
Wajah berpeluh, rambut berantakan dan mata memerah mengiringi langkah cepat seorang lelaki di tengah manusia yang tengah berlalu lalang mengejar waktu. Lelaki itu sibuk mencari di antara segerombolan orang yang mengantri masuk ruang tunggu.
“ Dimana? Dimana ...” Tae Yang terus mencari seperti orang bodoh. Matanya sedikit berbinar ketika ia melihat sosok Luther berjalan di dalam ruang tunggu
“ Itu dia!” serunya. Ia segera berlari menerobos antrian.
“ Permisi! Permisi!” serunya sembari berjalan di sisi para calon penumpang.
“ Hei! Kau tak tahu cara mengantri, ya!” umpat seorang lelaki dengan garang
“ Maaf,” kata Tae Yang dan terus menerobos.
“ Hei! Semua orang juga terburu-buru, Bung!” teriak seorang lagi. Tae Yang tak memperdulikannya dan terus berjalan. Sampai di pintu, 2 orang petugas menghentikannya
“ Maaf, Pak. Paspor dan Tiket?” pinta petugas itu
“ Aku hanya mau memanggil istri dan Anak-anakku. Mereka ada di dalam,” kata Tae Yang. Kepalanya terus melongok melihat ke dalam tanpa memperhatikan petugas itu
“ Maaf, Pak. Tanpa Paspor dan Tiket, Anda tidak bisa masuk,” kata petugas itu. Tae Yang mencari di seluruh sakunya, tak ada. Paspor ada pada Asistennya. Lelaki itu kembali mengacak rambutnya kasar.
“ Maaf, Pak. Tolong jangan menghalangi jalan,”
Tae Yang menatap sekilas dengan tajam kedua petugas itu lalu menyingkir. Ia merapatkan dirinya di dinding kaca pembatas. Di sana, ia melihat istrinya dan 2 putranya baru selesai check-in dan berjalan mengikuti Evan yang sudah menunggu mereka dengan Baby Migu dalam gendongan lelaki kaukasia itu.
“ EMYYY!! EMYYYY!!!! YEOBOOOO!!” teriak Tae Yang. Namun sayang, kaca itu sangat tebal. Dan sangat tidak mungkin wanitanya mendengar suaranya. Airmatanya mengalir deras ketika ia melihat belahan jiwanya berjalan masuk le arah pintu yang akan membawanya ke ruang tunggu di depan pesawat.
“ Aaarrrrgghhh!!!” teriak Tae Yang frustasi. Semua orang melihat ke arahnya dengan berbagai macam ekspresi. Sungguh hancur hati Tae Yang saat itu. Seorang lelaki tua dan istrinya tampak bersimpati padanya. Keduanya mendekati Tae Yang dan menyentuh bahunya.
“ Nak, kamu kenapa?” tanya wanita tua itu dengan lembut
Tae Yang menoleh dan melihat seorang wanita tua dengan wajah dan senyuman yang begitu hangat. Tae Yang kembali menangis tersedu-sedu.
“Is-istriku, Halmeoni. Dia,dia pergi meninggalkanku ... huhuhu ...” kata Tae Yang seperti anak kecil yang mengadu pada neneknya seraya menunjuk ke arah Emy pergi.
“ Nak, ayo ikut kami,” ajak lelaki tua itu. Tae Yang menurut dan mengikuti kedua pasang suami istri itu tanpa bertanya
“ Ini, minumlah dulu.” Kata lelaki tua itu dengan tangan terulur menyodorkan botol air mineral. Tae Yang menerimanya dan meminumnya.
“ Nak, kenapa kau tak mengejarnya saja? Apa kau tahu dia kemana?” tanya wanita tua itu. Tae Yang menggeleng lemah. Yang ia tahu Gate A adalah tujuan Canada, tapi ia tak tahu kota apa.
“ Mommy! Mau pipis,” kata Mikha. Emy segera menaruh tas ranselnya lalu menggandeng Mikha.
“ Paman, aku mau ke toilet dulu. Mikha juga,” pamit Emy
“ Em, biar Mikha sama aku aja, dia sudah besar. Jangan bawa dia ke kamar mandi wanita,” kata Luther
“ Baiklah,”
“ Jangan lama-lama, kita harus segera masuk,” ujar Evan memperingatkan Emy. Wanita itu mengangguk mengerti dan berjalan pergi.
“ Nona Muda! Tunggu! ...” panggil Ji An dengan berlari kecil
“ini Passport dan Boarding Pass Anda dan Mikha,” kata Ji An mengulurkan buku kecil bersampul hijau itu dan sebuah lembaran kertas didalamnya. Emy tersenyum dan mengangguk lalu memasukkannya dalam tas selempangnya.
Toilet
“ Paman, aku mau pup,” kata Mikha kemudian
“ Hah?!” Luther kaget mendengarnya. Dilihatnya jam di pergelangan tangannya dan melipat bibirnya
“ PAMAN!” seru Mikha
“ YA, sudah. Jangan lama-lama. Kita bisa ketinggalan pesawat nanti,”
__ADS_1
Mikha mengangguk dan melepaskan celananya. Tapi, kemudian ia melihat ke arah Luther.
“ Paman, tolong buka,” pinta Mikha seraya menunjuk pada pampers yang ia pakai.
Luther mengusap wajahnya dengan kasar. Mau tak mau ia harus melakukannya. Setelah terlepas, Luther mengambil pampers itu dengan jari telunjuk dan ibu jarinya lalu membuangnya ke tong sampah dan segera berlari mencuci tangannya. Mikha terkikik melihat itu, lalu menutup pintu kabinnya
“ Paman payah! Paman kalah sama Daddy!” seru Mikha dari balik pintu toilet. Luther mendegus kesal.
“ Hei! karena itu memang menjijikkan,”
“ Paman, Daddy saja pernah kena pipisku, tapi Daddy tak apa-apa,”
Luther mengerutkan alisnya tak percaya, ”Benarkah?”
Mikha mengangguk. “ Benar Daddymu tak apa-apa kena pipismu?” tanya Luther lagi karena tak mendengar jawaban bocah lucu itu.
“ Mikha tadi kan sudah mengangguk, Paman!” seru Mikha
“ Hei! kau ada di dalam, bagaimana Paman bisa tahu?!”
“ Hmm ... kali ini Paman pintar,” ucap Mikha dan menepuk-nepuk dagunya dengan telunjuk
“ This is the announcement of final boarding call especially for passengers Emy Sie, Luther Howland and Mikha Kim booked on flight 451B to Canada. Please go to gate A1 immediately. The Final checks are going to be completed soon and the captain will then order the doors of the aircraft to close in ten minutes time. I will repeat again. This is the final boarding call for Emy Sie, Luther Howland and Mikha Kim. Thank you.”
( Pengumuman panggilan terakhir khususnya kepada penumpang Emy Sie, Luther Howland dan Mikha Kim untuk penerbangan tujuan Kanada. Silahkan segera menuju gerbang A1. Pemeriksaan terakhir akan segera berakhir dan Kapten akan menutup pintu pesawat dalam 10 menit. Saya ulangi. Ini adalah panggilan terakhir untuk Emy Sie, Luther Howland dan Mikha Kim. Terima kasih.)
Tae Yang mengangkat kepalanya dan berdiri tiba-tiba, kedua pasang suami istri itu ikut terkejut.
“ Emy,” lirih Tae Yang
“ Apa itu nama istrimu?”
Tae Yang mengangguk dan berlari mendekati dinding kaca. Ia berusaha untuk dapat melihat ke dalam, tapi tak dilihatnya.
“ Nak, ayo ikut aku. Mungkin ini akan berhasil,” kata wanita tua itu dan dengan cepat meraih tangan Tae Yang dan menggandengnya pergi
“ Yeobo (: istri, dalam bahasa Korea), mau kamu ajak kemana?” tanya si lelaki tua
“ Diamlah, aku punya ide, kata wanita itu." Walau sudah berumur, tetapi wanita itu masih bisa melangkah cepat.
Sampai di meja informasi, wanita itu melepas tangan Tae Yang.
“ Nona, ijinkan cucuku ini meminjam mikrofonmu itu. Ada yang harus ia sampaikan pada istrinya yang mau naik pesawat. Tolong, Nona.” Pinta wanita tua itu tulus. Tae Yang mengangguk-angguk cepat ketika ia mengerti maksud wanita tua di sebelahnya.
“ Ehm ... maaf tapi ...”
Tae Yang segera mengeluarkan beberapa lembar cek dengan nominal yang tak sedikit pada petugas itu. Petugas itu terkejut melihatnya, tapi ia juga takut kehilangan pekerjaannya.
“ Ma-maaf ... kami tidak bisa. Kami bisa ...”
Brakk
Merasa kesal, wanita tua itu menggebrak meja informasi itu dan menatap petugas itu geram. Dengan cepat ia memutari meja itu dan masuk paksa ke dalam area petugas informasi diikuti suaminya.
“ Nyonya! Tuan!” seru 2 petugas itu ketakutan. Wanita tua itu menarik kedua petugas itu menjauh dari meja informasi
“ Diamlah!” sergah wanita tua itu. Ia menghalangi wanita itu mendekat ke meja informasi dan suaminya juga membantu menghalangi petugas satunya.
“ Nak! Lakukan!” seru wanita tua itu. Tae Yang tercengang mendengarnya. Tapi, ia segera masuk dan menyalakan mikrofon.
Toilet
Emy yang mendengar namanya disebut dalam Final Call ( panggilan akhir sebelum penerbangan) segera memanggil Luther dan Mikha.
__ADS_1
“ Luther! Mikha! Cepatlah! Kita sudah dipanggil!” seru Emy dari luar pintu toilet pria
“ Iya! Ini Anakmu masih belum selesai!” seru Luther
“ Apa?! Aduh ...” Emy menjadi panik
Di dalam toilet Luther segera mengetuk kabin Mikha
Tok .. tok ..
“ Mikha! Sudah selesai? Kita harus segera masuk pesawat, atau kita bisa ketinggalan pesawat!” seru Luther
“ Paman, kalau pilotnya berani berangkat tanpa Mikha, Daddy pasti marah!” jawab Mikha
“ Hei! ini bukan pesawat Daddymu!” jawab Luther
“ Paman! Aku tidak bisa bersihkan pantatku!” seru Mikha
Luther menghembuskan nafasnya kasar.
“ Cepat bersihkan dengan tisu disebelahmu!”
( info: orang Korea seperti halnya orang Asia Timur, Eropa dan Amerika, membersihkan kotoran hanya dengan tisu bukan dengan air)
“ Paman! Aku tak bisa!”
Luther melihat jam di tangannya, karena waktu yang begitu mepet, mau tak mau ia segera masuk ke dalam kabin dan mengelap pantat Mikha dengan tisue dan membuangnya ke dalam toilet. Mikha yang sudah selesai menaikkan celananya melotot melihatnya.
“ Paman! Kata Mommy tidak boleh buang disitu!” seru Mikha
“ Aku buang disitu supaya petugas bersih-bersihnya tidak muntah. Kotoranmu bau sekali! ” kilah Luther
Mikha menatap kesal Luther dan melipat tangannya di dada.
“ Tak usah melihatku begitu! Paman tahu, Paman ini tampan, ayo pergi!” Luther segera menggendong Mikha tanpa mencuci tangannya lebih dulu
“ Paman jorok! Paman jorok! Aku gak mau digendong Paman!” Mikha berontak dalam gendongan lelaki itu dan tak digubris
“ Ayo!” ajak Luther setelah ia bertemu Emy di depan pintu masuk pesawat.
“ Boarding pass (tiket) dan passport?” tanya petugas. Luther memberikannya pada petugas lalu mereka berlari masuk ke dalam pesawat. Penumpang di dalam pesawat melihat mereka tak suka.
“ Maaf,” ucap Emy tulus. Tapi tatapan mereka masih tajam. Mereka beranggapan penerbangan delay karena ulah Emy dan Luther.
“ Nona, kalau kau tak berniat pergi, jangan membuat orang lain menunggu!” ucap seorang wanita dengan ketusnya. Emy hanya mengangguk dan tersenyum.
Tak lama, pintu pesawat mulai tertutup. Saat Emy baru saja mendaratkan bokongnya di kursi, suara yang sangat dikenalnya menggema melalui speaker di dalam pesawat.
“ Emy, ini aku suamimu, Tae Yang. Aku tahu kau pasti mendengarku, sayang. Aku mohon ... aku mohon jangan tinggallan aku. Maafkan aku, sayang. Semua yang terjadi tidak seperti yang kau bayangkan ... srtt srrt (suara ingus disedot) .. Emy, aku sangat mencintaimu ... “
“ Mommy, itu suara Daddy!” seru Micko. Emy menoleh dan mengangguk. Semua orang melihat ke arah Emy. Kembali mereka melihat Emy dengan berbagai macam ekspresi, tapi Emy terus menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Aku, aku ... akui aku ... aku sangat cemburu. Emy ... hiks ... kumohon beri aku ... beri aku waktu menjelaskan semuanya. Aku sangat amat mencintaimu, sayang ... hiks .. Tolong, tolong maafkan aku .... hiks .. aku ... aku minta maaf .... huhu .... Emy-a ...”
Semua terharu mendengarnya. Tak terkecuali Ayah baptis Emy, Evan. Lelaki itu menahan nafasnya agar tak menitikkan air mata. Terus terang, ia juga tersentuh mendengar pernyataan Tae Yang. Sementara Luther, ia hanya menatap Emy.
“ Em ...” panggilnya. Emy menoleh, matanya berkaca-kaca dan kembali menutupnya dengan kedua tangannya. Luther merengkuh tubuh wanita yang masih tampak langsing walaupun sudah 3 kali melahirkan itu.
“ Keputusan ada di tanganmu,” ucap Luther lirih di telinga Emy. Tangannya terus mengusap punggung Emy dengan lembut.
Pesawat mengudara tak lama sesudah drama itu. Tae Yang terduduk lemas melihat papan pengumuman pesawat di Gate A jam itu tertulis, "Boarding"
Mata lelaki itu menjadi kosong. Semua menatapnya iba.
__ADS_1