
Malam ini terasa sangat dingin, suasanapun begitu hening didalam mobil yang sedang melaju dengan kecepatan rata rata. Sang pengemudi masih terhilang dalam lamunannya, sedang si penumpang entah memikirkan apa.
" Nampyeon!"
" Yeobo!"
Mereka berdua berbarengan memanggil. Senyum mengembang pada keduanya.
" katakan sayang..." ucap dr.Lee lembut.
" aku... aku tahu keadaan dr.Sie sebenarnya. Maaf... saat dr.Sie dirawat waktu pingsan karena terbentur beberapa bulan lalu, aku... aku tak sengaja mendengar percakapan kalian." kata Perawat Na sambil menunduk dan terisak.
Dr.Lee menghela nafas dengan berat. Ia mengusap wajahnya lalu menggenggam tangan istrinya itu.
" Jadi kau... sudah tahu, ya? maaf aku..."
" Nampyeon, aku yang minta maaf karena mencuri dengar. Tapi percayalah, aku tak kan menceritakannya pada siapapun." Perawat Na menggenggam erat tangan suaminya dan bersandar pada bahu dokter yang sudah membuatnya jatuh cinta.
" tapi... apa kita akan terus merahasiakannya dari Hannah?..." tanya perawat Na ragu dan melirik wajah suaminya yang tengah fokus mengemudi.
" iya sayang. Itu permintaan Emy. Saat ini hanya itu yang bisa kita lakukan buat dia. Emy sudah menyusun pengobatan untuk dirinya sendiri dan dia sudah memberinya padaku. Selama ini, ia banyak fokus pada pengobatan tumor dan kanker, karena mau menebus kesalahannya, yang dulu gak bisa nolong appanya. Jadi, penelitiannya lebih maju dari yang lain. kamu jangan khawatir ya?" dr.Lee mencium puncak kepala istrinya lembut dan merangkul wanita bertubuh kecil itu.
" hmm.. baiklah! jika memang itu yang terbaik." jawab perawat Na mendesah pelan.
Tae Sang kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan, karena Helena kembali membatalkan kepulangannya, karena pekerjaan. Hingga larut, tak ada tanda tanda laki laki itu beranjak.
" Hyuk, kemarilah!" panggil Tae Sang pada asistennya melalui Interkom. Tak lama suara ketokan pintu terdengar.
" masuk!" seru Tae Sang. Byun Hyuk mendekati meja kerja Tae Sang dengan berdebar.
" apa kau sudah menemukan informan itu?"
__ADS_1
Deg
Keringat dingin mulai keluar pada dahi asisten bertubuh kurus itu.
" mm...itu... saya..." Byun Hyuk menunduk dan bingung untuk menjawab pertanyaan atasannya. Pasalnya, hingga kini ia belum menemukan hacker handal itu.
" Jangan katakan kau belum menemukannya?" tanya Tae Sang dengan mata yang tajam. Suara yang tenang, sebelum auman harimau terjadi.
Wajah dan sikap Byun Hyuk menjelaskan kegagalan asistennya itu.
Brakkk
" Kau kerja apa selama ini, hah?! Kau kusuruh mencari 1 orang saja gak becus! Sudah berapa lama ini Hyuk?! " Bentakan Tae Sang benar benar membuat Byun Hyuk gemetar ketakutan. Suara laki laki itu seperti suara speaker dengan volume paling tinggi, yang bisa membuat gendang telinga pecah.
" Aku beri kau waktu, 1 minggu lagi, kalau sampai kau belum dapat, aku tunggu surat pengunduran dirimu di mejaku kamis depan! sekarang KELUAR!!"
Byun Hyuk terburu buru keluar dan menutup pintu ruangan atasannya, menghela nafas kasar dan menurunkan bahunya. Loyo, tak tahu bagaimana cara mencari hacker itu.
******Ceklek
Tap...tap...tap******...
Sepasang sepatu fantofel mahal, masuk dalam sebuah ruang rawat yang gelap dan hanya disinari cahaya bulan. Ia mendekat pada bed pasien dan mengusap lembut rambut wanita yang masih saja menutup mata itu.
" hai... bagaimana kabarmu? kenapa kau sakit lagi?" katanya lirih dan terus mengelus rambut wanita itu.
klik
Tiba tiba ruangan itu menjadi terang. Laki laki itu berdiri tegak dan melihat seorang laki laki yang sangat ia kenal berdiri menatapnya tajam.
" Kau!"
__ADS_1
" Paman!"
Seru mereka berdua. Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu.
" Dari mana kau tahu, kalau Emy dirawat?" tanya Evan.
" Aku...aku... " laki laki dengan jaket panjang berwarna kunyit, bingung menjawab Evan. Tidak mungkin ia mengatakan kalau ia sudah menyewa beberapa suster untuk menjadi mata matanya, agar bisa memantau Emy dari jauh.
"hmm.. sudahlah. Kau duduklah disini. Aku akan bersama Hannah, disana. Gunakan waktumu.hmm..." Evan menepuk bahu laki laki itu dan mendekati Hannah yang masih pulas tertidur di sofa. Dengan lembut, Evan membenarkan posisi Hannah, dan berbaring miring di belakang Hannah, karena sempit.
" hmm... paman, akhirnya kau menerima dia juga..." gumam laki laki itu, ketika melihat kedekatan Evan dan Hannah.
" Emy, cepatlah bangun. Banyak yang ingin kukatakan padamu." Tangan besarnya meraih tangan Emy dan mengecup lembut, tangan yang begitu kecil dan pucat itu.
Pagi kembali menyambut, Hannah merasakan perutnya tertindih sesuatu yang berat. Perlahan ia membuka matanya dan sebuah tangan dengan otot yang menonjol berada diatas perutnya. Hannah menoleh dan hembusan nafas yang membuatnya selalu mabuk, membelai pipinya yang bersemu merah. Laki laki yang dulu selalu menghindar dan menolaknya, saat ini tidur di sisinya sambil memeluknya.
" Ehem..ehem...sepertinya ada yang lupa kasi kabar gembira nih?" sebuah suara mengagetkan Hannah dan membuatnya setengah terduduk. Laki laki yang memeluknya pun mulai mengerjap dan menggosok matanya.
" Em..Emyyyy!!!" Teriak Hannah. Hannah langsung melangkahi Evan dan berlari memeluk Emy, yang tengah berdiri di depan meja tamu disamping sofa tempat ia dan Evan tidur. Evan pun segera berdiri menyusul Hannah memeluk Emy, mengecup puncak kepala Emy.
" aduuh...lepasin...aduhh... aku gak bisa nafas!" Emy berontak dan berusaha melepaskan diri dari pelukan 2 orang yang ia sayangi itu.
" kapan kau bangun? kenapa tidak membangunkanku atau Evan? kau tahu, dari bandara, aku langsung kesini karna sekretaris bilang kau pingsan dan dirawat disini. Apa kau ada yang sakit? aku panggil dok..."
" Hannah... aduh... jangan nerocos terus dong. kayak kereta api, gak brenti brenti. Bingung jawabnya." protes Emy yang sebal dengan banyaknya pertanyaan yang keluar dari mulut Hannah. Sementara Evan, ia seperti mencari sesuatu atau seseorang. Matanya terus mengedar sekeliling kamar rawat.
" Paman, kau cari siapa?" tanya Emy. Ha Na akhirnya memperhatikan Evan yang kelihatannya memang sedang mencari sesuatu.
" ah? oh...gak kok. Sekarang gimana? kau sudah merasa baikan?" tanya Evan lembut dan tersenyum pada Emy. Ia membantu Emy duduk di sofa.
" iya, aku sudah enakan kok... maaf udah bikin kalian khawatir." jawab Emy tersenyum
__ADS_1
" kali..an... sudah jadian? kapan?" lanjut Emy dan melihat Evan dan Hannah bergantian. Wajah mereka berdua mulai memerah. Dengan malu malu, Hannah berdiri lalu berdiri didekat Evan yang sedang duduk di samping Emy. Hannah meraih tangan Evan.