
" Yeobo! Beri dia Saline dan dextrose 5% dan setengah saline dan glucosa 5% untuk Micko," lanjutnya
Na Ae Rim mengangguk. Malam itu, perawat Na dan dr. Lee bergantian menjaga Emy dan Micko. Keesokan harinya, saat Emy membuka mata, dr. Lee memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.
Emy menceritakan semuanya pada dr. Lee dan meminta agar tidak membawanya ke rumah sakit. Ia takut bertemu dengan rekan orang itu. Emy juga memeriksa Micko.
" Mommy...huhuhu..atit(sakit)...pelut Micko atit, mommy (perut Micko sakita, mommy)." Rintih Micko
" Iya sayang. Mommy periksa sebentar ya, nak." Sahut Emy lembut.
" Sayang, apa Micko pusing?" Tanya Emy. Micko mengangguk dengan bibirnya mencebik karena masih menangis.
Hoeek...hoekk
Byurr...
Micko tiba-tiba bangun dan memuntahkan isi perutnya lalu menangis. Emy segera menggendong putranya, sementara perawat Na membersihkan muntahan Micko di kasur.
Emy membawa Micko ke kamar mandi. Di sana, balita itu kembali memuntahkan isi perutnya. Tapi, hanya mengeluarkan cairan karena semua isi perutnya telah terkuras habis akibat muntah tadi. Micko kembali menangis karena rasa sakit pada perutnya.
" Oo...sayangnya mommy. Cup cup, sayangku...kalau nangis terus nanti tambah sakit perutnya, nak." Bujuk Emy seraya menyeka tubuh putranya dengan air hangat dan segera mengeringkannya kembali. Ia membungkus tubuh Micko dengan handuk dan menaruh baju kotornya di washtafel untuk ia cuci nanti.
" Mommy, Micko mau daddy...hiks...hiks.."
" Iya, sayang. Nanti biar Yeol samcun (paman dalam bahasa korea) telepon, ya," kata Emy sambil memakaikan baju milik Eun Yi yang tadi disiapkan Ae Rim di kasur pada Micko.
" Hah?! Kok aku?" Tanya dr. Lee tiba-tiba. Ia baru saja menyiapkan sarapan untuk semuanya dan bermaksud memanggil Emy dan Micko.
" Oppa-a..." Emy mulai dengan aegyonya (tindakan dengan menggunakan kata-kata dan gesture tubuh yang lucu)
Dr. Lee menghela nafasnya dengan berat. Perawat Na menahan senyumnya melihat suaminya yang selalu luruh jika dirinya melakukan itu padanya, betapapun ia marah atau tidak menyukainya.
" Arraseo...arraseo (Baiklah). Jangan lakukan itu lagi.." Jawab dr. Lee
Emy hanya nyegir kuda menanggapinya.
" Mommy! Mommy cepelti anak kecil ata..." Celetuk Micko. Tawa perawat Na pecah mendengar suara lucu Micko ditengah-tengah isakannya karena sakit.
" Nona Na," panggil Emy
__ADS_1
" Ae Rim! Panggil saya Ae Rim, Nona Sie." Sahut perawat Na tersenyum. Emy ikut tersenyum
" Baiklah. Kalau begitu panggil aku, Emy. Sama seperti Kyong oppa, hmm?"
Ae Rim mengangguk dan kembali tersenyum.
" Ah, iya...Emy ponsel orang itu sudah dibuang sama Yeol. Dia takut orang itu menyuruh temannya mencarimu."
Emy mengangguk mengerti. Ia kembali teringat orang yang telah menculiknya. Sebenarnya ia berbohong kalau orang itu akan mati dengan cepat. Tapi, jika orang itu belum mendapat pertolongan dalam 2-3 jam, perkataan Emy akan terbukti. Karena yang Emy tusuk kemarin adalah bagian Arteri Femoralis (arteri besar paha terletak di bagian depan selangka paha kanan).
" Ae Rim, sepertinya Micko keracunan makanan. Tolong ambil sampel darahnya dan bawa untuk tes. Aku mau hasil secepatnya." Pinta Emy sembari menyuapi putranya dengan pisang agar tidak kekurangan nutrisi.
" Mommy...cudah (sudah). Micko kenang (kenyang)" Lirih Micko
" Sedikit lagi, nak...hmm?" Bujuk Emy. Tapi kepala kecil itu menggeleng lemah.
Micko beberapa kali mencoba berontak karena tak mau diambil darahnya. Namun, karena badannya lemas, ia tak sanggup lagi bergerak.
" Emy-a aku pergi dulu. Ini bajuku. Kau mandi dulu. Ini bajuku. Maaf badanku meledak setelah melahirkan Eun Yi, jadi bajuku besar semua...hahaha..."
Emy mengangguk dan berterima kasih. Ia masuk kamar mandi setelah Ae Rim pergi dan Micko tertidur.
Flashback off
" Tae Yang-ssi, tolong kau kirim orang untuk melihat orang itu. Aku gak mau dia mati. Aku bukan pembunuh...aku gak mau jadi pembunuh." Pinta Emy memelas. Matanya sudah berkaca-kaca.
" Baiklah...baiklah, sayang. Apapun yang kau minta," ucap Tae Sang.
" Hyuk!"
" Ya, Tuan Muda." Jawab Byun Hyuk
" Lakukan yang Nona Muda minta. Sekarang!" Titah Tae Sang tanpa melihat ke arah asisten setianya itu.
" Baik, Tuan Muda!"
Byun Hyuk segera berlari dan menelepon beberapa orang.
Di lain pihak, seorang laki-laki berusia sekitar 70-an menerima telepon yang membuatnya marah dan membanting vas di dekatnya.
__ADS_1
" Dasar kau memang bodoh! Kenapa kau suruh anakmu sendirian kesana, hah?! Kau memang bodoh!!?" Geram lelaki tua itu. Badan tegap dan badan tak terlalu kurus atau gemuk itu menghempas di sofa dan membanting ponselnya. Wajahnya memerah.
" Gagal lagi! Gagal lagi! Aarrghhh...." Ia berdiri berkacak pinggang dan mengusap kasar wajahnya.
" Aku gak boleh mengandalkan dua orang bodoh itu. Aku harus cari orang lain lagi...iya...aku harus cari orang lagi.." Seringai licik kembali menghias bibirnya.
Kembali di rumah dr. Lee. Tae Sang menghampiri tempat Micko tertidur. Mencium kening putranya yang masih demam dan mengusap lembut rambut bocah lucu itu.
" Kalau begitu, Micko tinggal di kamar rawat kakek di mansion dulu. Disana, masih ada beberapa peralatan medis. Kalau kau butuh yang lain, aku akan siapkan, sayang," ucap Tae Yang lembut pada Emy.
" hmm, baiklah. Yeol oppa, apa Ae Rim masih lama? Ini sudah 2 jam. Harusnya sudah selesai." Kata Emy. dr. Lee mengangguk dan segera menelepon istrinya.
" Bagaimana hasilnya, sayang?" Tanya dr. Lee. Emy dan Tae Sang sesekali melihat ke arah dr.Lee
" Jadi, positif keracunan?" ulang dr. Lee
" Kalau begitu sekalian pergilah ke RS Emerald dan ambil Kotrimoksazol 36mg...aku akan kirim resepnya ke emailmu," imbuh dr. Lee.
Tae Sang juga menelepon pelayannya untuk membersihkan kamar yang dulu pernah dipakai kakeknya sebagai tempat rawat. Ia juga memerintahkan beberapa bodyguardnya untuk kembali menjaga Emy dan kedua putranya. 2 bulan lalu, atas permintaan Emy, Tae Sang menarik bodyguardnya kembali ke markas rahasianya. Tapi, sepertinya kali ini Emy tidak bisa lagi beralasan untuk tak memakai jasa para bodyguard itu.
" Hmm...baiklah." Tae Sang menutup panggilannya dan mendekati Emy.
" Sayang, mulai hari ini kau akan ditemani 4 bodyguard. 2 wanita 2 laki-laki. Jangan khawatir, aku sudah menyuruh mereka pakai pakaian biasa. Hmm? Kali ini kau jangan menolak ya, sayang."
Emy menghela nafas dan mengangguk. Tae Sang tanpa malu menarik tubuh Emy dan memeluknya. Tak lupa ciuman di kening dan pucuk kepalanya, tak menghiraukan dr. Lee yang masih berdiri di samping mereka. Karena kesal dengan sikap tak tahu malu Tae Sang, dr. Lee keluar kamar tanpa permisi.
***
Well...itu crazy up untuk hari ini. Besok saya kasih lagi, jika tugas sudah selesai yaa...
Hiks...sedih juga Rie lihat rangking SHCS jeblok alias turun jauh banget... bantuin dong biar naik. Jadi, Rie bisa terus up...
Jangan lupa VOTE dan LIKE nya, yaa....biar naik lagi rankingnya...🙂
Makasih
Rie
😘😘🤗🤗
__ADS_1