
"Ada apa Aurora? Serius sekali?" Tanya Sultan sambil tersenyum.
"Aku ingin berbicara penting denganmu, dari mana kau mendapatkan kalung ini?" Tanya Aurora serius sambil memegang kalung di leher Sultan.
"Ada apa? Ini kan hanya kalung biasa, apa begitu penting?" Tanya Sultan melihat arah kalungnya.
"Ini bukan kalung biasa, waktu kemaren aku melihat kau memakaikan kalung ini aku sangat terkejut, hari ini aku ingin memastikan lagi dan ternyata benar, kalung yang kamu pakai sama dwngan orang itu pakai, hanya saja dia berwarna merah sedangkan punyamu berwarna coklat," jelas Aurora dan melepaskan kembali kalung tersebut.
"Dari mana kamu tau?" Tanya Sultan heran.
"Papaku tau dari temannya karena temannya juga masuk organisasi itu, aku pernah melihat sekali orang yang memakai kalung berwarna merah itu," jawab Aurora serius.
"Apa maksudmu orang itu, siapa orang itu?" Tanya Sultan tak mengerti.
"Aku juga tidak tahu, waktu itu aku melihat orang itu karena ia bertemu dengan temannya teman Ayahku, dan itu kami di suruh keluar dia berbicara 4 mata dengan temannya teman Ayahku. Ruangan itu di jaga ketat oleh penjaga yang bersenjata api, sepertinya dia sangat penting Hanya saja aku tak sengaja mendengar karena sedang mencari ikat rambutku yang terjatuh tepat di depan pintu masuk sebelum kami di suruh pergi, aku di todong dengan senjata api karena mereka pikir aku ingin mendengar pembicaraan mereka, untung saja aku punya alibi dengan alasan mengambil ikat rambutku. Itu sangat membuatku gemetaran, aku pikir aku akan mati di sana, setelah mereka pulang pun mereka menanyakan sambil membentakku apa aku mendengar pembicaraan mereka, tentu saja aku mengatakan tidak ya kan?" Ucap Aurora panjang lebar.
"Emangnya apa yang kamu dengar?" Tanya Sultan penasaran.
"Pria itu mengancam temannya teman ayahku agar tidak berkhianat, karena ketika mereka masuk dan mereka tak bisa keluar lagi, juga mereka harus memutuskan hubungan dengan orang terdekatnya, karena ada salah satu orang yang berkhianat dan itu sudah di bunuh mereka, tapi untuk saat ini mereka masih memburu anak dan istrinya yang semoat kabur dan mereka harus membasminya sampai tuntas, aku juga mendengar jika ayah Michela juga bergabung dengan mereka," ujar Aurora.
"Iya, sepertinya begitu," jawab Sultan melihat pohon besar di kampusnya.
"Maksudnya kamu juga tahu?" Tanya Aurora melihat ke arah Sultan.
"Iya, waktu itu aku pernah menyelamatkan Michela dari penculikan itu dan Ayahnya berterima kasih kepada ku dan ingin memberikan kalung yang sama dengan ini, tapi seingatku itu berwarna biru, tapi aku menolaknya karena menurutku aku sudah punya yang sama hanya warnanya yang berbeda, dia juga mengatakan jika aku dalam kesulitan aku bisa meminta bantuan mereka jika aku memperlihatkan kalung ini, tapi waktu itu aku tidak penasaran jadi aku tidak bertanya," jawab Sultan.
"Kenapa kau tidak bertanya lebih jauh, itu sangat berguna bagimu," ucap Aurora menyayangkan.
"Dan juga Tedi juga pernah melihat seseorang memakain kalung ini, tapi dia tidak ingat orangnya seperti apa," jawab Sultan. "Dan aku penasaran siapa orang yang sudah berani masuk tapi berani berkhianat," ucap Sultan.
"Aku sarankan kamu untuk tidak memakainya Sultan, kamu belum tahu apa-apa tentang organisasi itu, buat berjaga-jaga saja dulu, setelah kau tahu sesuatu barulah kau memakainya," pesan Aurora.
"Justru itu, aku ingin memancing mereka dengan mengunakan kalung ini untuk mencari tahu," jawab Sultan tersenyum.
"Hey aku memperingatimu agar kau hati-hati dan tidak melakukan tindakan yang membahayakan dirimu, kau malah ingin mencari tahunya sendiri," ucap Aurora manyun.
"Tenang saja, aku tidak akan terluka, apa kau khawatir denganku?" Goda Sultan.
__ADS_1
"Apa'an sih kamu, aku karena..."
"Karena apa?" Goda Sultan lagi.
"Karena... aku kenal sama kamu baru ingin memberitahumu, jika aku tidak kenal kamau, untuk apa aku capek-capek mengingatkanmu," jawab Aurora melipat tangannya.
"Tidak mungkin kau menyukaiku kan?" Goda Sultan sambil menyenggol pinggang Aurora.
"Hey! Jga ucapanmu, bagaimana mungkin aku menyukai muridku," jawab Aurora dengan wajah memerah.
"Benar juga sih," jawab Sultan mengosok-gosok dagunya sambil mencibir.
"Ya udah kamu masuk sana," perintah Aurora.
"Untuk apa aku masuk, jam pelajaran juga akan berakhir," jawab Sultan mengangkat kedua bahunya.
"Masuk saja, aku sudah meminta izin untukmu tadi," jawab Aurora.
"Oke kalau begitu, aku masuk sekarang ya, jangan rindu," ujar Sultan berjalan mundur.
"Jangan G-R, siapa juga akan merindukan pria gatal sepertimu," jawab Auror melipat tangannya sambil mencibir.
"Cepat sana pergi!" Teriak Aurora.
"Iya-iya, aku pergi sekarang," ucap Sultan berlari menuju ruangannya.
"Haish... bohong jika wanita mengatakan tidak menyukaimu Sultan, cuma aku bisa menahan diri. Yang penting aku sudah mengingatkan mu Sultan, selebihnya itu terserah padamu," ujar Aurora melangkahkan kakinya menuju kantor dosen.
Tak terasa pelajaran pun selesai.
"Tadi ngapain kamu di panggil," tanya Tedi penasaran.
"Oh, itu Aurora memberi tahuku masalah kalung ini, katanya lebih baik jangan ku pakai terlebih dahulu karena masalah ini masih misteri, takutnya terjadi seauatu padaku," jawab Sultan naik ke mobilnya.
"Benar juga sih apa yang di katakan Aurora, kamu harus berhati-hati kita nggak tau maksud dan tujuan pemilik kalung ini membuatnya," jawab Tedi setuju.
"Aku justru ingin mencari tahu," jawab Sultan percaya diri.
__ADS_1
"Kalo gitu aku juga ikut," jawab Tedi.
"Untuk sementara jangan deh, kita masih kekurangan orang, aku sengaja membawa mereka untuk bergabung dengan kita, masalah CAMP kita sudah punya, kita hanya perlu membangunnya tempat mereka tinggal," saran Sultan.
"Iya kamu benar, kita harus banyak mengrekrut orang lebih banyak," jawab Tedi mengangguk. "Oke kita cus ke tempat anak buahmu tadi," ajak Tedi.
Sultan mengangguk dan langsung menginjak pedal gas mobilnya.
SULTAN
(Apa kau tahu sesuatu tentang kalung ini Sistem?)
SISTEM
(Sistem mendapati data yang sama dengan kalung Tuan dan data seseorang pertama sekali Tuan masuk Casino waktu itu)
SULTAN
(Begitu ya, berarti aku harus cari tau dan kembali ke sana lagi untuk memastikannya, semoga saja dia masih di sana)
SISTEM
(Tapi tetap saja Tuan bethati-hati)
SULTAN
(Iya aku hanya sekedar ingin tahu saja, yang lebih membingungkan adalah, kenapa kamu tiba-tiba mendeteksi data seseorang ketika pertama sekali masuk casino dan tiba-tiba saja ibu itu memberiku kalung dan data itu sama persis? Apa maksudnya itu?)
SISTEM
(Siapa yang tahu, bisa saja ini ada hubungan dengan Tuan)
SULTAN
(Ya mungkin bisa saja begitu)
BERSAMBUNG
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN DAN HADIAH
TERIMA KASIH