
Di RS Hwangi, Yu Zhen masih belum bisa terlelap. Lukanya semakin terasa nyeri. Yu Zhen menekan tombol panggil di sebelahnya. Beberapa menit kemudian, seorang perawat datang menemuinya.
" Ya, Tuan?"
" Obat apa yang kalian kasih ke aku? Kenapa masih sakit sekali," kata Yu Zhen
" Kami memberi Anda suntikan Deklofenak dan salep Povidone iodine, Tuan."
Yu Zhen berdecak sebal, " tolong panggil dokter yang merawatku," kata Yu Zhen.
" Saya yang akan membantu Anda, Tuan." Tegas perawat sekitar 40-an itu.
" Ok, kalau gitu. Aku mau ganti suntikanku ke Kodein 50mg dan salep TAC! Apa Anda bisa melakukannya?" Sinis Yu Zhen.
Bukannya ia menolak ditangani perawat itu, tapi ia mau meminta dokter yang bertanggung jawab padanya mengganti resep yang ia pakai. Karena resepnya sama sekali tak berguna untuk luka-luka seperti dirinya.
Perawat itu terdiam. Ia melihat ekspresi kesal pasiennya itu.
" Tuan, apa Anda dokter? Apa Anda tahu kerasnya obat yang Anda sebut?" Ketus si perawat
" Saya dokter Yu Zhen dari RS Jiuzhaigou, Provinsi Sichuan, China." Jawab Yu Zhen.
" Hmm..baiklah saya panggilkan dulu," sahut perawat itu dan segera pergi dari sana.
Namun, sampai Yeol tiba malam harinya, perawat dan dokter yang dimaksud tak kunjung datang.
" A Zhen!" Panggil Yeol. Ia masuk bangsal tempat Yu Zhen di rawat.
" Yeol! Syukurlah kau datang. Tolong bantu aku, mereka hanya memberiku deklofenak dan salep Povidone iodine. Ini sakit sekali..." Gerutu Yu Zhen .
Dr. Lee terkekeh mendengar protes Yu Zhen. " Hei, bro! Manja sekali kamu..." Kata-kata dr. Lee terpotong dan matanya membelalak kaget ketika ia membuka selimut tipis yang menutup tubuh Yu Zhen.
" Oh..my...God! Yu Zhen! Siapa yang lakukan ini?" Dr. Lee memeriksa luka-luka yang ada di tangan dan kaki sahabatnya itu.
__ADS_1
" Tolong, suruh ganti ke Kodein 50mg dan salep TAC. Pleasee..Yeol...aku gak tahan...ini sakit sekali..." Rintih Yu Zhen. Rasa nyerinya semakin menjalar menjadi-jadi hingga membuatnya meneteskan air mata. Dr. Lee merasa kasihan melihatnya.
" Oke, sebentar.."
Dr. Lee keluar dan pergi ke pos perawat. Ia bertemu perawat yang menemui Yu Zhen tadi.
" Maaf, dimana dokter yang merawat pasien Yu Zhen di bangsal 3-C?" Tanya dr. Lee ramah.
" Anda keluarganya?" Tanya si perawat dengan santainya
" Ya! Mana dokternya?"
" Maaf, tapi dr. Hwang tidak ada di tempat," jawab perawat itu seraya bermain ponsel.
" Nona perawat! Tolong segera telepon dia," Tukas dr. Lee. Ia mulai geram dengan sikap perawat didepannya.
" Tuan, dr. Hwang sedang sibuk. Dia bukan hanya mengurus keluarga Anda saja..." geram perawat itu.
Dr. Lee mengambil ponselnya lalu menekan tombol panggilan cepat. Tak berapa lama ia sudah tersambung dengan seseorang.
" Hallo, dr. Hwang Do Hoon. Saya, dr. Lee Yeol," perawat itu menelan salivanya lagi. Ia tak menyangka lelaki di depannya mengenal pemilik rumah sakit dan juga seorang dokter.
' Tamat riwayatku, ' batinnya
" Saudara saya kesakitan di rumah sakit Anda karena luka sayatan yang cukup parah. Tapi, lucunya, anak Anda hanya memberi dia obat ringan dan salep biasa? Saudara saya sudah mengeluh masih merasakan sakit, tapi begini respon pegawai Anda? Seorang perawat dan dokter meremehkan keadaan pasien hanya karena dia datang seorang diri ke sini." Ungkap dr. Lee dengan kekesalannya. Ia tak mau melihat perawat yang sudah memohon maaf padanya.
Banyak orang mulai berkerumun di depan pos perawat itu.
" Saya mau, anak Anda segera datang ke rumah sakit ini, atau saya akan benar-benar mencoret nama putri Anda dari daftar kedokteran Korea!" Ancam dr. Lee sambil menutup panggilannya.
Bukan tanpa alasan ia bisa mengancam pemilik Rumah Sakit Hwangi, tempat Yu Zhen dirawat. Ia adalah ketua dewan asosiasi dokter Korea. Ia memiliki hak itu, karena terbukti Hwang Mi Rae melalaikan tugasnya.
***
__ADS_1
" Terima kasih, sayang. Aku sangat mencintaimu. Aku percaya, kamu juga sama," ucapnya lirih seraya menyingkirkan anak rambut di wajah cantik wanitanya.
Tae Yang berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi. Mengisi bath tub dengan air hangat dan aroma terapi. Ia kembali ke kamar dan mengangkat tubuh Emy lalu membawanya ke kamar mandi dan membasuhnya dengan lembut dan rasa cinta. Berulang kali ia mengecup bibir ranum ibu dari anak-anaknya itu dan membuat Emy menggeliat dan mengomel tak jelas karena merasa terusik.
Tae Yang tersenyum sambil mengangkat tubuh Emy dan mengeringkannya setelah ia duduk di atas pinggiran bathtub. Dibawanya kembali wanitanya ke kamar dan membaringkannya. Setelah menutup polos Emy dengan selimut, kembali ke kamar mandi dan membersihkan diri lalu menyusul calon istrinya ke alam mimpi.
Fajar telah lama menyingsing, saat sepasang bola mata terbuka sempurna. Ia merasa janggal dengan tubuhnya. Dibukanya selimut yang menghangatkannya. Matanya mengerjap tak percaya.
" Oh, Tuhan...aku...aku melakukannya....aaaahhhhhhhhhh"
Tae Yang yang baru kembali dari mengantar kedua putranya sekolah, berlari masuk ke dalam kamar.
" Ada apa, sayang?" Tanyanya panik. Ia melihat wajah Emy yang hampir menangis
" Ki-kita melakukannya?"
Tae Yang terdiam saat ia melihat wajah Emy. Rasa bersalah kembali menyeruak di dalam hatinya.
" E-Emy-a...a-aku..." Tae Yang terbata. Ia begitu merasa takut. Ia takut Emy masih belum menerimanya. Rasa cemas dan takut jika Emy bakal membencinya membuatnya meruntuk diri.
' Tae Yang! Kau bodoh! Seharusnya kau bisa menahan hasratmu!' batinnya. Matanya menatap Emy dengan rasa bersalah, takut, sedih.
" A-aku..aku tadi malam...aku..." Tae Yang berhenti berbicara, ia melihat Emy berjalan ke kamar mandi dengan selimut yang membalut tubuhnya.
" Oh, Tuhan. Apa yang sudah aku lakukan???" Geram Tae Yang pada diri sendiri.
Tak lama Emy keluar dari dalam kamar mandi dan menuju ruang ganti tanpa berkata apapun. Setelah mengganti pakaiannya, Emy melihat Tae Yang yang masih menunduk. Wanita itu mengambil ponselnya dan menelepon seseorang di balkon.
" Tae Yang-ssi," panggil Emy. Tae Yang menatap pasrah Emy. Ia sudah menguatkan dirinya dengan segala konsekuensi yang Emy berikan padanya.
" E-Emy-a..." Tae Yang menelan salivanya," a-aku minta maaf. Ti-tidak seharusnya aku melakukan itu padamu. Aku...aku bersedia melakukan apapun asal...asal kau jangan meninggalkan aku, hmm? Kau...kau sudah berjanji padaku. Ka-kau berjanji tidak akan meninggalkan aku. Emy-a...katakan...katakan apa yang harus aku lakukan...katakan, sayang...aku..aku pasti melakukannya..." Ucap Tae Yang terbata.
Kepanikan semakin membayanginya. Sosok laki-laki cuek, dingin dan berwibawa menghilang dari wajahnya. Emy tersenyum mendengarnya. Ia berjalan mendekati Tae Yang yang masih duduk di sofa kamar.
__ADS_1