
" Ehm ... kalau aku sudah besar, kakak menikah denganku, bagaimana?" kata gadis itu dengan senyumnya
" Hahaha ... baiklah." kata Tae Yang, ia juga ikut tersenyum melihat gadis itu
" Hahahaha ... kakak ... Aku tagih betul lho ya, nanti ..." kata gadis itu lalu pergi
Tae Yang perlahan pulih, tapi gadis penolongnya tak ia lihat lagi.
Flashback off
" K-kau gadis pembawa bunga?" Tae Yang menatap tak percaya dan menelan ludahnya kasar
Wanita itu mengangguk," aku terus menunggu kakak. Aku bertanya pada perawat, kakak sudah kembali. Aku kesulitan mencari kakak, sampai akhirnya aku melihat wajah kakak di majalah dan TV," jelas wanita itu terisak.
" Ma-maafkan aku," Tae Yang bingung. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.
" Kak, kau dulu berjanji mau menikahiku. Kenapa ... kenapa kakak sekarang menikah dengan yang lain? Huhuhu ... kau membohongiku ..."
Tae Yang berbalik dan meraup kasar wajahnya. Ia memang sudah berjanji pada gadis pembawa bunga itu, tapi ... ia tak mungkin melepaskan Emy.
Ketakutan akan kehilangan Emy melandanya. Rasa bersalah karena tak bisa memenuhi janjinya juga mengusik hati dan pikirannya.
" Oh, Tuhan. Apa lagi ini? apa yang harus kulakukan ..." gumam Tae Yang
" Lam! antar dia kembali ke hotelnya!" titah Tae Yang pada bawahannya.
" Tidak! Kak, apa kau mau mengingkari janjimu?" protes wanita itu
Tae Yang menggeleng dan melihat wajah sembab wanita itu lalu pergi begitu saja. Pernikahan dimana ia seharusnya bahagia menjadi sirna.
Ia mengambil ponsel dan menekan nomor asistennya
" Hyuk! Ke ruanganku sekarang!"
Tanpa menunggu jawaban, Tae Yang menutup ponselnya dan melangkah lebar menuju ruang kerjanya.
20 menit kemudian, Jung Hyuk sudah berada di hadapan sang Atasan.
" Hyuk! Katakan padaku ... kau bilang gadis yang selama ini aku cari adalah Emy ..." mata Tae Yang menatap tajam asistennya membuat si Asisten gugup lalu mengangguk.
" Lalu kenapa, wanita pengacau tadi berkata, kalau dia gadis itu?!"
Jung Hyuk terhenyak. Ekspresinya memperlihatkan kebingungannya.
" Ta-tapi Tuan Muda ... semua informasinya sesuai ..." sanggah Jung Hyuk
" Aarrghhh ..."
" Tuan Muda, apa wanita itu bilang dia adalah gadis itu?"
Tae Yang mengangguk frustasi. Kepalanya tertunduk dengan sanggahan kedua tangannya di atas meja kerjanya
__ADS_1
" Tuan Muda, apa ... mungkin dia berbohong?"
" Entahlah ..."
" Tuan, bagaimana wajahnya? Apa Anda masih ingat wajahnya?"
Tae Yang mencoba menelisik pikirannya. Mengingat wajah gadis penolongnya. Tapi, nihil. Ia lupa wajahnya.
Tae Yang menggeleng, " Entahlah, aku lupa. Aku hanya ingat ia bercerita tentang bunga dan buket. Aku masih merasa sakit di bagian perutku. Ia bercerita untuk mengalihkan perhatianku. Aku hanya bertemu dia 2 hari. Setelah itu, dia sudah tak kembali lagi melihatku," cerita Tae Yang
Jung Hyuk mengangkat alisnya dan menarik nafas lalu menghembuskannya kasar. Jika Atasannya tak tahu, bagaimana dia akan tahu.
Ting
Sebuah ide muncul di otaknya," Tuan, bagaimana kalau kita minta rekaman CCTV rumah sakit," kata Jung Hyuk semangat
" Baiklah, lakukan," jawab Tae Yang lemah.
" Baik, Tuan Muda. Saya kerjakan sekarang, permisi," pamit Jung Hyuk
"Jika benar wanita itu adalah gadis penjual bunga, lalu bagaimana? Aku tidak mungkin menikahinya ..." Gumam Tae Yang.
" Aaarrrghhh ..." Teriak Tae Yang memenuhi isi ruang kerjanya yang kedap suara.
Tanpa disadari Tae Yang, sejak tadi ada sepasang telinga mendengar pembicaraan Atasan dan Asistennya itu dengan senyum yang terus mengembang. Wine di tangannya menambah sumringah wajah keriputnya
" Tae Yang oh Tae Yang ... kasihan sekali kamu ... hahaha ..."
" Semoga kau bahagia ... Emy Sie, cintaku," lirihnya. Air matanya menetes.
Tok ... tok ... tok ...
Yu Zhen segera menghapus air matanya, dan melihat ke pintu
" Masuk!"
" Permisi ... ehm, Tuan Yu, ada yang ingin bertemu," kata seorang perawat yang baru saja masuk pada Yu Zhen. Yu Zhen mengangguk.
Perawat itu mempersilahkan tamu Yu Zhen masuk ke dalam kamar rawat VVIP Yu Zhen
" Woww ... luar biasa ... kau memang beruntung, ya?" kata orang itu ketika ia sudah masuk ke dalam kamar rawat Yu Zhen.
Yu Zhen membulatkan matanya tak percaya melihat sosok di depannya.
" Kau! Kenapa kau kesini?!" teriak Yu Zhen geram
" Hei ... kenapa galak sekali, Ka ... kak!" kata lelaki itu dengan seringainya.
" Sepertinya kau sudah membaik, ya ... sayang sekali ..." tambahnya dengan ekspresi kecewa.
Yu Zhen mengepalkan tangannya. Ia menatap geram sahabat yang begitu ia percaya dan sayangi itu.
__ADS_1
" Mau apa lagi kau, hah?! Kau sudah menculik dan menyiksaku, dan aku belum melaporkanmu, apa kau mau kembali mengulang perbuatanmu?!"
" Ooh ... hohoho ... terima kasih, temanku sayang. Karena kau tak melaporkanku, makanya aku datang lagi ..." ujar laki-laki berbadan kekar itu.
" Kenapa kau lakukan ini padaku? Apa salahku?"
" Salahmu ... karena kau telah menyakiti hati wanita yang aku sayangi!!"
" Dengar, aku tak tahu apa yang kau maksud. Sekarang, pergi dari sini, atau kupanggilkan security?"
" Hahaha ... mengancamku? Baiklah, kali ini kau bisa lepas. Sembuhkan luka-lukamu, lalu ... akan kuberi lagi kau tato yang lebih banyak lagi. Hahahaha ...."
Laki-laki itu keluar dan tak menutup pintu. Yu Zhen meremas selimutnya menatap ke arah pintu.
Emy sudah bersiap dengan gaun untuk resepsi. Gaun putih off shoulder sederhana dan sanggul serta hiasan kepala yang lebih simpel, menjadi pilihannya. Make up pun ia minta yang senatural mungkin.
Dengan penuh percaya diri, Emy berjalan keluar diikuti pengawal ciliknya. Mikha dan Micko turun dari tangga dengan menggandeng sang Mommy.
" Wah ... ganteng sekali Tuan Mikha dan Tuan Micko ... bagaimana kalau saya foto dulu?" tawar fotografer pernikahan Emy dan Tae Yang.
" Oh, boleh." Jawab Emy antusias.
" Mikha, Micko, cepatlah berdiri disitu, biar Om Fotografer foto kalian, ya?"
Mikha dan Micko mengangguk patuh. Keduanya berpose dengan penuh percaya diri
Selesai berfoto, Mikha dan Micko berlari keluar ketika mata mereka menangkap sejumlah besar balon dan asap di depan pintu masuk Venue pesta.
" Wah, Nona Muda. Tuan Mikha dan Tuan Micko kelihatan dewasa. Tidak seperti umur 5 tahun. Sangat cocok jadi model, apa boleh ..."
" Tidak boleh! Mereka akan menjadi penerusku, bukan menjadi model!" potong Tae Yang, yang tiba-tiba saja sudah berada di samping Emy dengan setelah jas hitamnya.
Fotografer itu mengangguk dan tersenyum canggung. Emy hanya menggeleng dan menatap suaminya jengah. Selalu saja menghilangkan kesenangan orang lain.
" Kenapa, sayang? kan, mereka memang hanya boleh jadi penerusku,"
" Apa kau sudah tanya Anak-anak?"
" Tapi kan tetap saja, mereka adalah penerus Kimtae Grup," keukeuh Tae Yang.
Emy meninggalkan Tae Yang dengan kesal. Sikap pemaksanya tak pernah hilang.
Emy memasuki Venue pestanya tanpa senyum dan meninggalkan Tae Yang di belakang. Ia mengangkat sedikit roknya agar bisa berjalan.
" Ya ampun, sayang. Iya ... iya ... maaf. Aku janji akan tanya Anak-anak, hmm? jangan marah lagi, ya?" rayu Tae Yang setelah ia harus sedikit berlari menyusul istrinya. Ia menggandeng mesra Emy dan menyapa para tamu.
__ADS_1
" Sayang, gaunmu terlalu terbuka, lihat itu ... mereka semua melihat kamu seperti itu," gerutu Tae Yang dengan wajah kesal.