Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Bebas


__ADS_3

" Saya beri waktu ..."


Brakk ...


Pintu ruang sidang tiba-tiba terbuka, seorang laki-laki dengan wajah berdarah dan kemeja juga jasnya dipenuhi jejak darah


"Saa yaa ..."


Brukk ...


Orang itu terjatuh. Seisi sidang menjadi ricuh. Dan mengerubungi lelaki itu. Semua Hakim juga berdiri, bahkan Jaksa dan Luther juga Evan menghampiri lelaki itu. Polisi juga datang memeriksanya.


" Kau! panggil Ambulans!" titah seseorang yang sepertinya seorang polisi berpakaian preman.


" Permisi, saya dokter. Biarkan saya memeriksanya," kata Emy yang berhasil menyerobot masuk diantara orang-orang yang bekerumun


Tok ... tok ... tok ...


" SEMUANYA HARAP TENANG DAN KEMBALI KE TEMPATNYA. DILARANG RIBUT DIDALAM RUANG SIDANG. PETUGAS, BAWA ORANG TERSEBUT KELUAR, TERIMA KASIH!" Hakim mengetuk palunya dan berbicara melalui speaker.


Berangsur-angsur semua kembali ke tempat duduknya. Emy memeriksa orang itu sebelum dipindahkan


" Tidak ada yang patah, aman," gumam Emy, " Pak, silahkan," kata Emy kemudian


Petugas itu mengangguk dan membawa lelaki itu ke tempat duduk diluar ruang sidang, diikuti Emy dan Evan


Dengan hati-hati, Emy memeriksa kepala dan wajah orang itu


" Pe-pengacara Oh!" seru Emy. Evan pun terkejut.


" Ya, Tuhan. Apa yang terjadi?" kata Evan


" Paman, cepat beritahu Luther kalau dia sendirian," kata Emy sambil memeriksa nadi Pengacara Oh


" Ok, sebentar," kata Evan lalu memeriksa kantong-kantong pengacara Oh. Dalam saku jas bagian dalam, terdapat flashdisk. Evan segera mengambilnya.


Klotak


Sebuah benda terjatuh saat Emy membuka sepatu Pengacara Oh. Emy mengambilnya dan itu juga sebuah flashdisk dan memory card. Emy kembali memeriksa sepatunya dan mendapat sebuah kertas dengan tulisan darah


" SHIN DAE HO"


Emy dan Evan saling menatap.


" Paman segera berikan flashdisknya pada Luther," kata Emy. Evan mengangguk dan menyimpan memory card serta kertas itu ke dalam kantong plastik tempat flashdisk itu disimpan oleh Pengacara Oh.


" Nadinya melemah. Bagaimana ini, kenapa ambulan lama sekali," gerutu Emy


Beberapa menit menunggu, akhirnya paramedik datang juga. Emy meminta stetoskop dan memeriksa jantungnya serta menyinari matanya.


" Beri oksigen dan epinephrine!" titah Emy. Setelah mereka selesai memberi oksigen dan suntikan, Emy kembali memeriksanya.

__ADS_1


" Defribilator 100 joule!"


" Siap! Clear!" seru paramedik


Tit tit tit ... Dup


Emy kembali mendekat memeriksa, tak ada perubahan.


" Sekali lagi! 180 joule!" seru Emy


" Siap! Clear!"


Tit tit tit ... Dup


Emy memeriksa kembali detak jantung dan nadi Pengacara yang sudah mengabdi pada Kimtae selama lebih dari 20 tahun itu.


" Waktu kematian, 09.57," lirih Emy. Paramedik terduduk begitu juga Emy. Hari itu kegagalan Emy menyelamatkan seseorang dan keberhasilan Luther memenangkan sidang.


Ruang Sidang


" Yang Mulia, dari bukti-bukti yang saya sampaikan, sudah jelas bahwa klien saya selama ini difitnah dan diperlakukan tidak adil. Karena itu, kami mengajukan tidak bersalah," kata Luther


" Jaksa penuntut! Ada argumen?" tanya Hakim ketua


" Tidak ada, Yang Mulia," jawab Jaksa Park.


" Baik. Pengacara, apa ada yang ingin Anda katakan lagi?" tanya Hakim ketua


" Ada, Yang Mulia. Kami ingin menuntut pihak Kejaksaan yang sudah menahan klien kami secara tidak sah dan meminta Pemerintah memulihkan nama baik klien kami secara tertulis dan lisan. Kami juga menuntut Keluarga Shin yang telah menyebar fitnah, pemalsuan dokumen, dan melakukan tindakan kriminal perusakan yang menyebabkan kerugian secara materi dan moril terhadap klien kami," ucap Luther dengan lantang.


" Baik. Silahkan ajukan tuntutannya dengan resmi," kata Hakim Ketua


Emy masuk kembali ke ruang sidang dengan lesu lalu duduk di samping Evan dan menyandarkan kepalanya di bahu Ayah babtisnya itu. Tae Yang melihatnya dan mengerutkan alisnya


" Berdasarkan bukti-bukti dan saksi, maka Pengadilan Pusat Seoul, menyatakan Saudara Kim Tae Yang ... tidak bersalah dan terbebas dari semua tuntutan. Dengan ini, Pengadilan Pusat Seoul, juga meminta pemerintah untuk meminta maaf kepada saudara Kim Tae Yang secara tertulis dan lisan dan secara terbuka. Demikian surat keputusan ini .... bla bla ..bla..."


Emy menegakkan badannya, melihat ke arah Tae Yang yang juga tersenyum padanya.


" Mohon kepada petugas untuk membebaskan saudara Kim Tae Yang,"


Tok ... tok ... tok ...


Senyum merekah menghias bibir Emy. Air matanya kembali lolos. Ia menutup hidung dan mulutnya dengan kedua tangan. Evan memeluk Emy. Wanita itu menangis tersedu


" Kita menang, sayang. Kita menang," ucap Evan. Emy mengangguk


Emy melihat ketika tangan suaminya dilepaskan dari borgol. Dengan segera Emy berlari dan mengintari pembatas menuju suaminya, yang saat itu juga segera mendorong petugas yang baru saja melepas borgolnya.


" Hubby!" seru Emy


" Honey," lirih Tae Yang. Lelaki itu sedikit berjongkok lalu memeluk dan mengangkat tubuh kecil istrinya. Dihirupnya wangi khas wanita yang sangat ia rindukan itu. Tanpa malu, lelaki itu menarik wajahnya dari ceruk leher Emy dan melahap bibir ranum wanitanya itu.

__ADS_1


Evan dan Luther berpelukan.


" Kita berhasil, tapi ... kita harus segera ke Emerald. Pengacara Oh ... sudah tiada," kata Evan. Luther terkejut mendengarnya. Keduanya menoleh melihat dua sejoli sedang melepas rindu


" Biarkan saja mereka. Kita kesana sekarang. Aku akan menghubungi anak buahku agar membantu istri dan anak Tuan Oh ke Korea," kata Evan. Luther mengangguk setuju.


Nafas Emy dan Tae Yang tersengal. Keduanya tersenyum. Tae Yang tak melepas pelukannya


" Sayang, aku sangat merindukanmu. Kau bawa mobil?" tanya Tae Yang. Emy tersenyum dan menggeleng. Ia masih asyik memperhatikan wajah suaminya dan mengusapnya.


" Apa kau lihat Jung Hyuk?" tanya Tae Yang. Emy menggeleng.


" Baiklah, ayo kita pergi," ajak Tae Yang.


Hap


" Aaa .." pekik Emy, keduanya tertawa. Tae Yang membawa istrinya keluar dengan menggendong istrinya ala pengantin. Kini, Emy tak menolak untuk bermesraan dihadapan publik. Mereka tak peduli, ketika banyak kamera menyorot mereka. Tae Yang bahkan sesekali mencuri ciuman istrinya. Emy hanya mengerucutkan bibirnya dan tersenyum.


Tak melihat mobil miliknya, Tae Yang menghentikan taksi dan membawa istrinya naik tanpa melepas gendongannya


" Ahahaha ... apa kita tak menunggu Jung Hyuk atau Pak Jang?" kata Emy dengan mata berbinar dan tertawa mengigit bibir bawahnya


" Tidak. Kita akan pergi berdua. Dan menghabiskan waktu," kata Tae Yang sambil terus menciumi wajah dan leher istrinya.


Sopir taksi yang mengintip dari spion harus menelan salivanya. Wajahnya memerah ketika penumpangnya tanpa malu saling memagut.


" Sayang, tapi kita tak bisa lama-lama ..." kata Emy sambil mendesah karena tangan suaminya mulai masuk ke dalam atasannya dan meraba punggungnya, bahkan bibir lelaki itu mulai membuat tanda di dada dan lehernya yang terbuka


" Baby Migu ... ada yang jaga ..." kata Tae Yang di sela-sela kegiatannya


" Bukan ... itu ... ehm ... Tuan Oh ... meninggal," kata-kata Emy berhasil menghentikan aksi suaminya.


" Apa?"


" Lelaki tadi yang di ruang sidang. Dia adalah Pengacara Oh. Sekarang, dia Emerald untuk otopsi," jelas Emy dengan nafas sedikit tersengal


Tae Yang mengusap kasar wajahnya. Emy memeluk suaminya. Ia tahu, betapa pentingnya peranan Tuan Oh dalam hidup suaminya.


" Kita kesana dulu?" tanya Emy tanpa melepas pelukannya. Tae Yang mengangguk dan mencium ceruk leher istrinya.


" Terima kasih, sayang. Terima kasih," ucap Tae Yang


" Kau adalah suamiku. Dan aku sangat mencintaimu, Kim Tae Yang-ssi," ucap Emy. Pelukan Tae Yang semakin erat, air mata bahagia lolos dari kedua matanya. Ralat, air mata sedih dan bahagia. Sedih karena kehilangan Pengacara Oh yang setia dan bahagia karena istrinya sangat mencintainya.


***


Wahhh .... sudah di penghujung cerita nih ...


Terus kepoin sampai tamat, yaaa ...


Sementara menunggu Novel Rie lainnya, boleh baca nih Novel dari adik Rie, Lien09.

__ADS_1


" Dokter, I Love You "


cerita fantasi yang bagus dan oke punya.


__ADS_2