Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Perceraian


__ADS_3

" Kek, biarkan kami berpisah, hmm?" pinta Emy. Air mata keluar dari sudut mata Kakek. Ia melihat sendu Emy, anak angkat yang sangat disayangi oleh putri mantan kekasihnya.


" Kakek, walaupun aku nantinya bukan cucu menantu kakek, tapi aku tetap cucu Kakek... k


Kek, cinta itu tak bisa dipaksa. Tae Sang punya pilihan sendiri. Biarkan dia bersama kekasihnya, Kek..." Emy terus menatap Kakek dan menghapus air mata dari pipi keriput laki-laki itu.


" Emy, maafkan aku. Apa aku sudah egois? aku hanya ingin menepati janjiku pada Min Dal Rae ( Ibu dr. Han In Na, nenek Emy). Anakku tak bisa kunikahkan dengan In Na karena terlanjur memiliki Tae Sang, dan sekarang... huhuhu...." Kakek menumpahkan kesedihannya di depan Emy. Air mata Kakek kembali meluncur tak terbendung.


Emy memeluk Kakek Kim dan mengelus punggung Kakek. Beberapa saat ia membiarkan laki-laki tua itu menangis. Emy juga menggunakan waktu ini untuk memejamkan matanya, karena pening yang mendera.


Untunglah Kakek masih menangis sambil memeluknya, dan tak melihat perubahan wajah Emy yang memucat.


" Emy-a, apa kau ... tak mencintai cucuku?" Tanya Kakek setelah melepas pelukannya. Emy tersenyum melihat Kakek yang masih menunduk. Diraihnya jemari keriput yang bertengger diatas pegangan kursi roda.


" Kek ... aku sangat mencintai pekerjaanku, orang yang menikahiku, tidak akan mendapat perhatianku. Apa Kakek mengerti?" Emy tak ingin menjawab pertanyaan kakek.


Karena jika boleh jujur, dalam hatinya, nama Kim Tae Yang telah terukir dan entahlah terasa sulit tuk menghapusnya.


" Baiklah, nak... Sebenarnya Kakek tadi marah pada Tae Sang. Dia memaksa bercerai denganmu. 2 minggu lagi ulang tahun perusahaan, kakek berencana mengumumkan pernikahan kalian, tapi.... Tae Sang minta berpisah. Kakek merasa bersalah, ahh ... sepertinya selama ini, Kakek yang salah karena terlalu memaksa. Maafkan kakek ya, sayang..." Ucap Kakek lirih dan mengusap lembut tangan Emy yang masih menggenggam jemarinya.


Dengan senyuman tulus dan anggukan, Emy menanggapi kakek.


' Seandainya Kakek tahu, kalau aku sedang mengandung cicitnya... ' batin Emy terasa perih, memikirkan janin dalam kandungannya.


" Kek, gunakan kesempatan ini untuk pertunangan cucu Kakek dan wanita yang ia cintai, Helena... bagaimana, Kek?" bujuk Emy.

__ADS_1


Kakek tak menjawab pertanyaan Emy. Pandangannya berubah. Emy tak enak hati melihat perubahan ekspresi kakek.


Diam tak menjawab, kakek Kim mengarahkan kursi rodanya ke jendela. Tak ada kata lagi yang terucap, Emy pun menyerah. Segera ia berdiri, membungkuk dan berpamitan.


" Kek, Emy pergi dulu ya..." pamit Emy. Emy berputar dan hendak pergi. Tapi panggilan k


Kakek menghentikannya.


" Emy-a..."


" Ua, kek?" Emy kembali memutar tubuhnya dan melihat Kakek yang masih menghadap jendela.


" Apa kau ... sungguh ingin berpisah dari Tae Sang?" kali ini Kakek memutar kursi rodanya dan mata sayu itu menatap Emy.


" Iya, Kek... aku tak ingin Presdir terus tertekan karena aku. Kasihan dia, kek. Ia terpaksa harus bersama wanita yang...." Emy tak dapat meneruskan kata katanya. ' tak ia cintai dan bahkan aku wanita yang sangat ia benci' lanjutnya dalam hati.


" Man Ho, ambilkan map kuning di laci meja kerjaku." kata Kakek lalu memutus panggilannya. Emy menganga tak percaya apa yang didengarnya. Hatinya sakit.


' Kakek... dia sudah menyiapkan surat perceraian? kapan?' gumam Emy dalam hati. Benaknya tak lagi bekerja, pikiran negatif kembali muncul.


' beginikah cara orang kaya bermain-main?' pilu rasa hatinya. Wajah Emy tampak memucat. Diliriknya Kakek Kim yang sudah memutar kursi rodanya kembali ke arah jendela.


Tas kecil yang bergantung manis di lengannya, terasa berat karena tubuhnya yang melemah. Emy mendudukkan bokongnya kembali ke sofa, dan mengambil obat di dalam tas lalu menegaknya, untung air di botol kecil air mineral yang selalu ia bawa, masih tersisa sedikit.


Emy selesai menandatangani form perceraian di depannya. Pak Man Ho mengambil form itu dan menghela nafas. Sedih, kecewa ia rasakan. Tapi apa boleh di kata, bukan tempatnya untuk ia memprotes.

__ADS_1


" Nak, maafkan Kakek. Maaf karena Kakek terlalu egois. Tapi, tolong apa yang aku beri buatmu, saham di Kimtae, jangan kamu tolak, ya.. anggaplah itu kompensasi dariku. Aku yang terlalu egois memaksa kehendakku. Berbohong padamu dan membuatmu hidup tersiksa...." Isak kembali terdengar. Kakek Kim benar benar merasa sedih. Emy tak berkata apapun.


" Awalnya kakek senang karena dapat menemukanmu, Kakek hanya ingin Tae Sang mendapat pendamping yang baik. Bukan wanita ular itu. Surat perceraian itu, aku siapkan jika suatu waktu aku melihat ketidak adilan terjadi padamu. Tak aku sangka, secepat itu surat itu digunakan....huhuhu.."


' Ya, Tuhan... aku sudah salah paham...' batin Emy. Dipeluknya lelaki tua yang sesenggukan bak anak kecil itu. Ia merasa tak tega, tapi ia harus melakukan ini.


" Kakek ... jangan sedih lagi. Kakek nanti juga akan mendapat cucu menantu lagi. Jangan sedih ya, Kek ... Emy harus pergi. Tolong jangan katakan apapun pada Presdir. Biar aku yang memberitahunya nanti, kalau waktunya telah tiba ... maukah kakek melakukannya untukku?" pinta Emy, ditatapnya mata coklat kakek yang masih berkaca-kaca.


" Baiklah, nak. Aku tak tahu alasanmu. Tapi, aku tidak akan mengatakannya. Man Ho?!" Kakek melihat pak Myung Ho.


" Baik, Nona. Saya juga tak akan mengatakan apapun." jawab Pak Man Ho.


" Terima kasih, Kek. Pak Man Ho... Emy pergi dulu. Minggu depan kemo kakek, Emy yang handle. Jadi sampai ketemu minggu depan, kek. pak Man Ho." ucap Emy dengan tersenyum lalu membungkuk dan melangkah pergi.


Senyuman dan keramahan itu kembali hilang.


Flashback off


Malam telah tiba, semua tugas Emy telah selesai. Setelah membereskan semua file, ia segera beranjak dan memakai jaket dan mengambil tasnya.


Banyak mata yang memandangnya, ketika berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Wajah cantik yang ia selalu sembunyikan, kini ia umbar. Satu yang ia rasakan. Masa Bodoh.


Pandangan mata lelaki tua muda, mengiringi jalannya. Pasien, dokter, perawat laki-laki tak melepas pandangannya melihat Emy. Entah dengan pandangan mesum atau kagum, Emy tak peduli.


Kalau dulu, jika ada yang membicarakannya di belakang, ia selalu menulikan telinganya. Sekarang, ia membalas mereka dengan mata tajam dan sinis.

__ADS_1


Dr. Lee menyadari perubahan Emy. Ia tak menyalahkan. Ia justru bersyukur karena sorot mata kosong itu sudah berganti. Emy yang dulu ramah dan manja padanya sudah menghilang, hobi doyan makanpun telah berganti.


Bohong jika dikatakan, ia tak apa-apa. Tapi setidaknya, adik angkatnya itu masih hidup dan bernafas. Ia masih bisa melihatnya. Emy sudah tak mau lagi ia peluk dan di usap kepalanya seperti dulu, rindu rasanya untuk melakukannya lagi, tapi ia tak ingin jika itu membuat Emy membencinya.


__ADS_2