senyumnya.

__ADS_1


Kalev melambaikan tangannya dan berjalan pergi.


Selesai dengan camilannya, Eva berdiri dan memandang desanya yang sangat asri dan indah.



Awalnya ia merasa asing dengan desa ini , bukan hanya dengan lingkungannya, tapi ia juga merasa asing dengan namanya, Ivana Eva Greninger. Begitulah namanya menurut wanita paruh baya yang merawatnya. Dan wanita itu berkata kalau dia adalah bibinya, tapi ia sama sekali tak memiliki memori tentang itu. Yang ia tahu, Kalev mengatakan bahwa dirinya mengalami kecelakaan dan koma selama 1 tahun. Luka di perutnya ada, karena ia harus menjalani operasi pada ususnya.


Setelah 3 tahun tinggal di sini, akhirnya ia bisa menerima semuanya. Ingin sekali rasanya mengingat masa sebelum koma, tapi setiap kali berusaha mengingat, kepalanya terasa sakit dan terpaksa harus tinggal di rumah sakit beberapa hari. Karena itu dia menyerah mencari ingatannya. Cukup semua orang di sini menerimanya dengan hangat dan penuh kasih sayang.


Sejak Eva berada di desa ini, hatinya sudah jatuh cinta dengan suasana dan pemandangannya.


Lauterbrunnen, itulah nama desa itu. Sebenarnya Lauterbrunen adalah sebuah kotamadya di distrik administratif Interlaken-Oberhasli wilayah bagian Bern di Swiss.


Tepatnya sekitar 70 km dari kota Bern, Swiss dan disebut-sebut sebagai lembah paling indah di Eropa. Lembah Lauterbrunnen, demikian nama lembah indah bak negeri dongeng itu disebut, lembah Lauterbrunen sebenarnya terdiri dari desa Lauterbrunnen, Wengen, Mürren, Gimmelwald, Stechelberg dan Isenfluh.


Populasi desa Lauterbrunnen kurang dari populasi desa Wengen, namun lebih besar dari desa-desa yang lain. Lauterbrunnen memiliki arti ‘sumber air yang banyak’ dalam bahasa setempat. Rasanya pantas disebut begitu karena lembah ini memiliki banyak sekali air terjun. Di lembah yang memiliki lebar 1 km ini, terdapat sekitar 72 air terjun yang menyembur dengan indahnya dari puncak tebing ke dalam lembah.


" Ahhh... aku ke klinik aja deh... Bibi juga belum pulang". gumamnya.


Jalanan desa yang naik turun, tak menyurutkan semanget seorang Eva. Ia terus berjalan menyusuri jalanana yang berkelok kelok. 20 menit kemudian, ia tiba di sebuah klinik kesehatan yang lumayan besar dan satu satunya di desa itu.


" Selamat siang Clara..." Sapa Eva pada seorang perawat yang berjaga di meja depan.


" Oh, dr. Eva? bukannya hari ini libur?". Tanya Perawat Clara dengan senyum cerianya.


" Iya sih, tapi bosan aku di rumah terus...". kata Eva sambil memanyunkan bibirnya yang kecil itu. Perawat Clara tertawa melihat wajah lucu Eva.


Eva menempatkan dirinya di samping perawat Clara. Ia membuka buka map riwayat pasien yang bertumpuk di atas meja dengan malas, hingga sebuah majalah tertangkap indra penglihatannya. Tangannya meraih majalah itu dan memandang wajah yang menjadi cover majalah itu.


Ngiiiiinggg...

__ADS_1


" Uchhhhh... aaa...sakiit..aaahh..". Keluh Eva sambil memegang kepalanya. Perawat Clara menoleh dan melihat wajah pucat Eva dan keringat yang keluar di dahinya, padahal saat ini suhu udara 16°.


" Dr.Eva? Dok...anda kenapa?" Tanya perawat Clara cemas.


" A..aku... kepalaku sakit Clara..ahh...". Eva terus meringis kesakitan. Clara segera memanggil temannya untuk membantu memapah Eva. Eva berbaring di brankar IGD klinik Lauterbrunnen.


" Clara! di mana Eva..." seorang wanita paruh baya berlari dan menanyakan Eva dengan wajahnya yang dipenuhi peluh, seperti habis berlari. Clara menghampiri wanita itu dan memeluk menenangkannya.


" Bibi Sofia... tenanglah. Eva sekarang sedang tidur. Dia baik baik saja". Jawab Clara. Sofia melepas pelukan Clara dan menatap perawat subur di depannya.


" Benarkah? Aku sudah boleh lihat?" Tanya Sofia sembari menghapus air matanya.


Clara mengangguk dengan tersenyum. Ia mengantarkan bibi Sofia menuju kamar Eva berbaring.


Sofia memandang Eva dan tersenyum lega. Perlahan ia mendekati bed rawat Eva. Mata wanita ayu yang juga menjadi dokter di klinik itu, masih saja terpejam. Sofia dengan sabar menunggu dan mengusap rambut Eva dengan sayang.


Kriiingg...


" Kalev". gumam Sofia. Segera ia keluar kamar rawat Eva dan mengangkat panggilan teleponnya.


" Hallo, Kalev?". sapa Sofia


" Bibi Sofia, bagaimana Eva? kenapa dia anfal lagi?". Kalev memberondong Sofia dengan banyaknya pertanyaan, ketika panggilannya tersambung.


" Bibi juga belum tahu. Eva belum bangun. Tadi dr. Carindle sudah menyuntik obat anti nyeri, kata Clara ".


" Baiklah. Aku sekarang perjalanan kesana."


" Oke. Aku tunggu".


Di tempat lain, Kalev setelah memutus teleponnya, mengusap kasar wajahnya.

__ADS_1


" Jangan jangan dia..." Kalev menghela nafasnya berat dan menggelengkan kepalanya cepat. Mencoba menghilangkan semua dugaan yang mulai muncul di benaknya.


__ADS_2