Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Kamu Siapa?


__ADS_3

Setiap orang memang punya masa lalu, namun juga punya kesempatan untuk kehidupan baru. - Anonym


" Dokter!"


Langkah dr. Madeline terhenti saat ada suara memanggilnya.


" Oh, Tuan Howland."


" Bagaimana keadaan Emy, Dok? " Tanya Luther cemas.


" Jangan kuatir, Tuan Howland. Nona Sie sudah sadar. Hanya saja..."


" Hanya apa, Dok?"


" Nona Emy kehilangan sebagian memorinya. ia hanya memiliki memori tahun 2013 dan sebelumnya. Bahasa medisnya Amnesia Anterograde." Jelas dr. Madeline.


" Apa? Oh, Tuhan. Apa lagi ini..." Gumam Luther.


Bahunya mendapat tepukan seseorang, membuatnya kembali tersadar.


" Ah, Baiklah. Terima kasih, dok." Ucap Luther lemas.


Dokter Madeline melihat Luther dengan cemas.


" Anda tidak apa-apa, Tuan Howland? "


" Ah, Tidak. Tidak apa-apa, dok. Terima kasih."


Dr. Madeline hanya mengangguk dan berlalu dari sana.


' Emy, kalau begitu dia pasti membenciku. Aku tak bisa melihatnya.." Luther menitikkan air mata. Ingin rasa hatinya memeluk gadis cilik yang kini telah menjadi wanita dewasa itu. Tapi, bila mengingat bagaimana Emy menolak untuk memaafkannya karena kesalahan fatal yang ia buat dulu, ia terpaksa mengurungkan niat hatinya.


Di suatu tempat.


Seorang laki-laki mengobrak-abrik ruang tamunya hingga tampak seperti kapal pecah. Diambilnya botol minuman haram yang teronggok di lantai dan menegaknya.


" Kurang ajar! Kenapa jadi begini?! Aaaa...."


Prannggg...


" Kenapa wanita itu bodoh sekali! Kenapa aku selalu gagal... Gagal... Gagal... Aaaaa..."


Rambut sebahu yang ia biarkan tergerai tampak acak-acakan. Tubuh bagian atas yang telanjang, menampakkan otot perut dan bidangnya dada yang ia miliki. Tapi, sayangnya ada banyak bekas luka menghiasi punggung dan perutnya.


" Emy, kau milikkuuuu! Hanya milikkuuu! " Teriaknya. Untunglah rumahnya berada di pinggir rawa. Sehingga ia tak memiliki banyak tetangga. Hanya ada sekitar 5 rumah saja disitu. Dan itupun sangat berjauhan.


Lebih dari 7 tahun ia tinggal di tempat itu. Segala macam cara ia pakai agar ia bisa mendekati wanita yang telah lama membuatnya penasaran untuk bisa menyentuhnya. Beruntung sekali, beberapa waktu lalu ia menemukannya. Tapi, ia harus puas walau hanya sedikit mencicip bibir manisnya karena wanita itu terus saja berontak dan memberikan cindera mata berupa goresan di pipinya dengan kukunya yg tajam.


Kriingg... Kriiing....


" Hallo!"


" Kau dimana? Kau sudah janji padaku, kalau kau akan membayarku. Sekarang, aku minta bayaranku! Kalau tidak, aku pastikan laki-laki tua itu tahu semua perbuatanmu!" Ancam seseorang di seberang telepon.

__ADS_1


" Jangan coba-coba mengancamku, perempuan sialan! Apa kau lupa, kalau aku juga bisa melaporkan perbuatanmu padanya? Dan, bisa aku pastikan hukuman yang akan kau terima. Hahahaha...."


" Dasar, Brengsek! Kau memanfaatkan aku!"


" Hei, jangan begitu, Nona. Kau juga sama. Kau memanfaatkanku! "


Tut..tut...tut..


Laki-laki itu melemparkan ponselnya ke sembarang arah. Ia berbaring di ranjang single bed miliknya dan memejamkan matanya.


-


-


Di rumah sewaan Tae Sang, keheningan memenuhi ruang tamu tempat 3 orang berbeda profesi itu duduk.


Kalev dan Evan berusaha mencerna semua perkataan Tae Sang tentang Emy dan Eva.


" Jadi, benar dugaanku. Emy dan Eva, mereka selama ini di hipnotis. Tapi, apa maksudmu kalau aku tanpa sengaja membantu Eva? Aku sama sekali gak pernah ngajarin Eva soal jadi dokter. Karena setelah aku harus menikah, aku jarang bertemu Eva. Aku hanya bertemu saat weekend aja." Ungkap Kalev tak mengerti.


" Bukankah kau yang akhirnya membuat Helena menjadi Eva dan meminta bibi Sofia untuk menerimanya? " Tanya Tae Sang menatap Kalev.


Kalev hanya mengangguk. Karena itu memang benar. Dia yang memohon Sofia untuk menerima Helena sebagai Eva, keponakannya.


" Iya, tapi... Apa hubungannya dengan kasus Eva dan Emy? "


" Untuk kasus Emy, aku belum bisa melihat hubungannya, karena aku masih menunggu laporan Byun Hyuk. Tapi, Eva..."


Lagi-lagi perkataan Tae Sang terpotong karena deringan ponsel Tae Sang dan Evan.


" Ya, dokter? " Jawab Evan pula pada peneleponnya.


" Benarkah?" Serempak keduanya berteriak dan saling memandang. Wajah mereka serentak berubah sumringah.


" Hei! Ada apa?" Tanya Kalev pada keduanya.


Evan dan Tae Sang menutup panggilannya dan bergegas keluar, tapi lengan Tae Sang ditahan oleh tangan kuat Kalev.


" Katakan, ada apa! "


" Emyku sudah sadar." Kata Tae Sang dan melepaskan pegangan Kalev.


Kalev tersenyum bahagia. Air mata menetes di pipinya. Ia masih mencintai wanita yang pertama kali ia kenal saat Simposium Dokter Internasional di Kanada, 6 tahun lalu itu.


Ketiga orang itu segera masuk ke dalam mobil Evan. Tanpa banyak bicara, Evan melajukan mobilnya dengan cepat. Ia ingin segera sampai dan melihat putri baptisnya. Demikian pula Tae Sang dan Kalev. Mereka ingin segera memeluk wanita yang menjadi primadona di hati mereka.


Setelah mobil Evan terparkir, Tae Sang dan Kalev pun melesat pergi, meninggalkan Evan yang masih belum sempurna memarkirkan mobilnya.


Tae Sang dan Kalev seakan berlomba berlari menuju ruangan Emy. Di sana, Luther tampak duduk dan memandang kosong pintu ruangan Emy.


" Luther! Emyku sudah sadar, kan?" Tanya Tae Sang antusias. Luther menatap Tae Sang dengan matanya yang berkaca-kaca lalu mengangguk.


" Tapi, kenapa kamu..."

__ADS_1


" Aku, gak papa, hanya saja... Aku takut Emy akan mengusirku. Kau masuklah. Aku akan menjemput si kembar..." Tanpa menunggu jawaban Tae Sang, Luther melangkah pergi.


" Ada apa dengannya?" Gumam Tae Sang. Tak menyadari jika Kalev telah mendahuluinya masuk untuk bertemu Emy.


ceklek


Tae Sang membuka pintu kamar rawat Emy. Hatinya tiba-tiba terasa sesak. Nafasnya mulai memburu. Ia begitu kesal melihat pemandangan yang tersaji di depan matanya.


Wanita yang ia cintai dan ibu dari anak-anaknya, sedang berpelukan erat dengan laki-laki lain, yang ia tahu, juga sangat mencintai wanitanya. Bahkan wanitanya itu juga menyeka air mata laki-laki itu.


" Ehem..hem.." Tae Sang berdehem dengan keras dan melangkah masuk kamar rawat Emy. Tangannya yang kuat mencengkeram kerah leher Kalev dan menariknya paksa agar menjauh dari tubuh wanitanya.


Walau tubuh Kalev tak berbeda jauh dari Tae Yang, tapi, kekuatan pimpinan Kimtae itu sedikit lebih besar darinya, karena Tae Sang adalah pemegang sabuk hitam Taekwondo, Jijitsu, Karate, dan jago Muay Thai.


" Hei! Ada apa ini?! " Desis Emy. Tangannya memegang erat tangan Kalev. Tae Sang bertambah geram melihat itu. Dengan segera ia menepis tangan Kalev lalu menyeret Kalev keluar ruangan Emy.


" Hei! Jangan egois!" Sergah Kalev.


Brakk!!


Tae Sang segera menutup pintu kamar rawat Emy kasar. Ia segera berbalik dan menatap Emy. Perlahan ia mendekati wanita cantik yang masih melihatnya heran. Senyum mengembang di bibir Tae Sang.


" Hai! Apa kau merasa lebih baik? Ada yang sakit, hmm?" Tanya bos Kimtae itu lembut seraya mendudukkan dirinya di ranjang dan menggenggam tangan mungil Emy, dan membuat wanita itu bingung. Ia merasa tak mengenal laki-laki tampan dengan body alamak di depannya ini.


" Ehm... hehehe.. Maaf, tapi... kamu siapa, ya?" Tanya Emy dengan wajah polosnya.


deg


Tae Sang tertegun. Ditatapnya netra jernih Emy. Tak ada kebohongan di sana. ' Apa dia sungguh lupa padaku? ' batin Tae Sang.


" Apa kamu sungguh lupa, aku ini siapa?" Tanya Tae Sang mengeryitkan alisnya. Emy menjadi salah tingkah mendapat tatapan dari lelaki berwajah bak dewa Yunani itu.


-


-


-


🍁🍁🍁


Wahh... siapa lagi laki-laki yang terobsesi dengan Emy itu, ya?


Dan, kasihan sekali Luther. Kesalahan apa yang sudah Luther perbuat? Bisakah Emy memaafkan Luther?


Apa ya, yang akan dilakukan Tae Sang, mengingat Emy lupa akan dirinya?


Haduuh... tambah penasaran, ya?


**Jangan lupa VOTE, LIKE, RATE n KOMENnya ya say... aku tunggu ya..


Makasih dari Author,


Rie

__ADS_1


😘😘😘🤗🤗🤗**


__ADS_2