
Keesokkan harinya.
"Ibu aku pergi dulu sekalian mau jenguk Tedi," ujar Sultan menyalami dan mencium tangan ibunya.
"Iya, sampaikan salam ibu untuk Tedi ya, kamu juga hati-hati di jalan," pesan ibu mengelus rambut anakknya.
"Iya Bu, Ibu juga jangan biarkan orang asing masuk rumah," pesan Sultan dan beranjak pergi masuk ke mobilnya. Mobil melaju ke arah rumah sakit di mana tempat Tedi di rawat.
"Gimana Tedi perasaanmu sekarang? Apa sudah mending rasa sakitnya?" Tanya Sultan ketika ia telah sampai di rumah sakit.
"Udah mendingan bro, tapi kamu ngak ke kampus nih?" Tanya Tedi.
"Iya bentar lagi," jawab Sultan duduk di sisi ranjang Tedi.
Ting ting.
Misi level D
Membantu seorang wanita paruh baya yang akan di bawa ke rumah sakit jiwa karena keluarganya mengatakan dia gila tapi sebenarnya mereka menginginkan warisannya dan wanita itu masih waras.
[Hadiah 40 poin].
SULTAN
(Di mana tempatnya?)
SISTEM
(Di rumah sakit ini, Di lorong sebelah kiri kamar nomor 156)
SULTAN
(Baiklah, aku kesana sekarang)
"Eh Tedi aku pergi sebentar ya," ucap Sultan buru-buru.
"Pasti ada urusankan?" Tanya Tedi yang sudah paham dengan sahabatnya ini.
__ADS_1
"Hehehe, aku pergi dulu ya," ujar Sultan berlari ke arah yang di beri petunjuk oleh sistem tadi.
Sesampainya di sana di dalam ruangan tersebut ibuk itu mau di suntik karena ia terus berontak.
"Aku tidak gila, aku masih waras, mereka sengaja mengatakan aku gila karena ingin hartaku yang di wariskan oleh ibuku dulu," teriak wanita itu menjerit-jerit.
"Udah Dok suntik saja obat penenangnya, biar segera bawa ke rumah sakit jiwa," perintah anak angkatnya.
Sultan menerobos ruangan tersebut dan terbukalah pintu tersebut, mereka semua melihat ke arah Sultan.
"Nak, tolong Ibuk Nak, Ibu ngak gila," ujar wanita itu menagis dan meronta-ronta karena kedua tangannya di pegangkan.
"Kamu siapa masuk tanpa izin?" tanya anak angkat itu marah.
"Kalian ini, Ibuk itu tidak gila untuk apa kalian buat dia seolah-oleh dia gila, lepaskan dia," perintah Sultan.
"Kamu jangan ikut campur, keluar kamu sekarang," teriak anak angkat itu geram.
"Kalau dia gila di mana surat keterangannya? Apa kalian sudah membawanya ke dokter spesialis psikologi? Heh! Sepertinya belum, kalian menginginkan hartanyakan?" Tanya Sultan mengangkat alisnya. "Dan juga kamu seorang dokter sedikit banyaknya kamu tau dia gila apa waras, apa jangan-jangan kamu dokter gadungan," tebak Sultan.
"Kamu orang luar jangan ikut campur, ini bukan urusanmu," teriaknya marah dan mendorong tubuh Sultan keluar, namun tubuh Sultan tergerakkan.
Dokter itu terkejut ketika Sultan menerobos masuk. "Ada apa ini?" Tanya dokter heran. Anak angkat tersebutpun masuk ke dalam.
"Ngak ada apa-apa Dok, kami salah masuk ruangan," ujar anak angkat tersebut berusaha menarik tangan Sultan.
"Dokter tolong saya, saya tidak gila Dok," ujar ibuk itu memohon dan menangis menuju meja Dokter tersebut.
"Apa maksud semua ini?" Tanya dokter tak mengerti.
"Dokter, tolong periksa Ibu ini, dia gila atau tidak, karena dia ini (menunjuk ke arah anak angkat itu) mengatakan kalau ibu itu gila, dan dokter yang ini (menarik tangan dokter yang tadi ingin menyuntik ibuk itu) berusaha menyuntik ibuk itu, tolong periksa benar-benar Dok," ujar Sultan berharap.
"Baiklah, Ibuk ayo duduk di kursi ya," ujar dokter itu, ibuk itu pun duduk.
"Saya akan memberi pertanyaan-pertanyaan dan tolong ibuk jawab ya," pinta sang dokter. Ibuk itu mengangguk.
Dokter itu pun menyanyakan nama, tempat tinggal, umur, kegiatan sehari-hari dan berbagai pertanyaan dasar. Ibu itu menjawab setiap pertanyaan di ajukan oleh Dokter.
__ADS_1
Dan sampailah pertanyaan mengapa ibu itu di bilang gila.
"Dia adalah anak angkat saya, ini karena dia ingin mengambil harta saya Dok, itu adalah warisan dari ibu saya untuk saya, saya tidak ingin memberikannya karena dia sangat serakah, saya ingin memberikannya tapi di saat saya sakit dia mau mengurus saya, tapi apa yang saya dapat? Di saat saya masih sehat begini dia malah mengatakan saya gila dan membawa saya ke sini dan ingin menyuntik saya dengan obat penenang agar dia bisa membawa saya ke rumah sakit jiwa, saya... saya tak bisa terima itu Dok, untung saja ada anak lelaki ini menyelamatkan saya, jika tidak saya sudah berada di rumah sakit jiwa sekarang. Terima kasih banyak ya Nak," ujar ibu itu menangis memegang tangan Sultan. Sultan berjongkok.
"Sama-sama Buk," jawab Sultan. Dokter itu mengelengkan kepalanya atas peristiwa ini.
"Kamu kenapa melakukan hal ini? bukannya berterima kasih karena dia sudah menganggapmu anak malah kau sakiti dia, saya tak mengerti jalan pikiranmu, dan untuk Ibuk 100% waras, masalah ini lebih baik bawa ke polisian saja agar mereka yang menanganinya dan saya akan memberikan surat keterangan jika ibu dalam keadaan sehat," pesan Dokter itu, karena mendengar menyerahkan kasus ini pada polisi anak dan dokter itu kabur.
Dokter itu segera menelpon satpam. "Tolong tahan seorang wanita dan seorang dokter tangkap mereka dan segera hubungi polisi," perintak dokter tersebut.
"Siap Dok," jawab satpam itu menunggu jalan keluar dan pintu masuk. Benar saja ada 2 orang berlari ke arah jalan keluar satpam segera membekuk mereka berdua mereka pun tertangkap.
Ting ting.
Misi selesai.
Anda mendapatkan 40 poin.
Poin Anda menjadi 60 poin.
"Baiklah semua sudah selesai, terima kasih juga untuk anak muda, karena sudah membantu, jika tidak nama rumah sakit ini akan menjadi buruk karena ulah mereka berdua," ucap dokter itu menepuk pundak Sultan.
"Sama-sama Dok, ini hanya kebetulan saja, jika begitu saya permisi dulu," ujar Sultan pamit dan melangkahkan kaki pergi
"Tunggu sebentar Nak," teriak ibuk itu, Sultan berhenti dan membalikkan badannya.
"Ada apa Buk?"
"Ini ambillah sebagai tanda terima kasih Ibuk kepadamu, Ibuk rasa benda ini aman jika berada di tangan anak sepertimu yang memilikinya, ini adalah peninggalan dari suami saya yang sudah meninggal dunia, saya harap kamu bisa menggunakannya dengan baik, benda ini tolong jagalah baik-baik, kau akan mengerti nanti setelah kau mengunakannya," ujar ibu itu meletakkan kalung di tangan Sultan.
"Tapi Buk..."
"Tolong di terima, ini wasiat ibuk kepadamu anak muda," ujar ibuk itu berharap. "Jika kalung ini jatuh kepada anak itu, Ibuk tidak tau lagi harus berbuat apa," ujar ibuk itu yang mulai menangis lagi.
"Baiklah jika begitu, terima kasih banyak Buk," ucap Sultan.
BERSAMBUNG
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN HADIAH
TERIMA KASIH