Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Perjuangan Emy (4) - Season 2


__ADS_3

Malam kian larut. Tapi, sepertinya si kembar masih tak lelah untuk melihat Mommynya bekerja.


Emy melihat jam di komputernya," Ya, ampuunn ..." Emy menoleh dan melihat kedua putranya masih asyik duduk dengan mata yang tak lepas dari layar monitor Emy dan tangan yang memegang roti roll.


" Sayang, kita harus tidur. Ayo!" Emy menurunkan Mikha dan Micko bergantian dari kursi lalu menuntun mereka kembali ke kamar. Membantu keduanya menggosok gigi, bercuci muka dan berganti baju.


Setelah memberi ucapan selamat malam dan mengecup Daddynya, Emy membawa keduanya ke kamar untuk tidur. Tak berapa lama, balita 5 tahun itu tertidur.


Hari berikutnya, seperti biasa setelah membersihkan diri, Emy memandikan dan menyuapi Mikha dan Micko, Emy menyeka tubuh suaminya dan memberikan sedikit terapi agar tulang dan otot syaraf Tae Yang tidak kaku.


Emy kembali berkutat dengan komputer ditemani 2 jagoan kecilnya.


Micko menarik tangan lengan Emy. Emy menoleh dan melihat anaknya itu. Micko menunjuk sebuah laptop di atas meja kerja Ayahnya. Ya, mereka saat ini berada di ruang kerja Tae Yang. Jung Hyuk membagi ruang kerja Tae Yang menjadi 2 sisi.


Sisi Emy dengan banyak komputer dan peralatannya, dan sisi Tae Yang hanya terdiri dari sebuah meja dan laptop dan juga rak buku.


" Micko mau pakai Laptop Daddy?" tanya Emy lembut. Micko mengangguk


" Baiklah. Sebentar Mommy ambilkan." Emy beranjak dari kursinya dan mulai melangkah. Mikha melihat bahwa Mommynya akan meminjamkan laptop pada adik kembarnya, mendekati Emy dan menarik lengan Emy. Bukan ibu namanya kalau tak mengerti tatapan memohon anaknya.


" Iya, sayang. Mommy akan kasih pinjam Mikha juga. Tunggu di sini, ya."


Emy berjalan mendekati meja kerja Tae Yang. Saat ia mengambil laptop, ia melihat laci meja sedikit terbuka. Emy menarik laci itu. Matanya berkaca-kaca melihat yang ada di dalamnya.


" Kau menyimpannya?" lirih Emy. Diraihnya kotak itu dan mengusapnya pelan. Ia masih ingat saat ia mengembalikan pemberian Tae Yang ini pada Jung Hyuk. Tapi, ia tak menyangka, bahwa Tae Yang masih menyimpannya dan tak menikahi Helena.


Saat akan mengembalikannya, ia melihat sebuah map tranparant dengan tulisan tangan Tae Yang. Emy meletakkan kotak di tangannya dan meraih map itu. Perlahan dibukanya map itu.


Matanya membulat sempurna. Satu tangannya dengan cepat ia gunakan menutup mulutnya. Air matanya lolos bebas di pipinya. Ia tak menyangka, suaminya sudah menulis surat wasiat. Dan dalam map itu adalah copy surat wasiat. Disana tertulis, bahwa dirinya adalah pemilik sah mansion dan 55% saham Kimtae. Dan tanggal yang tertera, membuatnya semakin tak kuasa menahan tangis. " 23 Mei 2013" artinya sebulan setelah kepergiannya dari Korea.


" Mommy ..."


Deg


Emy tertegun mendengar suara yang lama tak ia dengar. Perlahan Emy mengalihkan matanya ke asal suara.


" Mommy ..."


Tampak kedua putranya menghampirinya dengan mata yang berkaca-kaca.


" Mikha ... Micko ..." lirih Emy. Tangannya menutup mulutnya yang menganga.


" Mommy ... please, don't cly (cry)," pinta Mikha


" Yes, Mommy. Jangan nangis. Micko minta maaf." timpal Micko

__ADS_1


" Mikha ... Micko ... Oh ... huhuhu ..." Emy berjongkok lalu menarik tubuh kedua putranya dan menangis tersedu. Si kembar yang tak mengerti kenapa Mommynya menangis, ikut-ikutan menangis. Emy melepas pelukannya dan menghapus air mata kedua putranya.


" Kalian ... kalian sudah bisa bicara?"tanya Emy di sela isakannya.


Mikha dan Micko mengangguk serta mengigit bibir bawah mereka.


" Terima kasih, sayang. Terima kasih ...." Sekali lagi Emy menarik dan menciumi kedua putranya.


Mikha dan Micko menggeliat berusaha melepas pelukan Mommynya. Emy akhirnya melepas dekapannya.


" Mommy ... maaf. Mikha tidak jadi main komputel (komputer), Mommy jangan nangis lagi, ya?" pinta Mikha dengan wajah sendu dan bibir yang masih ditarik ke bawah.


" Em ... Micko juga,"


Emy tersenyum dan menghapus air matanya.


" Sayang, Mommy menangis bukan karena Mikha sama Micko minta main komputer. Tapi, Mommy ingat Daddy," jelas Emy


Mikha dan Micko saling menatap lalu kembali melihat Mommynya


" Iya, sayang. Mommy gak bohong. Mommy cuma ingat Daddy," kata Emy lagi meyakinkan kedua putranya.


" Mikha juga lindu (rindu) Daddy, Mom." kata Mikha sedih.


"Kalau begitu, kita sama-sama jaga Daddy dan berdoa supaya Daddy cepat kembali sama kita, ya?" hibur Emy


" Ini laptop Daddy. Micko boleh pakai. Mikha pakai punya Mommy, ya?" kata Emy seraya berjalan dan menempatkan laptop di meja tamu yang ada di ruangan itu.


Sebulan sudah Emy menyibukkan diri di ruangannya dan merawat suami serta kedua putranya di mansion keluarga Kim.


Matahari telah menghilang ketika Emy menyudahi pekerjaannya hari itu.


Emy meraih ponselnya dan menekan tombol angka di sana.


" Hyuk!" sapa Emy ketika panggilannya terhubung.


" Besok aku mau kau dan Hawk datang ke mansion,"


" .........."


" Hmm ... terima kasih,"


Emy mematikan komputernya dan menggeliat.


" Nak, terima kasih. Kau memang anak Momny dan Daddy yang hebat. Kedua kakakmu juga," ucap Emy seraya mengusap perutnya dilanjutkan menatap si kembar yang asyik dengan laptopnya.

__ADS_1


"Mikha ... Micko! Kita makan malam dulu, sayang." ajak Emy.


Keesokan harinya


Jung Hyuk dan Hawk sudah datang dan duduk di sofa tamu ruang kerja Tae Yang.


" Hyuk, Hawk!" sapa Emy dengan senyumnya.


" Kkamjagiya!!" seru kedua laki-laki itu.


Emy menautkan alisnya menatap keduanya.


" Kenapa? Ada apa?" tanya Emy dan menoleh ke belakangnya.


" Astaga, kenapa kembaran panda ada di sini?" celetuk Jung Hyuk tanpa sadar.


Hawk yang berada di sebelahnya pun mengangguk setuju dengan mata tak beralih menatap Emy.


" Hyung! tapi, panda yang ini cantik, apa boleh kalau kubawa pulang?..." timpal Hawk kemudian


" Hmm ... benar. Aku juga mau," jawab Jung Hyuk. Emy mengeraskan rahangnya saat ia mengerti maksud keduanya, karena mata mereka tak beralih darinya sedari tadi.


" Hyuk, Hawk! Bonus kalian aku potong!" seru Emy lalu melangkah lebar dan duduk di sofa.


" Hyung! Sepertinya aku mendengar kalau ... bonus kita dipotong ..." kata Hawk dengan mengedipkan matanya dan wajah yang masih seperti orang bodoh.


" Eoh! ... kau benar ... aku juga dengar," sahut Jung Hyuk.


Setelah beberapa saat,


" DIPOTONG?!!" pekik dua lelaki beda usia itu dan reflek saling menatap. Perlahan mereka mengalihkan mata mereka pada Emy yang masih menatap dan mengigit giginya sendiri serta bibir yang menipis.


" Nona Muda ... Anda bercanda, kan?"


" Bos ... biarpun Anda seperti Panda, tapi Anda tetap cantik, Bos. Jangan dipotong, ya bos?" ucap Hawk memohon dengan mengusap kedua tangannya di depan Emy.


Mata Jung Hyuk membulat dan perlahan melihat Hawk. Sedangkan Emy menutup matanya berusaha menetralkan Emosinya.


" Duduk!" perintah Emy


Jung Hyuk dan Hawk segera duduk di sofa. Mereka menatap Emy dengan serius.


" Fiuhh ... baiklah. Aku langsung saja. Ini, adalah CD software terbaru yang kubuat. Kita akan ke Berlin dan ikut kompetisi di sana. Hawk kau pelajari itu. Dan kau, Hyuk, persiapkan semua untuk perjalanan ke sana. Kita tak usah pakai jet. Kita pakai penerbangan komersial. Kita harus berhemat.


Aku juga sudah mengalirkan dana ke rekening Kimtae. Aku harap cukup untuk membayar gaji karyawan dan biaya Resort Yeosu," jelas Emy

__ADS_1


" Hah?!"


__ADS_2