System Kekuatan Dan Kekayaan

System Kekuatan Dan Kekayaan
BAB 221


__ADS_3

"Silakan Nona, apa saya telpon Tuan Sultan aja memberi tahu jika Anda di sini?" tanya Sekretaris itu.


"Tidak perlu, saya hanya sebentar saja," ucap Qayla duduk di sebuah kursi.


Qayla melihat di sekeliling tempat itu, kini sudah menjadi lebih besar lagi. "Jika Tuannya langsung turun tangan perusahaannya malah jadi berkembang, apa Sultan sudah tidak mempercayaiku lagi," ujar Qayla sedih.


Sesampainya Sultan di tempat usahanya yang lain.


Sultan pun masuk keperusahaannya. Mereka semua pun menyapa kedatangan Sultan.


Kali ini malah lebih parah karena ini ini adalah perusahaan jual beli saham.


"Kalian ada apa menatapku seperti itu?" tanya Sultan heran.


"Tidak apa-apa Tuan," jawab mereka menggeleng bersamaan.


Sultan masuk ke dalam kantornya dan melihat ada suatu yang tidak beres.


"Di mana sekretarisnya?" tanya Sultan keluar dari ruangannya.


"Sa-saya Tuan," ucapnya.


"Apa yang sudah kalian perbuat dengan perusahaan ini?" tanya Sultan.


"Kami tidak melakukan apa pun Tuan," jawabnya.


"Lalu kenapa ruanganku kosong seperti ini?" tanya Sultan.

__ADS_1


"Itu karena Tuan tidak di tempat jadi kami memindahkan berkasnya ke ruangan rapat," jawab sekeretaris itu.


"Lalu di mana berkasnya, bawa ke ruanganku sekarang!" perintah Sultan.


"Baik Tuan," ucap sekretaris itu. Sultan langsung masuk keruangannya.


"Aduh bagaimana ini?" tanya sekretaris itu kepada yang lain.


"Aku pikir dia nggak datang dan menyerahkan laporan akhir bulan sama si Qayla itu," ucap sekretaris itu kesal.


"Jadi apa laporan bulan depan saja kita berikan?" tanya sekretaris itu berdiskusi.


"Iya, berikan saja itu, kemaren itu kita lupa bikin tanggal dan bulannya, kelihatannya dia nggaknya pintar-pintar amat," jawab temannya.


"Iya, ia malah terlihat orang kaya yang menghamburkan uang," jawab yang lain.


"Ya udah ambil saja tuh," ujar temannya.


"Ini udah beres semuakan?" tanya sekretaris itu setelah mereka mendapatkan berkasnya.


"Udah, sana cepat pergi," ujar temannya itu.


Sekretaris itu pun pergi masuk ke ruangan Sultan.


"Kenapa lama sekali?" tanya Sultan.


"Itu karena tergabung semua Tuan," jawab sekretaris itu.

__ADS_1


"Kenapa bisa tergabung semua, kan setiap laporannya di bedakan tempatnya, apa yang kalian kerjakan selama ini?" tanya Sultan setengah marah.


"I-itu Tuan lain kali akan kami rapikan pekerjaan kami," ucap sekretaris itu.


Sultan mengambil laporan itu dan melihatnya. "Laporan macam apa ini!" teriak Sultan menghempaskan kertas tersebut di atas meja.


"Ta-tapi itu laporan yang sudah di rekapitulasi Tuan," ujar sekretaris itu ketakutan.


"Kau ingin membohongiku dengan laporan bulan lalu, yang aku inginkan laporan sekarang. Jangan bilang jika kalian tidak mengerjakannya?" tanya Sultan dengan yatapan tajam.


"I-itu... kami akan mengejakannya segera," ucap sekretaris itu membalik badan dan ingin pergi.


"Tidak perlu," ujar Sultan melemah.


Sekretaris itu memegang dadanya lega. "Syukur deh jika dia tidak menyuruhnya sekarang," ujar sekretaris itu dalam hati.


Sultan pun keluar dari ruangannya yang di ikuti oleh sekretarisnya itu.


"Jadi kapan akan kami buatkan laporan itu Tuan?" tanya sekretaris itu, ia merasa lepas dari beban.


"Kamu tidak perlu membuatnya lagi, karena mulai sekarang, kamu aku pecat," ujar Sultan.


"Apa! Tuan tolong jangan pecat saya, saya mohon, saya akan mengerjakannya dengan baik, saya mohon Tuan, saya tidak akan melakukan kesalahan lagi," ucap sekretaris itu menangis sambil berlutut di bawah kaki Sultan.


"Aku tidak memeprkerjakan orang yang melakukan seenaknya, ini perusahaanku, aku yang berkuasa, bukan seenaknya kau bermain di sini," ucap Sultan.


Bersambug

__ADS_1


Jangan lupa like vote komen dan hadiah


Terima kasih


__ADS_2