Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Nyonya Kim


__ADS_3

" Maaf, saya... Saya sungguh tidak mengenal Anda. Saya hanya ingat kejadian sebelum tahun 2013 saja. Maafkan saya. Maaf, kalau saya menyinggung Anda. " Ucap Emy tulus.


' Tuhan, apa ini kesempatan yang Kau beri untukku menebus kesalahan-kesalahanku padanya? ' Lirih Tae Sang dalam hatinya tanpa melepas tatapannya pada Emy.


" Tuan, Tuan!" Panggil Emy


" Ah, maaf. Aku, Kim Tae Sang, suamimu." Jawab Tae Sang sambil tersenyum hangat lalu memeluk tubuh Emy yang terasa begitu kecil dalam dekapannya.


" Su-suami?!" Mata Emy membulat. Tubuhnya kaku terdiam dalam pelukan.


" Iya, sayang. Aku suamimu. Maafkan aku, maaf. Jangan tinggalkan aku dan anak-anak kita lagi. Aku mohon. Maafkan aku..." Ucap Tae Sang tanpa melepas pelukannya.


Emy masih terdiam mencerna setiap perkataan laki-laki yang mengaku sebagai suaminya.


" Anak-anak? Aku sudah punya anak?" Gumamnya. Dengan paksa Emy melepas pelukannya.


" Tu-tuan, kau bilang 'anak-anak' ?" Tanya Emy lagi .


Tae Sang menakup kedua pipi Emy dan menatap wanita itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca dan tersenyum.


" Iya, sayang. Anak-anak. Anak-anak kita. Buah cinta kita..."


Lagi-lagi mata cantik Emy membulat. Mulutnya menganga tak percaya.


" Tuan, kau suamiku dan aku punya anak? " Tae Sang mengangguk. " Apa kita saling mencintai? " Dan kepala laki-laki itu mengangguk mantap.


' Maaf, aku harus berbohong padamu. Ini adalah kesempatanku. Aku hanya ingin menebus kesalahanku. Aku sangat mencintaimu, Emy, ' batin Tae Sang.


" Oh, maafkan aku. Aku..."


" Sstt... Aku yang banyak salah padamu, sayang. Aku yang harusnya minta maaf. Aku akan menebus semua kesalahanku dulu padamu. Sejak kau pergi, aku merasa tak punya lagi kehidupan. Tapi, kedua putra kembar kita membuatku hidup. Dan sekarang, saat aku menemukanmu, ini adalah mujizat kedua yang Tuhan sudah beri buatku. Jadi, jangan pernah minta maaf padaku. Karena semua terjadi karena kebodohanku. Aku sangat mencintaimu, Emyku. Sangat amat mencintaimu, ratuku." Ucap Tae Sang. Air matanya menetes. Emy tertegun mendengar setiap ucapan laki-laki itu. Reflek tangan kecil Emy mengusap lembut pipi Tae Sang yang telah basah dengan air mata.


" Aku, aku akan berusaha mengingatmu. Aku janji. " Kata Emy tulus.


Tae Sang menggeleng. Kembali direngkuhnya tubuh Emy dan mengecup keningnya.


' Jangan dulu, sayang. Biarkan aku memenangkan hatimu. Barulah kau boleh mengingat semuanya. Aku egois, karena aku tak mau kehilanganmu lagi. '


" Tidak usah dipaksakan, hmm? "


" Emm... Aku tak bisa nafas."


" Oh, maaf. Kau tak apa-apa? " Tae Sang memeriksa tubuh Emy yang tak mandi selama 3 hari itu tanpa rasa risih.

__ADS_1


" Hahaha... Kau tadi memelukku terlalu erat," Tae Sang memandang wajah cantik Emy. Perlahan didekatkannya wajahnya dan membuat mata indah Emy berkedip cepat. Saat bibir mereka hendak beradu...


Puk


Tangan lembut Emy menyambut wajah Tae Sang.


" Ehm, maaf. Aku... Aku belum..."


" Iya, aku mengerti. Aku tidak akan memaksamu, sayang. " Sahut Tae Sang seraya memegang dan menyingkirkan tangan Emy yang menutup wajahnya dan mengecup tangan putih nan lembut itu berulang-ulang.


***Tok...tok...


Ceklek***


Pintu ruang rawat Emy terbuka. Seseorang yang sangat Emy rindu menyembulkan kepalanya.


" Paman! Paman Evan!" Seru Emy. Wajahnya sumringah, gigi yang belum disikat selama 3 hari itu berderet rapi terlihat karena lebarnya senyum yang ia kembangkan.


Evan segera masuk dan memeluk anak baptisnya itu. Dikecupnya berulang kali kepala Emy. (Entah bagaimana baunya karena sudah 3 hari tidak keramas...hihihi)


" Kau sudah bangun, nak? " Evan mengusap wajah Emy dan matanya terus mendeteksi setiap jengkal wajah dan tubuhnya. Tangannya menarik paksa Tae Sang untuk berdiri lalu duduk di ranjang Emy menggantikan Tae Sang. Bos Kimtae itu mendengus kesal tapi tak mungkin melawan seorang Evan yang nota bene paman dari kekasih hatinya.


" Iya, paman. Aku tidak apa-apa, " ujar Emy penuh semangat.


" Ah, ada yang ingin bertemu denganmu, sayang."


Ceklek


Seorang wanita diatas kursi roda dengan 2 anak laki-laki dan di dorong seorang laki-laki yang juga dikenal Emy, masuk dan mendekati bed rawatnya.


" Mommy! " Teriak kedua anak laki-laki itu. Keduanya segera berontak meminta turun. Emy tertegun. Tak menunggu lama, keduanya berlari dan mendekat lalu merentangkan tangannya ke arah Evan. Evan tersenyum lalu mengangkat kedua anak itu bergantian sehingga keduanya kini berada di atas bed Emy.


Emy yang melihat itu hanya terdiam namun bibirnya tersungging senyum menawan.


" Mommy, mommy cudah cembuh (Mommy sudah sembuh)? "


" Mommy, cudah gak cakit agi ( Mommy, sudah gak sakit lagi)? "


Mikha dan Micko bergantian bertanya dengan antusias pada Mommynya. Emy tersenyum dan memandang Evan dan Tae Sang bergantian. Keduanya mengangguk.


" Ya, sayang. Mereka anak-anakmu. Mereka selalu menanyakanmu. " Ucap Evan tersenyum.


" Iya, nak. Mommy sudah lebih baik. Kalian tidak mau memeluk mommy? " Kata Emy lembut pada si kembar. Keduanya tersenyum lebar dan langsung memeluk Emy. Isak tangis mewarnai ketiganya. Cukup lama mereka berpelukan dan berulang kali Emy mencium mereka. Entah, mungkin naluri seorang ibu. Emy begitu terharu saat ia mendengar anak-anak memanggilnya "Mommy", bahkan hatinya terasa sakit saat mendengar si kembar menangis.

__ADS_1


" Mommy, Mikha lindu (Mikha rindu), mommy. Hiks...hiks..." Isak Mikha. Micko masih menangis tapi ia juga mengangguk ketika mendengar ucapan kakaknya.


" Maafkan mommy, anak-anakku sayang. Sebentar lagi, mommy bisa sama Mikha dan..." Emy mendongak. Seakan matanya bertanya "Siapa nama anak ini?"


" Mikha... Micko." Bisik Tae Sang sambil menunjuk kedua putranya satu-satu.


" Mommy sebentar lagi bisa sama Mikha dan Micko lagi, seneng gak? "


Mikha dan Micko melepas pelukannya dan mengangguk bersama. Keduanya mencium kedua pipi Emy.


" Mommy, mommy bau obat! " Celetuk Micko.


" Bialin! Mommy balu cembuh, ini lumah cakit jadi bau obat. ( Biarin! Mommy baru sembuh, ini rumah sakit jadi bau obat.)! " Bela Mikha.


Emy tersenyum mengusap kedua kepala kecil yang masih duduk di pangkuannya. Badan keduanya yang berat membuat kedua kaki Emy mulai kram.


" Ehem...ehem... Sepertinya kau sudah lupa sama aku, aku pergi aja deh!" Emy tersadar kalau ia belum juga menyapa sahabatnya.


" Hannah! Jangan, jangan pergi!"


Tae Sang mengambil kedua putranya dari pangkuan Emy dan menempatkan keduanya di sisi kanan dan kiri Emy, setelah Emy memposisikan diri di pinggir bednya. Evan pun mengalah lalu berdiri dan membantu istrinya turun kursi roda untuk memeluk Emy.


Keduanya saling berpelukan dan terisak. " Emy, jangan pergi lagi, ya. Aku mohon. Kau dan Evan juga anak-anak adalah nafasku. Satu dari kalian tak ada, aku gak tahu apa yang terjadi nanti sama aku." Oceh Hannah.


" Hmm... Maaf!"


Setelah melepas pelukannya, kini mata Emy tertuju pada Luther yang sedari tadi terus menatapnya.


" Ehm, aku... Aku pergi dulu."


" Tunggu!" Seru Emy. Luther yang akan berbalik reflek berhenti lalu melihat Emy.


" Luther, aku belum bisa memaafkanmu sepenuhnya, tapi... Beri aku waktu.... Dan terima kasih. Berkatmu aku masih bisa hidup sekarang."


Luther mengangkat alisnya menatap Emy. " Kalev yang bilang, kalau kau yang sudah donor darah buat aku. Terima kasih, ya. "


Luther hanya bisa tersenyum getir dan mengangguk lemah. Evan dan yang lainnya mengedikkan bahunya tak mengerti.


***Tok... Tok..


Ceklek***


Seorang perawat masuk membawa kursi roda.

__ADS_1


" Maaf, saatnya pindah kamar, Nona Sie. " Emy mengangguk.


" Ehm, panggil dia Nyonya Kim. Dia istriku! " Interupsi Tae Sang. Evan dan yang lainnya melotot, demikian pula Emy.


__ADS_2