Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Menguak Kebenaran (2)


__ADS_3

Eva yang masih menutup mata kini sudah dipindahkan di ruang rawat. 2 orang penjaga ditempatkan di depan pintu ruang Eva. Bibi Sofia dengan setia menemani bahkan menyeka tubuh Eva.


" Dokter, bagaimana kondisi putri saya?" Tanya Sofia cemas pada dr.Madeline yang baru saja masuk.


" Nyonya, Nona Greninger kasusnya sama dengan salah satu pasien saya. Aktivitas otaknya masih berjalan hanya tak beraturan." Jelas dr. Madeline.


" Lalu, kapan putri saya sadar, dok? Ini sudah lebih dari 8 jam." Bibi Sofia menatap dr. Madeline sekilas lalu mengecup tangan Eva penuh kasih. Air matanya sudah mengalir melihat wajah cantik Eva yang pasi.


Dokter paruh baya itu menghela nafas dan menatap wajah pasiennya.


" Saya belum tahu, Nyonya. Nona Greninger saat ini... koma. Dan saya tidak bisa memastikan kapan ia akan sadar. Berdoa saja, Nyonya... hmm.." Ucap dr. Madeline sembari mengelus tangan Eva dan berlalu dari sana.


" Kenapa mereka berdua kondisinya sama? Aku harus konsultasi dengan dr. Petrov." Dokter ber-ras hitam itu mempercepat langkahnya.


" Dokter Petrov!" Panggilnya pada seorang dokter muda yang kini masih mengamati proses tranfusi darah salah satu pasiennya akibat turunnya Hb setelah proses Hemodialisis (HD).


Kalev mengalihkan perhatiannya dan melihat dr. Madeline.


" Ya, dok?" jawabnya.


" Saya ingin konsul sebentar, bisa?"


Kalev melihat ke arah monitor di depannya sebentar lalu kembali menatap dr. Madeline dan mengangguk.


" Ada apa, dok?"


" Bisa ikut ke ruangan saya sebentar? Ada yang ingin saya perlihatkan pada Anda."


Dr. Madeline, seorang Neurolog (ahli bedah syaraf) berusia 54 tahun adalah dokter senior di RS Boston Med Center. Banyak dokter muda berbakat yang sudah ia cetak, tapi dibanding dengan Kalev, seorang jenius di dunia Neurologi, ia masih kalah pengetahuan dan tehnik.


Dr. Madeline mengambil beberapa hasil cetak EEG serta MRI dari Emy dan Eva. Ia menaruh dan meletakkannya di depan Kalev.


" Dokter, bagaimana menurut Anda?" Tanya Madeline. Kalev mengambil kertas dengan gambar seperti coretan naik turun tak beraturan itu dan membandingkannya dengan hasil foto MRI. Alisnya bertautan.


" Ini..."


" Ini adalah hasil Nona Sie dan ini Nona Greninger, mereka tampak sama, bukan?"


Kalev mengangguk. Baru kali ini ia melihat kasus seperti ini. Seseorang dalam kondisi koma, biasanya daerah gelap berada di perifer (bagian dari sistem saraf yang di dalam sarafnya terdiri dari sel-sel yang membawa informasi ke (sel saraf sensorik) dan dari (sel saraf motorik) sistem saraf pusat (SSP), yang terletak di luar otak dan sumsum tulang belakang).

__ADS_1


Pasien koma memiliki pusat kegiatan yang sedikit di wilayah precuneus (bagian otak yang menghubungkan bagian otak yang memiliki fungsi yang berkebalikan, yaitu bagian belakang atau bagian perhatian yang bekerja pada saat ada sesuatu yang menarik perhatian seseorang dan bagian default yang bekerja saat orang dalam keadaan istirahat.)


yang dikenal berperan penting dalam kesadaran dan ingatan, tapi tidak dengan Emy dan Eva.


" Dokter, beberapa bagian otak mereka terlihat rileks. Saat ini saya hanya bisa menduga. Tapi, kita bisa mengetahui pastinya saat mereka sudah siuman. Kalau mereka mengalami tiga perubahan berbeda pada otak


dan terjadi penurunan aktivitas di area otak dorsal Anterior cingulate cortex (ACC) (Bagian ini berkaitan dengan kesadaran dan kontrol motorik, selain itu juga memegang peran dalam pengambilan keputusan.), maka kita akan mendapat jawabannya segera." Jelas Kalev yang diangguki Madeline.


" Kalau boleh tahu, kapan Anda melakukan tes ini?" Tanya Kalev


" Beberapa jam setelah Nona Sie koma. Saya juga punya hasil waktu ia dan pamannya datang dan konsul dengan saya. Menurut keluarganya, sikap dan tabiat Nona Sie tidak seperti dulu. Awalnya dia memang ada indikasi Amnesia Retrograde dan Anterograde, tapi lambat laun saya curiga kalau Nona Sie..."


tok...tok...


Percakapan dr. Madeline terhenti karena seorang perawat yang sudah lebih dulu mengetok pintu ruang kantornya.


" Masuk!" Serunya.


-


-


" Ada apa?"


" Kim So Nam,... dia adalah sepupuku, paman..."


Evan menatap Tae Sang, sementara laki-laki yang ditatapnya telah menunduk dan meremas rambutnya.


" Sepupumu?" Ulang Evan.


" Iya, paman. Tapi, aku sudah menyuruh bawahanku memecatnya dari kantorku dan menarik sahamku dari hotel keluarganya, dan aku sudah menyuruh Hyuk menangkap laki-laki brengsek itu." Jelas Tae Sang.


" Baiklah. Apa lagi yang bawahanmu temukan?"


" Baek Do Min, dia dan So Nam bekerja sama."


Bukk...


" Kurang ajar! Memang apa kesalahan anakku sampai mereka melakukan semua ini?" Geram Evan. Buku tangannya berdarah akibat meninju tembok sebagai pelampiasannya.

__ADS_1


" Waktu itu, pamanku, ayah So Nam, menolak Emy untuk merawat So Yin. So Yin itu kakak So Nam. Ia kecelakaan dan Emy yang menolongnya. Tapi karena paman belum kenal Emy, akhirnya dia menolak Emy. Selang beberapa bulan kemudian, So Yin dilarikan ke IGD dan ditangani Emy. Dari situ ketahuan kalau dokter pengganti Emy melakukan kesalahan hingga membuat sepupuku So Yin koma. Kemudian aku mendapat informasi dari pamanku kalau semuanya gara-gara suaminya, Baek Do Min berselingkuh hingga membuat So Yin kecelakaan. Akhirnya aku menuntut dokter itu dan aku menarik saham dari perusahaan Baek. Terakhir yang aku tahu, So Nam adalah sahabat karib Helena. Selanjutnya, paman bisa menyimpulkan sendiri, kan?" jelas Tae Yang panjang lebar.


" Oh my God... Kenapa anakku harus bertemu orang seperti mereka.... aaarrghhh!"


" Sir! Saya rasa Anda harus melihat ini." Tiba-tiba kopral Lucas Jameson Fowler memanggil mantan atasannya yang kini sedang duduk di sofa usang dan mengusap kasar wajahnya.


Evan dan Tae Sang melihat monitor yang memperlihatkan cctv di perusahaan yang Evan pegang, L'amour. 3 hari sebelum Emy pingsan di kantornya, gerak-gerik Emy sangat mencurigakan. Ia membuang obatnya ke washtafel beberapa kali di sana. Terlihat juga Mary membawa Emy ke sudut ruangan tanpa cctv.


Monitor lainnya, memperlihatkan ketika beberapa meter Emy berjalan keluar L'amour, seorang laki-laki menyeretnya masuk ke dalam mobil.


" Zoom plat nomornya, dan cari pemiliknya!" Perintah Evan lagi dan diangguki Fowler. Jemarinya dengan cepat menari diatas keyboard. Beberapa kali ia berhenti hanya untuk mengisi perutnya dengan cemilan yang ia letakkan di atas mejanya.


" Kita harus temui Dae Jung lagi, paman. Banyak yang masih belum dia ceritakan pada kita." Ucap Tae Sang tiba-tiba. Evan mengangguk setuju. Banyak yang harus ia kuak.


" Fowler! Kirimkan apa saja yang kau temukan ke nomorku, oke?"


Laki-laki itu tak menjawab, matanya masih menatap monitor yang menampilkan banyak angka dan kode lalu meletakkan jari telunjuk dan jari tengahnya di pelipis dan menariknya keatas.


Evan dan Tae Sang segera keluar dari rumah itu dan menuju ke rumah sewaan Tae Sang, tempat ia menahan Dae Jung. Tak lama, mobil sedan berlambang 4 cincin bergandengan berwarna biru navy itu masuk pekarangan sebuah rumah yang asri.


" Tuan!" Sapa seorang bodyguard yang berjaga. Tae Sang hanya mengangguk dan terus berjalan diikuti Evan.


Sampai di ruang tamu, Tae Sang segera menyuruh bodyguardnya membawa Dae Ho ke hadapannya.


☘️☘️☘️


hai...hai...haii...


Waduh, sebenarnya ada apa dengan Emy dan Eva?


Kenapa Emy membuang obatnya?


Siapa laki-laki yang menyeret Emy?


**Jangan lupa LIKE, RATE, VOTE n KOMEN ya... love you all...😘😘😘🤗🤗


Love,


Rie**

__ADS_1


__ADS_2