
Sampai di Indonesia, pesawat yang membawa rombongan Emy landing di bandara Halim Perdana Kusuma dengan selamat, setelah sempat mengalami kendala karena cuaca buruk.
" Sayang, kita sudah sampai," ucap Tae Yang membangunkan istrinya yang masih terlelap dengan baby Migu di sampingnya.
" uhh ... jam berapa ini, sayang?" tanya Emy dengan suara serak khas bangun tidur
" jam 6 sore waktu Jakarta, sayang," jawab Tae Yang dan mengecup lembut bahu istrinya, sementara tangannya mengusap sayang pipi baby Migu
" Baiklah, ayo turun. Mikha Micko?"
" Aku akan bangunkan mereka," ucap Tae Yang dan sekali lagi mengecup bahu istrinya lalu beranjak turun dari ranjang menuju kamar si kembar.
" Hmm,"
Emy dengan malas turun dari kasur dan menyisir rambutnya. Setelah siap, ia segera mengambil baby Migu dan menggendongnya lalu berjalan keluar.
" Mommy!" panggil Micko dengan mata masih mengantuk berjalan ke arah Mommy dan memeluk kaki sang ibunda.
" Masih ngantuk, ya? apa tidur disini dulu, hmm?" tanya Emy
Micko menggeleng.
" Baiklah, ayo turun," kata Tae Yang sambil menggendong Mikha.
" Ji An, tolong gendong Micko, ya. Nanti dia jatuh, dia masih mengantuk," pinta Emy
" Baik, Nona,"
Tae Yang berjalan mendahului mereka untuk turun.
" Kapten! lusa kita akan ke Jawa Timur, tolong kau atur semua, ya?" pinta Tae Yang pada pilot yang membawa pesawat pribadinya.
" Baik, Tuan," jawab pilot itu seraya membungkuk diikuti 2 pramugarinya.
Tae Yang segera turun diikuti Emy dan Ji An. Beberapa meter dari Apron (tempat parkir pesawat), sebuah mobil Van hitam buatan jepang yang mendominasi otomatif Indonesia, sudah menunggu dengan seorang sopir asli Indonesia.
" Selamat datang, Tuan," sapa sopir yang berusia kira-kira 40 tahun itu dalam bahasa Inggris yang kaku.
"Hmm," sahut Tae Yang dengan sedikit menunduk dan membantu istrinya naik lebih dulu. Disusul Ji An kemudian dirinya sendiri.
Si sopir segera berlari ke posisi kemudi. Tak lama, mobil MPV mewah itu mulai berjalan maju.
" Siapa namamu?" tanya Tae Yang
" Nama saya, Iwan, Tuan," jawab pak Sopir bernama Iwan itu.
" Baiklah, antar kami segera ke hotel, ya?" titah Tae Yang
" Baik, Tuan,"
Mikha terbangun saat dalam perjalanan menuju hotel. Ia melihat sekeliling. Pemandangan yang asing buatnya. Ada kendaraan roda 3 berwarna biru dan hitam dengan kaca yang terlihat dari plastik, bis berwarna hijau putih, lalu ada juga bis berwarna orange dengan orang berteriak-,
teriak di pintu, sepeda motor yang begitu banyak, ia juga melihat beberapa tenda di pinggir jalan
" Daddy, ini dimana?" tanya Mikha yang sudah berdiri di pintu melihat keluar jendela.
" Ini namanya Jakarta, sayang," jawab Tae Yang
" Kenapa banyak sekali orang pakai tutup kepala, Dad?"
" Karena mereka naik motor. Jadi, harus pakai helm namanya."
" Dad, itu apa?" tanya Mikha menunjuk pada kendaraan roda tiga alias bajaj
" Kalau itu ... (Tae Yang menoleh melihat istrinya)"
" Namanya bajaj, sayang" sahut Emy. Walaupun ia lama tak kembali ke Indonesia dan baru pertama kali ke Jakarta, ia sering mengikuti perkembangan Indonesia dan berita-berita tentang Indonesia.
" Bajaj?" tanya Mikha
Emy mengangguk dan tersenyum
" Bajajnya lucu, Mom!" seru Mikha tertawa," Dad, aku mau naik bajaj!" seru Mikha
" Boleh, tapi setelah acaranya Mommy selesai, ya?" kata Tae Yang.
" Baik, Dad,"
Mikha terus melihat keluar dengan antusias.
" Dad! lihat itu, mereka sedang apa?" tanya Mikha.
Tae Yang mengerutkan alis melihat yang dimaksud putranya. Beberapa orang berderet mengacungkan jempolnya.
Emy pun mengedikkan bahunya melihat itu. Ia juga tak mengerti
" Pak Iwan! mereka itu sedang apa?" tanya Emy dalam bahasa Indonesia
__ADS_1
" Ah! Nona bisa bahasa Indonesia?" tanya Pak Iwan kaget.
" Saya orang Indonesia, Pak. Masa' bahasa sendiri saya tak tahu, hahaha..." Emy tertawa dan diikuti Pak Iwan. Tae Yang mengangkat alisnya.
" Mereka itu joki 3 in 1, Nona," jawab Pak Iwan
" Joki?" tanya Emy
" Iya, pemerintah memberlakukan kalau mobil harus mengangkut minimal 3 orang untuk mengurangi kemacetan, Nona. Jadi, mereka menawarkan jasa buat pemilik mobil yang hanya sendirian atau berdua agar tidak terkena sangsi," jelas Pak Iwan
Emy mengerutkan alisnya dan mengangguk-angguk
" Namanya Joki, sayang. Mereka mau ikut mobil yang penumpangnya kurang dari 3. Kalau penumpangnya cuma 2 atau 1 nanti dapat hukuman," jelas Emy dalam bahasa korea pada Mikha. Tae Yang mendengarnya mendelik. Ia baru tahu ada peraturan semacam itu
" Bukannya akan berbahaya kalau mereka mengangkut orang tak dikenal, Pak?" tanya Emy melanjutkan perbincangannya
" Entahlah, Nona. Walau sudah beberapa kali kejadian, tapi masih juga banyak yang memakai jasa mereka,"
Emy ikut melihat keluar. Baby Migu menggeliat dalam gendongan. Segera Emy membuka kain dan menaruhnya menutupi bagian depan tubuhnya untuk menyusui baby Migu
" Mommy, aku mau ikut seperti mereka, jadi joki!" seru Mikha dengan mata berbinar
Emy dan Tae Yang terkejut mendengarnya lalu tergelak bersama.
" Kenapa, sayang?" tanya Tae Yang
" Karena Mikha bisa naik mobil macam-macam ... hehe ..." jawab Mikha
" Hahaha ... kalau itu, tidak perlu harus jadi joki dulu, sayang. Daddy akan mengajak Mikha dan Micko jalan-jalan dengan semua mobil yang Mikha mau," kata Tae Yang
" Janji, Dad?"
" Janji!"
" Selesai acara Mommy, Daddy harus antar Mikha pakai mobil yang Mikha mau," kata Mikha
" Iyaaa ..." jawab Tae Yang dan mengacak rambut putranya.
Sebuah petualangan yang tak akan terlupakan oleh Tae Yang akan terjadi besok karena ulah kedua putranya.
***
Sampai di hotel, waktu sudah menunjuk pukul 9.30 malam. Kemacetan parah di Kota Jakarta memang luar biasa. Mikha dan Micko juga Ji An yang tak biasa dengan itu, menjadi sangat lelah. Mereka segera membersihkan diri dan beristirahat.
Emy sudah siap tidur, tapi ia masih belum melihat suaminya. Emy akhirnya kembali memakai kimono tidur dan mencari suaminya. Ia melihat suaminya sedang berbicara dengan seseorang di telepon dan tangannya terus mengepal dan rahang yang mengeras.
Emy mendekat dan menyentuh bahu suaminya. Tae Yang yang tak mendengar langkah istrinya berjingkat kaget.
" Sayang ... kau belum tidur? apa kau terganggu dengan suaraku?" tanya Tae Yang dan meraih tubuh mungil istrinya dalam rengkuhannya.
" Tidak, sayang. Hanya saja, aku tidak akan bisa tidur kalau tak ada suamiku yang tampan ini," ucap Emy dengan kepala ia letakkan di dada bidang suaminya
" Kau menggodaku, hmm?"
" Hahaha ... tidak, sayang. Aku benar-benar tidak bisa tidur kalau kau tak ada," jawab Emy.
" Baiklah, ayo tidur,"
" Tunggu!" Emy melepas pelukan suaminya dan menatap manik coklat suaminya.
" Ada apa? katakanlah! aku tahu sejak kau keluar kantor, ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku," ucap Emy lembut
" Tidak apa-apa, sayang. Aku bisa mengatasinya, percayalah," dalih Tae Yang lalu tersenyum dan mengecup bibir istrinya
" Tae Yang-ssi!" panggil Emy tegas
Tae Yang menghela nafas lalu duduk di sofa. Ia menepuk-nepuk sofa di sebelahnya agar Emy duduk dekat dengannya.
" Kemarilah,"
Emy patuh dan duduk di sebelah suaminya. Tae Yang mengambil nafas dan mulai menjelaskan
" Ada peretas yang masuk ke sistem keamanan rumah kita, aku sudah suruh Hawk mencari tapi belum tahu siapa. Lalu ..."
" Lalu?" Emy menaikkan alisnya
" Ada masalah dengan pembangunan Apartemen di Busan. Ijinnya dicabut karena tanahnya tak layak bangun. Terus di Jeju, hotel kita di sana ... ijinnya juga ditangguhkan." jelas Tae Yang dan mengacak kasar rambutnya.
" Dan tadi siang, sebelum kita berangkat, pihak NASA mengatakan kalau ia menyuruh kita mencari seseorang yang memecahkan sandi mereka. Dan ... IP yang mereka dapat ... berasal dari Mansion kita," lanjut Tae Yang dan menatap istrinya.
"Dari Mansion kita?" tanya Emy. Tae Yang mengangguk
" Tapi siapa?"
" Apa ... bukan kau, sayang?"
" Aku tak sempat membuka laptop setelah ada baby Migu, sayang," jelas Emy.
__ADS_1
" Fiuhh ... aku semakin pusing. Seperti ada seseorang yang sengaja mau menghancurkan kita. Aku juga baru dapat laporan, kalau ada seseorang yang berusaha menyelinap ke ruang superkomputer (ruang database/ruang inti dari semua sistem yang dipakai perusahaan) kita.
" Apa?!" seru Emy
" Aku sudah memasang firewall yang sangat ketat. Tapi, jika orang itu merusak dengan cara manual, percuma juga firewall kita. Kerugian kita akan sangat besar. Kita tak memiliki cadangan superkomputer lagi," jelas Emy kemudian
" Itulah, sayang. Aku menyuruh Jung Hyuk mencari orang itu dan menambah personel untuk menjaga.
Emy mengangguk," Asal tidak ada orang dalam, penyusup tidak akan bisa sampai masuk. Karena jika orang itu memaksa membuka pintunya, maka alarm akan berbunyi dan akan memicu perangkap yang kubuat," jelas Emy
" Sayang, apa kau bawa laptop?"
" Ini sudah malam," Tae Yang tak menggubris permintaan istrinya dan menggendongnya menuju ranjang.
" Sebentar saja. Aku mau cek. Sayaang ...." rengek Emy
"Hufff ... baiklah, baiklah. Sebentar saja," kata Tae Yang lalu berjalan mengambil laptopnya dari dalam koper
Emy menaruh laptop di atas pahanya. Dan mulai mengetikkan kode-kode yang rumit. Tae Yang terus melihat yang dilakukan istrinya dengan tangannya terus bermain di dalam baju sang istri.
Plash...
" Aah ..." seru Tae Yang
" Tae Yang-ssi! aku tidak konsen nanti. Jangan ganggu ah!" ketus Emy setelah memukul tangan suaminya yang terus bergerilya.
" Terus aku harus apa, sayang?" rajuk Tae Yang dengan bibir mengerucut
" Tidur!"
Tae Yang menghembuskan nafasnya lalu duduk di belakang istrinya dan memeluk perut Emy dan meletakkan kepalanya di bahu istrinya itu. Sementara, Emy terus berkonsentrasi melakukan sesuatu.
Setelah beberapa saat berkutat dengan laptopnya,
"Bingo!" seru Emy tiba-tiba. Tae Yang yang mulai tertidur melonjak kaget, hingga kepalanya terbentur kepala tempat tidur
" Auww ... uffff ... uhhh .... sayang!" rintih Tae Yang. Emy tergelak melihatnya.
" Kamu senang sekali setiap aku terluka,"
" Hahaha ... karena kau sangat lucu, suamiku. Hahaha ...." Emy terus tertawa geli
" Ish .. sudah, sudah ... ayo tidur," kata Tae Yang dan mengarahkan tangannya hendak menutup laptop Emy
" Tunggu! aku sudah dapat peretas sistem keamanan rumah kita dan juga ... yang sudah memecahkan teka-teki NASA." ujar Emy menghentikan tangan suaminya
" Benarkah? Siapa?" tanya Tae Yang
" Kita tidur dulu. Besok aku akan memberitahumu." kata Emy enteng dan membereskan laptopnya. Tae Yang membulatkan matanya. Ia seperti diberi iming-iming hadiah namun saat akan mendapatkannya, hadiah itu kembali ditarik.
" Sayang ..." rengek Tae Yang. Tapi Emy sudah berbaring dan menutup mata. Terpaksa lelaki itu harus mengalah saat ini.
Malam itu, ranjang aman tak bergoyang sendiri. Karena keduanya sudah kelelahan dalam perjalanan. Tae Yang menarik tubuh istrinya dalam pelukannya dan masuk ke alam mimpi
***
Di suatu tempat di Seoul
" Bagaimana? apa kau berhasil?" tanya seorang laki-laki berbadan besar dan tinggi
" ........."
" Pakai cara lain. Aku mau dengar laporan kau berhasil besok malam," ucapnya dingin lalu menutup panggilannya dan melempar ponsel ke atas ranjang di belakangnya. Kepulan asap rokok keluar dari bibir lelaki itu
" Tae Yang! tunggu pembalasanku. Kau akan kubuat menyesal karena mengusik keluargaku," kata lelaki itu dingin.
" Hahahaha ....." tawa yang membuat orang begidik mendengarnya memenuhi kamar dengan pemandangan Sungai Han yang indah.
-
-
-
Hmm ... siapa ya laki-laki itu?
Berhasilkah Tae Yang mengatasi permasalahannya?
Tinggal beberapa episode .... terus dukung ya say ...
LIKE, VOTE n KOMEN
Salam dari Author amatiran,
Rie
😘😘🤗🤗
__ADS_1