Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Bukan Emy


__ADS_3

" Kita berangkat malam ini saja, Tuan Kim."


Tae Sang menyanggupi permintaan Eva dan menyuruh Han menyiapkan jetnya. Sampai di hotel, Eva dan Sofia kembali merapikan barang bawaan mereka lalu bertemu Tae Sang di lobby. Setelah dipaksa, barulah Eva bersedia makan malam lebih dahulu sebelum berangkat. Rasa makanan yang sangat lezat tak lagi dapat ia rasakan, mengingat apa yang baru saja ia alami.


Di dalam pesawat, Mikha dan Micko terus saja mengoceh bagaimana bahagianya mereka bisa berjalan-jalan. Lain halnya dengan Tae Sang. Ia masih memikirkan cara untuk mempertemukan kedua "Emy" dan mencari siapa yang asli atau benarkah keduanya adalah "Emy" palsu? Jika keduanya palsu, lalu apa tujuan mereka?


Tempat tidur yang nyaman tak lagi dapat membuat Tae Sang lelap. Si kembar sudah tertidur dengan Eva yang menina bobokan keduanya.


22 jam perjalanan sudah mereka tempuh. Kini pesawat Dreamjet Tae Sang telah sampai di Bandara Boston Logan International dan telah landing di landasan private jet, yang terletak beberapa kilometer dari bandara untuk umum.


" RS Boston Med!" Perintah Tae Sang. Eva dan yang lainnya hanya mengikuti. Selama perjalanan, Eva dan Sofia serta anak-anak terus memandang keluar jendela. Tak menyadari kejutan yang akan mengubah kehidupan mereka sebentar lagi.


Di RS Boston Med Center, Evan masih menunggui sang istri dan Luther menjaga Emy. Sementara Emilia, ia bersedia dititipkan ke Ms. Hill untuk beberapa hari dan akan datang ke RS saat siang.


" Emy, please wake up. Jangan seperti ini, hmm... Kita akan jalan-jalan kemana saja kamu suka. Tapi, tolong buka matamu." lirih Luther sambil memegang tangan Emy. Evan hanya sesekali menjenguk Emy karena ia pun tak bisa terlalu lama meninggalkan istrinya.


" Dokter, kenapa Emy belum juga bangun?" tanya Evan saat ia tanpa sengaja bertemu dr.Madeline. Dokter paruh baya itu menghela nafas dan menggeleng.


" Dia seperti tidak ingin bangun, Tuan Taylor. Dari hasil PET-Scan, tidak ada yang abnormal. Semua tampak baik-baik saja. Hanya saja, dari hasil EEG (EEG adalah sebuah pemeriksaan penunjang yang berbentuk rekaman gelombang elektrik sel saraf yang berada di otak yang memiliki tujuan untuk mengetahui adanya gangguan fisiologi fungsi otak ) ada aktivitas tak normal. Seperti kondisi seseorang saat takut." Jelas dr. Madeline.


" Takut?" Tanya Evan lagi. Dr. Madeline mengangguk.


" Jangan berhenti berharap. Mujizat masih ada, Tuan Taylor. Ah... Ehm... saya baru ingat.."


Evan menatap dr.Madeline yang juga menatapnya dan mengeryitkan dahi.


" Apa Nona Sie pernah mengikuti sesi hipnosis?" Tanya dokter berperawakan subur itu.


" Maksud dokter?"

__ADS_1


" Ah, saya hanya bertanya. Baiklah saya permisi dulu, Tuan Taylor."


Evan menatap kepergian dr.Madeline dengan ekspresi bingung. Dengan gontai ia kembali ke ruangan istrinya.


Tae Sang telah sampai di rumah sakit. Tanpa basa basi, ia menyuruh mendaftarkan Eva untuk check up beserta dengan kedua putra kembarnya.


" Untuk apa? Saya tidak apa-apa," protes Eva.


" Sudahlah, Eva. Gak ada salahnya, kan?" bujuk bibi Sofia. Akhirnya Eva menurut. Setelah menyerahkan kedua putranya pada perawat dan bodyguardnya, Lim, Tae Sang mendapat informasi dari Han, bahwa Emy juga dirawat disini dan saat ini sedang koma.


" Apa?! Dimana kamarnya?" Tanya Tae Sang pada Han. Tapi belum sempat Han mengatakannya, Tae Sang sudah lebih dulu berlari ke pos perawat.


Mendapat informasi dari perawat, Tae Sang segera pergi dan masuk dalam ruangan berdinding kaca di sisi luar dan peralatan medis di sisi kiri pintu masuk. Dengan gaun protektif (gaun khusus untuk pembesuk berupa jubah dengan tali/kancing di punggung) yang menutupi baju Tae Sang dari leher hingga setengah paha serta penutup kepala, Tae Sang mendekati bed Emy.


" Kau! Mau apa kau kesini?" Seru Luther setengah berbisik.


Tae Sang hanya melihat Luther sekilas. Ia melihat wajah Emy yang pasi, hati Tae Sang serasa terkoyak. Digenggamnya tangan kecil Emy yang terasa dingin.


" Kau boleh pergi sekarang." ucap Luther ketus tapi tak ditanggapi Tae Sang.


Drrtt...drrttt...


Tae Sang segera keluar dari ruang Emy, karena didalam ruang ICU sangat dilarang memakai ponsel. Karena dikhawatirkan gelombang elektromagnet handphone bisa mengganggu ritme kerja alat pacu-jantung.


" Hmm" Ucapnya singkat setelah menggeser tombil hijau di ponselnya.


"Tuan Muda, semua sudah siap." kata seseorang di seberang telepon.


" Bagus!" Tae Sang menutup panggilannya. Ia menatap wanita cantik yang kini hilang rona kemerahannya dan terbaring lemah di balik pintu kaca. Tak lama, ia masuk dan mendekati Luther.

__ADS_1


" Luther, apa kau bisa membantuku?" Tanya Tae Sang tanpa mengalihkan perhatiannya pada Emy. Alis Luther mengeryit menatap bos besar Kimtae dihadapannya.


" Membantumu? Sudah terlalu banyak bantuan dari keluargaku untukmu!" Jawab Luther ketus.


" Aku tahu, kau pasti akan berkata begitu. Baiklah, ikut aku. Aku mau perkenalkan kamu dengan seseorang." Tae Sang berdiri mengecup kening Emy dan beranjak dari ruang itu tanpa peduli tatapan geram Luther karena melihatnya mencium Emy.


" Ikut aku! Sebaiknya kau juga tahu hal ini." Tukas Tae Sang di depan pintu ruang Emy tanpa berbalik. Mau tidak mau, Luther akhirnya mengikuti langkah Tae Sang.


Di depan ruang tunggu, langkah Luther terhenti. Tubuhnya membeku. Matanya tak lepas dari wanita yang sedang tertawa bersama 2 anak kembar dan seorang wanita tua. Di depan lorong yang berlawanan, seorang laki-laki berbadan tegap, menunjukkan ekspresi yang sama seperti Luther.


Tae Sang melihat keduanya sejenak lalu berjalan santai mendekati wanita itu yang tak lain adalah Eva dan bibinya serta si kembar putranya. Kedua anak imut berwajah mirip Emy tapi bermata sama dengan Tae Sang berlari dan mendekap Daddynya dengan senyum yang menampakkan gigi susu yang berderet rapi.


Tae Sang berjongkok dan mensejajarkan tinggi dengan kedua putranya.


" Daddy, cadi Mikha pintal ndak angis...heee ( Daddy, tadi Mikha pintar gak nangis...heee)." Dengan suara cedalnya, Mikha membanggakan dirinya.


" Wah... Hebat dong anak Daddy!" Senyum Mikha kian melebar di pelukan Daddynya.


Tak mau kalah, Micko menarik wajah sang Daddy dengan tangan kecilnya agar melihatnya.


" Daddy, Micko cuga cama. Micko ndak angis-angis... (Daddy, Micko juga sama. Micko gak nangis-nangis...)"


" Daebak! Sinca?" Micko dan Mikha tersenyum lebar mendengar pujian dari Daddynya.


Tae Sang menggendong si kembar dan mendekati Eva. " Kau juga sudah selesai?" Tanyanya. Eva mengangguk dan tersenyum.


" Luther! Paman!" Panggil Tae Sang. Jiwa Luther dan Evan seakan kembali. Evan segera berjalan mendekati Eva dengan cepat.


" Emy! K-kau sudah bangun? Kau tidak apa-apa? Ada yang sakit?" Evan memperhatikan Eva dari atas kebawah dan memborbardir wanita itu dengan banyak pertanyaan, membuat Eva menatap bingung lelaki tampan yang terlihat begitu mencemaskannya.

__ADS_1


" Paman! Dia bukan Emy! Dia orang lain..." Ucap Luther tanpa melepas tatapannya pada Eva. Evan menoleh ke arah Luther dan melepas peganggannya pada bahu Eva.


__ADS_2