System Kekuatan Dan Kekayaan

System Kekuatan Dan Kekayaan
BAB 206


__ADS_3

"Kalian ini apa tidak tau rasanya sakit hati ya, sini biarku ajarkan rasanya sakit," ucap Sultan marah.


Sultan menghantam para pria itu menghempaskan kesana kemari saking geramnya.


"Aku hari ini benar-benar marah tau, marah sekali," ucap Sultan menangkap 2 orang pria mengangkat tubuhnya lalu memutarnya dan menghempasnya ke tanah.


"Ia juga melopat dan menghantam kepala pria yang lain lalu menginjak kepalanya dengan sekuat tenaga.


2 orang lainnya hendak kabur, Sultan mengejarnya lalu menendangnya hingga mereka tersungkur, Sultan menarik baju 2 orang pri itu dan meninjunya hingga mereka tak sanggup bergerak lagi.


"Apa kalian tahu jika aku sedang marah sekarang, nasib kalian yang sial, menghajar orang di saat aku sedang marah," ucap Sultan menghajar para pria yang masih sadar dan membuat mereka hilang kesadaran.


"Aku sudah berbaik hati sudah menghajar kalian, seharusnya kalian berterima kasih denganku karena aku sudah menghajar kalian," ucap Sultan meracau dan menginjak-injak para pria itu meskipun mereka sudah tak sadarkan diri lagi dan terdengar suara patah tulang mereka yang Sultan injak.


"Cukup Bang! Mereka sudah tak sadarkan diri lagi, jangan bunuh mereka, nanti abang masuk penjara," ujar pria yang di hajar sekelompok pria tadi menghentikan Sultan dan memeluk perut Sultan.


"Biar! Biar mereka semua mati, biar tidak ada yang menghajarmu lagi," ucap Sultan berusaha melepaskan pelukan pria itu dan ingin melanjutkan menghajar mereka.


"Mereka sudah tak bisa apa-apa lagi, Tulang mereka semuanya sudah abang patahkan, setidaknya mereka cacat, itu sudah cukup pelajaran buat mereka, dan mereka tidak alam bisa mengangguku lagi," ucap pria itu sambil menangis.


Mendengar suara tangisan pria itu Sultan berhenti dan membalikkan badan.


"Kau seorang pria, kenapa harus menangis?" tanya Sultan tak suka.


"Bukan begitu bang, cuma aku sudah memaafkan mereka," ucap pria itu menundukkan kepalanya.


"Kalau kau memaafkan mereka tanpa Syarat berarti kau lemah, beri mereka ampun tapi dengan persyaratan, jika mereka melanggarnya habisi orang penghianat seperti itu, jangan jadi lemah yang pecundang, jika kau ingin bersiri di kedua kakimu, kau harus punya prinsip," ucap Sultan mengajarkan pria itu.


"Iya Bang aku ngerti, terima kasih juga sudah menolongku, bolehkah aku jadi pegikut abang?" tanya pria itu.


"Kau punya keluarga?" tanya Sultan.


"Keluargaku sudah tidak menyukaiku dan mereka semua ini adalah suruhan mereka untuk membunuhku, dari maka itu aku memaafkan mereka karena itu bukan keinginan mereka," ucap pria itu.


"Baiklah jika begitu, kau ikut denganku saja, alu tidak bisa membawamu begitu saja jika kau punya keluarga yang masih menunggumu, aku akan mengantarmu ke markasku, semoga kau bisa berbaur dengan mereka," ucap Sultan masuk mobil dan di ikuti oleh pria itu.


Sultan pun melajukan mobilnya di jalanan.


Ting ting


Misi selesai


Selamat Anda mendapatkan 20 poin


Poin Anda menjadi 1210 poin


Selamat Anda mendapatkan hadiah 800.000.000.000

__ADS_1


Hadiah Anda menjadi 4.505.015.000.000


"Namamu siapa?" tanya Sultan.


"Ari Bang," jawab pria itu.


"Di sana ada ketua bernama Hendri, dia akan memberi tahu apa pekerjaanmu nanti," ucap Sultan.


"Baik Bang," angguk Ari.


Sesampainya di sana Hedri dan anak buah Sultan datang menyambut.


"Bos besar, akhirnya Anda pulang," ucap Hendri senang.


"Bagaimana keadaan kalian?" tanya Sultan.


"Kami baik-baik saja Bos besar," jawab Hendri dan bawahannya yang lain menundukkan kepala.


"Bos besar?" tanya Ari heran karena semua orang yang ada di sana memanggil Sultan bos besar.


"Oh iya, ini Ari, mulai sekarang dia bergabung dengan kita, jadikan dia bagian dari kalian, jangan bertengakr," pesan Sultan.


"Baik bos besar," ucap Hendri.


"Ya sudah jika begitu aku pergi dulu," ucap Sultan.


"Baik bos besar," angguk para anak buahnya.


Sultan menatap air laut yang si sinari bulan cahaya remang-remang di temani suara semilir angin sepoi-sepoi.


Di sisi lain.


Qayla pun sampai di rumahnya dan berganti pakaian dengan baju tidur, ia pun baring dan sebelum tidur, ia mengecek ponselnya.


Dan ternyata 120 panggilan tak terjawab dan 1 pesan masuk.


"Astaga!" ucap Qayla langsung bangun.


"Bagaimana ini? Sultan ternyata dari tadi menelponku dan nada ponselku diam, alu harus pergi sekarang," ucap Qayla memakai jacket dan segera masuk mobilnya menuju hotel baru Sultan.


"Maafkan aku Sultan, aku tidak mendengar telpon darimu, aku harap kau memaafkanku, semoga saja acaranya belum berakhir agar kau tak kecewa padaku," ucap Qayla merasa bersalah.


Sesampainya di hotel, anak kampus masih saja ramai dan sepertinya mereka enggan untuk pulang dan berjoget-joget di sana.


Qayla melihat Tedi yang ada di atas balkon di tepi pagar sambil memegang gelas berdiri bersama gadis lain. Ia pun segera menghampirinya.


"Hm... Tedi, di mana Sultan?" tanya Qayla melihat sekeliling dari atas balkon.

__ADS_1


"Tadi dia bilang ingin pergi ada urusan, dari tadi kami menunggunya tapi dia belum juga kembali," ucap Tedi.


"Urusan? Dia punya urusan apa?" tanya Qayla lagi.


"Tidak tahu, yang pastinya tiba-tiba saja pergi," ucap Tedi.


"Begitu ya, apa dia mencariku?" tanya Qayla.


"Mungkin saja begitu, tapi tadi dia mengunakan jas, aku pikir dia ada urusan kantor sebentar," ucap Tedi.


"Apa? Jas? Jas warna apa?" tanya Qayla penasaran.


"Warna hitam," jawab Tedi.


"Apa! Apa jangan-jangan tadi adalah dia?" tebak Qayla.


"Ada apa Qayla?" tanya Tedi.


"Eh tidak apa-apa, aku akan menelponnya," ucap Qayla. Ia turun tangga dan keluar dari keramaian lalu menelpon Sultan.


Tuuut


Tuuut


Tuuut


Nomor yang Anda tuju tidak tidak menjawab panggilan Anda.


Qayla terus menelponnya tapi tetap tidak ada jawaban.


"Pergi kemana dia ya?" tanya Qayla.


Ponsel Sultan berada di dalam mobil, sedangkan ia tertidur di pantai.


"Kamu di mana Sultan?" tanya Qayla kebingungan. "Apa mungkin ia ke rumah barunya," ucap Qayla yang meluncurkan mobilnya ke rumah baru tersebut.


"Sultan! Sultan!" panggil Qayla mengetuk-ngetuk pintu rumah Sultan, tapi tak ada jawaban.


"Apa dia sudah tertidur atau dia memang tak ada di rumah?" Qayla bertanya-tanya.


Karena penasaran Qayla menendang pintu rumah Sultan hingga jebol dan ia mencari di setiap kamar.


"Sultan! Kamu di mana!" teriak Qayla sambil mencari-carinya hingga ke dapur. Tapi tetap saja tak ada jawaban.


"Sultan, kamu di mana sih?" tanya Qayla menghempasnya tubuhnya ke sofa ruang tamu.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like vote komen dan hadiah


Terima kasih


__ADS_2