Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Tidur Terpisah - Season 2


__ADS_3

Hari berganti hari, Emy disibukkan dengan penelitian untuk Disertasinya hingga menjelang malam pernikahannya. Tae Yang dan dr. Lee merasa lega. Bahkan Ha Na, Evan dan Luther yang memang sudah sampai kemarin beserta kedua anak mereka, merasa senang.


Bukan karena takut Emy akan marah dan meninggalkan Tae Yang, tapi lebih kepada mental wanita itu. Mereka tahu bagaimana Emy bila ia dihadapkan pada situasi traumatis.


Malam ini, Tae Yang dipaksa Ha Na untuk tidur terpisah dari Emy. Demi menjaga Tae Yang tak menyusul Emy ke kamar secara diam-diam, Ha Na membawa Emy ke penthouse Tae Yang, di hotel berbintang milik Grup Kimtae, dan tidur dengannya beserta balita Ha Na yang masih masih menyusu


Tae Yang dibuat jengkel karenanya. Semalaman ia tak bisa tidur. Tapi, mengingat besok adalah hari pernikahannya, Tae Yang memaksakan diri memejamkan matanya. Saat ia pulas, jam sudah menunjuk pukul 03.00


Emy terbangun dengan tangisan Sean, balita Ha Na yang saat ini berusia 1 tahun. Usia yang mengingatkan Ha Na, saat Emy, sahabatnya kembali mengingat siapa dirinya walaupun tak sepenuhnya. Tapi, jika ia boleh jujur, sama seperti Tae Yang, ia tak ingin Emy mendapatkan ingatannya kembali. Ia ingin masa-masa pahit hidup Emy, benar-benar terhapus dari otak Emy.


" Emy-a, maaf ya, kau jadi terbangun." Ucap Ha Na dengan rasa bersalah


" Ck ... ini sudah jam 6. Aku sudah tidur dari jam 10 kemarin. Sudah saatnya aku bangun," kata Emy.


" Hah? Jam 6? Emy-a, cepat kau harus mandi sekarang. Sebentar lagi periasmu datang. Ayo masuk kamar mandi sekarang, cepat," titah Ha Na. Mode emak-emaknya mulai on.


" Hei! Tadi minta maaf sekarang sudah usir-usir suruh mandi, ck ..." Kata Emy kesal dan kembali berbaring.


" Kyaaaa!!! Bangun tidak, hah?! Ayo, bangun! Masuk kamar mandi! Kyaa!" Omel Ha Na dengan ciri khas suaranya yang keras.


" Aahh! Na! Kamu bikin aku budeg!" Gerutu Emy


" Biarin! Cepat masuk kamar mandi! Dasar kau, sudah jadi emak-emak masih aja malas!"


Omelan Ha Na pagi ini memekakkan telinga Emy. Agar tak membuat tante sekaligus oma muda dari Mikha dan Micko itu bertambah mengoceh seperti burung, Emy segera masuk ke dalam kamar mandi. Berendam dengan air hangat dengan aroma Lavender.


45 menit kemudian, Emy baru keluar kamar mandi. Di saat yang sama, Ha Na juga baru selesai menyusui baby Sean.

__ADS_1


" Kyaaa! Kamu mandi di Amerika, ya? Lama sekali! Cepat sini!" omel Ha Na lagi. Emy hanya berjalan patuh saat Ha Na menyeretnya masuk ke dalam ruang ganti. Di sana sudah ramai dengan 2 orang laki-laki gemulai dan 3 wanita dengan pakaian aneh.


" Selamat pagi, Nona Muda," sapa mereka serempak, tak lupa dengan badan sedikit membungkuk.


" Ah ... hahaha ... i-iya, hallo ... pagi," balas Emy kaku


" Si-siapa mereka, Na?" bisik Emy


" Mereka? Penyiksamu! dah buruan masuk!" kata Ha Na, membuat Emy menelan salivanya dengan berat. Ha Na tersenyum melihat wajah Emy.


Satu, yang Emy tak suka, Didandani orang. Ia merasa dijadikan kanvas lukis bagi para perias dan mereka terkadang membuatnya meringis kesakitan karena disisir dengan kasar. Pengalaman trauma saat ia dulu pergi ke salon sebelum kencan dengan alamarhum kekasihnya, Keanan.


" Ehm ... aku-aku akan merias sendiri aja, terima kasih. Eh, kalian boleh ..."


" Tidak akan ada yang pergi!" potong Ha Na," Miss Lancy ... aku percaya padamu. Dia. Ada. Dalam. Kuasa. Mu. Miss. Lancy," kata Ha Na menekankan kata-katanya dengan menjeda setiap katanya yang terakhir lalu melirik dan menyeringai ke arah Emy yang sudah berdiri kaku dengan keringat dingin mulai keluar di dahinya


Emy menarik tangan Ha Na dan merengek meminta agar mereka tak menyentuhnya, tapi apalah daya, dengan kode Ha Na, 2 laki-laki gemulai menarik bahu Emy lalu mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya di meja rias besar dengan kaca-kaca yang sudah Ha Na siapkan kemarin malam.


Ketika Emy sedang duduk dengan menahan rasa untuk kabur, Tae Yang berdendang di dalam kamar mandi di mansionnya dan menggosok setiap bagian tubuh kekarnya. Ia terus membayangkan hal-hal yang sudah lama ia akan lakukan saat ia sudah menikahi Emy nantinya.


Lain dengan Tae Yang lain pula dengan si kembar. Kedua bocah itu terus berlari menghidari kejaran para pengasuhnya. Tawa mereka memenuhi seluruh kamar karena geli dikejar. Melihat wajah kelelahan dari kedua pengasuhnya, Mikha dan Micko tertawa terbahak-bahak.


Tapi, kebahagiaan itu berubah seketika, saat seseorang masuk ke dalam kamarnya.


" Hyojin!" Teriak keduanya serempak


Mikha menatap kesal ke arah bocah kecil bernama Hyojin itu, sedangkan Micko, ia sibuk merapikan bajunya dan tersenyum manis. Bahkan, wajahnya memerah ketika Hyojin tersenyum dan melihatnya.

__ADS_1


" Mikha, Micko, cepatlah mandi. Lihat itu, Hyojin sudah cantik, Daddy kalian juga sudah selesai mandi dan Mommy sudah mau selesai dirias. Ayo, cepat mandi!" kata Jung Hyuk.


Micko mengangguk dan mengikuti pengasuhnya. Matanya terus menatap Hyojin tak berkedip, melihat cantiknya gadis cilik itu. Tapi, sayangnya, Hyojin hanya melihat Mikha dengan pipinya yang bersemu merah. Padahal bocah lelaki itu menatapnya dengan tajam dan dingin.


" Uncle! Bawa dia kelual dali kamalku!" Titah Mikha lalu pergi meninggalkan Hyojin yang tertunduk dan Jung Hyuk yang mematung


" Ya, Tuhan. Tuan Muda mini. Semakin lama mereka semakin mirip saja, haduh ..." Gumam Jung Hyuk


" Ah, Hyojin-a ... paman antar keluar, ya?" Ajak Jung Hyuk. Gadis cilik itu mengangguk dan mengikuti Jung Hyuk pergi.


Setelah mengantar Hyojin kembali ke orangtuanya, Jung Hyuk menuju kamar Tae Yang


Tok ... Tok ...


" Masuklah!" kata Paman Ji, yang ternyata sudah berada di kamar Tae Yang untuk membantu Tuan Mudanya itu bersiap.


" Tuan Muda! Ini vitamin dan air madu Anda," kata Jung Hyuk menyodorkan gelas di tangannya pada atasannya itu. Tae Yang segera menghabiskannya dan tak lupa vitaminnya.


" Terima kasih, Hyuk!" ucap Tae Yang.


Jung Hyuk membeku. Paman Ji menaikkan alisnya.


" Daebakk! Apa dia benar Tuan Muda?" gumam Jung Hyuk.


" Kalau bukan aku, menurutmu aku hantu, begitu?" Tanya Tae Yang berbalik dan menatap asistennya, gumaman Jung Hyuk kecil, tapi ia masih bisa mendengar dengan baik. (Kemarin habis dari dokter THT 😋)


" Ah ... hahaha ... tidak-tidak, tentu ... tentu Anda adalah Yang Mulia Tuan Muda saya, hahaha ..." Jawab Jung Hyuk

__ADS_1


' Baru saja aku pikir dia berubah ... eh ... balik lagi sikap menyebalkannya!' kali ini Jung Hyuk mengucapkannya dalam hati, tapi tetap menampilkan senyum di wajahnya.


Paman Ji hanya menggelengkan kepala melihat kekonyolan asisten pribadi Tuan Mudanya itu


__ADS_2