Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Gempa Bumi Lokal - Season 2


__ADS_3

Rumor Emy sebagai pelakor dan mantan narapidana terus menyeruak seiring bertambahnya popularitas Kimtae. 3 bulan lalu, Luther sudah membantu menyelesaikannya, dengan menghapus semua artikel dan menuntut media yang menyebarluaskan.


Tapi, entah kenapa, sejak naiknya pamor Kimtae Group di kancah dunia bisnis, berita miring itu kembali mencuat. Bahkan, saat ini para wartawan dengan berani dan terang-terangan mengangkatnya dalam acara-acara TV.


Emy tersenyum mendengar dr. Lee. Ia tahu lelaki itu mencemaskannya.


" Rumor ... apa, sayang?" tanya Tae Yang


" Tidak apa, hanya orang-orang yang tak suka dengan kita saja, Honey. Aku akan membereskan mereka nanti," kata Emy sambil menatap suaminya.


" Tidak. Aku yang akan melakukannya. Maafkan aku ... aku terlalu lama tertidur, sampai kau mengalami hal buruk dan aku ... belum juga bertindak untuk melindungimu," ucap Tae Yang penuh penyesalan.


" Wah ... ternyata kau sadar juga," sarkas dr. Lee.


Emy menepuk lengan dr. Lee dan menatapnya tak suka. Dokter Lee hanya menatapnya jengah. Ia membereskan peralatannya dan kembali melihat pada Tae Yang


" Cepatlah pulih dan lindungiku adikku. Dia sudah terlalu lelah. Kandungannya sudah membesar, sudah saatnya ia istirahat," kata dr. Lee seraya menepuk kaki Tae Yang.


Tae Yang tersenyum tipis dan mengangguk.


" Pasti," sahut Tae Yang.


Setelah kepergian dr. Lee, Emy membawa nampan berisi mangkuk bubur pada suaminya.


" Honey, saatnya makan,"


Tae Yang mengangguk dan menerima suapan demi suapan dari istrinya dengan senyum. Ia harus puas dengan bubur encer dengan ayam giling dan telur yang sudah dihaluskan.


" Sayang ... apa maksud ... Mikha dan Micko? Kamu pergi kemana?" tanya Tae Yang yang sudah tidak dapat lagi menahan rasa ingin tahunya.


" Aku ... ikut kompetisi IT Internasional di Berlin," kata Emy


" Kompetisi IT? Kenapa harus kamu?"


Emy akhirnya menceritakan semuanya dari awal hingga akhir. Hanya menyisakan tentang dirinya yang hanya tidur 2-3 jam setiap harinya untuk menyelesaikan produk buatannya dan bagaimana ada yang berencana mencelakakan atau menculiknya. Ia tak mau menambah rasa bersalah suaminya.


" Maafkan aku, sayang. Aku ... Aku tak menyangka mereka begitu cepat berubah dan berpaling tak mendukungku lagi hanya karena hasutan dan rumor,"


Benarkan? Emy hanya menceritakan soal pemegang saham dan investor, tapi rasa bersalah lelaki itu kembali menumpuk.


" Honey, jangan pikirkan mereka. Yang penting sekarang semua sudah baik-baik saja, hmm?" hibur Emy.


Tae Yang menatap istrinya dengan rasa bahagia, bersyukur dan rasa bersalah.

__ADS_1


" Emy-a ... aku sungguh beruntung menjadi suamimu," kata Tae Yang


Emy menaikkan alisnya dan tertawa renyah. Ia mengusap lengan suaminya dan kembali memeluknya erat dan manja.


" Ehmmm ... makanya, jangan tidur lama-lama. Jadi, kamu bisa lihat, kalau istrimu ini juga bisa jadi singa betina buatmu," ucap Emy dengan manja.


Tae Yang terkekeh dan mengecup puncak kepala istrinya yang bersarang nyaman di dada bidangnya.


" Sayangku kok jadi manja gini, hmm? ... jadi pengen kumakan ..." goda Tae Yang.


Tanpa ijin dan basa-basi, Emy melepas pelukannya lalu naik keatas bed rawat Tae Yang dan berbaring di sisi suaminya, tak menghiraukan tatapan kaget suaminya.


" Kenapa? Gak boleh?" tanya Emy dengan mata memicing.


Brukk


Tae Yang dengan segera menarik pinggang Emy dan memegangnya erat. Tangan yang masih tertancap jarum infus, menarik tengkuk Emy dan ******* bibir ranum istrinya. Emy bersusah payah menahan agar perutnya tak terjepit badannya dan suaminya.


Sepertinya, Tae Yang akhinya menyadari akan hal itu dan melepas tangannya. Emy menepuk dada Tae Yang dengan kesal (tapi mau)


" Kau itu ... lupa ya, kalau ada anakmu di dalam sini?" rajuk Emy.


Tae Yang terkekeh melihat wajah mengemaskan istrinya yang baru ia lihat. Tangannya mencubit hidung Emy karena gemas.


" Hahaha ... habis kamu bikin aku gemes aja, sayang,"


Emy mengatur posisinya memunggungi Tae Yang lalu menarik lengan kekar suaminya agar memeluknya. Tae Yang segera mengubah posisinya menjadi miring dan memeluk istrinya. Tangan besarnya terus mengusap perut buncit ibu Anak-anaknya itu, hingga membuat Emy tertidur pulas.


Tae Yang mencium bahu Emy dengan lembut berulang-ulang. Nafas Emy yang teratur menunjukkan wanitanya sudah tertidur. Tae Yang terus menatap istrinya dan menciuminya. Hatinya begitu bahagia bisa kembali ke sisi istrinya lagi, setelah jiwanya berkelana tak tentu arah.


Sang surya sudah lama naik menghangatkan bumi, tapi dua insan masih saja tertidur dengan lelapnya di balik selimut tebal berwarna krem dengan bordir indah tersulam


Brakkk ...


( suara pintu dibuka kasar)


"Daddy!! Nooooo!!!"


"Mommy!!"


Jeritan dua bocah dengan wajah identik membuat dua manusia di atas bed pasien tersentak kaget. Hampir saja Emy terjatuh. Beruntunglah, Tae Yang memiliki reflek yang sangat baik, sehingga dapat menangkap tubuh istrinya, hingga membuat jarum infus ditangannya terlepas dan meneteskan darah.


" Huuaaaa .... Daddyyy!!"

__ADS_1


" Daddyyy!!!"


Pekik dua bocah itu ketika mereka melihat tetesan darah mengalir di tangan Daddynya.


Emy segera turun dari bed rawat Tae Yang dan menghampiri si kembar.


" Shushh ... shushh ... cup, sayang. Jangan nangis lagi, ya? Biar Mommy bantu Daddy, hmm?" bujuk Emy pada kedua putranya sambil mengusap air mata keduanya. Sementara, laki-laki besar yang dikhawatirkan 2 pria kecil itu terus memanyunkan bibirnya.


Emy berdiri dan kembali melihat suaminya.


" Kenapa? kok lihatnya kayak gitu? terus bibirnya lagi, kok kayak bebek?" tanya Emy heran


" Ishh ... gak peka!" ucap Tae Yang ngambek


Emy menggelengkan kepala melihatnya. Tangannya dengan cekatan dan hati-hati membantu membersihkan darah pada bekas infus Tae Yang.


" Oh ... aku sudah bisa tanpa infus?" tanya Tae Yang


" Kau sudah bisa makan, jadi tidak perlu lagi. Obat akan aku kasih oral aja ..." jelas Emy


" Apa sayang? oral? hmm ... aku suka itu," kata Tae Yang dengan menaikan kedua alisnya. Emy memutar bola matanya. Ia mengerti arah pikiran suaminya


" Mommy! apa itu olal (oral)? " tanya Mikha. Melupakan tujuan mereka berteriak memanggil orangtuanya saat masuk tadi.


" Oral itu lewat mulut, sayang," jawab Emy


Mikha mengangguk-angguk. Micko yang memakai stetoskop Mommynya, mulai dengan tingkahnya memeriksa setiap objek yang ada di sekitarnya, seolah-olah mereka adalah pasien.


" Oh ... Mommy! kata uncle Hyuk, juniol (junior)nya suka kalau di olal( oral) sama Aunty Dal Lae (Dal Rae - istri Jung Hyuk)," celetuk Micko. Di saat bersamaan, Jung Hyuk baru saja melangkah masuk ke dalam kamar rawat Tae Yang


Uhuk ... uhuk...


Prangg ..


Nampan kecil almunium tempat Emy menaruh kapas dan kasa steril terjatuh.


Mata Emy dan Tae Yang sudah melotot menatap kedua putranya. Nafas mereka seakan berhenti.


" Ehm ... saya ... akan kembali lagi ... nanti," ucap Asisten Tae Yang, Jung Hyuk dan berjalan dengan cepat.


Dengan nafas menderu, dan mata masih melotot, Tae Yang dan Emy melihat ke arah pintu.


" JUNG HYUUUUKKK!!!"

__ADS_1


Teriakan menggelegar 2 sejoli bersamaan, seakan gempa bumi kembali melanda. Ya, gempa bumi lokal.


__ADS_2