Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Buket


__ADS_3

Tae Sang hanya bisa terdiam, setelah menyesap sedikit wine ditangannya, Tae Sang memegang kedua pergelangan Helena. Helena berusaha melepas pergelangan tangannya tapi tak berhasil.


“ Sayang, sepenting itukah, apa aku atau orang lain yang mengirimnya?” Tanya Tae Sang dengan nada sedikit kesal dan memiringkan kepalanya.


Helena menghempaskan tangan Tae Sang dan beranjak pergi dengan wajah yang memerah menahan amarah. Melihat itu, Tae Sang mengambil napkin, mengelap mulutnya dan melemparnya kasar ke meja. Genggaman tangannya membuat otot ototnya semakin terlihat. Setelah memanggil pelayan dan membayar bill (tagihan) nya, Tae Sang akhirnya pergi dengan kesal. ‘ wanita memang mengerikan!’ batinnya.


Senandung indah memenuhi sebuah kamar kecil bercat putih, suara keyboard yang dipijit terdengar tak senada. Jari jari lentik menari diatas keyboard sebuah Laptop. Hari ini adalah hari sukacita buat Emy, karena Helena akhirnya bisa bersatu kembali dengan si monster, ia tak tahu jika mimpinya itu akan buyar. Dengan asyiknya, ia mengetik berbagai macam angka dan kode dilayar monitornya. Sesekali ia melihat ponsel yang diletakkan di meja dekat laptop, seakan menunggu seseorang menghubunginya.


Kriiiinggg....krrriiiing....


Nama “Hannah” terpampang di ponsel Emy yang berdering. 


“ Hai Nona Kang, sebegitu rindukah kau padaku? Sampai kau meneleponku? Kita kan akan ketemu besok..” 


“ Yackk...hei...sapa bilang aku rindu sama kamu? Aku telpon, soalnya aku mau tanya sama kamu..” elak Hannah


“ aduh...kalo rindu ya rindu, gak usah alasan...”


“ aduh...dasar narsis kau! Kututup nih..!” desis Hannah


“ hehee...gitu aja kok marah. Ada apa?”


“ hmm...itu...panti asuhanmu di China, kenapa tidak kau jadikan satu aja? Jadi kau tinggal memikirkan Rumah Singgah.”


“ tidak bisa Han, Panti Asuhan Joyfull Home, hanya bisa menampung 40 anak dan 12 pengasuh. Sedang Panti Asuhan Love and Hope, total jumlah anak 67, trus pengasuh ada 17 orang. Kalau digabung, gak akan muat.” Jelas Emy


“ hmm...lalu bagaimana kabar L’amour?”


“ aku masih mau menyelidiki tuduhan itu. Semua hasil karyaku itu murni dan aku gak pernah lihat hasil karya orang lain untuk ku jiplak biarpun cuma sedikit. Aku juga harus menyelidiki akun perusahaanku. Kenapa bisa defisit seperti ini. Aku curiga ada penghianat di L’amour.” terang Emy 

__ADS_1


“ iya aku kira juga begitu. Aku juga selalu ngikutin perkembangan perusahaanmu itu, aku dan eomma  juga heran dengan kabar ini.”


“ iya, tapi aku gak bisa ke Boston langsung sekarang...banyak sekali yang harus aku selesaikan disini..heh...”


“ Emy-a, kenapa kau tak coba selidiki sendiri, bukannya kamu ahli komputer!” teriak Ha Na, membuat Emy harus menjauhkan ponselnya dari telinga


“ hei..apa kau lupa? Keanan melarangku!” balas Emy berteriak


“ arrghhh...jangan teriak! “  seru Hannah diseberang


“ ceh..kau yang teriak duluan...”


“ iya iya...trus bagaimana perusahaanmu? aku bantu ya...” rayu  Hannah


“ Nona Hannah yang terhormat, kau boleh membantuku setelah aku sudah menemukan tikusnya, oke?! No argue! “


“ hmm.. katakan sama eomuni...jangan kuatir, aku akan mengurusnya. Oke sekarang istirahatlah ini sudah malam, hmm?”


“ oke...bye..” Hannah menutup panggilannya. Emy mendesah, saat ini bertambah lagi yang harus ia kerjakan. Dia berharap makan malam Tae Sang akan berhasil, tapi di saat yang sama, suara pintu dan langkah kaki terdengar. Emy segera keluar dari kamarnya, ia melihat Tae Sang sudah berada di dapur dan menegak minuman dingin.


“ ah..Presiden! anda sudah pulang? Bagaimana dengan dinner-nya? “ tanya Emy bersemangat. Tae Sang memalingkan wajahnya melihat Emy dengan tatapan tajam.


“ huh?! Kau pikir trikmu itu berhasil? “ ucap Tae Sang dingin 


“ maksud anda?” 


Emy memandang laki laki yang berjalan gontai dan menghempaskan tubuhnya disofa di depannya dengan bingung. Ia tak mengerti maksud perkataan itu.


“ katakan padaku, kau tidak sungguh ingin membantuku, kan? “ 

__ADS_1


“ apa maksud anda? Saya sungguh tak mengerti!” sanggah Emy dengan sebal.


“ kau tak mengerti?! Kau sengaja mengirim Helena berbagai macam bunga, supaya dia tahu kalau bukan aku yang mengirim bunga bunga bunga itu, kan?” kata Tae Sang, suaranya semakin meninggi.


“ tapi Presiden, saya sudah memberi catatan ke asisten anda, apa anda tidak menerimanya?”


“ kau pikir, aku bisa menghafal sekian banyak macam bunga itu?!” bentak Tae Sang, dia sudah berdiri menghadap Emy dan berkacak pinggang.


“ Tuan, saya memberi catatan nama buketnya, saya memang sertakan nama bunga bunga di buket itu, tapi bukan berarti anda harus menghafal smua nama bunga itu, tapi nama buketnya saja. “ 


“ jadi, kau mau mengatakan aku yang salah? Begitu?” tuduh Tae Sang sambil berjalan mendekat kearah Emy dengan mata elangnya.


“ bukan Presiden, tapi saya sengaja memberi 4 macam buket, karena yang pertama adalah buket permohonan maaf yang tulus, kedua buket aku mencintaimu, ketiga jangan tinggalkan aku dan keempat buket aku tak bisa hidup tanpamu. “  jelas Emy cepat.


Mendengar itu, Tae Sang menghentikan langkahnya. Tatapannya berubah, ekspresinya tak bisa dikatakan. Ia melihat Emy menundukkan kepalanya dan menggenggam erat bajunya. 


“ kau...kau..darimana kau tahu soal buket dan bunga?” 


“ saya membacanya dari buku, saya tak mengerti hal romantis, jadi saya baca dari google dan buku.” Jawab Emy pelan, masih menundukkan kepalanya.


Tae Sang hanya memandang Emy. ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Kenapa, kenapa mereka punya pemikiran yang sama?


Tae Sang POV


Aku sungguh tak mengerti dengan wanita satu ini, aku sudah begitu jahat dan kejam padanya, tapi kenapa dia masih saja mau tinggal disini dan bahkan membantu aku, yang adalah suami sahnya, walaupun yah..kami dibatasi dengan kontrak tapi...bukankah sifat wanita adalah tak ingin berbagi? Tapi wanita ini, kenapa ia justru mau membantuku untuk mendapatkan wanita lain? Apalagi yang dia rencanakan?


Dan ini, 4 buket itu...apakah benar dia membacanya dari buku dan mencari di Google. Buket itu mengingatkanku akan kejadian yang sudah susah payah kulupakan. Wanita ini, banyak sekali yang tak aku mengerti. Dia bersedia menikah kontrak denganku hanya agar kakek bersedia di Kemo? Apa ada seorang dokter yang seperti itu? Lalu jika dia suka uang, kenapa baju dan tas tasnya seperti barang murahan? Aku tak pernah lihat dia memakai pakaian mahal atau membawa tas mahal. Tas yang dia bawa selalu tas ransel butut itu. 


Sudahlah, lebih baik aku meneruskan pekerjaanku. Aku bisa pusing kalau memikirkan wanita ini. Aku berlalu meninggalkan Emy yang masih menunduk. Aku tahu dia takut padaku. Dan itu yang aku mau, aku tak ingin dia berlama lama tinggal disini. Dia sama saja dengan wanita lainnya, suka uang dan kedudukan. 

__ADS_1


__ADS_2