Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Langkah Awal


__ADS_3

Tak terasa sudah lebih 8 jam Emy tertidur setelah menelan pil penenangnya. Kini ia merasa segar. dilihatnya jam diatas nakas.


" Ah...jam 2..hmm...berarti ini jam 3 pagi di Seoul. sudahlah aku akan telepon Hannah nanti malam aja." Emy bergegas mandi dan memesan layanan antar makanan dari ponselnya. ia juga membuka seluruh penutup furniture dan perabotannya yang berwarna putih itu.


Vacuum Robot sudah menyala, membantunya membersihkan lantai yang berdebu. Setelah makanannya tiba, Emy bersiap keluar untuk berbelanja kebutuhan sehari hari. Karena isi dapur dan kulkasnya kosong melompong.


Emy mengenakan sweater hitam dan celana


jeansnya, menyelempang tas LV putih hadiah dari Mei Xiang, kemudian turun dan siap belanja. Tak lupa ia ber selfie dulu, untuk mengirimkannya nanti pada Hannah. Ia tak bisa membiarkan temannya itu khawatir padanya.



Emy berbelanja segala kebutuhan sehari harinya lalu mampir ke sebuah kedai dan menikmati makan malamnya disana sembari menelepon Hannah dan mengirim foto selfienya tadi.


Cuaca mendung tak menyurutkan niat Emy, untuk mengecek kantor dan butiknya di Boston. Emy sudah berpakaian rapi dengan make up tipis, yang membuat kecantikannya lebih memukau.


Dengan percaya diri dia masuk kantor L'amour. Banyak orang tak mengenali Emy, karena memang Emy tak pernah mempublikasikan siapa dirinya.


Resepsionis menerima Emy dengan ramah. Emy berjalan mengeliling butiknya dan mengecek setiap display dengan teliti.


Sebagian besar adalah hasil rancangannya, dan sebagian lagi milik Marie. Emy tersenyum sinis, karena ia tahu, hasil rancangan Marie tak begitu laku terjual. Pelayan yang mengikuti Emy, terus saja menjelaskan setiap pakaian yang Emy pegang. Emy hanya mengangguk dan tersenyum.  Tapi pelayan itu masih ramah padanya. Hanya ada 2 orang pelayan saja yang kelihatan tak bersahabat.


" Nona, apa kau mau membeli atau hanya sekedar melihat lihat?"


" Nona, aku rasa sebaiknya anda pergi ke lain tempat, karena kami sangat sibuk kalau anda hanya melihat lihat saja."


" Ahh...sepertinya dia hanya berlagak kaya...cih..."


" Hahaha...jangan begitu, kasihan kan dia...dia pengen baju bagus tapi apalah daya, dompet tak mampu."


Perkataan-perkataan itu mengiringi langkah Emy, tapi tak pernah ia hiraukan. Emy hanya melihat badge nama mereka dan berpaling.


" Amanda! Tolong kamu kirim laporan penjualan kemarin ke ruanganku, sekarang!" Suara wanita yang sangat Emy kenali, memecah perhatian Emy pada baju yang ia pegang.

__ADS_1


Emy perlahan membalikkan badannya, dan melihat wanita berambut pirang, sedang sibuk memberikan pengarahan pada kasir. Dengan perlahan Emy mendekati wanita itu.


" Apa perlu kubantu?" Pertanyaan Emy berhasil membuat tangan wanita berhenti menulis sesuatu. Ia menegakkan badannya perlahan dan melihat Emy. Matanya membulat sempurna.


" Hei, nona! Emangnya kamu siapa, mau bantu bos kami segala...cih..." Lagi-lagi pelayan berambut panjang dengan rok mininya menginterupsi Emy. Emy hanya tersenyum dan tak mengalihkan pandangannya pada wanita berambut pirang.


" E ... emy???" Wanita itu terus melihat Emy dengan tatapan bingung.


Emy mengangguk tapi tak seperti dulu, dimana tangannya selalu terbuka lebar untuk memeluk wanita itu dengan girangnya, kali ini ia hanya berdiam dan memandang wanita itu datar.


" Hai Marie! Apa kabarmu?" Sapa Emy. Pelayan bernama Amanda terkejut dan melihat ke arah Marie.


Dan yang lain pun tak menyangka, jika wanita yang mereka hina tadi mengenal atasan mereka. Hanya pelayan yang ramah tadi yang tersenyum lebar dan mengelus dadanya


'syukurlah aku tidak kurang ajar tadi...fiuh'


" Ba ... baik. Emy ... oh Tuhan ... aku rindu padamu." Marie memeluk Emy dengan erat dan cipika cipiki, tapi tak ada balasan dari Emy. Marie mengacuhkan itu, walau dia juga merasa heran.


" Hei ... ayo masuk ... masuk ... hahaha ...aku tak menyangka kamu bisa juga kesini akhirnya, syukurlah," tawa canggung mengiringi ucapan Marie. Ia merasa takut, kalau kalau Emy sudah mengetahui semuanya.


" Apa kau betah disini?" Tanya Emy dan membuat sekretaris itu tersenyum dan mengangguk mantap.


" Iya nona, saya betah..." jawabnya polos.


" Hmm ... bisakah tolong ambilkan laporan soal progres tuntutan de Ma Vie padaku?" Pinta Emy lembut.


Marie menelan ludahnya dengan berat. Ia mengambil kopi yang tadi dibuatkan sekretarisnya untuknya.


'Oh ... dia pengacara baru, ya...' batinnya.


" Baik nona, tunggu sebentar." Jawab sekretaris itu lalu berdiri dan keluar ruangan Marie.


" Mm ... Emy, kau baru datang, apa kau mau langsung membahas itu? Jangan khawatir, aku akan menyelesaikannya."

__ADS_1


" Benarkah?" Emy mengambil kopi didepannya, dan tersenyum tipis, membuat jantung Marie berdegup kencang.


" I..iya tentu saja Emy, apa kau tidak percaya padaku? Aku pasti bisa menyelesaikannya untukmu..hmm?"


" Hahahaha...."


Tawa Emy memenuhi ruangan Marie. Sekretaris yang membawa berkas yang Emy mintapun, tak mengerti dan ikut tersenyum saja. Marie mengambil ponselnya dan mengetik pesan singkat disana.


Emy hanya tersenyum dan tampak tenang membaca berkas yang dibawa Sekretaris Marie.


" Namamu siapa?" tanya Emy tanpa mengalihkan perhatiannya dari berkas di tangannya.


" Ah ... saya Angela, Nona." jawab Angela dengan senyum. Marie menatap Angela tajam, dan membuat Angela bingung apa kesalahannya, sehingga Marie tampak marah padanya.


" Hmm ... baiklah, Angela. Kau boleh kembali ke mejamu." Emy meletakkan berkas yang dibacanya ke meja dan melihat Angela dengan senyum.


Angela keluar dari ruangan itu, dan keheningan kembali tercipta. Emy sudah duduk di kursi kebesaran Marie dan mengecek komputer. Marie hanya terdiam dan berdiri disamping Emy dengan cemas.


" Marie, apa kau tak capek berdiri?" kata Emy datar. Marie menjadi salah tingkah lalu beranjak dan duduk di sofa.


" Marie, terima kasih banyak buat kerjamu selama ini. Sekarang, aku akan menangani semuanya. Kau pulanglah, bukannya anakmu masih bayi? jagalah dia. Hmm ..." perkataan Emy membuat suasana hening menjadi tegang. Marie tak tahu harus menjawab apa. Lidahnya kelu.


" Aku akan mengambil alih jabatan ini. Jadi, mulai sekarang, Anda bebas nona Marie ...oh ya ... mmm ... sampai bertemu di ... pengadilan..." ucap Emy dengan tenang dan senyuman yang tak pudar, membuat mata Marie terbelalak.


" Kau ... kau apa maksudmu?"


" Mm...well, De Ma Vie, bukankah itu perusahaanmu dan Mike? atau .... apa aku salah?" alis Emy terangkat dan menunjukkan wajah polosnya pada Marie.


" Hahaha ... jadi kau sudah tahu, ya? ... hmm ... baiklah kalau begitu, bye!" Marie mengambil tas dan jaketnya lalu melangkah keluar.


Emy mengangkat Angela sebagai tangan kanannya, dan mengutus Angela untuk pergi ke Milan dan mengecek keadaan disana. Ia juga menyuruh Angela untuk segera membuat laporan.


Semua cabang L'amour yang ada diberbagai negara, diminta mengirim laporan penjualan dan laporan keuangan.

__ADS_1


Emy membuat shock seluruh pegawai L'amour di Boston. Pegawai yang ketahuan tak jujur dan tidak ramah terhadap pembeli, dipecat dan banyak sekali perombakan yang Emy lakukan, diawal ia mengambil alih usahanya.


__ADS_2